
Arfan memanggil orang untuk membersihkan rumah nya, sementara ia lebih memilih memasak karena di rumah tidak ada makanan apapun. Namun sebelum itu, Arfan mandi dan mengganti sholat yg tertinggal.
Dan benar dugaan Arfan, Elnaz menertawai nya karena Arfan pergi kerumah sakit tanpa mandi wajib terlebih dahulu. Arfan bahkan mengaku dia tidak sempat mencuci muka karena saking panik nya ia saat mendapatkan kabar tentang pasien nya.
"Padahal bisa pesan, Kak. Biar kak Arfan tidak capek" ujar Elnaz yg saat ini duduk di meja sembari membantu Arfan memotong beberapa sayuran maupun mengupas bawang. Padahal Arfan sudah meminta Elnaz untuk beristirahat di kamar saja, namun rasa bersalah istri nya itu membuat nya memaksakan diri membantu Arfan dan Arfan pun akhirnya membiarkan nya saja.
"Lebih enak dan lebih sehat masakan rumah, Sayang" jawab Arfan yg saat ini sedang memasak menu ayam.
"Ayam lada hitam buatan Kak Arfan enak" ujar Elnaz kemudian sembari menyerahkan potongan sayuran nya pada Arfan. Saat ini Arfan ingin memasak ayam lada hitam dan capcay kuah bakso. Karena menurut Arfan, setiap hari mereka harus memakan protein dan juga sayuran yg banyak.
"Ya dong, lebih enak mana sama buatan nenek?" tanya Arfan yg mulai memasak capcay nya.
"Sama enak nya" jawab Elnaz "Kan resep nya sama"
Arfan langsung tertawa mendengar jawaban istri nya itu, Elnaz pun juga ikut tertawa.
Setelah Arfan selesai memasak, ia menyajikan nya di meja makan dan kedua nya pun makan bersama.
"Kak..." seru Elnaz sembari menatap Arfan yg terlihat lahap memakan makanan nya.
"Iya, Sayang?" Arfan merespon dengan begitu lembut, membuat Elnaz tersenyum hangat.
"Maafin El ya..." Arfan langsung mendongak dan menatap istri nya itu dengan lembut namun jawaban Arfan membuat Elnaz memberengut.
"Tidak mau..." seru nya dan ia kembali melahap makanan nya dengan santai.
"Kenapa tidak mau?" tanya Elnaz merengek "Kata nya tadi sudah di maafin?"
"Iya, kakak maafin tapi setelah melihat lihat kerugian nya...." Arfan kembali menatap Elnaz dengan jahil
__ADS_1
"Lumayan, Sayang. Belum lagi ponsel kakak, mungkin habis dua bulan gaji seorang dokter. Vas bunga itu yg mahal kakak beli nya" Elnaz menatap Arfan cemberut, ia bahkan tidak memakan makanan nya dan pipi nya mengembung.
"Ah, sofa juga... Sofa itu juga sangat mahal, seperti nya tiga bulan gaji kakak habis buat mengganti barang barang itu..." Arfan masih melanjutkan dan masih menikmati makanan nya dengan santai. Elnaz pun masih dengan setia mendengar kan ocehan panjang lebar suaminya itu.
"Tapi sepertinya kakak tidak akan membeli vas bunga lagi, untuk jaga jaga takut nya istri Dr. Arfan cemburu lagi... Empph..."
Arfan melotot sempurna saat bahkan tubuhnya seperti kaku saat merasakan bibir Elnaz yg tiba tiba membungkam bibir nya.
Sementara Elnaz yg sudah gemas sekaligus kesal dengan ocehan kakak nya, tanpa fikir panjang langsung mencondongkan tubuhnya dan membungkam mulut suaminya itu dengan mulutnya.
Elnaz menarik diri dan duduk kembali di kursi nya setelah berhasil membuat Arfan terdiam dengan mata terbuka lebar dan bibir yg sedikit terbuka.
"Maaf, El kan sudahi minta maaf, Sayang..." ujar Elnaz dan ia tidak bisa menyembunyikan rona di pipi nya saat untuk pertama kalinya dia memanggil Arfan dengan sebutan sayang. Arfan kembali tercengang mendengar panggilan yg terasa menggelitik hati nya itu.
"Ooohhh...." Arfan berseru panjang dengan bibir nya yg bulat membentuk huruf O "Tidak termaafkan" lanjut nya yg membuat Elnaz langsung mencebikan bibir nya.
"Kan sudah kakak bilang, kerugian nya bisa tiga bulan gaji. Lagian kakak baru tahu sisi Elnaz yg satu ini, seperti singa betina yg terusik" ujar Arfan sambil terkekeh geli yg membuat Elnaz menghela nafas berat, ia tahu diri nya memang sudah sangat keterlaluan.
"El juga tidak tahu, Kak Arfan Sayang. Tapi... Rasanya sesak sekali, benar benar sakit, seperti ada yg menghantam ribuan batu ke hati El" tutur nya dengan jujur. Mendengar itu, Arfan tak bisa menyembunyikan senyum senang nya.
"Karena kamu seorang istri, El..." seru Arfan "Tidak ada satupun seorang istri yg rela suami nya meninggalkan nya dan pergi menemui wanita lain, apa lagi wanita itu mantan nya" lirih Arfan dan Elnaz mengangguk setuju.
