(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 63 - Cinta Akan Menemukan Jalannya


__ADS_3

Elnaz melirik jam dinding yg terasa begitu lambat, sebentar lagi sudah memasuki waktu maghrib namun suami nya itu belum juga pulang. Padahal sejak beberapa menit yg lalu Arfan mengatakan ia sedang di jalan.


Ponsel Elnaz berdering dan tertera sebuah nomor asing di layar smartphone nya itu. Elnaz pun menjawab nya dan terdengar suara kakak nya dari seberang telpon.


"Halo, El..."


"Kak Elsa?" tanya Elnaz ingin memastikan.


"Iya, El. Oh ya, malam ini kamu sama Arfan sibuk tidak?" tanya Elsa.


"Em tidak sih, Kak. Ada apa? Oh ya, Kak Elsa belum telpon orang rumah? mereka khawatir lho sama Kak Elsa, mereka tanyain Kak Elsa terus" tukas Elnaz yg benar benar tidak habis fikir dengan saudara nya itu.


"Aduh, El..." Elsa terdengar kesal mungkin karena Elnaz yg terus saja mengingatkan Elsa untuk menghubungi orang rumah nya


"Nanti aku akan menghubungi mereka, bilang sama mereka, jangan khawatir karena aku itu sudah dewasa, aku bisa jaga diri kok" ucap nya yg membuat Elnaz menghela nafas lesu.


"Iya, El tahu Kak Elsa sudah dewasa, tapi kan yg nama nya orang tua pasti khawatir sama anak nya, Kak" ujar Elnaz lagi.


"Aduh, El. Nanti saja bicara itu nya ya, aku itu telpon kamu karena mau mengundang kamu ke pesta" tukas Elsa lagi.


"Pesta? Pesta apa?" tanya Elnaz lagi.


"Ya pesta biasa, salah satu teman ku mengadakan pesta dan aku boleh mengundang kalian"


"El sendirian atau sama Kak Arfan?" tanya Elnaz kembali ingin memastikan.


"Terserah, mau datang berdua juga tidak apa apa. Acara makan makan saja kok"


"Nanti El tanya kak Arfan dulu ya, Kak"


"Iya, aku kirimkan alamat nya. Jam 7.30"


"Iya" Jawab Elnaz "Oh ya, Kak. Ne..." ucapan Elnaz terpotong karena Elsa memutuskan sambungan telpon nya begitu saja.


"Ya Allah, Kak Elsa Kak Elsa... El kan cuma mau bilang kalau Nenek itu sakit" gerutu Elnaz, karena memang sejak dua hari yg lalu nenek nya kata nya sedang sakit, walaupun tidak parah dan hanya demam biasa, tapi Elnaz tetap ingin Elsa tahu keadaan keluarga nya.

__ADS_1


Karena sekarang Elnaz sudah mendapatkan nomor Elsa, ia pun segera mengirim nomor itu pada Mama Papa nya. Setelah pesan terkirim, tak lama kemudian Papa nya Elnaz langsung menghubungi Elnaz.


"Assalamualaikum, Papa..." ucap Elnaz setelah ia menjawab panggilan ayah nya itu.


"Waalaikum salam, El. Apa itu memang benar nomor Elsa?" tanya Papa nya yg tampak antusias.


"Iya, Papa. Tadi Kak Elsa telpon El"


"Ada apa? Apa dia mengatakan sesuatu?"


"Cuma mengundang Elnaz makan malam bersama teman teman nya" ujar Elnaz.


..........


Sementara itu, Pak Malik yg saat ini sedang bersama istri nya tampak sangat kecewa pada Elsa. Dari cerita Elnaz, seperti nya Elsa benar benar baik baik saja dan bersenang senang di sana.


Pak Malik menatap istri nya itu dan ia sengaja me load speaker ponsel nya supaya istri nya mendengar sendiri apa yg di katakan Elnaz tentang Elsa


"Jadi seperti nya kakak mu itu bersenang senang di sana ya, El? sedangkan kami di sini selalu mengkhawatirkan nya bahkan kami sampai tidak bisa tidur karena memikirkan nya" ujar Pak Malik, setengah menyindir istri nya itu yg terkadang masih tetap mendukung keputusan Elsa dan membela nya.


