(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 9 - Aku Sendirian


__ADS_3

Baik Elsa maupun Elnaz sama sama mengurung diri di kamar nya, sama sama tidak makan sama sekali dan hanya bisa menahan sesak di dada nya.


Namun saat hari menjelang sore, Elnaz sudah tidak sanggup lagi menahan rasa lapar nya. Ia pun mengambil ponsel nya dan menghubungi nenek nya.


"Assalamualaikum, Nek" sapa Elnaz setelah sang nenek menjawab panggilan nya. Suara nya terdengar bergetar dan Elnaz berusaha agar nenek nya tidak menyadari itu.


"Waalaikum salam, ndok. Ada apa?" tanya nenek nya lembut.


"El kangen masakan Nenek. Nenek masak apa saja hari ini?" tanya Elnaz berusaha menetralkan perasaan bergejolak di hati nya yg menyebabkan suara nya semakin bergetar.


"Nenek masak ikan goreng, sayur bening, ada tempe juga, ada bakwan sayur. Pulang dulu, Nak, makan sama nenek sini" pinta nenek nya dengan antusias. Namun Elnaz tak bisa meng iyakan karena ia juga belum siap jika harus bertemu dengan kakak nya.


"Apa nenek bisa kerumah sini? El malu kalau harus keluar rumah, Nek" lirih Elnaz dan bulir bening itu kembali menyelinap menetes dari sudut mata nya. Elnaz dengan cepat menghapus nya.


"Hem baiklah, ndok. Nenek kesana ya sekarang, oh ya, Nenek juga ada buat pisang goreng. Mau?"


"Mau mau" jawab Elnaz antusias yg membuat nenek nya tertawa "Oh ya, El boleh minta tolong tidak, nek?" tanya Elnaz dengan ragu.


"Apa, ndok?" tanya sang nenek.


"Nanti kalau Tante Yuni tanya, bilang saja nenek masak nya kebanyakan ya. Jangan bilang El minta..." cicit Elnaz.


Sementara sang nenek yg saat ini mulai menyiapkan makanan ke rantang langsung terdiam. Ia mencium aroma yg tidak beres di rumah anak sulung nya itu. Ia sangat mengkhawatirkan Elnaz di sana.


"Baiklah" jawab sang nenek namun ia bertekad akan mencari tahu sendiri bagaimana mereka memperlakukan Elnaz di sana.


Nenek langsung menyiapkan makanan yg cukup banyak untuk Elnaz, setelah itu ia langsung pergi ke rumah anak sulung nya itu.


"Bu, ada apa?" seru Yuni yg melihat ibunya datang dengan membawa rantang.


"Ibu masak kebanyakan, Yun. Kebetulan ini kesukaan Elnaz semua, jadi ibu bawakan buat Elnaz" jawab nya dan Yuni yg mendengar nya mengangguk mengerti sembari mempersilahkan ibu nya masuk.


"Bisa tolong panggilkan Elnaz?" pinta sang ibu namun Yuni malah mendelik kesal.


"Elnaz itu bukan ratu kali, Bu. Masak iya harus aku layani" ucap nya dan ia pun menarik kursi dan duduk di sana sembari membuka rantang yg di bawa ibu nya. Sang ibu pun hanya menghela nafas berat, ia pun pergi sendiri menjemput Elnaz ke kamar Arfan.


"Nenek..." seru Elnaz dan ia langsung berhambur ke pelukan nenek nya, Elnaz seperti bisa bernafas saat melihat dan memeluk nenek nya. Sementara sang nenek, dari pelukan Elnaz saja ia sudah menyadari cucu nya itu sangat tersiksa.

__ADS_1


"Iya, nenek sudah datang. Ayo makan..." seru sang nenek dan ia menggandeng tangan Elnaz menuju meja makan.


Di meja makan, Yuni pun juga menikmati masakan ibu nya padahal meja makan itu sudah penuh dengan masakan Yuni sendiri.


