
Elsa kembali mengirimkan foto foto diri nya pada beberapa agensi model dan kali ini ia berpose dan berpenampilan sedikit lebih terbuka. Selain itu, kini ia memiliki seorang teman yg bernama Olga, yg berjanji akan menjadikan Elsa seorang model dan dia sendiri akan menjadi manager nya. Elsa bertekad ia harus bisa menjadi model apa lagi sekarang ia masih menjadi buah bibir tetangga nya, Elsa sudah tidak tahan tinggal di sana lagi dan ia hanya ingin mengejar karir nya sekarang.
Setelah beberapa hari menunggu, Olga menghubungi Elsa dan memberi tahukan pada Elsa bahwa ia mendapatkan tawaran pemotretan.
"Aku akan ambil, dimana dan kapan?" tanya Elsa antusias.
"Apa kamu tidak mau bertanya pemotretan seperti apa, Dear?" tanya Olga dari seberang telpon dengan nada kemayu nya. Karena ia memang seorang pria yg bertingkah seperti wanita.
"Yg penting pemotretan dulu, Ga. Aku hanya ingin punya tujuan hidup saat ini" lirih Elsa. Tanpa Arfan, ia memang merasa tidak memiliki apapun lagi. Selain itu, dengan bekerja mungkin saja ia bisa mengalihkan fikiran nya dan bisa perlahan melupakan Arfan.
"Baiklah, minggu depan aku akan mengirimkan tiket ke jepang untuk mu, kita akan bertemu di sana"
"Jepang?" pekik Elsa tak percaya.
"Ya, Jepang. Tenang saja, kamu akan bekerja dengan orang Indonesia di sana"
"Wow, okey okey. Aku setuju" ujar Elsa dengan sangat bahagia.
"Jepang, ini akan menjadi awal yg baru dalam hidup ku. Semoga ini bisa membuat ku keluar dari keterpurukan ku"
...... ...
Selama beberapa hari ini Elnaz dan Arfan menjalani hari dengan biasa saja, saat Arfan bekerja, Elnaz hanya di rumah, membersihkan rumah, memasak, membaca buku, atau bahkan membuat kue. Elnaz terkadang merasa sangat bosan dan kesepian namun ia tak bisa apa apa, apa lagi Arfan melarang nya keluar sendirian.
Arfan terlihat menikmati kehidupan mereka saat ini namun tidak dengan Elnaz, ia masih di liputi kebimbangan akan perasaan dan masalah rumah tangga nya.
Mereka tinggal dalam satu rumah, satu kamar bahkan berbagi ranjang. Tapi mereka masih bersikap seolah mereka hanya sebatas saudara dan itu membuat Elnaz merasa khawatir. Khawatir bagaimana jika ia bernasib sama dengan wanita di toilet waktu itu?
Apa lagi terkadang saat Elnaz mengantarkan makan siang ke rumah sakit untuk Arfan, ia sering mendapati Arfan bersama suster seksi Jessy. Membuat Elnaz ingin menyiram wajah cantik suster itu dengan kuah sop yg ia bawa.
__ADS_1
Jam menunjukan pukul 6 sore, Elnaz menyalakan seluruh lampu di rumah nya dan menutup pintu dan jendela.
Memiliki suami seorang Dokter sangatlah tidak mudah ternyata, karena hampir seluruh waktu Arfan tersita untuk pekerjaan nya dan bahkan beberapa kali Arfan pulang tengah malam.
Elnaz mendengar deru mobil dari luar, ia segera mengintip ke jendela dan ternyata itu adalah mobil Arfan yg baru sampai beberapa hari yg lalu.
Elnaz segera berlari keluar dan menyambut kakak nya "Tumben Kak Arfan sudah pulang" seru Elnaz sembari menarik tas kerja Arfan dari tangan Arfan.
"Iya, Dek. Sebenarnya ada yg ingin kakak bicarakan" ujar Arfan serius. Seketika Elnaz merasa tegang, apakah Arfan sudah jatuh cinta pada suster Jessy? apakah Arfan akan menceraikan nya?
"Aduh, bagaimana ini? Apa aku tanyakan saja pada Kak Arfan? Bagaimana ini?"
"Dek, kenapa melamun?" tanya Arfan.
"Em... Engga, itu.. Emm suster seksi...."
"Jessy?" tanya Arfan dan seketika Elnaz memberengut.