"Terus bagaimana pekerjaan dia di sana?" tanya Pak Malik lagi.


"Seperti nya lancar, Pa" jawab Elnaz singkat


"Ya sudah kalau begitu, El. Nanti biar Papa telpon Elsa"


"Iya, Pa. Assalamualaikum, Papa"


"Waalaikum salam, El"


"Dengar kan apa kata Elnaz?" tanya Pak Malik pada istri nya itu "Elsa baik baik saja, dia bersenang senang di sana tanpa merasa bersalah sedikitpun pada kita sebagai orang tua nya" tukas Malik.


"Terus kenapa marah nya sama aku, Mas? Memang nya aku yg salah?" tanya Bu Isna jengkel, jengkel pada Elsa yg tetap hilang kabar dan sekarang suami nya malah lagi dan lagi menyalahkan nya.


"Karena kamu selalu memanjakan nya dan membela nya" tukas Pak Malik lagi.

__ADS_1


"Nama nya juga anak, mas. Ibu mana pun akan melakukan hal yg sama" seru Bu Yuni tak mau salah kemudian ia melongos keluar


.........


Saat Arfan sudah pulang, Elnaz langsung menyampaikan undangan Elsa untuk mereka itu, yg membuat Arfan sedikit terkejut dan semakin tidak habis fikir dengan kakak ipar nya itu.


"Gila ya kakak mu itu, kabur dari rumah, bikin orang tua khawatir, sekarang malah berpesta ria" gerutu Arfan.


"Adik sepupu nya Kak Arfan juga" balas Elnaz sambil mencebikan bibir nya


"El juga bingung, Kak. Kak Elsa sebenar nya kenapa sih? makin lama seperti semakin keras kepala, semakin semau nya kalau bertindak. Kan kasian Papa Mama, pasti sangat khawatir" tutur Elnaz.


"Aku tahu, Sayang. Sebenar nya itu salah ku juga" lirih Arfan kemudian yg membuat Elnaz mengernyit.


"Kenapa bisa salah Kak Arfan?" tanya nya.


"Dia begitu karena melampiaskan sakit hati nya, karena patah hati sama aku"


Elnaz terdiam mendengar ucapan suami nya itu, dan ia tahu apa yg di katakan Arfan benar, namun juga sebuah kebenaran bahwa apa yg Elsa alami karena kesalahan Elsa sendiri, karena keegoisan nya dan keras kepala nya.


"Jika ini salah Kak Arfan, apakah arti nya pernikahan kita juga salah, Kak?" tanya Elnaz lirih yg membuat Arfan langsung menoleh, menatap istri nya itu. Tatapan Elnaz begitu sendu dan wajah nya begitu teduh, membuat Arfan selalu merasa nyaman saat bertatapan dengan nya.


"Tidak, Sayang. Tidak sama sekali" jawab Arfan tegas "kita saling mencintai sekarang, dan pernikahan kita adalah sebuah jalan untuk menyatukan cinta kita dan memang itu takdir nya. Pernah dengar pepatah yg mengatakan, cinta akan menemukan jalan nya sendiri?"


Elnaz mengangguk sambil tersenyum samar, jawaban Arfan selalu berhasil membuat nya kembali merasakan getaran cinta di hati nya.


Arfan pun juga tersenyum hangat


"Jadi, ayo kita penuhi undangan kakak ipar, hm..." gurau nya yg membuat Elnaz tertawa.


Elnaz merasa apa yg di katakan suami ny itu memang benar, dan jika pun tidak benar maka Elnaz akan menganggap nya benar.


Karena kedua nya memang adalah saudara sebelum nya, dan seandainya pernikahan terjadi antara Elsa dan Arfan maka ikatan persaudaraan Elnaz dan Arfan akan semakin erat. Dari yg saudara sepupu menjadi saudara ipar.


Tapi siapa yg sangka, takdir menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan yg suci dan sakral, menjalani bahtera rumah tangga dengan berpondasikan cinta yg tulus, yg tak pernah kedua nya sangka bisa ada di antara mereka.

__ADS_1


Tapi seperti kata Arfan, cinta akan menemukan jalan nya.


__ADS_2