
Elnaz bisa merasakan ada yg berbeda dengan Kak Arfan nya akhir akhir ini, ia menjadi lebih agresif saat mencium Elnaz. Apa lagi sekarang sudah tak terhitung berapa kali Arfan selalu mencium Elnaz dengan begitu menuntut dan menggebu, bahkan membuat Elnaz terkadang tak bisa bernafas. Arfan seperti tak ada bosan nya mencium bibir istrinya itu, bukan hanya di rumah tapi juga di rumah sakit saat Elnaz membawakan makan siang suaminya itu. Apa lagi saat sebelum tidur, pelukan dan ciuman Arfan benar benar semakin berbeda.
Dan Elnaz bukannya tak mengerti, ia tahu apa yg di butuhkan suami nya itu. Karena beberapa kali juga, Elnaz bisa merasakan bukti gairah suami nya dan itu membuat Elnaz kefikiran.
Jika Arfan tak mendapatkan hak nya di rumah, bagaimana jika Arfan malah mencari pelampiasan di luar rumah?
Apa lagi rumah tangga mereka sudah berjalan lebih dari tiga bulan, dan memang seharusnya Elnaz sudah memberikan hak Arfan sebagaimana Arfan memberikan semua hak Elnaz. Arfan juga pria dewasa yg normal, setiap malam keduanya selalu berciuman dengan begitu panas nya maka itu sudah pasti membuat harta Arfan memuncak. Atau mungkin juga, Arfan selalu mencium Elnaz seperti itu untuk melampiaskan hasrat nya yg belum juga bisa tersalurkan.
Elnaz terus merenungi hal itu sembari membersihkan rumah nya, sesekali ia menghela nafas panjang dan mendesah lesu.
"Ya sudah lah ya, kasih saja. Toh benar kata Dr. Claire, masa lalu Kak Arfan punya Kak Arfan. Apakah dia pernah bercinta dengan Kak Elsa atau tidak, itu kan sudah menjadi masa lalu nya" gumam Elnaz.
Ia pun melanjutkan membersihkan rumah nya hingga tiba tiba terdengar suara bel dari luar, Elnaz pun meletakkan sapu nya dan berjalan menuju pintu depan. Sebelum membuka pintu, Elnaz mengintip tamu nya dari jendela. Karena seperti perintah Arfan, ia tidak boleh menerima tamu yg tidak di kenal.
Dan betapa terkejutnya Elnaz saat melihat kakak nya, Elsa, sedang berada di depan rumahnya. Elnaz langsung membuka kan pintu dan di sambut dengan senyum Elsa yg mengembang lebar.
"Kak Elsa..."" seru Elnaz tak percaya.
"Hai, El..." sapa Elsa girang dan ia langsung memeluk adik nya itu sementara Elnaz hanya berdiri mematung karena ia masih terkejut dengan kedatangan Elsa "Kamu sendirian di rumah?" tanya Elsa sembari melerai pelukan nya.
"Iya, Kak Arfan masih bekerja" jawab Elnaz dan Elsa mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Kamu banyak berubah ya, Dek. Padahal cuma beberapa bulan saja aku tidak melihat mu" ujar Elsa kemudian. Sementara Elnaz hanya tersenyum tipis "Boleh aku masuk? Bagaimana pun juga aku kan masih kakak mu, El" seru Elsa kemudian karena Elnaz tak mempersilahkan nya masuk.
"Boleh, Kak. Silahkan masuk..." ujar Elnaz sembari membuka pintu nya lebih lebar.
"Nenek nitip oleh oleh buat kamu, El. Kakak juga bawain oleh oleh sewaktu dari Jepang" seru Elsa kemudian ia duduk di sofa panjang yg ada di ruang tamu. Elsa meletakkan tiga paper bag di meja "Ini semuanya buat kamu sama Arfan" lanjut nya. Elnaz yg masih merasa canggung di depan kakak nya pun kembali hanya menyunggingkan senyum tipis, apa lagi mengingat bagaimana pertemuan terkahir mereka yaitu saat Elsa menampar nya. Ingatan itu membuat perasaan Elnaz tidak nyaman saat bersama kakak nya saat ini.
"Terima kasih" ucap Elnaz kemudian.
Elsa memperhatikan rumah itu dan ia kembali tampak sedih, karena rumah ini adalah rencana masa depan Elsa dan Arfan. Bahkan Arfan meminta pendapat Elsa untuk membeli rumah ini, menanyakan apakah Elsa menyukai nya atau tidak.
"Jika aku tidak suka, apa kamu akan mencari rumah yg lain?" tanya Elsa.
