(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 49 - Drama Keluarga


__ADS_3

Arfan yg sedang sibuk dengan pekerjaan nya harus terganggu dengan dering ponsel nya terus menerus. Arfan pun segera pergi ke ruangan nya untuk menjawab panggilan dari ibu nya itu.


"Assalamualaikum, Ma. Ada apa?" tanya Arfan.


"Waalaikum salam, Fan. Memang nya kamu sedang sibuk?" tanya mama nya dan ia terdengar kesal.


"Iya, memang nya ada apa, Ma? Mama sama Papa baik baik saja kan?"


"Kami sih baik, tapi mertua mu itu yg tidak baik..."


"Mertua? Papa Mama nya Elnaz? Kenapa mereka?" tanya Arfan heran.


"Tadi Isna marah marah di pasar, katanya Elnaz tidak mau di bantu Elsa mengurus rumah padahal Elnaz sedang sakit. Malah dia nyalahin kamu, Fan. Kamu bilangin sama istri mu, Fan. Jangan begitu, biar kamu tidak jelek di mata orang lain..."


Mendengar ocehan sang Mama, Arfan hanya bisa menghela nafas panjang sembari memijit pangkal hidung nya.


"Astagfirullah, Mama... Ini bukan salah istri ku, Elsa sendiri yg suka mengadu sama Mama nya. Jangan sedikit sedikit salahin istri ku dong, Ma. Kasihan dia, sudah di marahi Tante Isna masih di salahkan Mama..." tukas Arfan mencoba menahan rasa kesal nya.


"Bukan nya Mama salahin Elnaz, Fan. Tapi Mama kesal saja sama Isna yg marah marah di pasar dan menyalakan mu, di liatin orang orang lagi, malu Fan ..."


"Ya sudah lah, Ma. Tidak usah dengarkan tante Isna. Oh ya, sekarang aku benar benar sibuk, Ma. Nanti aku telpon lagi ya kalau sudah pulang..." ucap Arfan kemudian.


"Ya sudah, Oh ya, memang nya Elnaz sakit apa, Fan?"


"Dia tidak sengaja menginjak pecahan Vas bunga yg pecah" jawab Arfan.


"Oh begitu, ya sudah. Kamu kerja yg benar ya..."


"Iya, Ma. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"

__ADS_1


Setelah memutuskan sambungan telpon dengan Mama nya, Arfan hanya bisa geleng geleng kepala dan sekali lagi menghela nafas panjang.


"Drama keluarga tidak ada habis nya..." gumam Arfan.


.........


Sementara Isna yg saat ini sedang membersihkan rumah nya terlihat sangat kesal mengingat apa yg di katakan kakak ipar nya di pasar tadi, apa lagi itu di dengar oleh orang orang di pasar dan mereka pasti akan membicarakan Elsa dan keluarga Isna lagi. Gagal nya pernikahan Elsa dan juga pernikahan Arfan dan Elnaz memang menjadi fenomena tersendiri bagi warga kampung mereka itu, karena hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya nya.


"Is..." panggil ibu mertua nya yg saat ini berjalan dengan langkah tertatih nya.


"Ada apa, Bu?" tanya Isna kesal.


"Bikinin ibu bubur ya, Is. Perut ibu sakit, ibu juga tidak selera makan..." tutur ibu mertua nya dengan suara parau nya.


"Bu, itu aku sudah masak sop ayam. Ada kuah nya, makan itu saja ya. Aku belum selesai bersihkan rumah..." tukas Bu Isna.


Ibu mertua nya pun hanya bisa mengangguk, padahal ia benar benar tidak selera makan dan perutnya memang tidak enak. Namun ia memaksakan diri ke dapur dan makan apa yg ada, ia juga merasa kasihan dengan menantu nya itu yg mengurus rumah sendirian karena beberapa hari ini ia memang tidak enak badan.


"Kamu kenapa terlihat kesal begitu, Is? Kalau capek, sebaiknya istirahat dulu, tidak perlu memaksakan diri. Nanti kamu sakit..." tutur ibu mertua nya yg kemudian dengan susah payah menelan nasi yg di campur sop ayam itu.


