(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 128 - Kelahiran Anak Pertama Arnaz


__ADS_3

Arfan makan malam dengan sangat tidak berselera, ia hanya mengaduk ngaduk makanan nya sambil terus menetap Elnaz dengan bibir yg many un. Sementara istri nya itu, ia menikmati makan malam nya dengan sangat lahap.


Apakah Elnaz sudah memaafkan Arfan?


Dengan semua usaha Arfan, tentu sangat menyentuh Elnaz dan ia sudah memaafkan nya, namun apakah Elnaz bisa melupakan sakit hati nya. Orang akan selalu bilang 'I can forgive not forget'


Memang harus hati hati dalam menjaga hati yg seperti kaca, sekali nya retak, tidak mungkin kembali mulus lagi dan sempurna.


"Sayang..." Elnaz hanya melirik Arfan dan kemudian ia kembali melanjutkan makanan nya hingga habis, tak hanya itu, karena Elnaz melihat Arfan tidak makan, ia menarik piring Arfan dan juga memakan makanan Arfan sampai habis. Hal itu membuat Bu Isna dan Arfan melongo.


"Sayang kalau di buang" kata Elnaz setelah dua piring makanan ia habiskan. Elnaz meneguk air dari gelas nya hingga sisa setengah nya.


"El, makanan kakak kamu sudah habisin. Masak tidak mau di maafin sih" kata Arfan merajuk.


"Nanti, tak cari tahu dulu jawaban nya lewat mimpi" ketus Elnaz yg membuat Arfan ingin tertawa namun ia masih kesal.


Elnaz membersihkan meja makan di bantu ibu nya, sementara Arfan lagi lagi bergelanyut manja pada istri nya itu.


Bahkan saat Elnaz kembali ke kamar nya, Arfan masih terus glendotan.


Elnaz pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi, dan Arfan masih dengan setia menempel pada nya.


"gosok gigi, Kak" ketus Elnaz.


"Tidak mau" jawab nya masih meraja.


"Ish, jorok nya. Bau nanti mulut nya.." Arfan mendengus dan ia pun mengambil sikat gigi nya, menuangkan sedikit pasta gigi dan mulai gosok gigi. Elnaz mengambil kesempatan itu untuk kembali ke kamar nya.


Saat Elnaz hendak naik ke atas ranjang, ia merasakan bagian bawah perut nya sesak dan sakit.


"Kak Arfan..." panggil Elnaz panik.


"Kenapa, Sayang? Sudah di maafin?" tanya Arfan yg berlari keluar dari kamar mandi.


"Perut El sakit, El mau melahirkan" ucap Elnaz cemas yg membuat Arfan panik.


"Kita ke rumah sakit..." kata Arfan dan dengan tergesa ia langsung menggendong Elnaz, membawa nya keluar sembari memanggil Ibu mertua nya.


"Mama..."


"Mama, El mau melahirkan" teriak nya.

__ADS_1


Bu Isna yg mendengar teriakan Arfan pun langsung menghampiri Arfan dan Elnaz.


"Kamu sudah mau melahirkan, El?" ibu nya justru masih sempat bertanya.


"Iya, seperti nya. Perut El sakit" rengek Elnaz.


"Ketuban mu sudah pecah? ' tanya ibu nya lagi.


" Ma, biar Dokter yg periksa. Sebaik nya kita kerumah sakit sekarang sebelum terlambat " tukas Arfan panik.


"Ya Mama fikir Elnaz kekenyangan saja" tukas bu Isna yg membuat Arfan dan Elnaz saling pandang. Apa lagi tadi porsi makan Elnaz yg memang sangat banyak.


"Memang sakit nya seperti apa?" tanya Bu Isna lagi.


"Ya, sakit saja" jawab Elnaz.


"Mules?" Mama nya kembali bertanya dan Elnaz menggeleng pelan membuat ibu nya tertawa.


Sementara Arfan masih melongo sambil menatap Elnaz dan ibu mertua nya bergantian.


"Turunkan dia, Fan...." pinta Bu Isna. Arfan tampak ragu untuk menurunkan Elnaz namun kemudian ia menurun kan Elnaz setelah berfikir beberapa saat.


Elnaz pun berjalan jalan di sana, mengitari ruangan dengan langkah santai dan pekan, sementara Bu Isna dan Arfan memperhatikan.


"Bagiaman? Masih sakit?" tanya Bu Isna kemudian dan Elnaz menggeleng sambil cengengesan.


"Berarti tidak jadi melahirkan?" tanya Arfan pada istri nya itu.


"Di delay... Hehe" jawab Elnaz yg membuat Bu Isna dan Arfan geleng geleng kepala.


Arfan menghampiri Elnaz, ia memegang tangan Elnaz dan menemani Elnaz jalan mengitari ruangan. Elnaz pun membiarkan nya saja.


