(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 131 - Menjadi Pasangan Yg Baik & Orang Tua Yg Baik (TAMAT)


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Arfan langsung turun dari mobil nya sembari memegang kepala nya yg terasa sangat sakit.


Saat masuk rumah, Arfan melihat ada banyak mainan Aurora yg berserakan di lantai, dan jujur saja membuat Arfan semakin pusing melihat rumah nya yg setiap hari seperti tidak pernah di bersihkan, namun Arfan mengerti, itu pasti ulah putri nya itu dan meskipun di bersihkan, yg nama nya anak mau main, siapa yg bisa mencegah nya.


"El..." teriak Arfan sembari memasuki kamar nya yg masih berada di lantai satu.


"Bu Elnaz tadi jalan jalan di luar, Pak. Sambil bawa makan Non Aurora" jawab ART nya dan Arfan hanya mengangguk anggukan kepala nya.


Arfan masuk ke kamar, dan yah... Dia melihat ranjang nya masih sedikit berantakan, Arfan tahu, pasti tadi Elnaz bawa Aurora main di ranjang. Sebelum memiliki anak, kamar apa lagi ranjang mereka selalu rapi, seprei tidak pernah kusut juga. Arfan hanya tersenyum simpul mengingat masa masa sebelum mereka memiliki sang malaikat kecil.


Arfan menarik ujung seprei, merapikan nya agar elok di pandang. Ia mengambil mainkan kerenceng Aurora yg ada di tengah ranjang dan memasukkan nya ke dalam box mainan.


Setelah itu, Arfan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, supaya lebih segar.


Setelah mandi, Arfan mengambil kaos dan boxer nya, kemudian mengambil paracetamol dari laci dan meminum nya.


"Eh, Papa sudah pulang..." ujar Elnaz yg baru masuk ke kamar sambil menggendong putri nya.


"Iya, El. Kakak tidak enak badan, seperti nya demam" ujar Arfan sembari sedikit membungkuk guna mencium pipi tembem putri kecil nya.


"Sudah minum obat, Kak?" tanya Elnaz yg tampakA khawatir pada suami nya itu.


"Sudah" jawab Arfan kemudian mengambil Aurora dari gendongan Elnaz, tentu Aurora langsung mau dan melompat girang ke dalam gendongan Arfan.


"Ca... Ca... Ca..." racau putri nya itu sembari memukul mukul pipi Arfan dengan tangan kecil nya. Arfan menangkap tangan kecil Aurora dan pura pura menggigit nya, membuat Aurora cekikikan senang.


"Kak Arfan istirahat saja kalau sakit" kata Elnaz dan saat ia melihat ranjang, kini ranjang nya sudah bersih dan rapi, membuat ia meringis "Emm, Kak. Maaf ya, tadi tidak sempat bersihkan ranjang nya habis ngajari Aurora berdiri di sana. Soalnya tadi aku bawa Aurora makan dulu" cicit Elnaz "Kak Arfan pulang kerja lelah, sakit kepala, dan sesampainya di rumah, rumah nya malah seperti kapal pecah. Makin sakit kepala ya, Kak" imbuh nya yg membuat Arfan terkekeh.


"Jujur saja sih, memang kayak makin pusing. Tapi rasa nya itu ciri khas nya punya bayi" jawab Arfan yg membuat Elnaz tersenyum meringis.


"Ya sudah, El mau siapin air hangat buat Aurora dulu..."


"Iya, biar Aurora sama Papa, ya Nak..."


Arfan membawa Aurora keluar dari kamar nya, dan ia melihat ruangan nya yg kembali bersih karena sudah di bersihkan oleh ART nya.


Kepala Arfan masih sangat sakit sebenarnya, seperti berdentum dentum, ia pulang cepat supaya bisa istirahat, tidur di ranjang nya. Tapi... Yah... Resiko punya bayi.


Arfan pergi ke dapur dan ia melihat makanan yg masih banyak di meja makan, membuat Arfan mengernyit bingung.


"Kenapa makanan masih banyak, Bi? Memang nya tidak ada yg makan?" tanya Arfan.


