(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 103 - Pernikahan Impian


__ADS_3

Setelah melakukan pemeriksaan fisik nya, kini Elnaz melakukan pemeriksaan kehamilan nya tentu dengan di temani Arfan.


Dokter sedang melakukan USG, Arfan dan Elnaz fokus pada monitor yg menunjukan sebuah gambar di mana di sana ada satu titik kecil yg berupa janin mereka.


Elnaz begitu terharu begitu juga dengan Arfan, mata Arfan bahkan sudah berkaca kaca saking terharu nya.


"Sayang, calon anak kita" gumam Arfan lirih sembari mengecup tangan Elnaz yg sejak tadi di genggang nya.


"Aku tidak sabar menanti kelahiran nya, Kak" kata Elnaz juga penuh haru.


"Aku juga" balas Arfan.


"Apa ada keluhan selama masa kehamilan ini, Bu?" tanya dokter kandungan Elnaz.


"Tidak ada, Dok. Bahkan aku tidak mual mual seperti orang hamil pada umum nya, mual sih tapi hanya sesekali, karena itulah aku tidak tahu kalau aku hamil" kata Elnaz.


"Sebagian orang memang tidak memiliki gejala hamil seperti mual, Bu. Ada juga yg tahu tahu sudah 4 bulan, jadi itu masih normal" tutur Dokter itu. Arfan menggendong Elnaz dan membawa nya kembali ke kursi roda nya.


"Tapi kandungan istri saya baik baik saja kan, dok? Karena kemarin malam dia makan pedas" tutur Arfan cemas.


"Kondisi kandungan Bu Elnaz baik baik saja, Dr Arfan. Kalau soal makan pedas, terus ibu hamil memang mengidam makanan yg pedas atau pun makanan yg kecut seperti mangga muda pada umum nya. Itu tidak masalah asalkan dalam batas yg semesti nya" jawab dokter yg membuat Arfan bernafas lega.


"Baiklah, saya akan meresepkan vitamin untuk di konsumsi Bu Elnaz karena kandungan memang lemah karena kecelakaan yg di alami nya, asalkan Bu Elnaz istirahat total dan banyak mengkonsumsi makanan yg sehat dan bergizi, Insya Allah kandungan Bu Elnaz akan tumbuh dengan baik" Dokter itu pun meresepkan vitamin untuk menguatkan kandungan Elnaz dan memberikan nya pada Arfan.


"Terima kasih, Dokter" kata Elnaz sembari mengelus perut nya dan bibir nya tersenyum.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan kandungan dan membeli vitamin nya di apotek, Elnaz dan Arfan pun langsung bergegas pulang.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan, Elnaz dan Arfan saling menggenggam tangan dan bibir kedua nya tersenyum tanpa henti, mata kedua nya berbinar indah dan memancarkan sebuah kebahagiaan yg bahkan tak pernah mereka bayangkan selama ini.


Ponsel Arfan yg ada dalam saku nya berdering, Elnaz pun merogoh saku suami nya itu tanpa di suruh.


"Mama...." kata Elnaz memberi tahu Arfan siapa penelpon nya.


"Mama ku atau Mama mu?" tanya Arfan yg membuat Elnaz tertawa.


"Mama mertua" jawab Elnaz, kata itu mengingatkan Arfan saat Elnaz dulu juga pernah mengadukan Mama nya yg menelpon nya karena terus menerus menanyakan soal anak. Saat Arfan bertanya Mama siapa, Elnaz akan menjawab Mama mertua dengan kesal, namun sekarang hanya ada senyum di bibir Elnaz dan kebahagiaan yg terpancar di mata nya.


"Halo, Ma..." seru Arfan setelah Elnaz menjawab panggilan Mama mertua nya.


"Fan, kamu dimana? mama telpon Elnaz tapi tidak di angkat" terdengar suara mama nya yg menggerutu.


"Ponsel Elnaz di silent, Ma. Maaf ya..." sambung Elnaz.


Elnaz dan Arfan tertawa kecil mendengar apa kata Mama nya itu, seperti nya saat anak ini lahir, akan menjadi cucu kesayangan Mama nya.


"Iya, Ma. Baru saja kami melakukan check up, kandungan El baik baik saja kok. mama doakan El ya" kata Elnaz kemudian.


"Syukurlah kalau begitu, mama pasti akan selalu mendoakan mu dan calon cucu Mama El"


"Terima kasih" ucap Elnaz tulus.


"Ya sudah, besok Mama telpon lagi ya, harus istirahat dan jaga asupan makan mu ya, El. Pokok nya jagain cucu Mama sampai keluar dengan selamat nanti" Elnaz dan Arfan kembali tertawa mendengar apa yg di katakan Bu Yuni itu.


"Iya, Mama. Assalamualaikum, mama" sambung Arfan sebelum mengakhiri panggilan itu.

__ADS_1


"Mama sangat menginginkan cucu ya, Kak. Sampai sampai dia sangat bahagia saat tahu El hamil" kata Elnaz.


"Iya, Sayang. Apa lagi aku anak tunggal Mama, kalau bukan aku yyg ngasih dia cucu, ya siapa lagi. Maaf ya, karena kemarin kemarin Mama sudah menyakiti kamu" ucap Arfan sembari mengecup tangan Elnaz lagi.


"Tidak apa apa" jawab Elnaz tulus.


Kini mereka sudah sampai di rumah, Arfan langsung melompat turun dari mobil nya, kemudian ia membukakan pintu mobil Elnaz dan langsung menggendong Elnaz.


"loh, kursi roda nya mana?" tanya Elnaz karena Arfan tetap menggendong nya hingga ke kamar.


"Ada, tapi kakak lagi pengen gendong istri saja" jawab Arfan sambil tersenyum.


"Terima kasih suami' balas Elnaz yg membuat Arfan terkekeh.


"Malam ini mau makan apa, Sayang?" tanya Arfan sembari me rebahkan Elnaz ke ranjang.


"Apa saja" jawab Elnaz "Oh ya, El boleh minta tolong?" tanya Elnaz menatap lembut suami nya itu.


"Tentu saja boleh, apapun untuk mu" ujar Arfan.


"El baca buku belum selesai, buku nya di kamar atas" ucap El manja, membuat Arfan merasa gemas dengan suami nya itu.


"Iya, kakak ambilin" ujar Arfan kemudian ia bergegas ke kamar nya yg di atas.


Arfan mencari buku Elnaz di meja belajar nya, dan saat mencari buku itu, Arfan menemukan sebuah buku diary milik Elnaz. Arfan tak menyentuh nya karena ia tahu itu adalah privasi istri nya, namun rasa penasaran menggelitik jiwa nya.


Arfan pun membuka buku itu sembarang dan ia menulis sebuah tulisan "Pernikahan impian..."

__ADS_1


__ADS_2