(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 93 - Kamarahan Arfan


__ADS_3

Arfan yg baru beranjak dari kursi nya tidak sengaja menyenggol foto Elnaz yg ada di meja nya hingga terjatuh. Arfan pun langsung mengambil nya dan ia berdecak kesal karena bingkai foto Elnaz yg pecah, setelah meletakkan foto itu ke tempat nya semula. Arfan bergegas keluar dari ruangan nya karena semua tugas nya sudah selesai, Arfan berniat pulang karena ia kefikiran Elnaz. Apa lagi setelah Elnaz memberi tahu nya kalau keluarga Elnaz sekarang berada di rumah mereka, Arfan tahu, dimana Elnaz dan Elsa bersama maka di situ akan ada banyak drama.


Saat Arfan hendak memasuki mobil nya, ia melihat ambulance yg datang. Arfan tak menghiraukan itu hingga ia menyadari sesuatu, yg keluar dari ambulance itu adalah mertua nya. Kemudian yg di susul dengan petugas medis yg membawa turun seseorang di brankar.


Arfan segera berlari untuk melihat siapa yg sedang mereka bawa itu, dan Arfan langsung tercengang saat melihat istri nya lah yg sedang terbaring di brankar itu dengan kepala dan sebagian pakaian nya yg sudah berlumuran darah.


"Elnaz...." teriak Arfan histeris kemudian.


Dokter yg menangani Elnaz langsung mendorong branker Elnaz begitu juga dengan Arfan dan mertua nya, tak lama kemudian Elsa yg naik taksi datang menyusul dengan berlari. Arfan melihat baju Elsa juga berlumuran darah. Segala perasaan dan fikiran liar berkecamuk dalam kepala nya.


"El, Sayang..."


Arfan berusaha membangun kan istri nya itu dengan suara nya yg bergetar, tangan Elnaz teras begitu dingin dan wajah nya sangat pucat.


"Sayang, apa yg terjadi?"


"El, kamu kenapa?"


"Ayo dong bangun...."


"Elnaz kenapa? ' tanya Arfan kepada mertua nya, karena ia harus tahu apa yg terjadi pada istri nya supaya ia bisa mengambil tindakan yg tepat untuk menangani Elnaz.


Pak Malik menatap sendu Arfan, Pak Malik sudah mengatakan pada Dokter yg menjemput Elnaz dengan ambulance bahwa Elnaz terjatuh dari tangga. Tapi Arfan seperti nya ingin tahu jawaban itu langsung dari mertua nya.


"Elnaz kenapa, Pa?" tanya Arfan lagi.


"Jatuh dari tangga, Fan" jawab Pak Malik lirih yg membuat Arfan shock.


"Sayang..."


"Kenapa kamu jatuh?"


"Sayang, ayo bangun"

__ADS_1


Arfan terus merengek hingga mereka sampai di depan ruang UGD . Sementara kedua orang tua Elnaz hanya bisa menangis dan tak bisa berkata apa apa, begitu juga dengan Elsa.


Ia merasa sangat ketakutan sekarang, takut terjadi sesuatu pada Elnaz dan takut ia di salahkan.


Saat Dokter membawa nya ke ruang UGD, Arfan hendak ikut masuk namun Dokter itu melarang nya.


"Aku juga Dokter, aku mau menangani istri ku" tegas Arfan. Dokter dan suster itu saling pandang, dari kondisi Arfan yg emosional membuat mereka merasa tak mungkin Arfan menangani pasien semaksimal mungkin.


"Aku harus menyelamatkan istri ku" lirih Arfan lagi dan akhirnya nya Arfan di izinkan masuk.


Di ruang UGD, Elnaz langsung di tangani oleh Dokter yg di bantu suster, pakaian Elnaz langsung di gunting begitu juga dengan hijab nya.


"Pasien harus segera di operasi, luka di kepala nya cukup parah..." ujar Dokter itu dan Arfan yg juga tentu tahu hal itu hanya bisa mengagguk setuju.


"Dokter Arfan, sebaiknya kau tidak ikut menangani pasien"


"Tapi dia istri ku..." seru Arfan.


Arfan memandangi wajah istri nya dan kemudian ia meyakinkan diri nya sendiri bahwa istri nya akan baik baik saja.


"Kita akan melakukan operasi ini, dokter"


.........


Elsa dan kedua orang tua nya hanya bisa menunggu dengan segala perasaan yg sangat kacau.


Sementara di Ruang operasi, Arfan dan Dokter juga Suster sedang menangani Elnaz yg mengalami cidera sangat parah di kepala nya, Arfan berusaha sebaik mungkin untuk tetap fokus pada operasi ini, dan ia berusaha melakukan yg terbaik untuk menyelematkan istri nya.


...