"Duduk, ndok..." nenek menarikan kursi untuk Elnaz dan menyajikan makanan dengan penuh kasih sayang, membuat Elnaz kembali merasakan sedikit kehangatan.


Elnaz makan dengan sangat lahap dan itu tidak luput dari pandangan sang nenek "Kamu seperti orang kelaparan saja, ndok. Pelan pelan makan nya" ucap nya sembari mengusap kepala Elnaz dengan sayang.


Sementara Yuni yg mendengar itu mendengus dan hal itu membuat Elnaz merasa tidak nyaman.


"Salah sendiri yg engga pernah mau keluar makan, makanya kelaparan" ketus Yuni yg langsung membuat nafas Elnaz tercekat dan ia bahkan merasa kesulitan menelan makanan nya.


"Apa maksud kamu, Yun?" tanya sang nenek.


"Ibu pasti tahu kan kalau Elnaz engga makan, dia pasti ngadu. maka nya ibu anterin makanan sebanyak ini ke sini. Itu sih bukan salah ku, Bu. Salah dia sendiri yg selalu mengurung diri di kamar sejak kemarin" tukas Yuni yg mengira Elnaz pasti sudah mengadu pada nenek nya. Dan mendengar itu tentu saja sang nenek sangat terkejut.


Ia mengenal cucu nya dengan sangat baik, Elnaz bukanlah gadis tidak sopan dan tidak tahu diri seperti itu.


"Elnaz tidak pernah mengadukan apapun sama ibu, Yun. Justru aku baru tahu dari kamu ini kalau Elnaz tidak makan sejak kemarin" tukas sang nenek kemudian ia menatap Elnaz "Benar kamu tidak makan sejak kemarin?" Elnaz tak mampu menjawab, lidah nya terasa kelu namun mata nya berkaca kaca.


Dari luar, terdengar suara seorang wanita yg memanggil Yuni dan mengajak Yuni di pergi. Di susul dengan suara pintu yg tertutup dengan kasar.


Nenek ingin sekali menanyakan bagaimana perlakuan anak dan menantu nya pada Elnaz, namun nenek menahan nya sampai Elnaz menyelesaikan makan nya.


"Bibir kamu bahkan sampai kering, Nak. Memang nya kamu juga engga minum?" tanya sang nenek sembari menyodorkan segelas air pada Elnaz. Elnaz hanya tersenyum tipis dan meneguk air itu hingga habis, setelah itu ia kembali melanjutkan makan nya. Sang nenek pun terus memperhatikan nya.


Setelah selesai, Elnaz mencuci piring dan membereskan meja makan.


"Pisang goreng nya buat nanti malam, sekarang El sudah sangat kenyang" ucap nya setelah mencuci piring.


"Duduk sini, Sayang" Nenek menarik tangan Elnaz dan kembali duduk di kursi "Jawab pertanyaan Nenek dan jangan berbohong, kamu tahu kan Nenek itu tidak bisa di bohongi" tegas nya dan Elnaz mengangguk.


"Apa Yuni dan Adi memperlakukan mu dengan baik?" Elnaz terdiam, ia menunduk dan meremas baju nya "El..." tegas sang nenek yg membuat Elnaz mendongak.


"Mereka baik" ucap Elnaz dengan suara tercekat.


"Jangan berbohong, El. Nenek ini nenek mu, juga ibu dari mertua mu itu. Katakan pada Nenek yg sebenarnya" dan air mata Elnaz kembali mengalir namun Elnaz dengan cepat menghapus nya.

__ADS_1


"Tidak ada yg menganggap El ada di sini, Nek. Tidak ada yg mau berbicara dengan Elnaz" ia berkata dengan suara tercekat di tenggorokan nya "Elnaz lapar, Elnaz tahu posisi El di sini. El sudah ke dapur mau membantu Tante Yuni masak, tapi... Tapi Tante Yuni tidak mau, bahkan saat El hanya mau mencuci ayam, dia merampas ayam nya tanpa berbicara... Hiks... Hiks... Nenek" Elnaz berhambur ke dalam pelukan nenek nya.