"Tadi siang Non Aurora rewel, Pak. Nangis terus, minta di gendong terus sama Bu Elnaz, kalau sama saya tidak mau, jadi nya Bu Elnaz tidak sempat makan" tukas pembantu nya itu.


"Apa tidak ada waktu sedikit pun untuk makan? Saat Aurora tidur..." ujar Arfan lagi.


"Sepertinya Bu Elnaz tidak enak badan, Pak. Kata nya dia memang tidak selera makan" jawab pembantu nya lagi dan Arfan mengangguk anggukan kepala nya.


"Kak, mana Aurora nya?" terdengar suara teriakan Elnaz bersamaan dengan langkah kaki nya yg mendekat.


"Hey, Aurora... Ayo mandi..." kata Elnaz mengulurkan tangan nya pada Aurora dan Aurora pun langsung menyambut nya sambil tersenyum riang, memperlihatkan dua 4 gigi nya yg sangat mungil.


Setelah Elnaz membawa Aurora untuk mandi, Arfan pun merangkak naik ke atas ranjang, obat yg di minum nya sudah bereaksi sehingga ia mulai mengantuk.


Sementara itu, Elnaz yg sudah selesai memandikan anak nya melihat Arfan yg sudah tidur di ranjang. Karena tak ingin mengganggu suami nya, Elnaz membawa Aurora ke luar beserta pakaian nya, bedak dan lain nya.


.........


Saat tengah malam, Demam Arfan tidak juga turun, bahkan kini pria itu menggiggil. Elnaz yg bangun untuk menyiapkan susu anak nya langsung memeriksa tubuh suami nya itu, Elnaz menempelkan punggung tangan nya di kening Arfan.


"Demam nya tinggi..." gumam Elnaz. Ia melirik jam yg menunjukan pukul satu dini hari.


Elnaz bergegas untuk mengambil air hangat dan handuk untuk mengkompres suami nya setelah ia selesai memberikan susu nya pada Baby Aurora.

__ADS_1


Elnaz mulai mengkompres Arfan dengan hati hati, agar suami nya itu tidak terbangun. Elnaz mengambil selimut yg lebih tebal dan menyelimuti Arfan, tak lupa ia juga mematikan AC kamar nya.


Saat handuk nya sudah tak lagi hangat, Elnaz kembali mencelupkan handuk itu ke air yg masih hangat, ia memeras nya dan menempelkan nya di kening Arfan. Ia lakukan itu beberapa kali sampai Elnaz merasa mengantuk.


Sebenarnya Elnaz juga merasa sakit kepala dan tidak enak badan, apa lagi ia memang kurang tidur karena mengurus bayi nya.


.........


Arfan terbangun di pagi hari dan ia merasa lebih baik, Arfan meraba kening nya saat merasakan sesuatu di sana. Arfan tersenyum saat menyadari apa yg Elnaz lakukan, sementara Elnaz sudah terbangun sejak sebelum subuh tadi karena Aurora nya memang bangun saat hari masih sangat gelap.


Arfan melihat paracetamol ada di atas meja dan seperti nya ada yg meminum nya.


"Apa Elnaz sakit juga ya..." gumam nya dan ia teringat dengan apa yg di katakan ART nya kemarin. Arfan kembali tersenyum simpul.


Seorang istri akan selalu mengutamakan suami nya.


Seorang Ibu akan selaku mengutamakan anak anak nya.


Elnaz melihat Arfan yg sudah keluar dari kamar dan tampak nya ia sudah baikan.


"Sudah turun panas nya, Kak?" tanya Elnaz yg saat ini sedang menyuapi Aurora. Sementara Aurora merangkak mengitari ruangan, Elnaz duduk di lantai mengawasi anak nya, dan saat hendak menyuapi nya lagi, Elnaz menghampiri Aurora.


"Iya, kamu sendiri gimana, El? Kamu sakit kepala ya? Tadi kakak lihat ada paracetamol di atas nakas"


"Iya, sedikit" jawab Elnaz sambil tersenyum.


Arfan pun ikut tersenyum, ia ikut duduk di samping Elnaz, meminta piring makan anak nya.


"Biar Kakak yg suapi..." ujar Arfan dan tentu Elnaz langsung memberikan nya.


