(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 19 - Bukan Hanya Kakak, Tapi Suami.


__ADS_3

Arfan yg baru saja selesai menangani pasien nya langsung kembali ke ruangan nya, tepat setelah ia menutup pintu ruangan nya, ponsel yg ada di saku nya berdering.


Setelah melihat nama Princess El di layar ponsel nya, Arfan dengan cepat menjawab panggilan itu karena takut Elnaz kenapa kenapa.


"Assalamualaikum, El... Ada apa, Dek?" tanya nya lembut.


"Kak Arfan, hiks hiks... Kak" hati Arfan langsung terkesiap mendengar suara tangis adik kecilnya itu "El takut, hiks... Kak Arfan..."


"El, kamu kenapa, Dek? Takut apa? Jangan nangis ya, kakak pulang sekarang" ucap Arfan cepat dan ia menyambar kunci mobil nya di meja nya.


Sementara Elnaz tak menjawab, sepertinya ia kesulitan berbicara karena ia terus terisak. Arfan semakin khawatir dan kalang kabut, entah apakah ini masalah datang bulan nya atau kah masih masalah yg sama seperti sebelum nya?


Arfan menyetir dengan kecepatan tinggi menuju rumah nya, lima belas menit kemudian ia pun sudah sampai.


Arfan berlari masuk kedalam kamar nya dan ia mendapati Elnaz yg memeluk lutut nya dan menyembunyikan wajah nya di lutut nya.


"El..." lirih Arfan dan seketika Elnaz mendongak. Elnaz langsung berhambur ke pelukan Arfan yg berjalan ke arah nya dan Elnaz langsung memeluk nya dengan sangat erat, tangis nya kembali pecah di pelukan sang kakak.


"Ayo... Pergi..." lirih Elnaz di tengah isak tangis nya. Arfan pun langsung memeluk Elnaz, mengusap kepala nya dengan lembut.


"Ada apa, Dek? ada yg menyakiti mu, hm?" tanya Arfan sembari berusaha melangkah dan membawa Elnaz ke ranjang.


"Semua nya menyalahkan ku, ayo pergi" ucap Elnaz lagi dan suara nya teredam dada Arfan.


"Elsa datang lagi, hm? dia menyakiti mu lagi, iya?" tanya Arfan dan Elnaz menggeleng.


"Apa Mama memarahi mu?" tanya Arfan lagi dan Elnaz kembali menggeleng. Arfan semakin bingung karena ia tak tahu apa yg terjadi dengan Elnaz.


"Sayang, bicaralah. Siapa yg menyakiti mu?" lirih Arfan.


"Mama...." jawab Elnaz dengan suara sangat lirih, bahkan ia sendiri hampir tak mendengar suara nya.


"Mama? Tante Isna?" tanya Arfan dan Elnaz mengangguk pelan.

__ADS_1


"Ya Tuhan..." gumam Arfan dan ia semakin mengeratkan pelukan nya di tubuh Elnaz.


"Apa yg Tante lakukan, Sayang?" tanya Arfan namun Elnaz enggan menjawab. Ia hanya terus menangis di pelukan Arfan dan sekarang dada Arfan benar benar basah karena air mata Elnaz.


Arfan berusaha tak bertanya lagi, ia memilih diam dan mengusap punggung Elnaz yg bergetar.


"Kakak di sini, jangan takut" bisik Arfan dan ia terus membisikan kata kata menenangkan sembari tangan nya tak berhenti mengusap punggung Elnaz.


Perlahan, tangis elnaz mulai reda dan punggung nya tak lagi bergetar. Namun Arfan masih setia memeluk Princess kesayangan nya itu.


Satu jam lebih mereka masih dalam posisi yg sama dan karena lelah menangis, Elnaz jatuh tertidur di pelukan Arfan yg begitu nyaman.


Arfan mengecup pucuk kepala Elnaz sebelum akhir nya ia menidurkan Elnaz perlahan di ranjang. Arfan melihat wajah Elnaz yg basah karena air mata. Arfan mengusap nya dengan lembut, mengeringkan air mata Elnaz.


Meihat Elnaz yg begitu polos namun selalu berderai air mata membuat hati Arfan terasa sakit, dan entah dorongan dari mana Arfan mengecup kening Elnaz cukup lama. Seolah kecupan itu bisa sedikit mengurangi rasa sakit Elnaz yg di sebabkan oleh nya.


Setelah menyelimuti Elnaz, Arfan keluar mencari kedua orang tua nya guna mencari tahu apa yg sebenarnya terjadi saat ia tak ada dirumah. Apa lagi Elnaz tampak sangat terpukul, Arfan tak pernah melihat Elnaz sehancur ini, hingga ia hanya bisa menangis dan menangis.


