(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 71 - Belahan Jiwa


__ADS_3

Di Bandara, Jimmy sudah menunggu kedatangan kekasih nya, Elsa.


Setelah kejadian malam itu, Elsa dan Jimmy memutuskan untuk menjalin hubungan. Elsa juga berusaha melupakan Arfan dan ia sangat berharap dengan menjalin hubungan dengan Jimmy bisa membuat nya melupakan Arfan. Apa lagi sejauh ini Jimmy masih selalu bersikap baik dan perhatian pada nya.


Sementara Elnaz saat ini sedang membaca pesan dari suami nya yg mengatakan seperti nya ia akan terlambat menjemput Elnaz dan meminta Elnaz menunggu Arfan sebentar saja.


"Kenapa, El?" tanya Elsa yg melihat adik nya itu sedikit cemberut.


"Tidak apa apa" jawab Elnaz dan ia memasukkan ponsel nya ke dalam ransel nya.


Jimmy melambaikan tangan nya pada Elsa dan Elsa membalas lambaian tangan Jimmy, Elsa dan Elnaz pun menghampiri Jimmy.


"Hai, Elnaz..." sapa Jimmy sambil menggerling nakal pada Elnaz, membuat Elnaz langsung membuang muka. Apa lagi saat Jimmy dan Elsa dengan tidak tahu malu nya saling mengecup bibir walaupun kecupan itu hanya sekilas.


"Arfan dimana, El? Kata nya kamu mau di jemput Arfan?" tanya Elsa kemudian.


"Kak Arfan masih di jalan" jawab Elnaz tanpa menoleh pada dua manusia itu.


"Kenapa kamu tidak pulang bersama kami saja, Elnaz?" tanya Jimmy sambil menyunggingkan senyum lebar nya.


"Tidak, terima kasih. Suami ku menjemput ku" jawab Elnaz datar.


"Ya sudah, kami pulang duluan kalau begitu, El" ujar Elsa lagi namun Jimmy tak menyetujui ajakan Elsa.


"Jangan, kasihan Elnaz kalau di tinggal sendirian" ujar Jimmy.


"Tidak apa apa, sebentar lagi Kak Arfan pasti datang" seru Elnaz meyakinkan karena ia juga sangat tidak menyukai kehadiran Jimmy.


"Kami akan menunggu, iya kan, Sayang?" tanya Jimmy pada Elsa dan Elsa pun mengangguk setuju.


Tak lama kemudian Arfan datang dengan berlari menghampiri Elnaz dan tanpa memperdulikan sekitar nya, Arfan langsung memeluk tubuh mungil istri nya itu dan ia juga mencium kening dan pipi nya dengan penuh kerinduan.


"Aku sangat merindukanmu, Sayang" bisik Arfan di telinga istri nya itu yg membuat Elnaz tersenyum.


"El juga rindu Kak Arfan..." jawab Elnaz.


Elsa yg melihat kemesraan sepasang suami istri itu hanya bisa melongos pergi sambil menarik tangan Jimmy pergi.


Arfan pun merangkul istri nya itu juga pergi dan menuju mobil mereka.


Bahkan saat di mobil, Arfan terus menggenggam tangan Elnaz dan benar benar enggan melepas nya, membuat Elnaz terkekeh geli.

__ADS_1


"Kak, lepasin, pegangan di rumah saja nanti. Nyetir dulu yg benar" ujar Elnaz.


"Tapi masih kangen..." rengek Arfan manja.


"Iya, El juga kangen sekali sama Kak Arfan...." hibur Elnaz kemudian ia mengecup pipi Arfan berkali kali membuat Arfan tertawa senang.


Mobil Jimmy tepat berada di samping mobil Arfan dan Karena kaca mobil yg tidak di tutup, Elsa bisa dengan jelas melihat kemesraan adik dan mantan tunangan nya itu.


"Kenapa? Kamu cemburu?" goda Jimmy pada Elsa, ia menyelipkan tangan nya di leher Elsa dan menarik Elsa hingga bibir kedua nya menyatu sempurna. Elsa yg tak siap dengan ciuman itu refleks mendorong Jimmy, namun Jimmy tidak marah dan ia malah terkekeh.


"Kamu itu sudah punya pengganti nya Arfan, untuk apa masih memikirkan dia?" tanya Jimmy dan ia mempercepat laju mobil nya sehingga meninggalkan mobil Arfan di belakang.


Elnaz memperlihatkan cincin yg di berikan ayah nya pada Arfan "Kata nya ini cincin turun temurun" ujar Elnaz.


"Iya, mama sudah cerita tadi. Cincin ini cantik sekali di jari mu, Sayang" ucap Arfan.


"Em, Kak..."


"Iya?"


"Mama seperti nya sangat menginginkan cucu" Elnaz berkata dengan begitu lirih, ia menautkan jari jemari nya dan entah mengapa setiap kali memikirkan keinginan mertua nya itu membuat Elnaz merasa resah.


"Iya, kakak tahu. Tapi kan Allah belum kasih, ya mau bagaimana lagi?" tanya Arfan.


"Sayang, hanya karena kita melakukan hubungan suami istri bukan berarti kamu akan langsung hamil, kan?"


"Iya, tapi kita melakukan nya dengan teratur, menjalani pola hidup yg sehat, seharus nya itu membuat El mudah hamil kan?"


"Jangan bilang kamu berfikir kamu tidak bisa hamil, El...." tukas Arfan yg seolah bisa membaca apa yg membuat istri nya itu cemas. Dan benar saja, Elnaz langsung menundukkan kepala nya dalam, ia memang takut akan ketidak sempurnaan dan tidak bisa memberikan apa yg keluarga nya harapkan.