"Apapun yg terjadi, aku ingin seperti sekarang" tukas Arfan serius masih sambil melangkah bersama bergandengan tangan.


"Aku ingin kita selalu melangkah bersama, berpegangan tangan, melewati apapun yg akan terjadi, dalam segala kondisi dan situasi" ia berkata dari hati yg paling dalam.


Elnaz menghentikan langkah nya, Arfan pun demikian. Elnaz berdiri menghadap Arfan, menatap kedua iris mata sang suami tercinta.


"Aku akan selalu ada di sisi mu, Kak. Tapi aku mohon, jangan biarkan ada retakan dalam hubungan kita, karena kalau sudah sering ada retakan, akan sangat mudah untuk pecah dan semua nya bisa terlambat jika sudah pecah" lirih Elnaz. Arfan tersenyum mengerti, ia menangkup pipi istri nya itu dan mencium kening nya dengan lembut.


"Aku akan selalu memikirkan perasaan mu, Sayang. Aku janji, aku akan belajar dari kesalahan kesalahan ku, aku sangat takut kehilangan mu dan aku tidak akan mau kehilangan mu dalam alasan apapun"

__ADS_1


....


Semenjak kejadian Elnaz yg kekenyangan dan ia kira mau melahirkan, hubungan Arfan dan Elnaz kembali membaik. Kedua nya kembali mesra, meskipun terkadang Elnaz masih ngomel ngomel karena berbagai masalah yg menurut Arfan adalah masalah kecil. Namun Arfan mengalah, dan pada akhir nya Elnaz akan mengaku salah.


Seminggu telah berlalu, dan kini Elnaz berada di rumah sakit. Karena kali ini ia benar benar akan melahirkan.


Elnaz terbaring pucat di bangsal rumah sakit, ia merintih kesakitan saat perut nya terasa di remas. Sementara Arfan dengan setia menemani Elnaz, memegang tangan Elnaz, seolah ingin memberi kekuatan pada Elnaz.


Arfan mengelap keringat yg membasahi kening Elnaz, ia menatap sendu wajah kesakitan istri nya menjelang saat saat kelahiran anak pertama mereka.


"Sakit sekali, Kak..." kata Elnaz merintih.


"Bismillah, Dek. Semoga Allah membalas rasa sakit mu dengan kebahagiaan yg tak pernah kita bayangkan, semoga Allah memberi mu hadiah anak anak yg sholeh ya" hibur Arfan.


Bu Isna juga dengan setia menemani putri nya itu, ia teringat pada saat ia melahirkan kedua anak perempuan nya. Dia juga merasakan rasa sakit yg sama, namun ia tak bahagia saat anak kedua nya lahir.


"Berjuanglah demi anugerah Allah ini, Sayang" kata Arfan lagi.


Anugerah, Bu Isna merasa apa yg di katakan Arfan benar, anak itu anugerah.


Dokter kandungan Elnaz dan beberapa suster datang untuk membawa Elnaz ke ruang persalinan.


Arfan ikut masuk, karena seperti janji nya, apapun yg terjadi, apa lagi di saat seperti ini, Arfan akan selalu memegang tangan Elnaz. Apa lagi elnaz memang ingin melahirkan secara normal.


Bu Isna menunggu di luar ruang persalinan dengan harap harap cemas, ia tak berhenti berdoa untuk prosesi kelahiran cucu pertama nya itu.


Elnaz berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan anak pertama nya itu, Arfan terus menguatkan nya dan juga berdoa tiada henti. Hingga setelah perjungan yg cukup lama, dengan harapan, doa dan usaha.


Terdengar suara tangis bayi yg membuat Arfan dan Elnaz langsung mengucap syukur dan menangis haru.


"Ya Allah, alhamdulillah.." gumam kedua nya. Arfan mengecup kening Elnaz dan menghapus air mata nya dengan lembut.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih banyak" ucap Arfan dengan derai air mata haru nya.


"Selamat ya, putri kalian terlahir dengan sempurna" kata Dokter itu yg menggendong bayi perempuan Elnaz.


Mendengar kata putri, Elnaz langsung menatap Arfan dengan gugup, namun Arfan justru kembali mencium Elnaz dan ia masih menangis haru.


"Dia pasti secantik kamu, Sayang" ujar Arfan dan ia masih terlihat sangat bahagia, kebahagiaan yg tak berkurang sedikit pun hanya karena ia mengharapkan anak lelaki namun yg lahir anak perempuan.


"Sekarang hidup ku sangat sempurna, Sayang. Memiliki ratu yg cantik dan tuan putri yg mungil" ujar Arfan lagi yg membuat Elnaz tertawa senang.

__ADS_1


__ADS_2