(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 118 - PDKT ala Nadine


__ADS_3

Elnaz yg sedang membaca buku di perpustakaan di ganggu oleh kehadiran Andy, membuat Elnaz mendengus karena ia sedang serius belajar untuk mempertahankan nilai nya.


"El..." Andy kembali mengangguk nya membuat Elnaz berdecak kesal.


"Ssshhtt, nanti di marahin sama penjaya perpus, Ndy..." bisik Elnaz.


"Rajin banget kamu belajar nya" Andy berkata dengan suara yg sedikit nyaring membuat ibu penjaga perpus langsung melotot pada nya.


Elnaz mendelik pada teman nya itu karena mengganggu konsentrasi nya, ia pun memutuskan keluar dari kampus apa lagi perut nya yg keroncongan karena ia merasa lapar.


Elnaz dan Andy menuju kantin dan mereka berapapasan dengan Robin yg seperti nya baru selesai makan.


"Hai, Rob..." sapa Elnaz dengan senyum lebar nya namun Robin mengabaikan Elnaz begitu saja, ini sudah berlangsung cukup lama dan Elnaz tidak tahu apa masalah nya sehingga Robin bersikap seolah tak mengenal Elnaz.


"Memang nya kamu tidak bosan nyapa Robin terus sementara Robin nya acuh tak acuh begitu..." ujar Andy kesal.


"Entahlah, Ndy. Heran aja sama sikap Robin..." kata Elnaz sembari menari kursi dan mendaratkan bokong nya di sana.


"Mungkin suami mu melabrak dia kali..." Cetus Andy kemudian yg membuat Elnaz langsung memikirkan Arfan.


"Bisa jadi sih..."


.........


Arfan sedang memeriksa pasien nya yg datang untuk berkonsultasi setelah melakukan operasi beberapa bulan yg lalu.


Arfan melayani nya dengan baik dan ramah, seperti biasa Arfan akan menanyakan beberapa pertanyaan terkait keluhan pasien nya setelah melaksanakan operasi untuk memastikan pasien nya itu baik baik saja.


Setelah itu, Arfan di panggil oleh seorang suster untuk menangani pasien yg kata nya jatuh dari tangga.

__ADS_1


Arfan langsung berlari menuju ruangan pasien itu karena Arfan teringat dengan Elnaz yg pernah mengalami kecelakaan yg sama. Pasien itu adalah anak lelaki berumur 7 tahun.


Arfan membawa pasien itu ke ruang operasi karena ia mengalami luka di pelipis nya. Selama menjalani operasi, Arfan terus teringat dengan Elnaz.


Arfan dan semua perawat bernafas lega karena pasien itu tidak mengalami luka yg serius seperti Elnaz.


Arfan juga mengabarkan hal demikian pada keluarga pasien yg tampak cemas. Keluarga pasien langsung mengucap syukur, membuat Arfan tersenyum penuh haru.


.........


Saat makan malam, Arfan memperhatikan Elnaz yg sedang menikmati menu makan malam nya dengan lahap.


"Kenapa?" tanya Elnaz bingung karena sejak tadi Arfan terus memperhatikan nya dan tak menyentuh makanan nya.


"El, menurut mu bagaimana kalau rumah ini kita jual saja?" tanya Arfan setelah menghela nafas panjang. Mendengar pertanyaan itu tentu Elnaz terkejut.


"Maksud nya? Kenapa kau di jual?" tanya Elnaz bingung.


"El, kakak serius..." ujar Arfan kesal karena Elnaz seperti tidak menanggapi nya dengan serius.


"Ya, El tahu. Tapi kan bisa hati hati, jual rumah itu tidak mudah dan tidak akan langsung laku" jawab Elnaz.


"Ya tidak apa apa, untuk sementara waktu kita mengontrak dulu sampai rumah kita terjual. Kakak kefikiran kamu terus, El. Apa lagi di rumah ini tidak ada siapa siapa kalau kakak kerja" kata Arfan lagi dengan kekeh.


"Kak, kalau kak Arfan mengontrak rumah, itu bakal butuh duit lagi, Kak" Elnaz berkata dengan lembut, meyakinkan suami nya kalau dia akan baik baik saja.


"Tidak apa apa, kakak akan menabung" ujar Arfan lagi.


"Terus biaya lahiran El nanti?" tanya Elnaz lagi. Arfan terdiam sesaat, ia memang menyimpan uang untuk kelahiran Elnaz dan biaya Kuliah Elnaz.

__ADS_1


"El baik baik saja, El akan jaga diri, Kak" ucap Elnaz kemudian. Arfan tersenyum samar dan mengangguk, namun ia masih ingin pindah rumah demi keamanan istri dan anak nya.


.........


Keesokan harinya, Nadine menghampiri Arfan saat Arfan sedang sibuk di laptop nya mencari rumah kontrakan.


"Hai..." Arfan tersentak saat tiba tiba Nadine ada di samping nya, Nadine yg melihat Arfan tampak terkejut langsung tertawa geli.


"Sorry, habis nya aku lihat kamu melamun" ujar Nadine.


"Iya, aku lagi cari rumah kontrakan" jawab Arfan dan kembali fokus pada layar laptop nya.


"Rumah kontrakan untuk siapa?" tanya Nadine dan tanpa segan ia berdiri sangat dekat dengan Arfan sembari mengintip layar laptop Arfan.


"Buat aku dan Elnaz, dulu Elnaz pernah jatuh di tangga jadi itu membuat aku takut. Apa lagi sekarang Elnaz sedang hamil, kasihan juga dia naik turun tangga" tukas Arfan dan Nadine mengangguk mengerti.


"Aku bisa membantu mu, kebetulan aku punya punya teman yg ingin menyewakan rumah nya"


"Lantai berapa? Aku ingin yg lantai satu dan tidak terlalu besar, supaya Elnaz tidak terlalu lelah membersihkan nya"


"Lantai satu saja, tapi sedikit besar, kamu kan bisa menyewa pembantu, Ar"


"Elnaz tidak mau ada pembantu, Nad. Kata nya biar irit, apa lagi dia masih kuliah dan aku perlu uang untuk membiayai kuliah nya"


"Hem begitu..." Nadine mengangguk anggukan kepala nya sembari berfikir sejenak.


"Kenapa kita tidak coba melihat rumah nya dulu, Ar?" tanya Nadine kemudian.


"Nanti, aku akan kabarin Elnaz dulu" jawab Arfan dan Nadine mengangguk mengerti.

__ADS_1


Nadine memang tertarik pada Arfan dan yg ia inginkan adalah membuat Arfan nyaman dengan nya, melihat istri Arfan adalah remaja yg bahkan belum 20 tahun. Nadine merasa Arfan pasti akan lebih merasa nyaman dengan nya karena kedua nya sama sama dewasa.


__ADS_2