
Arfan pulang kerumah saat hari sudah malam, bukan nya ia berbohong pada Elnaz saat mengatakan akan pulang sore, namun pasien Arfan dalam kondisi urgent yg membuat Arfan harus stay di rumah sakit dan memastikan pasien nya baik baik saja, sebagai Dokter, Arfan harus melakukan pekerjaan nya sebaik mungkin karena ia menangani kesehatan seseorang yg bisa berdampak pada hidup orang itu.
Dan saat pulang, Arfan mendapati istri nya yg cemberut pada nya, tentu Arfan tahu masalah nya dan tahu apa penyebab nya.
Arfan lelah, sangat lelah. Saat pulang, tentu yg ia harapkan adalah sambutan hangat sang istri, senyum manis nya dan pancaran cinta dari mata nya sebagai penghilang lelah nya, Tapi ini?
"Assalamualaikum, Sayang..." Arfan menyapa Elnaz yg saat ini sedang menonton tv, duduk di sofa dengan menselonjorkan kaki nya.
"Kum salam" jawab nya ketus, Arfan berusaha tetap tersenyum. Ia tahu ini karena hormon kehamilan sang istri, dan ia juga tahu, Elnaz juga pasti lelah mengurus rumah. Karena Arfan sendiri sudah merasakan bagaimana lelah nya mengurus rumah. Apa lagi hari ini Sabtu, di hari Sabtu atau minggu, biasanya Elnaz ke pasar dan berjalanja kebutuhan dapur untuk satu minggu. Arfan juga pernah ke pasar, ia memilih ikan yg segar dan bagus, memilih sayur mayur, bawang bawangan, memilih daging dan sebagainya, itu juga melelahkan, sama lelah nya dengan mengoperasi pasien nya. Dan saat hari Sabtu atau minggu, biasanya Elnaz memang melakukan semua pekerjaan rumah, karena di hari hari yg lain ia akan sibuk dengan kuliah dan tugas tugas nya.
"Sudah makan malam?" tanya Arfan lembut tentu setelah memberikan kecupan yg juga sangat lembut di pelipis Elnaz, kecupan yg memberi tahu betapa Arfan mencintai Elnaz.
"Kakak sudah makan?" Elnaz balik bertanya walaupun masih dengan nada ketus.
"Belum, Sayang. Tadi tidak sempat, ini saja Kakak belum sholat Isya" jawab Arfan memelas, tentu saja tujuan nya untuk menarik perhatian sang istri.
Dan benar saja, kini Elnaz langsung berdiri dan menatap Arfan dengan sendu, ia mengambil tas kerja Arfan dari tangan nya dan kemudian ia menyunggingkan senyum.
"Mau mandi dulu atau makan dulu?" tanya Elnaz, kali ini dengan begitu lembut, tatapan nya juga lembut dan tak lupa ia menyunggingkan senyum yg sangat Arfan harapkan.
"Mandi dulu, Sayang. Biar segar, habis itu mau sholat Isya" jawab Arfan juga dengan senyum yg penuh semangat.
"Mau berendam air hangat atau mau mandi di shower saja?" tanya Elnaz lagi sembari menggandeng suami nya menaiki tangga dan berjalan menuju kamar mereka.
__ADS_1
"Mau mandi biasa saja, Sayang. Kakak sudah lapar" jawab Arfan dan Elnaz mengangguk anggukan kepala nya mengerti.
"El panasin makanan nya sementara Kak Arfan mandi" kata Elnaz yg bahkan kini membantu Arfan membuka kemeja nya. Arfan tersenyum dan mengangguk.
Setelah Arfan memasuki kamar mandi, Elnaz menyiapkan boxer dan kaos oblong untuk suami nya. Tapi mengingat Arfan yg kata nya belum sholat Isya, Elnaz juga menyiapkan baju koko Arfan, sarung, peci dan tak lupa Elnaz menghamparkan sejadah untuk suami nya itu.
Setelah itu, Elnaz bergegas turun untuk menyiapkan makanan. Saat berjalan di tangga, Elnaz sangat hati hati dan berpegangan pada pagar tangga, karena Elnaz masih trauma dengan kecelakaan yg menimpa nya itu.
