(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 129 - Aurora


__ADS_3

Elnaz menimang bayi perempuan nya yg sangat cantik nan mungil itu. kini Elnaz sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa. Keadaan Elnaz juga baik baik saja hanya masih lemas. Bibir Elnaz tak pernah berhenti menyunggingkan senyum melihat putri nya yg sedang terlelap ini. Sementara Arfan juga menatap sang putri tanpa berkedip, Arfan seperti merasa jatuh cinta lagi pada malaikat kecil di pangkuan sang istri itu.


"Masya Allah..." gumam Arfan penuh haru, bangga, bahagia dan semua perasaan indah lain nya melingkupi hati nya.


"Sayang, aku mau gendong..." pinta Arfan setengah berbisik, karena ia tak ingin mengganggu anak yg sedang terlelap nyaman.


"Hati hati ya.. ' ujar Elnaz memberikan bayi nya yg masih merah itu, tangan Arfan sedikit gemetar karena ia gugup. Ia takut menyakiti permata kecil nya ini. Dengan sangat hati hati, Arfan menggendong nya dan sekali lagi mata nya berkaca kaca. Sungguh ia tidak pernah tahu ternyata sebahagia ini menjadi seorang ayah.


Arfan mengecup kening putri nya dengan lembut, menyampaikan cinta dan kasih sayang nya yg begitu besar.


"Sayang nya Papa, Tuan putri Papa, gadis mungil Papa..." bisik Arfan penuh kebahagiaan. Elnaz menghapus air mata haru nya yg menetes dari ekor mata nya, Elnaz bisa melihat Arfan sangat bahagia saat ini dan itu lah yg membuat nya terharu.


"Sayang, nanti kita punya anak lagi ya, rasa nya aku bahagia sekali saat ini. Ya..." ujar Arfan kemudian yg membuat Elnaz tertawa.


"Inysa Allah, Kak" jawab Elnaz, yg tak lagi takut tak bisa menyayangi anak anak nya dengan sama besar nya jika ia memiliki anak lebih dari satu.


Ponsel Arfan berdering di saku nya, membuat Arfan panik karena takut membangunkan bayi perempuan nya itu.


"Cepat, cepat... Matikan..." bisik nya pada Elnaz saat Elnaz merogoh saku nya. Elnaz tersenyum geli melihat Arfan yg panik hanya karena dering ponsel.


Nama Liam tertera di layar ponsel suami nya itu, panggilan video, dan Elnaz menjawab nya.


"Hai, El... Dimana bayi mu?" tanya Dokter Liam antusias.


"El, mau lihat bayi mu dong..." suster Jessy tampak merebut ponsel Liam. Elnaz terkekeh dengan kedua sahabat suami nya yg juga menjadi sahabat nya.


"Letakkan disana..." Arfan meminta Elnaz meletakkan ponsel nya di atas nakas, Elnaz pun melakukan nya. Sekarang Liam dan Suster Jessy bisa melihat Arfan yg sedang menggendong bayi nya.


"Hey, Liam. Anak ku perempuan, cantik sekali, mirip dengan Elnaz waktu bayi..." tutur nya bangga.


"Syukurlah, aku sudah khawatir takut nya dia mirip dengan mu..." goda Liam yg membuat Arfan mendengus.


"Liam, kamu tahu tidam rasa nya jadi ayah? bahagia sekali, seperti seseorang menghadiahkan dunia ini untuk kita, aku juga merasa jatuh cinta lagi, indah pokok nya rada nya..." tukas Arfan lagi sembari menimang anak nya itu. Liam dan Suster Jessy tertawa mendengar apa yg di katakan Arfan.

__ADS_1


"Ya, semua orang bilang begitu..." kata Liam.


"Aku juga mau bilang, kamu jangan sakiti Jessy ya, kasian lho dia, nanti hamil 9 bulan, itu susah, terus nanti lahiran, taruhan nya nyawa..." air mata Arfan menetes tanpa ia cegah, membuat Liam tertawa geli dan merasa Arfan terlalu lebay.


"Jangan tertawa, bodoh. Aku serius" tukas Arfan lagi yg membuat Liam bahkan Elnaz juga tertawa.


"Iya iya, aku faham. Setelah jadi ayah, seperti nya kamu jadi orang yg bijak" Liam mengolok olok nya, lagi lagi membuat Elnaz dan Suster Jessy tertawa.


"Tunggu saja nanti waktu nya, kamu akan mengerti" tegas Arfan.


Bayi dalam gendongan nya merengek dan menggeliat, membuat Arfan langsung cemas.


"Sayang, dia bangun, dia bangun..." kata nya panik. Maklum, Papa Papa baru, masih lebay, berlebihan.


