(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 105 - Di khianati?


__ADS_3

Arfan sedang melatih kaki Elnaz agar kembali bisa berdiri setelah melakukan check up terkahir dan Dokter Roger maupun Arfan sendiri memang memastikan kalau kaki Elnaz sudah akan segera pulih dan bisa berdiri namun harus hati hati.


Elnaz meletakkan kedua tangan nya di pundak Arfan saat ia berusaha berdiri dari kursi roda nya.


"Pelan pelan, Sayang" kata Arfan lembut. Elnaz pun berdiri walaupun sedikit gemetaran dan gugup. Namun ia bisa melakukan nya.


"Alhamdulillah, akhir nya bisa berdiri lagi" gumam Elnaz lega yg membuat Arfan terkekeh.


"Tapi kamu harus hati hati ya, biar tulang yg patah tidak tergeser lagi. Bisa bahaya kalau itu terjadi" tegas Arfan memperingatkan.


"Iya iya, El faham, Dokter tampan" goda Elnaz sembari mengedipkan sebelah mata nya pada Arfan, membuat Arfan langsung tertawa dan meraup bibir Elnaz dengan gemas.


"Kamu makin cantik, Sayang. Makin nakal lagi, kakak jadi makin cinta"


"Jadi kak Arfan suka wanita yg nakal neh?" tanya Elnaz mendelik.


"Suka lah, tapi yg nakal nya cuma sama aku saja, seperti kamu" kata Arfan mencoel ujung hidup Elnaz.


"Si mantan nakal juga, tidak?" tanya Elnaz menggoda yg membuat Arfan mencebikan bibir.


"Jangan memulai topik kalau nanti malah sakit hati sendiri" seru Arfan yg seketika membuat Elnaz tertawa.


Kedua nya pun melatih kaki Elnaz agar kembali bisa berjalan seperti semula, apa lagi Elnaz yg sangat tidak sabar ingin segera kembali berkuliah.


.....


Karena Elnaz sudah merasa lebih baik, Arfan pun mengizinkan Elnaz kembali ke kampus, tentu hal itu di sambut dengan girang oleh Andy.


Andy memperhatikan Elnaz dari atas hingga bawah, dan Andy berdecak sambil geleng geleng kepala saat ia melihat Elnaz yg lebih berisi dari sebelumnya.


"Ini hasil nya kalau cuma makan tidur di rumah, naik berapa kilo, El?" tanya Andy yg membuat Elnaz mendelik.


"Nama nya juga lagi hamil, Ndy. Pasti makin gendut lah" jawab Elnaz sedikit kesal.

__ADS_1


"Tapi gendut kamu lho, El" celetuk Andy lagi yg membuat Elnaz memberengut.


"Biarin napa, Ndy. Sewot amat" ketus Elnaz yg membuat Andy tertawa geli.


"Aku cuma bercanda, kamu cantik kok" ujar Andy kemudian.


Tak lama kemudian mereka melihat Robin yg sedang berjalan di lorong kampus, Elnaz memanggilnya.


"Robin..." Robin menoleh sebentar namun kemudian ia pergi seolah tak mendengar Elnaz. Membuat Elnaz merasa bingung dengan tingkah Robin itu.


"Akhir akhir ini dia memang aneh, El" kata Andy.


"Aneh kenapa?" tanya Elnaz sembari berjalan ke kelas nya.


"Ya aneh, dia tidak pernah lagi mau bicara sama aku, dia jarang ke kantin. Pokok nya aneh deh, sikap nya dingin banget, seperti orang lagi bad mood" tutur Andy panjang lebar. Membuat Elnaz merasa penasaran dengan apa yg sebenarnya terjadi. Elnaz teringat dengan cerita Robin tentang ayah nya dan keluarga nya. Elnaz merasa sikap Robin ini mungkin di karenakan sedang ada masalah keluarga.


