
"El...."
"Elnaz..."
Elnaz menoleh saat nama nya di panggil, ia melihat Robin yg sedang berlari ke arah nya sambil menentang ransel nya yg tampak nya berat.
"Ada apa?" tanya Elnaz dengan suara rendah.
"Bagaiamana? Kamu sudah mendatangi apartment Jimmy?" tanya Robin dan Elnaz hanya mengangguk lemah.
"Ada istri nya di sana?" tanya Jimmy lagi dan Elnaz menggeleng.
"Aku di larang mengurus urusan Jimmy dan Kak Elsa lagi, Rob. Aku ke kelas dulu" ucap Elnaz karena ia ingin menghindari Robin, Elnaz tidak mau mendapatkan masalah lagi karena masalah ini.
Robin yg melihat Elnaz langsung melenggang pergi merasa kecewa karena Elnaz tampak menghindari nya, Robin pun berusaha mengerti karena bagaimana pun juga Elnaz adalah istri orang dan Robin juga pernah melihat bahwa Arfan seperti nya tak menyukai nya.
...
Elsa menjalani hari nya juga seperti biasa, ia bekerja dan kemudian pergi untuk menghabiskan waktu bersama Jimmy.
Di sini Jimmy lagi lagi membujuk nya untuk kembali ke apartment nya namun Elsa menolak nya. Elsa malah menagih janji Jimmy yg akan membawa Elsa menemui orang tua nya.
'ayolah, Jim. Mumpung ada Papa ku di sini"
"Papa Mama ku lagi sibuk, El. Mereka pergi keluar kota" jawab Jimmy dengan santai nya.
"Loh, kamu sudah janji mau mempertemukan aku dengan mereka. Memang nya kamu tidak memberi tahu mereka tentang ku?" tanya Elsa jengkel.
"Sudah, Sa. Mereka senang dan mereka juga sangat ingin bertemu dengan mu, tapi mau Bagaiamana lagi? Mereka sedang sibuk sekarang" Elsa hanya bisa menghela nafas panjang mendengar alasan Jimmy itu, sementara Jimmy malah tampak tenang.
"Lebih baik kita temui Papa mu saja, ajak jalan jalan kemana gitu. Mumpung dia ada di sini, kan? Bagaimana? supaya aku semakin dekat juga dengan Papa mu" tukas Jimmy yg tentu saja membuat Elsa senang.
"Okey, kalau kamu tidak sibuk, kita jemput Papa sekarang ya" ajak Elnaz dengan senyum lebar nya.
__ADS_1
"Siapa, Beb. Gitu dong, senyum yg lebar, cantik sekali" puji Jimmy yg tentu membuat Elsa senang. Elsa memang sangat ingin Jimmy dekat dengan Papa nya, supaya papa nya tahu bahwa Jimmy adalah pria yg baik, sebaik Arfan tentu nya.
Elsa dan Jimmy pun pergi kerumah Arfan untuk mengajak Papa nya Elsa jalan jalan.
Sesampai nya di sana, Sayang nya Elsa dan Jimmy tidak sambut dengan hangat oleh Pak Malik. Bahkan Pak Malik bukan hanya dingin pada Jimmy tapi juga pada Elsa, hal itu membuat Elsa sedih dan merasa kesal dengan Elnaz yg ia anggap menjelek jelekan diri nya pada Papa nya. Pak Malik bahkan tidak mempersilahkan kedua nya masuk kerumah dan hanya mengobrol di depan rumah
"Pa, aku sama Jimmy mau mengajak Papa jalan jalan atau belanja. Dari pada di rumah Papa cuma sendirian, kan pasti bosan, Pa" ujar Elsa berusaha tersenyum lebar pada Papa nya.
"Tidak perlu, Sa. Papa suka di rumah saja" jawab Pak Malik. Elsa memperhatikan Papa nya memakai apron dan tangan nya terkena tepung, bahkan di pipi nya juga ada tepung.
"Papa masak? Memang nya Elnaz tidak masakan Papa makanan?" tanya Elsa dengan kesal tapi Pak Malik malah menggeleng.
"Elnaz sudah masakin Papa nasi goreng tadi, Papa mau bikin kue buat Elnaz" jawab Pak Malik yg membuat Elsa justru makin tampak kesal.
"Elnaz cuma masakan nasi goreng?" pekik Elsa "Itu kan tidak sehat, Pa. Tidak ada gizi nya apa lagi kalau buat sarapan" tukas Elsa.
"Bagaimana kalau kita pergi makan saja?" Jimmy menyarankan dengan senang hati.
"Kalau begitu kita kan bisa pesan makanan, Om mauu pesan apa?" Jimmy kembali menyarankan untuk menyenangkan ayah nya Elsa.