"Bukan capek, Bu..." ujar Bu Isna "Kesal saja sama Mbak Yuni, dia mengungkit masalah pernikahan Elsa dan Arfan yg gagal di pasar tadi. Sudah gitu bicara nya di depan banyak orang, kan malu, Bu..." tukas nya.


Ibu mertua nya pun hanya bisa menghela nafas berat dan berkata "Memang nya kenapa tiba tiba Yuni mengungkit masalah itu? Setahu ibu, Yuni itu bukan tipe orang yg seperti itu, apa lagi selama ini kalian sangat dekat sudah seperti saudara" ujar nya karena ia memang mengenal anak sulung nya itu.


"Bukan apa apa..." jawab Bu Isna setengah menggumam, karena ia sudah malas membicarakan hal itu.


"Kok bukan apa apa? Memang nya kalian punya masalah?" tanya ibu mertua nya dan ia mengudahi makanan nya meskipun masih ada banyak sisa di piring nya.


"Tidak ada, Bu. Cuma aku kesal karena Arfan bilang aku dan Elsa itu orang lain, padahal kami kan keluarga kandung mereka berdua"


"Kenapa Arfan bicara begitu?" tanya sang nenek.

__ADS_1


"Elnaz sakit, Elsa berniat membantu mengurus rumah. Tapi mereka berdua menolak nya..."


"Elnaz sakit apa?" tanya sang nenek panik.


"Tidak tahu...." jawab Bu Isna lirih, karena ia bahkan lupa menanyakan Elnaz sebenarnya sakit apa.


Sementara sang nenek yg mendengar cucu kesayangan nya sakit, ia langsung bergegas ke kamarnya untuk mengambil ponsel nya dan ia pun langsung menghubungi Elnaz.


"Assalamualaikum, Nek..." terdengar suara girang cucu nya dari seberang telpon.


"Waalaikum salam, El. Katanya kamu sakit, memang nya sakit apa, Ndok?" tanya sang nenek cemas.


"Bukan sakit, Nek. Cuma kemarin jatuh, kaki El luka. Tapi sekarang sudah baikan kok, ini saja El sudah bisa masak..."


"Syukurlah, Ndok. Nenek sudah cemas pas dengar kamu sakit, Arfan dimana?"


"Kak Arfan kerja, Nek. Nenek jangan khawatir, El baik baik saja..." seru Elnaz yg membuat nenek nya tersenyum, apa lagi suara Elnaz terdengar begitu bahagia.


"Kamu sedang bahagia ya, Ndok? Ada apa? Arfan memberi mu hadiah ya?" goda sang nenek, karena sejak kecil Elnaz sangat bahagia saat Arfan memberikan nya hadiah, bahkan jika hanya jepit rambut sekalipun tapi Elnaz selalu terlihat sangat bahagia.


"Hehe, hadiah yg luar biasa, Nek... Cinta" Elnaz terdengar malu malu saat mengucapkan hal itu, sementara sang nenek malah terkekeh geli.


"Jadi kalian sudah saling mencintai, hm?"


"Iya, Nek. Ya walaupun awalnya sulit di percaya karena...karena dulu Kak Arfan sangat mencintai kak Elsa.."


"Kenapa harus sulit di percaya, Ndok? Hati itu bisa berubah jika sang Pemilik Hati berkenan, dan juga biasanya seorang pria memang mudah melupakan seseorang apa lagi jika orang itu menyakiti nya, apa lagi jika dia langsung menemukan perempuan yg membuat nya nyaman. Itu juga yg terjadi pada Arfan, nenek yakin, dia pasti akan membahagiakan mu. Dia pria yg sangat baik, Ndok"


"Iya, Nek. El tahu dan El sangat bersyukur, El juga sangat mencintai Kak Arfan..."


Bu Isna yg sejak tadi mencuri dengar percakapan ibu mertua dan cucu nya itu merasa sedikit kesal, apa lagi mereka berdua terlihat sangat senang. Namun ia tak bisa apa apa, hanya bisa menyesali karena saat itu mengizinkan Elsa pergi sehingga sekarang Elnaz lah pemilik hati dan hidup Arfan.

__ADS_1


__ADS_2