Elnaz menjalani hari hari nya seperti biasa kembali, berkuliah, mengurus rumah, mengurus Arfan dan tentu nya mengurus kehamilan nya yg makin lama semakin membuat Elnaz menunjukkan sosok yg lain.


Manja, sensitif, mudah terharu, dan sifat sifat yg sangat berbeda dari sebelum Elnaz hamil.


....


Sementara itu, Arfan sedang membersihkan kamar mereka yg sebenarnya, mereka akan menempati kamar itu lagi mulai sekarang karena Elnaz yg sudah tidak membutuhkan kursi lagi lagi.


Setelah selesai membersihkan kamar nya, Arfan melirik jam dinding.


"Sudah waktunya jemput Elnaz" gumam Arfan. Ia pun bergegas untuk menjemput istri nya.


Sesampainya di kampus, Elnaz dan Robin sudah menunggu Arfan.


"Hai, Sayang. Sudah lama menunggu nya? Tadi macet soal nya" kata Arfan.


"Tidak, Kak. Baru saja El keluar" jawab Elnaz, Arfan membukakan pintu mobil untuk Elnaz kemudian Elnaz membuka kaca mobil nya dan melambaikan tangan pada Andy, Andy pun balas melambaikan tangan pada Elnaz.

__ADS_1


"Oh ya, tumben teman mu yg satu nya itu tidak muncul" tukas Arfan kemudian menjalankan mobil nya.


"Teman yg mana?" tanya Elnaz bingung.


"Robin" jawab Arfan singkat.


"Kenapa tanya Robin? mau cemburu?" tanya Elnaz lagi yg membuat Arfan terkekeh.


"Bukan, Sayang. Tapi mau meminta maaf karena Kakak pernah berfikir buruk tentang nya, aku fikir dia berbohong soal Jimmy dan sebagainya. Tapi ternyata dia berkata jujur" papar Arfan.


Seketika Elnaz terdiam dan mengingat kembali sikap dingin Robin pada nya, entah mengapa perasaan Elnaz merasa tidak nyaman karena hal itu. Namun Elnaz berusaha mengabaikan perasaan nya itu.


"Robin sibuk, Kak. Tahun ini semester akhir dia, kami sudah tidak pernah berbicara lagi karena sepertinya dia sibuk" ujar Elnaz.


"Syukurlah, meskipun dia baik, bukan berarti kakak ikhlas kamu temanan sama dia" tukas Arfan kemudian yg membuat Elnaz mendengus.


"Posesif amat" gerutu nya.


"Harus, kalau tidak bisa di curi orang istri ku yg cantik ini" jawab Arfan yg membuat Elnaz terkekeh.


Sesampainya di rumah, Elnaz langsung berganti pakaian dan kemudian ia naik ke atas ranjang, karena dia merasa sangat mengantuk dan juga lelah.


"Kak, El mau tidur ya. Hari ini pesan makanan saja, El tidak masak" seru Elnaz.


"Iya, itu gampang. Kamu tidur lah" kata Arfan kemudian menyelimuti istri nya itu.


Saat Elnaz sedang tidur siang, Arfan menghubungi seseorang secara diam diam, dia berbicara berbisik bisik, kemudian sesekali tertawa senang, kemudian Arfan mengatakan Elnaz sedang tertidur dan tidak akan tahu.


Elnaz yg kemudian terbangun samar samar mendengar pembicaraan Arfan, dan seketika hati nya terasa perih dan sesak.


Segala fikiran buruk berkecamuk dalam benak nya, ia pernah mendengar kalau terkadang suami selingkuh saat istri sedang hamil, karena istri yg sedang hamil kata nya merepotkan dan tidak bisa melayani suami semaksimal mungkin, terutama dalam urusan ranjang.


Elnaz takut itu juga yg di rasakan Arfan, bosan pada Elnaz yg manja dan merepotkan, bosan melihat tubuh Elnaz yg semakin hari semakin gendut.

__ADS_1


"Hiks... Kak Arfan tega"


__ADS_2