Arfan teringat Elnaz yg tadi menyebutkan kata Mama. Arfan langsung bergegas ke rumah Elnaz dan ia mendapati Mama nya dan Mama nya Elnaz yg sedang berbincang serius.


"Fan, kamu sudah pulang?" tanya Bu Yuni dan ia terlihat takut saat menatap Arfan karena tatapan Arfan tampak berbeda.


"Kalian apakan Elnaz?" tanya Arfan tajam dan ia menatap wanita yg berstatus sebagai mertua nya itu.


"Seperti biasa, dia selalu mengadu pada kakak tersayang nya" ucap Bu Isna datar.


"Suaminya" Arfan meralat dengan tegas, mendengar itu Bu Isna terlihat jengkel "Apa yg Tante lakukan pada istri ku?"


"Apa kamu tahu apa yg sudah dia lakukan? Dia menyebarkan masalah Elsa yg batal menikah, sekarang semua tetangga membicarakan Elsa, menjelek jelekan Elsa karena batal menikah" tutur Bu Isna berapi api. Mendengar itu, Arfan malah tersenyum sinis.


"Jadi, mereka tahu fakta nya? Bukankah itu bagus? Selama ini aku dan Elnaz yg di jelek jelakan dan kami hanya diam, tapi rupanya kebenaran tetap terkuak ke permukaan dengan sendirinya" tukas Arfan merasa puas.


Setelah itu ia segera pergi dari rumah Tante nya dan pulang ke rumah nya sendiri.

__ADS_1


Di sana, Arfan melihat ayahnya yg entah datang dari mana.


"Kamu pulang, Fan?" tanya Pak Adi.


"Papa dari mana? Apa Papa tahu tadi apa yg terjadi? Elnaz seperti ketakutan, Pa. Dia menangis terus" tutur Arfan dan seketika ayahnya pun terlihat sedih.


"Tadi Isna datang, dia marah marah sama Elnaz dan menuduh Elnaz yg menyebarkan berita kalau Elsa pergi pemotretan saat malam pernikahan kalian. Terus.."


"Terus apa?" tanya Arfan tak sabar.


"Terus dia menampar Elnaz" jawab pak Adi yg membuat Arfan terbelalak kaget.


"Me...menampar?" tanya Arfan antara tak percaya, terkejut dan marah. Pak Adi mengangguk pelan.


"Seperti nya dia sangat marah, Fan"


Arfan tak menanggapi ucapan Ayah nya, ia segera bergegas ke kamar nya dan menghampiri Elnaz yg masih tertidur.


Arfan duduk di samping Elnaz, memandang wajah polos tak berdosa itu tapi orang orang memperlakukan nya seolah dia adalah pendosa besar yg selalu di hukum.


Dan ini salah Arfan, salah Arfan Karena telah menikahi nya. Salah Arfan yg meletakkan posisi Elnaz di situasi yg sangat sulit, di situasi yg seolah Elnaz adalah makhluk terjahat dan terburuk.


"Maafin kakak, Dek. Maaf karena kakak, kamu berada di posisi dan situasi seperti ini. Maaf karena sudah membuat mu dalam masalah besar dan semakin tidak di sukai keluarga kita, maafin kakak, Sayang" lirih Arfan dengan begitu tulus. Ia mengusap pipi Elnaz dengan lembut, dan sekali mengecup kening nya.


"Kita akan segera pergi dari sini, tidak akan kakak biarkan ada yg menyakiti mu lagi. Kakak akan menebus semua nya, kakak aku membayar setiap tetes air mata yg menetes di pipi mu dengan kebahagiaan. Kakak sayang Elnaz"


.........


Elsa sudah mendengar gosip yg beredar tentang diri nya, karena kini gosip itu bukan hanya hangat di kalangan ibu ibu kompleks tapi juga hangat di group media sosial nya. Terutama teman teman Elsa yg begitu kepo dan saling membicarakan satu sama lain. Membuat Elsa semakin merasa stres, semua orang menganggap nya egois.


Dan yg membuat Elsa semakin stres, ia tidak terpilih untuk melakukan fashion show. Semua usaha yg ia lakukan sia sia, pengorbanan nya juga sia sia. Elsa hanya bisa menyesal dan menangis.


Dan jika semua orang juga tahu ia gagal lagi kali ini, maka ini akan semakin menjadi gosip panas yg bisa membakar Elsa dengan rasa malu.

__ADS_1


__ADS_2