"El takut, Kak. El takut Kak Arfan meninggalkan El dan kembali ke kak Elsa, karena kalian sudah bersama selama 8 tahun. El bahkan masih ingat saat Kak Arfan memberi tahu El kalau Kak Elsa dan Kak Arfan itu menjadi sepasang kekasih dan saat itu Kak Arfan sangat bahagia dan.... " Elnaz tak bisa melanjutkan kata katanya, suara tercekat di tenggorokan nya dan memikirkan masa lalu Arfan dan Elsa yg begitu bahagia membuat mata Elnaz terasa panas dan hati nya kembali teras sesak.
Sementara Arfan mulai mengerti apa yg membuat Elnaz terus meragukan nya bahkan sampai sangat marah seperti tadi.
Arfan beranjak berdiri, ia menghampiri Elnaz dan berlutut di depan istri nya itu.
"Katakan, El... Katakan apa yg mengganjal di hati mu, apa yg membuat mu merasa tidak nyaman dan takut..." lirih Arfan yg melihat Elnaz yg meneteskan air matanya dan ia menggigit bibir nya, berusaha menahan isak tangis nya.
__ADS_1
"Ayo, Sayang. Bicara lah..." bujuk Arfan "Sudah saat nya kita bersikap layaknya suami istri, dan keterbukaan kita sangat penting. Jangan menyimpan sesuatu yg mengganjal di hati mu tentang pernikahan kita, Elnaz. Apa lagi sampai menimbulkan kesalah fahaman seperti tadi" pinta Arfan lagi.
Elnaz menarik nafas dalam dalam ia menatap suaminya itu lekat lekat.
"El sangat takut jika...jika Kak Arfan kembali pada Kak Elsa, El takut kak Arfan tidak bisa melupakan Kak Elsa. El melihat bagaimana hubungan kalian selama ini, kalian sangat romantis di depan siapapun. 8 tahun, Kak... 8 tahun itu bukan waktu yg sebentar, kalian melewati banyak hal bersama sama. Mungkin kalian juga sudah.... Sudah melakukan...." suara Elnaz kembali tercekat di tenggorokan nya.
"Melakukan apa, El?" desak Arfan dan Elnaz menggeleng, ia tahu tak seharusnya ia menanyakan pertanyaan seperti itu dan itu adalah aib. Bahkan ia juga di ajarkan oleh guru nya agar tidak menanyakan masa lalu pasangan nya apa lagi membuka aib nya.
"Apa, Elnaz?" Arfan kembali mendesak "Kamu fikir kakak dan Elsa melakukan hal...." Elnaz hanya menunduk dan air matanya semakin deras.
Mengerti kemana arah pembicaraan Elnaz, Arfan menatap Elnaz dengan nanar. Ia mengapit dagu Elnaz dan memaksa Elnaz menatap nya.
"Elnaz istriku, dengarkan pengakuan jujur suami mu..." Arfan berkata dengan tegas "Dulu, aku memang mencintai Elsa dan itu dulu..." Arfan menekan kata dulu agar Elnaz mengerti.
"Dan ya, dulu aku memperlakukan nya dengan romantis dimanapun karena dia memang kekasih ku dan itu dulu..."
"8 tahun kami menjalin hubungan, kakak bahkan tidak pernah mengecup bibir nya walaupun hanya satu detik..."
Pupil mata Elnaz langsung membesar mendengar penuturan Arfan yg berkata dengan begitu tegas dengan tatapan yg masih lurus menatap tepat di mata Elnaz. Seolah ingin menyampaikan kata itu hingga di dasar hati Elnaz.
"Lalu bagaimana mungkin kakak melakukan lebih dari itu, El? Dan kamu tahu kenapa kakak tidak melakukan hal seperti itu? Karena kakak menghormati Elsa dan keluarga kita.." Elnaz masih tercengang dan berusaha mencerna setiap kata yg di ucapkan suaminya itu.
" Dan semua itu dulu, Elnaz. Tapi sekarang, nanti dan sampai kapan pun. Hanya akan ada istriku, kekasih halal ku, orang pertama dan terkahir yg aku kecup bibir nya dan mengecup bibir ku. Orang pertama dan terkahir yg aku sentuh setiap inci tubuhnya dan aku biarkan menyentuh setiap inci tubuh ku dengan cinta. Dan akan aku memperlakukan nya dengan sangat manis dan romantis di depan siapapun, dimana pun dan sampai kapan pun karena aku sangat mencintai istri ku. "
Air mata Elnaz kembali menetes mendengar penuturan penuh makna suaminya itu, namun air mata nya sekarang bukanlah air mata luka hati melainkan air mata haru yg menyentuh hati. Elnaz dan Arfan masih saling mengunci tatapan nya dan Arfan mengecup tangan Elnaz dengan lembut.
"Percayalah pada suami mu, Elnaz. Karena kamu pasti sangat mengenal suami mu ini kan? Yg bahkan tumbuh bersama mu..." Elnaz langsung mengangguk dan ia menjatuhkan diri nya di pelukan Arfan, Arfan pun langsung menangkap tubuh istri nya itu dan memeluk nya dengan erat.
Elnaz menangis haru di pelukan Arfan, bahkan tanpa terasa Arfan juga meneteskan air matanya. Air mata bahagia dan haru karena Elnaz mempercayai nya.
__ADS_1