(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 23 - PDKT???


__ADS_3

Setelah selesai bertemu dengan Dr. Claire, Arfan mengajak Elnaz jalan jalan sekalian berbelanja keperluan rumah mumpung Arfan belum kembali bertugas.


Seperti saran Dr. Claire, keduanya berjalan dengan bergandengan tangan. Walaupun itu tidak menimbulkan perasaan romantis sama sekali karena bergandengan tangan seperti ini sudah sering mereka lakukan sejak mereka masih kecil. Namun tak ada salahnya mencoba.


Saat ini keduanya sedang berbelanja bahan bahan dapur, Elnaz dan Arfan sama sama bisa memasak sehingga kedua nya memutuskan untuk memasak dan tidak harus memesan makanan. Selain itu, Elnaz menolak adanya asisten rumah tangga karena ia bisa membersihkan rumah nya sendiri dan mereka bisa lebih hemat uang, karena sekarang Arfan harus membiayai kuliah nya juga.


"Sebenarnya kakak khawatir lho sama kamu, Dek. Kalau sekarang kamu kan memang engga ada kegiatan jadi bisa saja mengurus rumah, nah kalau misal nya nanti sudah kuliah?" Arfan berkata sembari memilih beberapa bumbu dapur.


"Kan kuliah nya cuma beberapa jam, Kak" jawab Elnaz dan ia sendiri memilih beberapa cemilan untuk nya dan Arfan.


Setelah berbelanja yg cukup banyak, kedua nya pun bergegas pulang karena sudah merasa lelah.


Sesampainya nya di rumah, Arfan dan Elnaz menyusun barang barang mereka.


Setelah itu, mereka pun bersantai di ruang tengah sembari menonton tv di temani kacang dan minuman segar.


Arfan dan Elnaz duduk berdampingan di sofa, beda hal nya dengan Elnaz yg fokus pada tv. Arfan malah terus melirik Elnaz, berfikir bagaimana cara nya mereka memulai PDKT.


Arfan merentang kan tangan nya di belakang Elnaz, merayap dan hendak melingkar kan tangan nya di pundak Elnaz namun Arfan malah merasa canggung.


"Kenapa perasaan ku jadi begini?" batin Arfan heran.


"Haha, film nya lucu ya, Kak" seru Elnaz dan Arfan hanya mengangguk dan bergumam "Kak Arfan kenapa?" tanya Elnaz karena Arfan malah tampak bingung.


"Dek, kapan kita PDKT?" tanya Arfan yg langsung membuat Elnaz melotot terkejut.


"PDKT?" pekik Elnaz dan Arfan mengangguk.


"Ingat kan apa kata Dr. Claire?" Elnaz mengangguk anggukan kepala nya mengerti.


"Terus?" tanya Elnaz lagi.

__ADS_1


"Ya kita harus mulai PDKT, kan?" Arfan balik bertanya dan mendengar hal itu Elnaz malah merasa aneh.


"Terserah Kak Arfan saja lah" jawab Elnaz sekena nya dan ia pun bergegas ke kamar nya.


Hari sudah sore, dan Elnaz pergi mandi apa lagi karena masa datang bulan nya sudah berakhir.


Saat Elnaz keluar dari kamar mandi dengan rambut yg basah, saat itulah Arfan masuk kamar dan melihat Elnaz yg terlihat begitu segar setelah mandi tiba tiba saja menimbulkan perasaan yg aneh di hati Arfan. Ini bukan pertama kali nya dan sudah menjadi hal biasa bagi Arfan melihat Elnaz tanpa hijab mau pun dalam keadaan baru mandi. Tapi ini pertama kali nya Arfan merasakan hal yg tidak biasa. Bahkan hal itu membuat Arfan merasa gugup sendiri.


"Sholat bareng ya, Kak. El sudah bisa sholat" ujar Elnaz membuyarkan lamunan Arfan.


"He'eh" Jawab Arfan dan ia pun bergegas mandi.


...... ...


Makan malam romantis...


Seperti nya itu ide yg sangat mudah untuk di lakukan. Arfan sudah punya rencana unk membawa Elnaz makan malam romantis malam ini, tapi biasa nya di film film jika sepasang kekasih makan malam romantis maka kedua nya mengenakan pakaian yg bagus dan formal.


"Kenapa buka lemari El, Kak?Cari apa?" tanya Elnaz yg memergoki kakak nya mengobrak abrik lemari nya.


