(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 101 - Mengidam


__ADS_3

Arfan pulang ke rumah dengan membawa rujak buah yg Elnaz pesan. Dan Elnaz menyambut suami nya itu dengan sangat bahagia, membuat Arfan terkekeh geli karena Elnaz sudah seperti di belikan sesuatu yg mahal saja.


"Kak Arfan, terima kasih banyak ya" kata Elnaz yg membuat Arfan kembali tertawa.


"Senang banget sih, Sayang. Padahal cuma rujak buah" kata Arfan sembari memindahkan rujak buah itu ke piring bersih, Elnaz berterimakasih bahkan sebelum memakan nya.


"Soal nya El senang, Kak. Ayo, Kak. Cepetan, El mau makan nya sekarang" kata Elnaz tidak sabar yg membuat Arfan lagi lagi tertawa.


"Kita makan di depan ya" ajak Arfan membawa piring nya ke ruang tengah, Elnaz mendorong kursi roda nya mengikuti Arfan.


"Sini, biar kakak suapi" kata Arfan kemudian menusuk buah jambu dengan garpu, Elnaz membuka mulut dengan lebar saat Arfan menyuapi nya.


"Hm... Enak nya" Elnaz berkomentar "Mangga nya dong, Kak" pinta nya manja, Arfan pun mengambil mangga dan menyuapkan nya ke mulut Elnaz.


"Hm, ini lebih enak. Lagi, Kak"


"Haha, El El... Seperti tidak pernah makan mangga saja" kata Arfan.


"Hehe, habis nya enak sekali. Nanti belikan lagi ya, Kak"


"Iya, Sayang"


"Mau lagi, Kak. Mangga nya..."


Arfan kembali menyuapkan satu potong mangga ke mulut Elnaz, Elnaz mengunyah nya dan ia tampak benar benar menikmati mangga itu, membuat Arfan menalan ludah nya sendiri dan ia sangat penasaran dengan rasa nya.


Arfan pun mengambil satu potong mangga dan memakan nya.


"Aish, kecut..." kata Arfan dan secara reflek ia langsung melepeh mangga nya, membuat Elnaz medengus namun kemudian ia tertawa saat melihat ekspresi Arfan yg sangat lucu karena makan mangga yg kecut.


"Kok di buang? Sayang, Kak. Ih..." tegur Elnaz.


"El, itu kecut sekali, Dek. Kok kamu tahan sih makan nya?" tanya Arfan.


"Mana ada kecut, Kak? Kalau di makan sama bumbu nya tidak kecut, Kak. Enak, ada manis nya ada pedas nya, coba deh" bujuk Elnaz yg membuat Arfan meringis dan menggeleng tak percaya dengan kata Elnaz.


"Kok tidak mau? Coba dulu, pasti nanti ketagihan" seru Elnaz meyakinkan. Namun Arfan tetap menggeleng tidak mau "Ayo lah, Kak. Percaya sama El..." bujuk Elnaz lagi yg akhirnya menggoyahkan pertahanan Arfan.

__ADS_1


Ia pun kembali mengambil satu potong mangga dan kali ini ia memakan nya bersama bumbu rujak nya, namun bukan nya enak yg ia rasakan melainkan pedas yg membuat lidah nya seperti terbakar.


"Astagfirullah, El... Kamu makan cabe begini?" teriak Arfan kemudian ia pergi ke dapur dan mengambil segelas air, ia pun langsung meneguk nya hingga habis.


Sementara Elnaz kembali menikmati rujak buah nya hingga habis.


"Kak Arfan..." teriak nya lagi, Arfan pun datang menghampiri istri nya itu dengan membawa segelas air


"Mau lagi..." rengek Elnaz menatap kakak nya memelas.


"Hah? Jangan, Sayang. Nanti kamu sakit perut" ujar Arfan.


"Tapi, Kak. Mau lagi, masih kurang" Elnaz kembali memelas pada kakak nya.


"Ya udah, tapi jangan pedas ya"


"Mau yg pedas, terus mau mangga nya saja..."


"El, bahaya nanti kalau kamu makan yg pedas begitu, nanti usus mu yg kena lho"


Elnaz langsung menunduk sedih mendengar apa kata Arfan, ia mengelus perut nya yg masih rata, bibir nya mencebik dan hidung nya kembang kempis.


"Ya sudah, kakak belikan. Tapi sedikit ya, dan jangan terlalu pedas seperti tadi" ucap Arfan lembut yg langsung membuat Elnaz tersenyum lebar dengan mata yg berbinar.


"Terima kasih, Sayang" kata Elnaz senang.


....... ...


