(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 69 - Mengantar Nenek Pulang


__ADS_3

Kelopak mata Elnaz bergerak gerak yg di susul secara Perlahan Elnaz membuka mata nya yg masih terasa berat, samar samar terdengar suara suami nya yg memanggil nya.


Elnaz seolah mengejar suara suami nya dan mencoba membuka mata lebar lebar, dan saat ia berhasil melakukan nya, yg pertama kali Elnaz lihat adalah sang suami yg menggenggam tangan nya sambil terus mengecup nya.


"Sayang, ayo bangun..." lirih Arfan dan Elnaz pun membalas genggaman tangan Arfan, membuat Arfan segera tersadar bahwa sang istri sudah sadar dari pingsan nya.


"Hey, kamu sudah sadar, Sayang..." ujar Arfan dan seketika air mata Elnaz kembali lolos dari sudut mata nya saat mengingat bahwa sang nenek sudah tiada.


"Ssshhtt, sudah, jangan menangis lagi" Arfan langsung membuat Elnaz duduk dan ia pun memeluk istri nya itu dengan sayang.


Arfan tahu betapa berarti nya nenek bagi Elnaz sehingga Elnaz begitu terpukul saat mendapati kenyataan bahwa sang nenek sudah pergi untuk selamanya.


"Nenek, Kak..." lirih Elnaz di pelukan suami nya


"Ikhlaskan nenek, Sayang. Biar dia tenang di alam sana" ucap Arfan lembut dan Elnaz masih hanya bisa menangis.


"Kalau kamu terus menangis seperti ini, nanti nenek tidak tenang di alam sana. Yg nenek butuhkan saat ini bukan air mata kita, tapi keikhlasan dan doa doa dari kita, ya" tukas Arfan berharap istri nya bisa sedikit lebih sabar atas ujian ini dan berlapang dada atas cobaan yg sangat berat ini.


"Jasad Nenek sudah di bawa kerumah, kamu mau ikut memandikan nya?" tanya Arfan dan Elnaz mengangguk lemah.


"Kalau begitu kamu harus berhenti menangis ya" pinta nya dan Elnaz kembali mengangguk lemah.


"Apa Kak Elsa datang?" tanya Elnaz kemudian dan Arfan hanya bisa menggeleng.


"Belum, tapi Om Malik sudah menghubungi nya dan memberi tahu dia kalau nenek sudah meninggal" tutur Arfan.


Ada rasa kesal dalam hati Elnaz pada kakak nya yg sangat sulit di hubungi di saat saat seperti ini, bahkan ia juga marah karena Elsa tidak ada di samping sang nenek di akhir hayat nya sementara yg nenek nya panggil adalah Elsa.

__ADS_1


Elnaz merasa kasihan pada nenek nya itu yg tidak bisa mendapati Elsa sementara ia sangat mengharapkan kehadiran Elsa


.........


Kini Elnaz dan anggota keluarga yg lain sedang memandikan jasad kaku sang nenek tercinta, Elnaz berusaha keras menahan air matanya agar tak kembali tumpah. Bibir nya sudah bergetar dan ia hanya bisa menggigit nya kuat kuat supaya tak ada isakan yg lolos dari bibir nya.


Tangan nya gemetar saat ia memegang gayung dan hendak menyiram kan air ke tubuh sang nenek yg selama ini selalu menjadi tempat sandaran ternyaman Elnaz.


Bu Yuni memegang tangan Elnaz dan membantu nya menyiram kan air itu ke tubuh sang nenek, Bu Yuni sendiri masih sangat terpukul dengan kepergian sang ibunda. Bagi nya ini terlalu cepat dan ia juga masih tak siap kehilangan ibu yg telah melahirkan dan merawat nya dengan penuh cinta.


Setelah di mandikan, kini jasad sang nenek di bawa untuk di kafani.


Arfan dan juga ayah dan mertua nya tak bisa menyembunyikan kesedihan nya saat mengkafani tubuh kurus dengan kulit keriput itu. Yg telah mencurahkan begitu banyak kasih sayang untuk mereka.


Pak Malik dan Arfan mencium kening wanita tua yg sangat berarti dalam hidup mereka itu, memberikan ciuman terkahir yg penuh cinta dan mengantarkan nya pada kerinduan yg pasti akan sangat mendalam setelah mereka tak dapat melihat nya lagi.