Sudah cukup Elnaz terlahir sebagai perempuan yg sama sekali tidak di harapkan oleh orang tua nya, membuat mereka membedakan antara Elnaz dan Elsa. Dan jika ia tak segera hamil, entah bagaimana mertua nya akan memperlakukan nya.


Arfan yg tak mendapatkan jawaban dari Elnaz hanya bisa menghela nafas berat.


"Jangan berfikir kesana, Sayang. Kamu masih sangat muda, bahkan belum 20 tahun. Ya..." ucap Arfan lembut, Elnaz masih terdiam dan Arfan pun tak berbicara lagi


Kedua nya sama sama terdiam dan Arfan melanjutkan mobil nya lebih cepat supaya ia segera sampai di rumah dan membicarakan masalah ini dengan tenang dengan istri nya.


Sesampai nya di rumah, Arfan langsung membawa Elnaz ke kamar nya.


"Kak Arfan tidak ke rumah sakit lagi?" tanya Elnaz sambil melepaskan jilbab nya.

__ADS_1


"Tidak" jawab Arfan dan ia juga melepaskan kemeja nya "Ayo mandi bersama..." ajak Arfan dan Elnaz pun hanya manut saja.


Kini kedua nya sudah berendam dalam buthtub, aroma mawar dari sabun yg Elnaz tuangkan ke dalam buthtub memenuhi kamar mandi.


Arfan menyabuni punggung istri nya itu dan sesekali memberikan pijatan lembut yg membuat Elnaz kembali merasa tenang setelah memikirkan soal kehamilan. Apa lagi mertua nya itu sering sekali membicarakan cucu, membuat Elnaz sedikit tertekan.


"Sayang..." Arfan memanggil istri nya itu sembari mengalihkan pijatan nya ke pundak sang istri.


"Ya?"


"Kamu akan segera hamil, jangan khawatir, ya!" Elnaz hanya tersenyum samar dan menganggukan kepala.


"Dan jangan berfikir yg aneh aneh, kamu masih sangat muda dan juga sangat sehat. Sebaiknya kamu fokus pada kuliah mu saja"


"Tapi kata Mama Kak Arfan seharus nya sudah punya anak, semua teman yg seumuran sama Kak Arfan sudah punya anak, semua teman Mama sudah punya cucu" tutur Elnaz lirih, Arfan mengecup leher sang istri dengan kecupan yg begitu lembut dan ringan, kecupan itu berubah menjadi ciuman saat tanpa saja Elnaz melenguh tertahan. Apa lagi ketika Arfan menciumi belakang telinga dan menghembuskan nafas hangat nya di sana.


"Sayang..." lirih Arfan di sela cumbuan nya di leher sang istri. Sementara dada Elnaz sudah naik turun dengan nafas yg memburu.


"Istri itu bukan mesin pencetak anak, istri itu pendamping hidup, belahan jiwa, hmm. Jadi jangan terlalu memikirkan hal itu, kalau sudah waktunya nanti, Allah pasti akan kasih" ucap nya kemudian dan makin lama cumbuan di leher nya makin menjadi, bahkan dengan sengaja Arfan menjilat dan menggigit leher Elnaz dengan gemas. Membuat Elnaz mengerang lirih.


Ia terus mencumbu nya seolah Arfan tergila gila akan hal itu hingga meninggalkan beberapa bekas indah di sana. Hal itu tentu membuat sang empunya menggelinjang tak karuan dan mendesah tak tertahan.


Membuat hasrat Arfan terpancing apa lagi dengan kulit mereka yg menempel tanpa penghalang sedikitpun. Sekali pun mereka berada dalam air dengan suhu normal, namun kedua sejoli itu malah merasa kepanasan.


Arfan membalik tubuh Elnaz dan meraup bibir nya sambil mengangkat tubuh Elnaz dan keluar dari buthtub. Arfan membawa diri mereka ke bawah shower guna menyiram busa busa yg menempel di tubuh mereka.


Masih menggendong Elnaz, Arfan keluar dari kamar mandi dan menuju ranjang tak peduli tubuh basah mereka yg akan membasahi seprei. Arfan kembali mencumbu setiap inci kulit pujaan hati nya itu.


"Aku sangat merindukan mu, Sayang. Rindu sekali, rasa nya aku kedinginan setiap malam tanpa mu di sisi ku"


Elnaz merona mendengar ungkapan kerinduan sang suami.


"Tidak apa apa kita belum punya bayi, mungkin Tuhan ingin memberikan kita kesempatan untuk berpacaran dulu, jadi ayo nikmati masa masa indah ini" tukas Arfan lagi sambil memposisikan diri nya untuk menuntaskan kerinduan yg ia tahan selama beberapa hari ini.


Keduanya mengerang tertahan saat penyatuan terjadi, rasa nya selalu sama, indah, memabukan, membuat kedua nya ketagihan dan menginginkan penyatuan lagi dan lagi.


Pergerakan Arfan di atas tubuh mungil nya itu membuat Elnaz melenguh tanpa henti. Ia memeluk punggung sang suami dan mengusap nya dengan begitu lembut, kedua kaki nya ia lingkarkan di pinggang Arfan membuat Arfan mengerang seksi dan semakin di landa kenikmatan.


Kedua nya terus bergerak seirama, menyalurkan kenikmatan yg tiada tara itu. Yg di landasi dengan cinta dan di bumbui dengan gairah yg membuat kedua nya saling membutuhkan dan ketergantungan satu sama lain.


Dan saat puncak kenikmatan itu datang, Elnaz mendesahkan nama Arfan dengan begitu indah dan Arfan pun sama, ia memanggil nama istri nya dan tu penuh kepuasan dan berkata.

__ADS_1


"Kamu belahan jiwa ku, Sayang"


__ADS_2