"El mandi dulu ya, Kak. Dari kemarin tidak keramas, Aurora rewel terus, tidak mau di tinggal, sama Bibi juga tidak mau" rengek Elnaz yg membuat Arfan tertawa. Putri nya itu memang sangat merepotkan, dia benar benar rewel dan tidak mau di gendong siapa pun selain ibu dan ayah nya, bahkan jika kakek Nenek nya datang berkunjung, Aurora juga tak mau di gendong sama mereka.


Sementara Arfan dengan jahil nya ia justru mencium rambut Elnaz yg mengeluh belum sempat keramas, Elnaz hendak menghindar tapi sudah terlambat.


"Memang" jawab Arfan sambil terkekeh, membuat Elnaz memberengut.


.........


Dua hari kemudian, Arfan bersiap siap untuk undangan pertunangan dari Dokter Roger, Dokter yg menangani Elnaz saat Elnaz jatuh dari tangga, yg juga teman kerja Arfan.


"Semua Dokter di undang, Kak?" tanya Elnaz pada Arfan.


"Sepertinya cuma teman teman terdekat nya saja" jawab Arfan sembari mengancingkan kemeja nya, sementara Elnaz sibuk memakaikan baju Aurora.


"Hem begitu..." gumam Elnaz.


"Kamu takut Nadine di undang?" tanya Arfan sambil terkekeh, membuat Elnaz mencebikan bibir nya. Melihat itu, Arfan menjadi gemas, ia mencium pipi Elnaz dan itu seperti nya malah mengundang kecemburuan Aurora, Aurora langsung memegang pipi Elnaz sambil meracau tidak jelas. Membuat Elnaz dan Arfan tertawa.


"Anak Papa mirip Mama nya, cemburuan" goda Arfan.


"Bapak nya sama..." balas Elnaz.


"Harus dong, biar tidak ada yg ngembat" kata Arfan


"Oh, kita punya alasan yg sama" sambung Elnaz.


"Karena kita saling mencintai" kata Arfan lagi.


"Dan sangat takut kehilangan..." Elnaz mengimbuhkan. Arfan menatap Elnaz dengan tatapan sendu nya dan berkata dengan sangat lirih.


"Sangat..." lirih nya "Aku mungkin melakukan kesalahan, tidak peka, egois, atau mungkin terlalu sibuk dengan pekerjaan ku sehingga aku mengenyampingkan kalian, dan jika itu terjadi, ingat kan aku ya, Sayang. Ingat dengan cara apapun sampai aku kembali sadar, karena aku tahu, aku akan sangat menyesal jika aku melakukan kesalahan dan membuat mu pergi dari ku... " Arfan menggendong Aurora yg kini sudah cantik dengan gaun biru langit nya.


"Kalian berdua adalah kebahagiaan sejati, Kakak. Kalian tidak akan tergantikan oleh siapapun" ucap nya yg membuat Elnaz tersenyum senang.

__ADS_1


"Ingatkan El juga, jika El tidak bisa menjadi istri yg baik..."


"Kita akan selalu mengingatkan"


"Bagaiamana dengan ini?" Elnaz menunjukkan gaun yg ia keluarkan dari lemari, gaun yg juga berwarna biru langit seperti warna gaun putri nya.


"Pasti sangat cantik" kata Arfan.


"Masih ada lemak yg tertinggal tidak?"tanya Elnaz lagi sambil berputar di depan kaca.


8 bulan setelah melahirkan, tubuh nya telah kembali ke bentuk semula, Elnaz tidak diet, hanya melakukan olah raga ringan itu pun jika ada waktu. Tapi Arfan membelikan nya korset yg harga nya cukup mahal supaya tubuh Elnaz kembali ke bentuk tubuh semula, bukan karena Arfan tidak suka tubuh Elnaz jika gendut, tapi karena ia takut Elnaz tidak percaya diri lagi, dan jika istri nya tetap cantik, Arfan juga tak punya alasan untuk tertarik dengan kecantikan di luar.


..........


Pesta pertunangan Dokter Roger berlangsung dengan lancar, dan ternyata calon istri Dokter Roger seorang Suster yg juga bekerja di rumah sakit yg sama. Seperti nya yg datang memang hanya teman dekat, dan seperti nya Nadine termasuk ke dalam golongan teman dekat Dokter Roger.