Dan Setelah di sholati, kini jasad itu di hantarkan pada tempat peristirahatan terkahir nya, tempat semua orang akan tinggal hingga menjelang akhir dunia.


Elnaz dan keluarga yg lain ikut untuk menguburkan sang nenek, begitu juga dengan para kerabat dan tetangga yg lain.


Arfan, ayah nya, ayah mertua nya dan juga Liam membawa keranda sang nenek ke dengan raut sedih yg tak bisa mereka enyahkan. Sementara bibir mereka terus mengucapkan tahlil secara serempak dalam mengiringi kepulangan hamba Tuhan itu ke rumah sejati nya.


Sesampainya di kuburan, Arfan ayah nya dan ayah mertua nya selaku keluarga yg paling dekat pada nenek turun ke Liang lahat untuk menidurkan sang nenek yg tak mungkin bisa mereka lihat lagi.


Setelah mereka memastikan menidurkan jasad itu dengan benar dan melepaskan ikatan di kepala nya, mereka pun meletakkan papan kayu secara miring agar jasad sang nenek tercinta tidak langsung tertimbun tanah. Setelah itu Arfan dan juga ayah dan ayah mertua nya naik dan mulai menutup lubang kuburan dengan tanah kembali.


Elnaz dan ibu mertua nya kembali meneteskan air mata saat perlahan tanah memenuhi kuburan sang nenek, namun mereka berusaha tetap tegar dan mencoba mengkikhlaskan apa yg sudah pasti terjadi.

__ADS_1


Doa pun di panjatkan oleh pemuka agama dan di aminkan oleh pengiring yg lain.


ALLAHUMMAGHFIR LAHA WARHAMHA, WA'AAFIHI WA'FU 'ANHA, WA AKRIM NUZULAHA, WA WASSI'MADKHALAHA, WAGHSILHU BIL-MA'I WATSTSALJI WAL-BARADI, WANAQQOHI MINAL KHOTOYA KAMAAYUNAQQOTTSAUBU ABYADHU MINADANASI, WAABDILHU DAARON KHOIRON IN DAARIHI, WAAHLANKHOIRON MIN AHLIHI, WAZAUJAN KHOIRON MINZAUJIHI, WAQIHI FITNATAL QOBRI WA'ADAABINNAR


"Istirahat lah dengan tenang, Nenek. Semoga Allah memberi mu tempat terbaik di sisi nya, meninggikan derajat mu di sana, dan semoga Allah melapangkan dada kami untuk melepas kepergian mu yg sangat kami cintai. Semoga Allah mengumpulkan kita di surga Nya nanti"


.........


Elsa yg baru mendarat di Bandara langsung mencari taksi dan meminta taksi itu menyetir dengan kecepatan penuh ke rumah nya.


Elsa juga tidak bisa menahan air mata nya sejak ia mendengar kabar kematian sang nenek yg secara tiba tiba.


Elsa ingat Elnaz pernah memberi tahu nya kalau nenek nya sakit, tapi tak pernah Elsa bayangkan kalau nenek nya akan meninggalkan mereka secepat ini untuk selamanya. Elsa menyesal tidak mendengarkan Elnaz untuk menghubungi orang rumah nya.


Elsa sampai di rumah bersamaan dengan anggota keluarga nya yg baru pulang dari pemakaman.


Elsa semakin menyesal, karena ia bahkan tidak punya kesempatan untuk melihat sang nenek untuk terkahir kali nya.


Elsa berlari ke arah ibu nya dan memeluk nya, Bu Isna pun memeluk putri semata wayang nya itu dengan erat.


"Maaf, aku terlambat" lirih Elsa.


"Tidak apa apa, Sayang" jawab Bu Isna membelai rambut panjang anak kesayangan nya itu.


Elsa melihat Elnaz dengan wajah yg begitu sembab, Elsa pun memeluk adik nya itu.


"Aku memberi tahu mu, kan? Nenek Sakit..." ujar Elnaz dengan suara tercekat.

__ADS_1


"Maafkan aku, El..." ucap Elsa menyesal namun itu hanya tinggal sebuah penyesalan.


__ADS_2