
Arfan seperti remaja yg sedang putus cinta, ia terus cemberut, sensitif, dan mudah kesal. Bagaimana tidak, bahkan sampai siang ini, matahari hari sudah terik dan cuaca begitu panas, tapi Elnaz masih bersikap cuek dan dingin pada nya. Elnaz tidak mau mengantar Arfan sampai mobil seperti biasa nya, tidak mau mencium pipi Arfan dan hanya diam saja saat Arfan mencium kening nya.
Arfan melirik arloji nya, sudah waktunya makan siang, tapi tak ada tanda tanda istri nya itu akan mengantar kan makanan seperti biasa.
"Hufff..." Arfan membuang nafas kasar, ia mengambil ponsel nya dan mengirimkan pesan pada istri nya itu.
Me
"Sayang, suami mu lapar. Sudah waktunya makan siang..."
Arfan mengirim pesan itu dan kemudian ia terus memandangi layar ponsel nya, menunggu balasan dari sang istri. Pesan nya masuk tapi belum di baca.
Satu menit kemudian, pesan nya masih belum di baca.
Dua menit kemudian, masih sama.
Tiga menit kemudian, pesan sudah di baca.
Empat menit kemudian, hanya di baca, belum ada balasan.
Lima menit kemudian, masih sama.
"Elnaz..." geram Arfan frustasi, kemudian terdengar notif dari ponsel nya, Arfan pun langsung membuka nya dengan antusias namun wajah nya langsung terlihat asam saat membaca pesan sang istri.
^^^Lovely Wife^^^
"Tidak masak, sedang sibuk membersihkan kamar tamu tempat kakak ipar mu menginap"
Arfan langsung menghela nafas panjang sembari mengusap dada nya.
Me
"Baiklah, Sayang. Tidak ada apa apa... Aku makan hati saja"
Send...
__ADS_1
^^^Lovely Wife^^^
^^^"Di buat sambal goreng enak, apa lagi sambal goreng hati buatan kakak ipar mu, hm... Sedap"^^^
Arfan tidak tahu harus kah ia kesal pada istri nya itu atau malah merasa senang karena di cumburui, tapi yg pasti sekarang ia benar benar merasa gemas pada istri mungil nya itu. Ingin rasa nya Arfan terbang ke rumah, memeluk tubuh mungil Elnaz dengan erat dan mencium bibir nya yg pasti sedang cemberut sekarang.
Me
"Sayang, aku rindu deh..."
^^^Lovely Wife^^^
^^^"Sayang mu sibuk, mencuci seprei yg di pakai kakak ipar mu"^^^
Arfan tertawa gemas membaca pesan sang istri, namun ia tak membalas nya.
"Lihat saja nanti malam, El Sayang..."
..........
"Ingat, Is... Elsa seperti ini karena kamu selalu memanjakan nya, apa apa selalu di turuti. Lihat akibat nya sekarang, dia kehilangan Arfan, kita juga malu, dan itu semua karena dia terlalu egois dan keras kepala..." tukas Pak Malik kesal.
"Mas, nama nya juga dunia entertain, itu hal biasa kali, Mas. Elsa seperti itu juga karena tuntutan pekerjaan nya..."
"Isna..." geram Malik kesal "Aku itu masih hidup, dan aku sangat mampu membiayai hidup Elsa meskipun dia tidak bekerja dengan pekerjaan seperti itu. Aku malu, Is. Dia itu anak perempuan ku, aku tidak sudi tubuhnya di perjual belikan seperti itu"
"Kenapa bicara kasar begitu sih, Mas?" tanya Isna kesal dan ia pun keluar dari kamar nya, Pak Malik hanya bisa menghela nafas berat.
Ia menjatuhkan diri nya di tepi ranjang dengan lemas "Ini salah ku, seandainya aku tidak selalu menuruti kemauan Elsa dan Isna, ya Allah..."
.........
"Hiks hiks..."
Elnaz yg saat ini sedang ada di kamar mandi tiba tiba mendengar suara isak tangis dari kamar nya, membuat Elnaz bergidik ngeri karena di rumah nya itu tidak ada siapa pun selain diri nya dan ia merasa Arfan belum pulang, karena tidak terdengar suara mobil maupun pintu yg terbuka.
__ADS_1
Elnaz pun berjalan pelan pelan keluar dari kamar mandi, dan Elnaz mengernyit bingung saat melihat seorang pria yang sedang meringkuk di ranjang nya, punggung pria itu bergetar dan Elnaz mendengar suara sesegukan dari pria itu.