Nadine masih terlihat bersikap biasa dan itu membuat Elnaz muak, namun Arfan justru menunjukkan sikap dingin nya pada Nadine. Tentu saja hal itu membuat Nadine jengah, apa lagi ketika Arfan memblokir kontak Nadine.


Dan hal itu, membuat Elnaz bernafas lega.


Teman teman Dokter Arfan menyapa Aurora dan ingin menggendong nya namun Aurora tentu menolak dan merengek. Aurora di gendong oleh Arfan atas permintaan Arfan. Dia tak ingin istri nya kelelahan jika harus menggendong Aurora sepanjang acara.


Elnaz dan Arfan terlihat seperti couples goals. Mereka selalu menampilkan kemesraan mereka apa lagi dengan hadir nya Aurora di tengah tengah mereka. Membuat mereka semakin terlihat sebagai pasangan yg harmonis.


Sementara Nadine hanya bisa melihat kebahagiaan mereka dari kejauhan, hanya bisa menelan ludah nya saat melihat kebahagiaan Arfan bersama istri dan putri nya.


"Kak, El ke rest room dulu" ujar Elnaz saat ia melihat Nadine yg tampak nya juga mau ke toilet.


"Iya, Sayang" jawab Arfan.


Saat masuk toilet wanita, Elnaz melihat Nadine yg sedang berkaca dan memoleskan lipstik di bibir nya.


Elnaz mencuci tangan di wastafel di samping nya.


"Jauhi suami ku..." kata Elnaz dingin tanpa menatap Nadine "Kamu juga wanita, terlahir dari seorang wanita. Jadi hargai lah perasaan wanita lain. Dan satu hal lagi..." kali ini dengan berani Elnaz menatap Nadine sementara Nadine hanya diam saja.


"Karma itu masih berlaku, jika kamu menyakiti seseorang, maka takdir juga akan membuat mu sakit, dan jika karma tidak membalas nya pada mu, bisa saja pada keluarga mu, anak anak mu. Jadi..." Elnaz mengambil lipstik yg ada di tangan Nadine dan memoleskan nya di bibir Nadine, Nadine tampak kesal namun ia menahan diri.


"Percantik diri mu untuk pasangan mu sendiri, kelak. Bukan untuk pasangan orang lain"


Setelah itu, Elnaz langsung bergegas kembali ke acara. Meninggalkan Nadine yg menahan kesal dan amarah, apakah Elnaz menginjak harga diri nya?


Sama sekali tidak, karena Nadine mempertaruhkan harga diri nya saat ia berani menatap pasangan orang lain.


.........


Sepulang nya dari pesat, Aurora sudah tidur. Elnaz menggendong nya dan menidurkan nya di tengah ranjang. Kemudian ia bergantian mandi dengan Arfan.


Setelah itu, mereka bersiap tidur. Biasanya Arfan akan tidur di sisi kiri Aurora, sementara Elnaz di sisi kanan nya. Namun sekarang tiba tiba Arfan tidur menyamping di belakang Elnaz, ia memeluk istri nya dan mengecup pundak sang istri.


"Aku mendengar apa yg kamu katakan pada Nadine di toilet wanita..." bisik Arfan di telinga Elnaz membuat Elnaz langsung menoleh, Arfan terkekeh dan langsung mencium pipi Elnaz "Aku tadi mau menyusul, soalnya Aurora sedikit rewel. Terus aku dengar apa yg kamu bicarakan sama dia"


"I love it, my precious. Kamu tahu? Kamu adalah pasangan dan ibu yg sangat baik, dan kakak sangat beruntung memiliki kamu" bisik nya lagi yg membuat Elnaz tersenyum.


"Kakak juga pasangan dan Ayah yg sangat baik"


Arfan tersenyum dan kembali mencium pipi sang istri.


Seseorang yg mampu menjadi pasangan yg baik, akan mampu menjadi orang tua yg baik.


....


...TAMAT...

__ADS_1


Karena ada prolog nya, pasti akan ada epilog nya. Tunggu ya...


__ADS_2