Sesampainya di dapur, Elnaz menghangatkan makanan yg memang sudah dia siapkan sejak tadi sore.
Elnaz tentu kecewa karena Arfan tidak pulang sore hari, namun Elnaz tahu, pekerjaan menjadi Dokter itu pasti tidak mudah apa lagi ketika ada situasi yg urgent, karena itu berhubungan dengan kehidupan seseorang, jadi Arfan harus melakukan tugas nya sebaik mungkin.
Elnaz menyiapkan makan malam dengan senyum hangat di bibir nya, sebenarnya rasa jengkel nya musnah seketika saat ia merasakan kecupan Arfan yg begitu hangat dan senyum Arfan yg begitu lembut meskipun Elnaz sudah ketus pada nya. Namun ego Elnaz masih sedikit tinggi, tapi saat Arfan tampak lelah, Elnaz menjadi kasihan, apa lagi Arfan bekerja untuk diri nya juga.
Elnaz menunggu Arfan sampai Arfan selesai berdoa, dan setelah itu, Arfan mengganti pakaian nya dengan kaos.
"Makanan nya sudah siap, Kak" kata Elnaz.
"Baiklah, Sayang. Ayo kita turun" kata Arfan sembari memakai boxer nya.
Elnaz dan Arfan turun dengan bergandengan tangan, mungkin ini yg nama nya bahagia itu sederhana.
Saat istri nya merajuk, maka suami hanya perlu memperlakukan nya selembut mungkin, sehangat mungkin, karena hati perempuan itu mudah tersentuh bahkan dengan hal sederhana seperti itu. Dan tentu sang suami harus mengerti, hanya karena istri nya berada di rumah, hanya menjadi ibu rumah tangga, bukan berarti ia tidak lelah. Karena menjadi ibu rumah tangga itu adalah karir paling melelahkan, secara fisik dan mental. Dan Arfan mengerti hal itu, sehingga ia akan berusaha memahami istrinya sebaik mungkin.
__ADS_1
Dan saat suami nya lelah, mungkin tak dapat menepati janji nya, marah marah dan diam diaman bukan solusi yg tepat. Menunjukkan bahwa istri mengerti keadaan sang suami, perduli pada nya, tentu akan membuat sang suami merasa lebih baik dan merasa begitu di hargai. Dan saat ia merasa di hargai, maka ia akan menghargai.
Elnaz menyajikan makanan untuk Arfan, ia juga menyiapkan air untuk suami nya itu.
"Bagaiamana keadaan mu hari ini, Sayang? Apakah calon bayi kita merepotkan?" tanya Arfan lembut.
"Sedikit, El lapar terus" jawab Elnaz sambil cengengesan, membuat Arfan terkekeh.
"Tidak apa apa, makan saja yg banyak asal yg sehat ya. Kalau cuma gendut mah kakak tidak masalah, malah kakak suka, kamu jadi imut" kata Arfan yg membuat Elnaz mencebikan bibir nya namun kemudian ia tertawa.
"Oh ya, maaf ya, tadi kakak tidak bisa pulang cepat. Pasien kakak sedang masa kritis dan kakak harus memastikan keadaan nya baik baik saja. Apa lagi beliau sudah lanjut usia" kata Arfan kemudian.
"Tidak apa apa, El faham kok. Maaf juga ya, Kak. El ketus, habis nya El beneran kesal karena kakak pulang nya telat, tapi sebenarnya El faham situasi kakak, cuma rasa kesal nya yg tidak mau faham" tutur Elnaz dengan nada merajuk di akhir kalimat, membuat Arfan terkekeh.
"Tidak apa apa" jawab Arfan.
"Besok minggu, Kak Arfan bekerja tidak?" tanya Elnaz dan Arfan mengangguk lemah, membuat raut wajah Elnaz langsung berubah kecewa.
"Kenapa?" tanya Arfan.
"Tidak apa apa, tadi nya El ingin jalan jalan, sejak El sakit, kita tidak pernah jalan jalan lagi" kata Elnaz kembali merajuk.
"Minggu depan ya, Sayang. Inysa Allah" bujuk Arfan dan Elnaz mengangguk meski raut wajah nya masih menampilkan ekspresi ngambek. Namun ia berusaha memahami suami nya.
__ADS_1