Elnaz pun mendekati nya dan ia tentu sangat mengenali siapa pria ini.
"Kak Arfan..." panggil Elnaz namun Arfan tak menanggapi dan ia masih meringkuk, menyelipkan tangan nya di antara paha nya.
"Kak Arfan jangan bercanda deh" ucap Elnaz lagi sembari menarik pundak Arfan dan ia melihat wajah Arfan yg basah karena air mata "Kak Arfan kenapa menangis?" tanya Elnaz panik, ia mengusap wajah basah Arfan dengan tangan mungil nya.
"Habis nya kamu masih cuekin..." lirih Arfan manja yg membuat Elnaz langsung mendengus, ia pun beranjak dari tepi ranjang dan hendak menjauh dari Arfan namun Arfan dengan cepat menarik kembali tangan Elnaz, hingga Elnaz terjatuh kedalam pelukan nya.
"Kak Arfan, lepaskan El..." pinta Elnaz memberontak namun Arfan malah mendorong Elnaz hingga terjatuh ke ranjang dan Arfan langsung mengurung tubuh Elnaz dengan tubuhnya. Elnaz berusaha memberontak dan mendorong Arfan menjauh, namun Arfan langsung menangkap kedua tangan Elnaz, menyatukan nya dan menahan nya di atas kepala Elnaz.
"No way..."seru Arfan di dekat bibir Elnaz, kemudian Arfan mengecup bibir Elnaz dan mencium nya dengan ciuman menuntut, tak perduli Elnaz yg mencoba menghindar dan tak mau membalas ciuman sang suami.
"Seharian aku tersiksa karena sikap dingin mu, Sayang..." lirih Arfan dengan suara serak nya. Ia pun kembali mencumbu bibir sang istri, membuai dan menggoda nya dengan gemas. Hingga Elnaz berhenti memberontak dan menerima serangan bibir manis sang suami.
"Ugh, manis sekali..." gumam Arfan kemudian menurunkan kecupan nya ke leher sang istri, menyesap nya membuat Elnaz melenguh tanpa sengaja bahkan mendongakan kepala nya, memberi akses lebih agar Arfan menguasai leher nya dengan ciuman nya. Membuat Arfan tersenyum senang dan melanjutkan aksinya.
"Kamu menyiksa ku seharian, Sayang. Aku hampir gila karena kamu tidak memperhatikan ku seharian ini" gerutu Arfan kemudian kembali mencumbu bibir sang istri.
"Kamu cemburu pada kakak ipar, hm. Oh sayang, aku suka saat kau cemburu..." ucap Arfan lagi dan ia menjauhkan wajahnya dari wajah sang istri yg saat ini sedang mengatur nafas nya yg memburu akibat ciuman brutal Arfan yg membuat Elnaz hampir tidak bisa bernafas.
Arfan menatap mata sang istri dengan begitu sendu, membelai setiap inci wajah ayu nya dan kemudian mengecup hidung sang istri.
" Aku mencintaimu mu, Sayang. Hanya kamu..." ucap Arfan lirih
"Aku butuh lebih dari itu, Arfan..." lirih Elnaz kemudian, mata nya menatap nanar sang suami sementara Arfan sedikit terkejut karena Elnaz menganggil nama nya.
Perlahan Arfan melepaskan tangan nya yg menahan tangan Elnaz, ia juga menatap nanar sang istri.
"Katakan sayang, apa lagi yg kau butuhkan..." Arfan berkata dengan suara rendah.
"Kamu suami ku, aku butuh lebih dari cinta..."
"Ya, katakan, istriku..." ucap nya dengan dalam.
__ADS_1
"Aku butuh pengertian mu akan posisi ku, aku butuh kepekaan mu akan perasaan ku, aku butuh dukungan mu dalam setiap langkah ku, aku butuh menjadi prioritas utama dalam hidup mu. Kata kan lah aku egois, tapi aku tidak perduli, sekali saja, biarkan aku egois, Arfan. Karena aku sangat mencintaimu, aku takut kehilangan mu, aku takut ada yg mengambil mu, aku takut kamu berpaling, aku takut ada yg lebih penting dari ku dalam hidup mu, aku takut aku bukan prioritas utama mu, aku takut kamu tidak perduli dengan perasaan ku, aku takut, sangat takut.... "