(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 70 - Kembali Ke Jakarta


__ADS_3

Suasana rumah Elnaz masih berkabung, Elnaz dan keluarga nya masih kesulitan untuk mengenyahkan kesedihan di hati mereka karena di tinggal orang tercinta.


Acara tahlilalan pun di gelar di rumah setiap malam dan beberapa kerabat jauh mereka juga datang bergantian.


Namun Arfan hanya bisa tinggal di sana selama 3 hari dan tak bisa lebih, pekerjaan nya yg sebagai seorang Dokter membuat Arfan tidak bisa meninggalkan pekerjaan nya terlalu lama. Namun Elnaz dan Elsa masih tetap di rumah dan mereka berniat kembali ke Jakarta setelah acara 7 hari mendiang sang nekek.


Selama masa berkabung itu, tak ada yg membicarakan masalah Elsa yg kabur walaupun Pak Malik tetap menyimpan rasa kesal pada putri nya itu apa lagi di saat saat terkahir sang ibu yg terus memanggil cucu nya namun Elsa tak ada.


Pak Malik bahkan jarang berbicara dengan Elsa kecuali jik ada keperluan yg sangat penting, Elsa pun tak bisa apa apa selain menerima konsekuensi atas apa yg sudah ia lakukan, namun Elsa masih beruntung karena ada sang ibu yg terus menemani nya meskipun setelah apa yg Elsa lakukan.


Sementara Elnaz lebih memilih tinggal di rumah Arfan, apa lagi setelah melihat sikap ibu nya yg masih tidak berubah dan tetap lebih memperhatikan Elsa dari pada Elnaz, Bu Isna bahkan berbicara dengan Elnaz hanya sekedar nya saja.


Hingga tepat di hari ke 8, Elnaz dan Elsa sama sama memutuskan untuk kembali ke Jakarta bersama sama.


"Kalau sudah sampai nanti langsung telpon Mama ya..." ujar Bu Isna pada kedua anak nya itu yg kini sudah bersiap siap untuk pergi.


Di sana juga ada Bu Yuni dan Pak Adi, mereka ingin mengantar keberangkatan menantu mereka.


"Iya, Ma..." jawab Elsa kemudian mencium pipi sang Mama.


"Tunggu dulu sebentar, Nak..." ujar Pak Malik dan kedua anak perempuan nya itu pun menunggu ayah mereka.


Pak Malik pergi ke kamar nya dan ia mengambil sebuah cincin milik mendiang ibu nya. Cincin itu adalah cincin turun temurun dari mendiang kakek nya.


"Itu kan cincin ibu, Lik..." ujar Bu Yuni.

__ADS_1


"Iya, Mbak. Ini cincin ibu, sebenarnya dia mewariskan ini untuk cucu laki laki nya supaya di berikan kepada istri nya" ujar Pak Malik kemudian. Elsa dan Elnaz hanya bisa menatap ayah mereka dan cincin yg di pegang nya.


"Jadi, ini untuk mu, Elnaz..." lanjut Pak Malik dan menarik tangan kanan Elnaz, memakaikan cincin itu di jari tengah nya karena jika di pakaikan di jari manis nya maka sudah pasti cincin itu kebesaran.


Elnaz mengangkat tangan nya dan memperhatikan cincin emas yg melingkar indah di jari nya itu.


Sementara Elsa kembalikan merasakan patah hati atas apa yg Elnaz dapatkan, setelah Arfan, kini cincin warisan itu yg menjauhi milik Elnaz. Elsa tak bisa memungkiri bahwa ia begitu iri pada adik nya itu.


"Ini dari mendiang kakek?" tanya Elnaz lirih.


"Iya, di wariskan pada Papa untuk di berikan pada Mama mu, dan seandainya Papa punya anak laki laki, maka kami harus mewariskan nya pada anak laki kami saat dia menikah, tapi karena kami tidak memiliki anak laki laki, maka ini menjadi hak cucu laki laki nenek dan itu berarti milik Arfan, dan Karena kamu ini istri Arfan, maka ini milik mu" tukas Pak Malik lagi.


"Lalu kenapa kamu tidak memberikan nya pada Arfan, Lik? Biar Arfan langsung yg memberikan nya pada Elnaz" tukas Bu Yuni lagi.


"Iya, Mbak. Aku tahu, seharusnya aku memberikan ini pada Arfan saat Arfan menikah..." lirih Pak Malik sambil melirik Elsa yg saat ini juga menatap ayah nya itu dengan wajah yg muram.


"Arfan, Elnaz dan Elsa sama sama anak ku. Siapa pun jodoh Arfan, sebagai paman nya aku hanya bisa mendoakan nya. Apa lagi jodoh nya itu salah satu anak ku, bagi ku mereka berdua sama saja. Sama sama anak perempuan ku" ucap nya lagi yg membuat Elnaz langsung berhambur ke pelukan sang ayah "


"Terima kasih, Papa..." lirih Elnaz di pelukan sang ayah dan Pak Malik mengecup pucuk kepala Elnaz.


"Kembali kasih, Sayang" jawab Pak Malik.


Sementara Bu Isna hanya menatap dingin suami nya itu yg telah memberikan cincin itu pada Elnaz tanpa sepengetahuan nya dan tanpa persetujuan nya. Karena ia juga memiliki hak atas cincin itu.


"Ayo, sudah saat nya kita berangkat" ujar Pak Malik.

__ADS_1


Elnaz dan Elsa pun salim pada Bu Yuni, Pak Adi dan Bu Isna secara bergantian.


"Hati hati ya, El. Dan jaga kesehatan, biar cepat hamil..." tukas Bu Yuni yg kembali menarik perhatian Elsa. Membuat Elsa berfikir seharusnya dia lah yg mendapatkan perhatian itu.


"Insya Allah, Mama..." jawab Elnaz.


Bu Isna memeluk Elsa dan mencium pipi nya, sambil berpesan supaya Elsa harus jaga diri.


"Kamu harus makan yg teratur ya, dan istirahat yg cukup. Jangan bekerja terlalu lelah, nanti kamu sakit" ucap nya.


"Iya, Ma. Mama jangan khawatir" balas Elsa menenangkan ibu nya.


Pak Malik pun mengantar kedua anak perempuan nya itu ke Bandara, Elsa duduk di depan sementara Elnaz di belakang.


"Papa harap kamu bisa jaga diri, Elsa..." tukas Pak Malik secara tiba tiba.


"Elsa sudah dewasa, Pa. Elsa bisa jaga diri" jawab Elsa.


"Papa tahu, Nak. Kamu sudah dewasa, tapi Papa ini seorang ayah, jangan kan kamu hanya sekedar dewasa, bahkan jika pun kamu sudah bersuami dan memiliki anak anak, bagi Papa kamu tetap lah anak Papa, yg akan selalu Papa fikirkan. Dan papa cemas kalau kamu tidak ada kabar" jawab Pak Malik dengan begitu lembut, berharap dengan kelembutan nya maka Elsa mau mengerti kecemasan nya akan anak perempuan nya.


"Iya, Pa. Aku... Aku akan selalu mengabari Papa" ucap Elsa akhirnya.


Sesampainya di Bandara, Pak Malik mengantar kedua anak nya itu hingga check in dan sebelum berpisah, Pak Malik mencium ubun ubun anak perempuan nya itu dengan sayang.


"Papa harap kalian berdua bisa jaga diri dan menjadi perempuan yg dewasa. Terutama kamu, El. Jadi lah istri yg baik buat Arfan dan taati imam mu" tukas nya.

__ADS_1


"Iya, Pa. Inysa Allah" jawab Elnaz.


__ADS_2