
Di Bandara, Elsa di jemput ayahnya dan nyali Elsa langsung menciut saat tanpa sengaja menatap mata sang ayah. Kemarahan dan kekecewaan terlihat jelas di sana.
"Masuk..." tegas Pak Malik sembari membuka pintu mobil, Elsa pun masuk dan Pak Malik menutup pintu nya dengan sangat kasar, membuat Elsa terlonjak kaget karena suara gebrakan yg di timbulkan. Pak Malik bahkan setengah melempar koper Elsa ke belakang, membuat Elsa bergidik dan ia menunduk takut.
Kemudian Pak Malik duduk di kemudi dan ia menjalankan mobil dengan kecepatan penuh, membuat Elsa semakin takut. Namun tiba tiba Pak Malik menginjak rem, sekali lagi membuat Elsa terlonjak kaget.
"Siapa yg mengizinkan mu melakukan pekerjaan seperti itu, Sa?" tanya ayah nya yg sudah tidak tahan menahan amarah pada anak perempuan nya ini.
"Itu...." Elsa berusaha menjelaskan nama rasa takut akan kilatan amarah di mata ayahnya itu membuat Elsa tak bisa berkata apa apa, dan ia hanya bisa menelan ludah nya.
"Papa engga mau tahu, kamu harus berhenti melakukan pekerjaan itu. Kenapa kamu tidak melakukan pekerjaan yg lain saja?"
"Tapi kan cita cita ku memang jadi model, Pa..." lirih Elsa.
"Memangnya harus begini, Sa? Mau taruh dimana muka Papa sama Mama mu, Sa? Orang orang sedang sibuk membicarakan tubuh mu, astagfirullah..." gumam Pak Malik di akhir kalimat nya, ia sungguh tak mampu membayangkan tubuh anak perempuan nya menjadi konsumsi publik.
"Aku kan cuma bersikap profesional, Pa...." Elsa kembali menjawab yg membuat ayah nya langsung memukul setir dengan keras.
"Kenapa kamu itu keras kepala sekali sih, Sa? Huh?" teriak nya yg membuat Elsa langsung menangis sesegukan.
Pak Malik kembali menjalankan mobil nya menuju rumah, masih dengan amarah yg sama sementara Elsa juga masih menangis.
Sesampainya di rumah, tetangga Elsa langsung mengintip Elsa yg kini sudah terkenal karena foto foto seksi nya itu. Hal membuat Pak Malik semakin merasa tidak punya muka, ia menyeret Elsa masuk ke dalam rumah nya.
Di dalam, Bu Isna yg melihat Elsa menangis langsung memeluk nya dan menenangkan nya.
__ADS_1
"Mas, sudah aku bilang jangan asal marah, ini kan bisa di bicarakan baik baik" ujar Bu Isna.
"Aku sudah bicara baik baik, tapi dia tetap keras kepala" ujar Pak Malik marah.
"Ma..." rengek Elsa pada sang Mama "Aku tidak bermaksud mempemalukan keluarga kita, ini hanya tuntutan pekerjaan, Ma. Tolong ngertiin posisi ku..." tutur nya yg membuat Pak Malik semakin menggeram marah.
"Sa, Papa selalu menuruti semua kemauan kamu, selalu mendukung keputusan kamu, tapi tidak sekarang, Elsa. Kamu sudah keterlaluan" seru sang ayah marah.
"Mas, tidak perlu membentak Elsa juga..." sambung Bu Isna.
"Ini nih yg membuat dia kerasa kepala, kamu selalu memanjakan nya, Is..."
"Kenapa kalian ribut ribut?" tanya nenek yg keluar dari kamar nya dengan langkah tertatih nya.
Nenek melihat Elsa yg menangis, ia mendesah lesu melihat sang cucu.
"Bu, kenapa ikut ikutan sih?" tanya Bu Isna kesal.
"Bukan nya ibu ikut ikutan, Is. Ibu cuma perduli sama Elsa, ibu sayang sama Elsa, ibu tidak mau dia menjadi cibiran orang..." tutur sang nenek.