"Gaun, kamu tidak membawa gaun yg bagus, Dek?" tanya Arfan dan Elnaz langsung menggeleng.


"Memang nya gaun untuk apa?" tanya Elnaz.


"Candlelight dinner" jawab Arfan sembari tersenyum.... Malu malu?


Sementara Elnaz malah meringis mendengar pernyataan Arfan.


"Malam ini? El baru saja selesai gosok gigi, capek seharian jalan, bersihin rumah. Jadi sekarang El mengantuk" tukas Elnaz dan ia merangkak naik ke atas ranjang.


Arfan hanya bisa menganga, seperti nya Elnaz tidak akan berjuang seperti diri nya untuk pernikahan mereka atau hanya karena Elnaz masih remaja dan belum benar benar memahami arti dari sebuah pernikahan?

__ADS_1


Apapun jawaban nya, Arfan tidak masalah. Ia akan terus memperjuangkan pernikahan ini karena kini Arfan yakin, seperti kata Dr. Claire, sebenarnya ia dan Elnaz saling membutuhkan.


"Ya sudah, besok malam saja kalau begitu. Kakak gosok gigi dulu deh" ujar Arfan dan masih menyunggingkan senyum nya.


...... ...


Ciuman selamat malam dan selamat pagi...


Itu juga hal yg sangat mudah di lakukan, dulu Arfan selalu mencium Elnaz begitu juga sebaliknya. Tapi dulu, sebelum Elnaz menginjak usia yg ke 13. Setelah itu, biasa nya Arfan hanya akan mengecup gemas pipi adik nya yg tembem dan lembut.


"Kenapa?" tanya Elnaz karena Arfan terus memandangi nya. Lampu kamar sudah di matikan, namun cahaya remang remang dari lampu tidur sudah cukup membuat penerangan yg cukup jelas di sana. Arfan berbaring menyamping, menghadap Elnaz yg tidur terlentang dengan meletakkan kedua tangan nya di atas perut nya.


"Kata Dr. Claire, mungkin kita bisa memberikan ciuman selamat malam sebelum tidur" lirih Arfan dan seketika Elnaz tertawa, membuat Arfan heran dan bingung padahal sejak tadi ia gugup memikirkan PDKT dengan istri nya itu.


"Bukan nya waktu El kecil, Kak Arfan selalu memberikan ciuman selamat malam setelah Kak Arfan membacakan dongeng?" tanya Elnaz dan Arfan mengangguk pelan.


"Tapi sekarang cerita nya berbeda, El. Kita melakukan ini untuk.... Seperti yang Dr. Claire bilang, supaya perasaan kita berubah terutama mindset kita yg terus merasa kita saudara padahal kita sudah menjadi suami istri" ucap Arfan.


Elnaz terdiam, ia memandangi Arfan dengan tatapan yg begitu dalam. Tiba tiba ia merasa gugup, seperti berhadapan dengan orang asing.


"Kakak serius mau mengubah perasan kita?" tanya Elnaz lirih dan Arfan mengangguk.


"Bagaimana pun juga kita sudah menikah, Sayang"


"Kenapa Kak Arfan tidak membiarkan semua nya berjalan apa ada nya saja? tidak perlu mengikuti kata Dr. Claire. Mungkin dengan seiring nya waktu berjalan, perasaan kita bisa berubah dengan sendiri nya" tutur Elnaz dengan sangat serius.


"Jika itu mau mu, tidak masalah. Kita tidak perlu mengikuti saran Dr. Claire dan tidak perlu bertemu dengan nya lagi" ujar Arfan, mengikuti kemauan Elnaz namun Elnaz sendiri merasa tidak yakin dengan keputusan nya itu.


Arfan pun juga tidur terlentang, ia memejamkan mata dan melipat tangan nya di atas perut nya.


Elnaz memandangi Arfan yg masih memejamkan mata, mungkin keinginannya benar, mungkin juga saran Dr. Claire yg benar.

__ADS_1


Elnaz tidak tahu, masih tidak tahu harus melangkah kemana. Namun ia memang tidak suka dengan konsultasi nya pada Dr. Claire, Elnaz merasa itu sedikit di paksakan. Jika ia terus bersama dengan Arfan seperti ini, mungkin perasaan mereka benar benar akan berubah dengan sendirinya.


__ADS_2