Beberapa jam berlalu, Elsa hanya diam membisu sambil bersender di bahu ibu nya, sementara Pak Malik juga diam seribu bahasa. Apa lagi saat ia mengingat kondisi Elnaz tadi. Pak Malik khawatir dengan keselamatan putri bungsu nya apa lagi ketika Elsa terus mengatakan ia tidak sengaja melakukan nya.


Pak Malik mengerti bahwa semua ini terjadi karena anak sulung nya. Ketakutan dan kecemasan kini menguasai hati nya.

__ADS_1


Operasi sudah berjalan dengan lancar, dan Elnaz akan segera di pindahkan ke ruang intensif karena kondisi nya yg masih tidak stabil.


Arfan mendatangi mertua nya untuk memberi tahu keadaan Elnaz, saat Arfan mengatakan operasi Elnaz yg berjalan lancar, mereka semua bernafas lega.


"Tapi bukan berarti Elnaz baik baik saja" kata Arfan kemudian, ia terduduk lemas di samping ayah mertua nya.


"Apa yg sebenarnya terjadi? Kenapa Elnaz bisa terjatuh dari tangga?" tanya Arfan sambil melirik keluarga istri nya itu dengan curiga. Pak Malik takut Arfan marah pada Elsa, ia sudah membuka mulut hendak mengatakan kalau Elnaz jatuh sendiri namun karena takut Elsa mengakui itu karena nya.


"Aku... Aku tidak sengaja melakukan nya, Fan..." kata Elsa gemetaran yg tentu saja langsung membuat Arfan menatap penuh amarah pada Elsa.


"Jadi kamu yg mendorong nya? Atau apa?" teriak Arfan sambil berdiri. Membuat Elsa semakin ketakutan.


"Fan, aku... Aku..." ucapan Elsa yg sudah terbata bata itu harus terpotong karena Arfan yg tiba tiba menarik baju Elsa, memojokan Elsa ke dinding dan langsung mencekik nya. Membuat kedua orang tua Elsa berteriak histeris, dan berusaha sekuat tenaga menjauhkan Elsa dari Arfan.


"Arfan, lepaskan Elsa!!!" teriak Pak Malik sambil berusaha menarik Arfan namun Arfan tetap mencekik Elsa, membuat seluruh wajah Elsa sudah memerah, mata nya sudah berair. Elsa bahkan sudah kesulitan bernafas dan ia Hanya bisa menatap Arfan dengan begitu memelas. Berharap Arfan tidak membunuhnya.


"Kamu ingin membunuh istri dan anak ku huh?" teriak Arfan yg membuat Bu Isna dan Pak Malik tercengang.


"A.. Anak?" lirih Park Malik.


"Elsa hamil?" tanya Bu Isna.


Arfan masih terlihat begitu marah namun ia sudah melepaskan Elsa, membuat Elsa langsung jatuh terduduk dan terbatuk terbatuk. Elsa berusaha menghirup udara sebanyak banyak nya untuk mengisi rongga paru paru nya. Elsa berfikir bahkan Arfan benar benar akan membunuh nya.


Sementara Arfan menatap nyalang Elsa yg kini langsung di peluk oleh ibu nya, sementara Pak Malik sekali lagi hanya bisa mematung apa lagi setelah ia melihat kemarahan Arfan yg bahkan hampir saja membuat Elsa kehilangan nyawa nya.


"8 jahitan di kepala Elnaz, leher nya yg patah dan kaki kanan nya juga patah, Elsa. Kamu harus membayar semua itu Elsa. Apa lagi jika sampai terjadi sesuatu pada calon anak ku, habis kamu di tangan ku" desis Arfan kemudian ia pergi meninggalkan keluarga istri nya itu dengan amarah yg masih meluap pada Elsa dan kecemasan yg begitu mendalam kepada Elnaz.


Arfan bahkan baru menyadari kalau Elnaz hamil di kondisi seperti ini, sekarang Arfan mengerti apa yg membuat Elnaz begitu sensitif akhir akhir ini.


Arfan bahkan hampir pingsan saat mengetahui fakta kehamilan istri nya, namun Arfan juga sangat bersyukur karena kandungan Elnaz baik baik saja walaupun Elnaz harus terluka parah.


Arfan memang curiga Elnaz tidak jatuh sendiri, karena kepala Bagian belakang Elnaz yg cidera parah. Yg berarti Elnaz jatuh ke belakang, entah ia di tarik dari bawah saat sedang naik tangga, atau ia di dorong dari depan saat berada di atas tangga. Dan setahu Arfan, Elnaz selalu hati hati saat naik tangga jadi tidak mungkin Elnaz jatuh terpeleset dengan luka yg begitu parah. Apalagi setelah mengingat pesan Elnaz yg mengatakan kalau keluarga nya di rumah dan Papa nya memaksa Elsa pulang dan sebagainya. Membuat Arfan berfikir mungkin terjadi perseteruan seperti biasa.

__ADS_1


__ADS_2