(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 96 - Kabar Bahagia


__ADS_3

"Iya, Dok? ada apa?" tanya Arfan setengah cemas karena ia takut ini tentang istri nya.


"Dokter Arfan, istri mu sudah siuman" kata Dokter Roger yg tentu saja membuat Arfan langsung terkejut sekaligus bernafas lega.


"Alhamdulillah, ya Allah. Aku akan segera sampai di rumah sakit, tolong lakukan pemeriksaan sedetail mungkin pada istri ku ya, Dok" pinta Arfan dengan antusias.


"Ada apa, Fan? Elnaz sudah sadar?" tanya Bu Isna.


"Iya, Ma. Alhamdulillah" kata Arfan yg membuat Bu Isna dan Pak Malik menghela nafas lega dan langsung mengucapkan puji syukur.


"Sudah kami lakukan, Dokter Arfan. Aku akan bicara lagi dengan mu nanti" kata Dokter Roger lagi.


"Baiklah, Dok. Terima kasih banyak" ucap Arfan yg kemudian ia mempercepat laju mobil nya.


Sesampainya di rumah sakit, Arfan dan juga mertua nya langsung berlari ke ruang rawat Elnaz. Di depan kamar nya sudah ada Bu Yuni dan Pak Adi yg menunggu Arfan.


"Fan, Elnaz sudah sadar. Ada Dokter dan suster di dalam, kami tidak boleh masuk" kata Bu Yuni cemas dan takut, karena ia memang sangat ingin melihat kondisi Elnaz namun tentu selain perawat dan Dokter tidak di perbolehkan masuk.


"Ma, itu sudah protokol rumah sakit. Biar kami tetap konsentrasi menangani pasien" Arfan menjelaskan nya dengan cepat karena ia sendiri ingin melihat kondisi Elnaz sekarang dan memastikan istri nya itu baik baik saja.


Bu Yuni yg melihat Bu Isna seketika menjadi geram, tentu saja karena anak adik ipar nya ini hampir saja membuat nyawa menantu dan calon cucu nya melayang.

__ADS_1


"Eh, Is... Kamu jadi Ibu seharus nya becus sedikit, bisa kan?" pekik Bu Yuni setelah Arfan masuk ke ruang rawat Elnaz.


"Apa maksud Mbak bicara begitu?" tanya Bu Isna.


"Masih tanya apa maksud ku? Is, anak kamu itu hampir saja membunuh menantu dan calon cucu ku" seru Bu Yuni emosional, suami nya berusaha menenangkan bu Yuni dan merangkul pundak nya.


"Yun, sudah jadi begini, ini rumah sakit. Nanti Arfan marah kalau kamu ribut di sini" kata Pak Adi. Sementara Malik hanya bisa diam karena apa yg di katakan Mbak nya itu memang sangat benar, bukan hanya istri nya yg tidak becus menjaga anak tapi juga Pak Malik.


"Aku bukan nya mau ribut, Mas. Memang nya siapa yg tidak emosi kalau menantu dan calon cucu nya di celakai orang?" Bu Yuni membalas tak mau di salahkan.


"Mbak, Elnaz juga anak ku, anak kandung ku, anak yg ada di rahim nya juga darah daging ku. Aku juga sedih, aku juga khawatir dengan Elnaz, Mbak" seru Bu Isna yg tak mau kalah.


"Sudah lah, Is" sambung Pak Malik "Ini memang salah kita, seandainya kita tidak membawa Elsa kerumah Elnaz, ini tidak akan terjadi" kata Pak Malik berusaha menenangkan suasana.


"Yuni..." geram Pak Adi karena bagi nya, istri nya itu sudah berbicara yg tidak tidak dan tidak sepatutnya berbicara seperti itu dalam keadaan seperti sekarang.


Sementara Bu Isna tentu saja marah dan kesal mendengar apa yg di katakan kakak ipar nya itu namun Bu iIsna tak bisa berkata kata lagi karena apa yg di katakan nya itu sangat benar. Dan ia masih bersyukur karena setidak nya masih ada satu aib yg masih tidak tersebar, yaitu pacar Elsa yg ternyata adalah suami orang.


"Sebaiknya kalian berdua diam" pinta Pak Malik yg sudah geram dengan kelakuan kakak dan istri nya itu "Elnaz lagi sakit dan kalian malah emosi sendiri"


...