Karena Arfan cuti dari pekerjaan nya, ia menghabiskan waktu nya bersama Elnaz setiap hari. Dan Arfan harus ekstra sabar melayani istri nya yg banyak sekali mau nya dan itu pun sesuatu yg kadang membuat nya kesal, jengkel, benar benar menguji kesabaran.


Ketika Elnaz bilang ia menginginkan sesuatu, maka Arfan harus memenuhi nya saat itu juga, tak perduli apakah itu tengah hari dengan matahari yg sedang begitu terik atau pun tengah malam yg begitu dingin.


Seperti saat ini, tiba tiba Elnaz malah mengidam batagor di tengah malam. Membuat Arfan kebingungan harus mencari batagor kemana.


"Kak, lapar..." rengek Elnaz sambil memegang perut nya, bahkan ekspresi nya menyiratkan seolah ia tidak makan selama berhari hari.


"Pengen batagor" ia kembali merengek untuk yg kesekian kali nya, membuat Arfan hanya bisa mengelus dada sambil berusaha mencari batagor lewat aplikasi pesan makanan online. Namun sayangnya semua sudah tutup, tidak heran, ini sudah jam 3 pagi.

__ADS_1


"Tidak ada, Sayang. Tutup semua tuh" jawab Arfan sembari memperlihatkan layar ponsel nya.


"Tapi, pengen nya sekarang, Kak. Gimana dong?" tanya Elnaz memelas.


"Besok saja ya, sekarang makan yg lain saja. Istri sama anak ku mau makan apa, hm? Chef Arfan siap memasak untuk kalian" kata Arfan sambil mencium perut Elnaz, mencoba menghibur dan membujuk istri nya agar tidak lagi meminta batagor.


"Kami... Mau batagor" kata Elnaz lirih yg membuat Arfan menghela nafas panjang.


"Tapi, El..."


"Chef Arfan kan bisa memasak nya" sela Elnaz kemudian yg membuat Arfan mengerutkan kening nya.


"Tapi kakak tidak bisa buat batagor, Princess" jawab Arfan berusaha tetap menjaga kesabaran nya.


"Ya sudah" kata Elnaz ketus, ia bahkan sudah sangat cemberut.


Arfan merasa kasihan juga dengan Elnaz, ia juga mengingat di kulkas seperti nya ada tahu. Selain itu, Arfan bisa melihat cara membuat batagor di Internet.


"Baiklah, ayo kita buat batagor bersama, hm..." ujar Arfan yg membuat Elnaz langsung memekik girang. Ia bahkan langsung menarik tengkuk Arfan dan mencium kedua pipi Arfan dengan gemas, ujung hidung nya, dagu nya dan juga bibir nya. Membuat Arfan tertawa sengat karena mendapatkan ciuman yg penuh cinta itu.


Arfan pun menggendong Elnaz dan mendudukan nya di kursi roda, kemudian Arfan mendorong kursi Elnaz dan membawa nya ke dapur.


Elnaz mencari di Internet bahan bahan apa yg saja yg di butuhkan untuk membuat batagor, sedangkan Arfan yg mempersiapkan bahan bahan nya.


"Wah, kenapa dapur kita jadi lengkap begini isi nya, El? Ada semua lho bahan bahan nya" kata Arfan.


"Pasti Mama Mama kita yg belanja tuh, Kak. Nama nya ibu ibu, pasti memastikan isi dapur nya lengkap" jawab Elnaz.


"Sebentar lagi kamu juga akan jadi Ibu, Sayang. Dan kakak akan jadi ayah" kata Arfan dan ia tampak terharu dengan ucapan nya sendiri.


Arfan memang merasa begitu bahagia dengan kehamilan Elnaz, karena bayi itu akan menjadi ikatan cinta mereka, bukti cinta mereka.


Arfan berlutut di depan Elnaz yg masih duduk di kursi roda, Arfan kembali mencium perut Elnaz.


"Terima kasih, Sayang. Dia hadir di saat yg tepat, terima kasih karena kamu memberi ku hadiah terindah ini" kata Arfan yg membuat Elnaz juga terharu. Ia sedikit menunduk dan mencium kening Arfan.


"El yg terima kasih, Kak. Terima kasih sudah menjadi kekasih El, ayah dari bayi El, terima kasih karena selalu menjaga El sejak El di lahirkan hingga sekarang. Dan El mohon, terus lah bersama El selama nya" pinta Elnaz dan Arfan tentu langsung mengangguk tanpa berfikir sedikit pun, karena ia sungguh menginginkan hal yg sama.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang Kita buat batagor nya ya..." kata Arfan sambil berdiri kembali "Nanti kalau misal nya enak, kita bisa buat usaha deh"


"Inysa Allah" jawab Elnaz.


__ADS_2