"Tentu saja, karena rumah yg akan aku beli akan menjadi rumah mu nanti. Kamu yg akan mengurus nya dan menempati nya, jadi semua nya terserah kamu, Sayang"
"Kamu suka rumah ini, El?" tanya Elsa kemudian sembari beranjak berdiri dan berjalan menyusuri rumah itu.
"Iya" jawab Elnaz dan mengekori kakak nya itu.
"Rumah ini memang sangat nyaman, El. Dulu Arfan meminta ku memilih antara rumah ini atau yg ada di seberang hotel sana, tapi aku memilih ini karena ini terasa lebih nyaman" tutur Elsa dengan enteng nya tanpa memikirkan perasaan Elnaz, dan tentu saja Elnaz merasa tidak nyaman mendengar penuturan Elsa yg masih mengungkit masa lalu nya dengan Arfan.
"Kamar utama nya cukup besar kan?" tanya Elsa lagi dan Elnaz hanya mengangguk pelan, saat ini Elsa sedang naik tangga menuju lantai dua dan Elnaz masih terus mengikuti kakak nya itu "Aku memilih rumah ini juga karena kamar utama nya lebih besar dari pada rumah yg satu nya, kamu tahu sendiri kan aku itu tidak suka kalau kamar nya sempit" tutur Elsa lagi dan sekarang Elnaz semakin merasa tidak nyaman, apa lagi saat ini Elsa sudah berada di depan kamar Arfan dan Elnaz dan ia hendak membuka kamar itu namun syukurlah itu terhenti saat terdengar suara klakson dari depan.
__ADS_1
"Kak Arfan sudah pulang..." seru Elnaz dan ia segera berlari lari kecil menuruni tangga untuk menyambut kedatangan Arfan sementara Elsa mengikuti nya dengan berjalan santai, Elnaz melihat Arfan yg sudah masuk rumah.
"Sayang, kenapa pintu nya di buka?" tanya Arfan dan ia tampak khawatir, kemudian Arfan mencium sudut bibir Elnaz dan melingkarkan lengan nya di pinggang ramping sang istri "Kakak kangen, Sayang" seru Arfan di sela ciuman nya kemudian dan ia masih tak menyadari kehadiran Elsa.
"Kak, ada Kak Elsa..." lirih Elnaz setelah Arfan melepaskan ciuman nya.
Arfan hanya tampak sedikit terkejut dan ia pun menoleh tanpa melepaskan rangkulan lengan nya di pinggang Elnaz.
"Hai, Fan..." sapa Elsa dengan senyum tipis yg tampak di paksakan. Tak bisa ia pungkiri, hati nya masih mencintai Arfan dan ia merasa begitu cemburu melihat Elnaz mendapatkan segala nya. Apa lagi melihat bagaimana Arfan memperlakukan Elnaz, begitu mesra dan manis.
"Sudah lama, Sa?" tanya Arfan dengan ekspresi datar nya.
"Tidak, baru saja" seru Elsa kemudian "Oh ya, kenapa kamu tidak pernah membalas pesan ku selama ini, Fan? Kamu pasti sangat sibuk ya? Tadi aku juga menghubungi mu, aku fikir kamu bisa menjemput ku di bandara" tanya Elsa kemudian yg membuat Elnaz langsung menatap suaminya penuh tanda tanya. Arfan menjawab tatapan Elnaz dengan senyuman dan rangkulan nya yg semakin erat. Seolah ia mengatakan itu bukan apa apa.
"Ya, aku memang sangat sibuk di rumah sakit. Sementara setelah dari rumah sakit, aku sibuk bersama Elnaz" seru Arfan.
"Sibuk bersama Elnaz?" tanya Elsa.
"Ya, Elnaz mau melanjutkan kuliah nya kan. Jadi kami sibuk memilih kampus mana yg istriku suka" tegas Arfan.
"Oh ya, bagaimana kabar orang rumah?" tanya Arfan kemudian.
__ADS_1
"Mereka baik baik saja" jawab Elsa sembari memperhatikan Arfan yg sejak tadi tidak melepaskan Elnaz Sedikitpun, tubuh keduanya terus menempel seperti magnet dan itu membuat hati Elsa terasa sesak akan cemburu "Aku pamit dulu, dan aku masih lama di Jakarta. Aku di tawari beberapa pekerjaan di sini, kalau kalian tidak sibuk. Mungkin kita bisa jalan jalan nanti" tukas Elsa namun Arfan maupun Elnaz tak menjawab nya. Mereka hanya menyunggingkan senyum dan mengantar Elsa hingga ke depan.