(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 124 - Masih Salah Faham


__ADS_3

Saat Arfan pulang kerumah, ia di sambut dengan wajah cemberut sang istri. Yg bahkan kini telah benar benar terlihat marah...


"Sayang..." Arfan menegur nya namun Elnaz tak menanggapi nya sedikit pun.


"Kakak tahu kamu cemburu, Sayang. Tapi bukan seperti ini juga cara nya, kan?" kata Arfan lagi yg justru membuat Elnaz semakin kesal.


"Suami mu ini juga Dokter, kamu tahu kan betapa penting nya tepat waktu bagi seorang Dokter? Urusan nya nyawa orang lho..." Arfan masih berusaha bersikap lembut pada istri nya, namun Elnaz masih memperlihatkan betapa marah nya dia.


"Nadine itu nungguin sampai dua jam lebih, itu merugikan dia dan pasien nya..." ujar Arfan lagi, Elnaz langsung menatap tajam suami nya itu dan berkata.


"Jadi yg salah siapa? Aku..." Elnaz menunjuk diri nya sendiri "Atau dia?" tangan nya menunjuk ke sembarang arah.


"Sudah tahu dia harus selalu on time, sudah tahu pasien nya itu sangat penting. Lalu kenapa dengan bodoh nya dia menunggu sampai dua jam lebih, otak nya dimana?" Elnaz berkata berapi api yg membuat Arfan langsung tercengang, apa lagi ketika Elnaz mengucapkan kata otak dengan sangat enteng nya.


"El..." lirih Arfan, namun Elnaz malah berlari masuk ke kamar nya, menutup pintu dengan keras hingga terdengar suara gebrakan yg membuat Arfan terkesiap.


.........


Keesokan harinya, Arfan ke Bandara untuk menjemput ibu mertua nya. Hari kelahiran Elnaz sudah dekat, karena itu lah ibu mertua nya itu ingin tinggal di rumah Arfan untuk menjaga Elnaz.


Sementara Elnaz sampai hari ini masih enggan berbicara dengan Arfan, Arfan pun juga tak memulai pembicaraan lebih dulu. Entah kenapa perasaan dan fikiran nya kacau sejak pertengkaran nya semalam dengan Elnaz.


Apa lagi kata kata Elnaz yg terbilang kasar itu terus terngiang dalam benak nya.


Arfan sangat mengenal istri nya itu, Elnaz bukan Wanita yg mudah bahkan hampir tidak pernah mengatakan kata kata yg kasar, apa lagi di depan suami nya.


Arfan mulai memikirkan bagaimana hubungan nya dengan Elnaz akhir akhir ini, dan yg sering Elnaz singgung adalah Nadine dan Nadine.


"Apa itu masalah nya?" gumam Arfan.


Sesampainya ia di bandara, Arfan melihat ibu mertua nya yg ternayata sudah menunggu nya.


Arfan pun berlari lari kecil menghampiri ibu nya yg membawa koper dan juga menenteng kresek yg seperti nya berisi makanan.


"Maaf, Ma. Telat..." ucap Arfan.


"Tidak apa apa, Fan. Mama fikir Elnaz ikut jemput" ujar sang ibu mertua.


"Tidak, Ma. El istirahat di rumah" jawab nya. Arfan membawakan koper ibu mertua nya dan mereka berdua berjalan bersama menuju mobil Arfan. Arfan memasukan koper yg sedikit berat itu ke dalam bagasi, Kemudian ia pun masuk ke dalam mobil sementara ibu mertua nya sudah duduk di kursi samping kursi kemudi.

__ADS_1


"Mama bawa apa?" tanya Arfan sembari melirik kresek yg di pegang ibu nya itu "Letakkan di belakang saja itu, Ma" imbuh nya.


"Jangan, ini rawon, nanti tumpah. sama nasi kuning juga. Dari Mama mu, kata nya buat Elnaz" jawab nya yg membuat Arfan tersenyum.


"Bagaiamana kehamilan Elnaz, Fan?" tanya Bu Yuni, Arfan mulai menjalankan mobil nya meninggalkan parkiran bandara.


"Alhamdulillah baik baik saja, Ma. Cuma kasihan sekali Elnaz mudah lelah, tidur nya juga tidak bisa nyenyak" jawab Arfan.


"Nama nya juga hamil besar, Fan. Semua ibu pasti begitu, harus ekstra sabar. Hamil itu sangat susah dan lelah, sakit juga" Arfan hanya menanggapi nya dengan senyum samar. Karena ia masih kefikiran dengan pertengkaran nya dengan Elnaz.