"Ya karena cuma Jessy yg kamu panggil Suster seksi" jawab Arfan "Memang nya kenapa dengan Suster Jessy?"
"Engga apa apa, memang nya Kak Arfan mau bicara apa tadi?" tanya Elnaz kemudian ia membuka pintu kamar nya yg ada di lantai dua itu. Elnaz meletakkan tas kerja Arfan di tempat nya kemudian ia mengambil kan handuk dan kaos rumahan untuk Arfan.
"Oh itu, sebenar nya besok pagi kakak mau ke surabaya"
"Huh? Kenapa? Sama siapa?" tanya Elnaz dan tampak ketidak sukaan di mata nya saat mendengar Arfan akan pulang kampung.
"Sendirian, cuma sehari saja Karena kakak ada keperluan ke rumah sakit disana, Dek. Kalau kamu mau ikut, ayo. Nenek pasti senang" ujar Arfan serius namun seketika Elnaz mengingat apa yg sudah terjadi di kampung halaman nya. Disana tak ada satupun yg peduli pada nya selain nenek nya. Selain itu, baik keluarga nya maupun keluarga Arfan belum bisa menerima status Elnaz sebagai istri Arfan.
"Ikut ya, Dek" ajak Arfan lagi namun Elnaz malah menggeleng "Kenapa?" tanya Arfan.
__ADS_1
"Masih belum siap bertemu dengan orang orang disana, Kak" jawab Elnaz lirih dan Arfan mengangguk mengerti.
"Besok lusa Kakak sudah pulang lagi, kok. Tapi kakak cuma khawatir karena kamu sendirian di sini, Dek. Jadi kakak ingin kamu tinggal sama Suster Jessy ya" pinta Arfan yg langsung membuat Elnaz melotot kesal.
"Kenapa harus sama suster seksi itu? El bisa jaga diri, El sudah dewasa" tukas Elnaz ketus.
"Kakak tahu kamu bisa jaga diri, tapi ini tempat baru, El. Kamu tidak mengenal siapa pun di sini, karena itulah kakak khawatir sama kamu, kakak mohon kamu mau ya tinggal sama Suster Jessy sampai kakak kembali"
"Tapi kalau suster seksi itu jahat, Bagaiamana?" Arfan langsung tertawa mendengar pertanyaan Elnaz.
"Sayang, dia baik kok"
"Tapi, Kak...."
"Kalau kamu tidak mau tinggal sama Suster Jessy, Kakak akan bawa kamu pulang kampung" tegas Arfan tanpa bisa di bantah. Bahkan saat Elnaz membuka mulut hendak protes, Arfan malah memelototi nya.
Elnaz kembali cemberut, ia tidak suka pada suster seksi itu. Namun jika ia ikut pulang, ia juga tidak suka jika harus bertemu dengan Elsa.
...... ...
Arfan mengantar Elnaz ke apartemen Suster seksi itu, Elnaz terus cemberut dan memberengut bahkan saat ia memasuki kamar yg sudah di siapkan suster seksi itu.
Jessy menghampiri Elnaz yg masih memberengut dan ia berkata
"Kamu tenang saja, El. Selama dua hari ini aku libur, jadi aku bisa menemani kamu di sini. Atau kalau kamu nanti mau jalan jalan, aku juga bisa membawa mu kemana pun kamu mau" seru suster Jessy dengan senyum sumringah. Bukan nya menjawab tawaran suster Jessy, Elnaz malah memperhatikan penampilan Suter Jessy yg hanya mengenakan tank top dan hot pants yg di padukan outer tipis. Sungguh penggoda hakiki, fikir Elnaz.
"Dek...." seru Arfan sembari menepuk pundak Elnaz "Kakak pulang dulu ya, besok pagi kakak akan jemput kamu setelah dari bandara" ujar nya dan Elnaz pun mengangguk.
"Titip Elnaz ya, Jess" pinta Arfan dan Jessy mengangguk dengan senyum lebar. Jujur saja, Elnaz merasa cemburu dengan kedekatan suster itu dengan suami nya. Apa lagi mungkin setiap hari mereka bertemu di rumah sakit, ah kemungkinan nya begitu besar untuk mereka bisa jatuh cinta. Memikirkan itu Elnaz hanya bisa menghela nafas panjang.
__ADS_1
Jessy dan Elnaz mengantar Arfan sampai depan pintu apartemen.