
"Urusan Jimmy, Kak Elsa atau apapun itu, itu bukan urusan kita, Kak" tegas Elnaz yg membuat Arfan tersenyum masam, karena hal itu juga yg di katakan oleh diri nya pada Elnaz saat Elnaz berusaha menjelaskan tentang Jimmy dan Elsa pada Arfan dan juga pada Papa nya.
"Sayang, aku tahu kamu kecewa sama Elsa, begitu juga aku. Dan maaf karena saat itu aku tidak percaya sama kamu, El. Karena kamu tidak punya bukti dan kamu menyampaikan informasi itu hanya dengan kata Robin..." papar Arfan yg membuat Elnaz terdiam juga dan ia membenarkan apa yg di katakan Arfan.
"Tapi sekarang kan sudah ada bukti nya, aku bahkan tahu dimana rumah istri Jimmy. Kita bisa membawa Elsa ke sana" lanjut Arfan namun Elnaz malah menanggapi nya dengan senyum miring.
"Sayang nya El tidak mau repot repot, Kak" kata Elnaz dingin kemudian ia melanjutkan setrikaan nya.
"Kok kamu bicara seperti itu, El? Aku mengerti kamu tidak menyukai Elsa tapi bagaimana pun juga dia kakak mu kan?"
"Benar sekali, Kak..." tegas Elnaz kemudian kembali menatap Arfan "Dia kakak ku, tapi pernah tidak sekali saja dia melakukan yg seharusnya seorang kakak lakukan? Pernah tidak, sekali saja dia menghargai aku sebagai adik nya?" kata Elnaz penuh emosi.
"Bahkan saat aku memberi tahu Papa tentang Kak Elsa itu karena aku perduli, karena dia kakak ku, tapi balasan dia apa? Dia bersandiwara, membalikkan fakta, membuat seolah olah aku yg salah" lanjut nya.
"Kalau kamu memang mau perduli sama dia, silahkan. Aku sudah lelah" kata Elnaz lagi.
Arfan menatap istri nya yg semakin hari semakin tampak berbeda, apa lagi di saat saat seperti ini.
Arfan melihat Elnaz sekarang adalah sosok yg mudah terpancing emosi nya.
"Sayang..." Elnaz memanggil istrinya itu dengan lembut, ia kembali memeluk istri nya dari belakang, menciumi pipi Elnaz dengan gemas.
__ADS_1
"Akhir akhir ini emosi mu sering naik ya" kata Arfan dengan suara rendah.
"Ya naik lah kalau masalah nya ini ini aja terus, bosen El" ketus Elnaz yg membuat Arfan terkekeh.
"Ini ini nya itu apa?" tanya Arfan.
"Ya masalah Kak Elsa lah, masalah Mama mertua lah. Kayak nya beban hidup El itu berat gara gara mereka" kata Elnaz yg membuat Arfan menganga, Arfan tidak menyangka Elnaz akan berkata demikian.
"Baiklah, kita lupakan masalah itu ya. Biar kamu tidak ada beban" kata Arfan kemudian, walaupun sebenarnya ia masih memikirkan Elsa, Arfan merasa kasihan dengan nasib Elsa sekarang.
...........
Keesokan hari nya, Bu Kinar sedang menggosip di telpon dengan teman teman nya yg di kampung, tentu saja yg mereka gosipkan adalah Elsa yg kata Bu Kinar tinggal satu apartement dengan dengan pacar nya.
"Mama, masakan nya gosong" pekik Andy.
"Aduh aduh, gara gara Elsa ini mah..." pekik Bu Kinar.
"Kok malah salah Elsa?" tanya Andy heran.
"Liat nih..." Bu Kinar memperlihatkan hasil Elsa dan Jimmy yg ia ambil diam diam saat di apartement. Andy bahkan melongo melihat foto itu.
__ADS_1
.........
Sementara di kampung halaman Elnaz dan Elsa, ibu ibu kompleks sedang hangat hangat nya menggosipkan Elsa yg punya pacar fotografer dan tinggal bersama pacar nya.
Berita itu bak hama yg tertiup angin, yg dengan cepat sampai kepala keluarga Elsa.
Bu Yuni dan Pak Adi hanya bisa menganga lebar mendengar kabar itu.
Sementara Pak Malik yg mendengar kabar itu langsung terduduk lemas.
"Jadi Elnaz benar? Berarti Elsa sudah membohongi ku? Ayah nya sendiri?" Hati Pak Malik terasa begitu sakit.
Sementara Bu Isna malah tidak percaya dengan kabar itu, ia malah menyalahkan Elnaz dan menuduh bahwa Elnaz lah yg menyebarkan berita itu karena hanya Elnaz satu satu nya orang yg mengatakan hal sedemikian rupa.
" Tega sekali dia, menyebarkan gosip tentang kakak nya sendiri" desis Bu Isna kesal.
"Kenapa yg salah jadi Elnaz, Is?" tanya Pak Malik tak habis fikir dengan istri nya itu "Bukan nya sudah jelas berita itu berasal dan Bu Kinar"
"Terus Bu Kinar bisa membuat berita seperti itu dari mana kalau bukan dari Elnaz?" seru Bu Isna.
"Mungkin dia memergoki nya" jawab Pak Malik lagi.
__ADS_1
"Itu Tidak mungkin, Mas" kata Bu Isna.
"Kalau begitu ayo kita datengi gadis itu dan ingat jangan memberi nya informasi apapun tentang keberangkatan kita, aku ingin melihat bagaimana Elsa hidup di kota besar seperti itu.