...........


Sesampainya di rumah Arfan, Elnaz menyambut Mama nya itu dengan senyum dan peluk hangat, sang ibu pun mencium pipi Elnaz dan menanyakan kabar nya.


"El baik, Ma. Keadaan Papa di rumah gimana? Papa Adi sama Mama Yuni gimana?" tanya Elnaz.


"Mereka baik, mereka titipkan makanan buat kamu"


Elnaz tersenyum mendengar apa yg di katakan ibu nya itu, ia membawa ibunya masuk sementara Arfan hanya bisa mengekori mereka dari belakang.


Elnaz membuka box makanan makanan yg berisi nasi kuning dan seketika ia kembali tersenyum senang.


"Kita makan ya, Ma" ajak Elnaz namun ia tidak mengajak Arfan.


Bu Isna yg melihat itu seketika ia bisa memahami seperti nya ada yg salah dengan hubungan pernikahan anak nya.


.........


Di rumah sakit, Arfan kembali bekerja seperti biasa. Walaupun fokus nya terbagi karena terus memikirkan Elnaz.


Saat berjalan di lorong rumah sakit, Arfan berapapasan dengan Nadine. Nadine hendak menyapa Arfan namun Arfan lebih dulu menghindar, seolah ia tak mengenal Nadine.


Nadine berusaha mengejar Arfan dan memanggil Arfan yg terus melangkah menjauh.


"Ar, tunggu..." Nadine berhasil mengejar nya.


"Maaf, Nad. Aku sedang sibuk" ujar Arfan.


"Oh, gitu. Okey, nanti pulang bareng ya, mobil ku masih di bengkel" ucap nya.

__ADS_1


"Maaf, Aku tidak bisa, Nad..."


"Kenapa? Pasti tidak bolehin istri mu ya?"


"Bukan, aku cuma mau pulang lebih awal hari ini. Ada ibu mertua ku di rumah..."


Nadine hanya mangut mangut mendengar apa yg di katakan Arfan, dan ia mempersilahkan Arfan yg kembali melanjutkan langkah nya. Nadine menatap punggung Arfan yg kini semakin menjauh.


.........


Arfan sedang bersiap siap untuk pulang setelah semua tugas nya selesai, namun saat mau membuka pintu, Suster Jessy dan Dokter Liam tiba tiba muncul mengagetkan nya membuat Arfan terkejut.


"Kalian di sini? Ngapain?" tanya Arfan


"Mau ambil barang, oh ya, tadi aku liat kamu bicara sama Nadine..." tukas Suster Jessy sambil memicingkan mata nya pada Arfan "Hati hati, jaga hati istri yg lagi hamil..." tukas Suster Jessy menegaskan.


"Ya... Kemarin sudah sempat salah faham, malah sampai sekarang Elnaz tidak mau bicara sama aku"


"Maksud nya?" tanya Dokter Liam penasaran.


..........


Dokter Liam dan Suster Jessy menghela nafas panjang dan berat setelah mendengar cerita Arfan.


"Aku tahu El salah, aku tidak marah sebenar nya sama dia, cuma bagaimana dia ngerjain Nadine itu kelewatan, apalagi Nadine itu kan Dokt... Aduh, aduh... Jess... "


"Heh...." Suster Jessy memukul Arfan dengan tas nya, membuat Arfan memekik kaget.


"Pukul saja terus, Hon..." ujar Dokter Liam mendukung Jessy, bahkan ia membantu memukuli Arfan dengan tangan nya membuat Arfan mengerang sakit.


"Yg kelawatan itu si Nad Nad lah..." tukas Suster Jessy kemudian dengan nafas terengah.


"Tahu..." Sambung Dokter Liam.


"Istri mu lagi hamil, eh suami nya di deketin cewek lain..." ucap Suster Jessy lagi.


"Pasti sakit hati lah" lagi lagi Dokter Liam menyambung.


"Dimana juga otak nya si Nad Nad, masak nungguin orang sampai dua jam, aku aja ogah nunggu Liam setengah jam" tukas nya lagi.

__ADS_1


"Jujur banget sih, Hon..." ucap Dokter Liam. Sementara Arfan masih mendengarkan mereka sambil meringis.


"Malah marahin istri di depan wanita lain, habis lah itu harga diri istri mu di depan orang. Suami macam apa kamu " hardik Suster Jessy lagi yg seketika membuat Arfan terhenyek, ia seperti baru menyadari hal itu.


__ADS_2