"El sendirian, Nek. El sendirian..."


"Sshhttt, Sayang. Kamu tidak sendirian, tidak pernah sendirian" ucap sang nenek lembut. Ia mengusap punggung Elnaz dengan sayang "Nenek di sini, Allah juga akan selalu ada bersama mu. Kamu tidak pernah sendirian"


.........


Arfan bertemu dengan teman nya yg seorang psikiater. Dan teman nya itu bertanya apa yg sebenarnya terjadi, bagaimana bisa Arfan menikahi Elnaz dan bukan Elsa.


Apa lagi juga bukan sebuah rahasia di kalangan teman teman Arfan bahwa Arfan sangat sayang dan sangat memanjakan Elnaz. Menganggap Elnaz adik kandung nya sendiri. Arfan memperkenalkan Elnaz pada semua teman teman nya sebagai adik kesayangan Arfan.


Arfan pun menceritakan apa yg sebenarnya terjadi, dan ia juga meminta pendapat apa yg harus ia lakukan.


"Ini sangat sulit, Fan. Apa lagi istri dan mantan mu adalah saudara kandung, kalian masih sepupu dan tetanggaan lagi" ucap teman nya yg bernama Liam itu.


"Entahlah, semua nya terjadi begitu saja. Aku bingung" ucap Arfan frustasi.


"Jadilah seorang lelaki yg bertanggung jawab, Fan. Jangan jadi pengecut dengan terus lari dari masalah ini. Kamu sanggup menghadapi Elsa yg sudah menghancurkan perasaan mu dan harga diri mu, lalu kenapa kamu tidak sanggup menghadapi Elnaz yg sudah juga sudah kamu hancurkan perasaan nya bahkan juga harga diri nya. Kamu memperistri dia secara tiba tiba, tanpa ada pembicaraan sedikitpun sebelum nya"


"Aku sendiri tidak tahu, Liam. Setiap kali melihat Elnaz, aku seperti tidak berdaya. Aku seperti merasa serba salah, aku merasa malu, aku bingung"


"Begini saja, sebaiknya kamu bawa Elnaz pergi menjauh dari keluarga mu dan terutama tetangga mu yg suka nyinyir itu. Fan, emak emak kompleks kalau sudah bergosip akan lupa daratan lho. Kasian Elnaz nya yg seperti pelaku padahal korban dari kamu dan Elsa. Dan jika kalian tinggal di tempat yg baru, dengan suasana yg baru. Siapa tahu kamu bisa move on dari Elsa dan bisa memulai hubungan yg baru dengan Elnaz"


"Jujur saja, yg aku fikirkan bukan masalah move on dari Elsa. Aku bahkan sudah mati rasa pada nya. Tapi yg selalu aku fikirkan, bagaimana bisa aku dan Elnaz hidup menjadi suami istri, Liam. Suami istri" tekan nya.


"Pasti bisa, begini saja... Bukan nya kamu sudah membeli rumah di Jakarta? Jika kamu dan Elnaz pindah ke sana, kamu temui teman ku di sana. Dia juga seorang psikiater yg sudah menjadi konselor pernikahan selama 7 tahun lebih. Kalian bisa melakukan konseling pernikahan"


Arfan terdiam sesaat, memikirkan tawaran yg sedikit menarik itu.


"Fan..." seru Liam lagi karena Arfan malah terdiam "Kalau boleh jujur, Fan. Kamu beruntung menikahi Elnaz, dia gadis yg sempurna untuk di jadikan pasangan. Aku saja menaruh hati sebenarnya pada nya..."


"Hey..." seru Arfan tak suka yg membuat Liam terkekeh. Arfan pun pergi dari ruangan Liam dan kembali ke ruangan nya sendiri.


Sementara Liam hanya geleng geleng kepala sembari menggumam


"Kamu cemburu, Fan. Karena kamu memang mencintai Elnaz. Di hadapan cinta nya, seorang pria bisa menjadi sangat kuat atau sangat lemah"

__ADS_1


__ADS_2