"Tidak usah, sebaiknya kalian pergi karena aku sedang sibuk" usir Pak Malik kemudian yg tentu saja langsung membuat Elsa sangat kesal pada ayah nya yg mengusir nya dengan tega.
"Papa lebih sayang Elnaz? sampai sampai aku di usir?" kesal nya.
"Bukan itu maksud Papa, Sa. Tapi Papa rasa hubungan mu dan Elnaz sedang tidak baik, jadi sebaik nya kalian tidak perlu bertemu untuk beberapa waktu. Dan rumah ini juga rumah Elnaz, mungkin sebentar lagi Elnaz juga pulang. Papa tidak mau melihat kalian cekcok lagi"tutur Pak Malik putus asa. Ia sungguh tak menyangka anak anak nya seperti bersebrangan arah.
"Okey, kalau Papa perlu apa apa. Papa harus telpon aku ya..." pinta Elsa dan ayah nya mengangguk dengan senyum.
Pak Malik memeluk Elsa sebelum Elsa pergi, ia menatap nanar putri nya yg telah mengusik ketenangan perasaan nya itu karena Pak Malik masih terus terngiang dengan apa yg di katakan Elnaz.
Di perjalanan pulang, Elsa menelpon Mama nya dan mengatakan kalau Papa nya tidak mau tidak mau di ajak jalan jalan karena sibuk memasak untuk Elnaz.
....
__ADS_1
Elnaz menunggu Arfan di parkiran, ia tidak menelpon suami nya melainkan hanya mengirim pesan yg meminta Arfan menjemput nya.
Tak lama kemudian Arfan datang dan Elnaz langsung masuk ke mobil tanpa menyapa Arfan ataupun hanya sekedar menatap nya.
Elnaz masih bersikap dingin begitu juga dengan Arfan. Elnaz memasang earphone dan mendengarkan musik dari ponsel nya.
Arfan merasa hampa saat melihat Elnaz yg begitu dingin, tak mau menatap nya apa lagi berbicara pada nya. Namun Arfan juga masih kesal pada Elnaz yg pergi ke apartemen Jimmy tanpa izin nya dan percaya dengan cerita Robin begitu saja.
Ponsel Elnaz berdering dan ia melihat nama Mama Isna tertera di layar smartphone nya. Elnaz pun menjawab panggilan itu namun ia tak mengucapkan salam lebih dulu seperti yg biasa ia lakukan. Arfan melirik Elnaz dan ia sebenar nya penasaran siapa yg menelpon Elnaz. Arfan takut itu Mama nya yg lagi lagi akan membahas soal bayi.
"El, kamu dimana?" terdengar suara ibu nya yg juga dingin pada nya.
"Di jalan" jawab Elnaz singkat.
"Kamu kasih sarapan Papa mu cuma nasi goreng? itu tidak sehat, El" Elnaz tersenyum kecut mendengar penuturan ibu nya yg seperti nya kesal itu.
"Hanya sarapan nasi goreng sekali tidak akan membuat Papa struk" jawab Elnaz. Arfan kembali melirik Elnaz dengan dahi yg mengkerut.
"Siapa?" tanya Arfan kemudian penasaran.
"Mama, seperti nya kesal karena Papa di kasih sarapan cuma nasi goreng" jawab Elnaz santai padahal sambungan telpon nya masih terhubung dengan Mama nya.
"Kata Elsa Papa mu juga bikin kue, memang nya kamu tidak bisa pesan saja? kan kasian Papa mu, El. Dia tidak bisa membuat kue" tutur sang ibu yg malah membuat Elnaz tersenyum.
"Jadi kata Elsa selalu benar ya?" tanya Elnaz sinis yg membuat Arfan semakin mengerutkan kening nya dalam.
"Lagian apa salah nya kalau Papa bikin kue buat aku, Ma? setiap ayah pasti akan melakukan hal yg membuat anak nya senang kan? setidak nya di hari ulang tahunnya" tukas Elnaz semakin sinis yg membuat Arfan semakin tercengang.
Ia seperti melihat sosok yg lain dalam diri Elnaz, sikap dingin nya, senyum sinis nya dan kata kata nya yg terbilang berani tak seperti dulu.
Setelah itu, Mama nya Elnaz memutuskan sambungan telpon nya secra sepihak, Elnaz sangat yakin bahwa ibu nya itu kesal pada nya. Elnaz hanya tersenyum kecut dan ia kembali mendengarkan musik dalam diam, ia duduk bersandar dan membuang pandangan nya ke luar jendela.
Sementara Arfan hanya bisa menghela nafas panjang karena sikap kedua nya yg masih sama sama dingin membuat Arfan merasa sangat tidak nyaman.
__ADS_1