"Sini..." Elnaz meminta bayi nya itu untuk ia susui, Arfan meletakkan bayi Elnaz di pangkuan nya dan Elnaz pun menyusui putri nya itu.


"Mana? Aku mau lihat anak kalian.." ujar Dokter Liam lagi yg membuat Arfan melotot.


Ibu Isna datang dan memberi tahu kalau mertua Elnaz dan juga ayah nya Elnaz sudah di bandara. Elnaz tentu senang dengan kabar itu, mereka datang untuk menjenguk Elnaz dan putri mereka.


"Kak, kita belum memberi nama anak kita..." kata Elnaz sembari memainkan tangan anak nya yg begitu kecil, mungil, lucu.


"Aurora..." kata Arfan lirih, ia menyelipkan satu jari nya pada tangan anak nya yg mengepal itu dan anak perempuan nya itu langsung menggengan tangan Arfan dengan erat, membuat Arfan tersenyum hangat "Karena dia indah, ya kan? sangat indah, seindah Cahaya pagi. Hangat, semua orang menyukai nya..." imbuh nya dan Elnaz mengangguk setuju.


"Aurora..." gumam Elnaz sembari men jalan kan jemari nya di pipi anak nya yg sangat mungil itu "nama yg cantik, secantik wajah mu, Nak" lirih Elnaz.


"MenurutMama bagiaman?" tanya Elnaz pada Mama nya itu.


"Sangat indah, Nak. Nama yg indah..." jawab Bu Isna.


....... ...


Kebahagiaan Elnaz dan Arfan semakin sempurna dengan kedatangan keluarga mereka, yg juga menyambut penuh haru cucu pertama mereka. Mereka semua mengatakan hal yg sama, anak itu mirip sekali dengan Elnaz sewaktu bayi.

__ADS_1


Mereka mencurahkan kasih sayang mereka untuk Aurora mereka, yg memang seindah cahaya pagi.


Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, Elnaz di izinkan pulang karena kondisi Elnaz yg sudah sangat baik begitu juga dengan Baby Aurora nya.


Sewaktu di rumah sakit, teman teman Dokter Arfan menjenguk Elnaz, begitu juga dengan teman Elnaz.


Nadine juga menjenguk Elnaz, namun ia tak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Arfan, karena Arfan yg terus menerus menempel pada Elnaz dan pada Baby Aurora kecil mereka.


Sekarang Elnaz sudah sampai di rumah, mereka menghias rumah dengan balon dan beberapa mainan untuk menyambut kepulangan Baby Aurora mereka.


Sementara Dokter Liam dan Suster Jessy baru memiliki waktu untuk menjenguk sahabat mereka yg baru menjadi orang tua baru.


"Fan, dimana Baby Aurora?' tanya Liam pada Arfan.


"Di kamar, lagi bobok" jawab Arfan sembari mengaduk susu di gelas yg ia siapkan untuk Elnaz.


Liam, Susster Jessy dan Arfan masuk ke kamar. Liam dengan tak sabar langsung menghampiri anak sahabat nya itu. Liam tampak sangat kagum pada anak itu, karena Liam memang tipe pria yg suka anak anak.


"Masya Allah, dia cantik ya, imut nya, mungil nya..." komentar nya. Elnaz tersenyum mendengar pujian dari Liam untuk anak nya itu.


Sementara Suster Jessy yg tampak nya juga sangat gemas pada Baby Aurora hendak menyentuh pipi Baby Aurora Namun di marahi oleh Arfan.


"Nanti bangun, jangan sentuh sentuh..." tegas nya.


"Cuma di coel begini..." Suster Jessy benar benar me noel pipi Baby Aurora Dan itu berhasil membuat Baby Aurora menggeliat terganggu. Karena baby Aurora memang anak yg sensitif sekali terhadap suara dan sentuhan.


"Sudah ku bilang..." protes Arfan, suster Jessy mendelik dan ia malah mencium gemas pipi bayi mungil itu, dan benar saja, Baby Aurora terbangun dan menangis. Arfan langsung memelototi teman nya itu.


"Sayang, jangan nakal..." tegur Dokter Liam namun kemudian ia malah mencium pipi Baby Aurora yg satu nya.


"***,,, Baby Mama di gangguin Om dokter dan tante suster ya..." Elnaz menimang bayi nya itu dengan penuh kasih sayang.


Arfan yg kesal dengan dua sahabat nya itu langsung menarik paksa kedua nya keluar dari kamar, membuat mereka cekikikan dengan tingkah Arfan yg seperti nya akan jadi ayah super protective. Sementara Elnaz menyusui anak nya hingga perlahan putri nya itu kembali terlelap.

__ADS_1


__ADS_2