"Nek..." Elsa menghampiri nenek nya, menggenggam tangan keriput sang nenek "Aku tahu kalian semua perduli sama aku, tapi ini kan hanya pekerjaan, Nek. Sejak dulu aku sudah bermimpi ingin jadi model, tolong mengerti, Nek..., Elsa memohon dengan air mata yg berderai.
"Nenek tahu, Nak. Tapi apa harus setengah telanjang begitu?" tanya sang nenek dengan suara bergetar "Malu, Sa. Ada banyak mata lelaki yg menikmati tubuh mu, berhenti saja, ya... Cari pekerjaan yg lain, kamu kan pintar, pasti dapat pekerjaan yg jauh lebih baik" bujuk sang nenek yg seperti nya itu malah membuat Elsa kesal.
"Kenapa sih kalian itu tidak mau mengerti aku sedikit saja? Kenapa harus perduli sama omongan orang lain?" tanya Elsa kesal.
__ADS_1
"Kami mengerti, Sa. Kamu yg tidak mengerti apa apa, kami melarang mu karena kami perduli" tukas pak Malik.
"Perduli?" pekik Elsa dengan emosi yg mulai memuncak "Kalau kalian perduli, kalian tidak akan membiarkan Elnaz mengambil Arfan. Kalian tidak akan membiarkan mereka menikah..." teriak Elsa dengan emosi yg sudah meluap.
"Kenapa malah bawa bawa Elnaz dan Arfan?" tanya sang nenek yg tak habis fikir dengan cucu nya itu.
"Ini masalah kamu, Sa. Tidak ada hubungan nya dengan Arfan, Elnaz apa lagi pernikahan mereka" tukas sang nenek.
"Tentu saja ada, Nek..." seru Elsa dengan air mata yg kembali mengalir deras "Kalau saja Elnaz tidak menikah sama Arfan, sekarang hidup ku tidak akan begini..." isak Elsa, Bu Isna mengusap pundak Elsa, berharap bisa menenangkan emosi anak nya.
"Ini kan keputusan mu yg meninggalkan Arfan dan meminta Elnaz menjadi pengganti mu, Sa..." tukas sang ayah juga dengan emosi yg memuncak.
"Kan cuma pengganti saat duduk di pelaminan, Pa. Bukan di nikahi dan di jadikan istrinya" Balas Elsa sengit "Dan kalian malah membiarkan semua itu terjadi, lalu dimana keperdulian kalian, Pa? Nek?"
"Kami tidak mencegah keputusan mu untuk pergi saat itu, Sa..." seru sang nenek "Sama seperti itu, kami juga tidak bisa mencegah keputusan Arfan yg ingin memperistri Elnaz" tukas nya.
"Kalau begitu, ini juga menjadi keputusan ku dan kalian tidak berhak mencampuri urusan ku karena aku sudah dewasa..." seru Elsa kemudian.
"Tapi kamu sudah membuat orang tua mu malu, Sa..." geram Pak Malik dengan emosi yg benar benar sudah ada di ubun ubun nya.
"Malu kenapa sih, Pa? Itu kan hanya bagian dari pekerjaan ku, Pa. Papa tidak perlu mendengarkan ucapan orang lain..." tukas Elsa tetap dengan keras kepala nya yg membuat emosi Pak Malik semakin tidak terkontrol dan ia langsung melayangkan tamparan nya pada Elsa.
Plakkk
"Kamu itu anak Papa sama Mama, jadi dengarkan ucapan kami..." teriak Pak Malik.
__ADS_1
Elsa langsung terdiam mematung sembari memegang pipi nya yg terasa panas akibat tamparan sang ayah, sementara Bu Isna juga hanya bisa tercengang dengan kemarahan suami nya yg tak pernah semarah itu sebelum nya. Sang nenek pun juga hanya bisa diam dan ia merasa apa yg di lakukan Malik memang benar, berharap Elsa tidak lagi keras kepala setelah ini.