__ADS_1


"Sayang, kamu bisa mendengar ku?" tanya Arfan lembut pada Elnaz. Mata Elnaz begitu sendu, ia masih pucat dan juga tampak sangat lemah. Elnaz mengedipkan mata nya pelan sebagai jawaban dari pertanyaan suami nya itu. Arfan yg mengerti itu langsung bernafas lega dan ia juga seolah akan menangis saking senang nya karena istri nya sudah sadar.


"Alhamdulillah, Sayang. Kamu akan baik baik saja, jangan khawatir, hm" kata Arfan lembut dan tiba tiba Elnaz mengeluarkan air mata nya dari sudut mata nya. Ia ingin berbicara pada suami nya itu namun Elnaz seperti tidak punya kekuatan bahkan untuk mengeluarkan suara nya.


Leher nya sakit dan kaku, kaki nya juga sakit dan ia tak bisa menggerakkan nya. Belum lagi kepala nya yg seperti di hantam batu saking sakit nya.


"Hey, Sayang. Jangan menangis, aku di sini, Sayang" kata Arfan lembut sambil menghapus air mata Elnaz.


"Sekarang kamu istirahat ya, kamu harus banyak istirahat supaya kamu cepat pulih" pinta Arfan dan sekali lagi Elnaz hanya mengedipkan mata nya dan ia masih meneteskan air mata dari sudut mata nya.


"Sayang, kenapa menangis. Ada yg sakit, hm?" katakan lah Arfan bodoh karena masih bertanya demikian, karena sebagai Dokter ia lebih tahu dari pasien nya tentang hal itu. Namun Arfan memang merasa bodoh saat melihat istri nya yg hanya berkedip dan menangis, karena Arfan tahu istri nya pasti merasa sangat kesakitan saat ini.


"Kamu jangan khawatir ya, suami Dokter kan? Insya Allah kakak akan sembuhin kamu, Princess. Kamu yg sabar sedikit ya" kata Arfan lagi yg membuat sudut bibir Elnaz sedikit tertarik membentuk senyum samar. Ia kembali berkedip sebagai jawaban bahwa ia percaya pada suami nya.


Elnaz terbayang kembali bagaimana kecelakaan itu menimpa nya, Elnaz terlempar saat ia menghentakan tangan nya dengan keras saat ia di pegang oleh Elsa. Elnaz bahkan ingat Bagaiamana kepala Bagian belakang nya menghantam ujung tangga yg tajam dengan keras dan setelah itu ia tidak ingat apapun, karena Elnaz tak kuasa menahan sakit di bagian belakang kepala nya sehingga membuat nya langsung pingsan. Dan saat terbangun seperti ini, ternyata kondisi Elnaz jauh lebih parah.


Mengingat kejadian itu membuat Elnaz merasa takut, tiba tiba tatapan nya menjadi begitu sayu kembali. Dari tatapan Elnaz itu ia juga menyiratkan bahwa ia sedang takut. Arfan yg menyadari hal itu langsung menangkan istri nya.


"Tidak apa apa, Sayang. Kamu baik baik saja sekarang, hm" bujuk Arfan. Kini Arfan menduga Elnaz seperti nya mengalami trauma.


"Kakak ingin kamu bertahan, Princess. Melewati semua rasa sakit sakit ini, karena....karena sekarang kamu sedang hamil, Sayang" kata Arfan lagi yg langsung membuat pupil mata Elnaz sedikit melebar dan tatapan nya juga tak lagi menyiratkan ketakutan. Tapi ia sudah terlihat bahagia dan terharu. Arfan memberi tahu nya dengan senyum bahagia.

__ADS_1


"Karena itulah, kamu harus kuat ya, supaya anak kita kuat" pinta Arfan lagi dan Elnaz berusaha mengangguk namun tak bisa karena gips yg di pasang di leher nya. Arfan mengecup kening istri nya itu dan Elnaz memejamkan mata, menikmati sentuhan hangat suami nya itu. Mengetahui fakta diri nya yg sedang hamil membuat Elnaz seolah merasa seluruh rasa sakit nya hilang dan yg ada hanya rasa bahagia sekarang.


__ADS_2