
"Kamu cemburu?"
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat pupil mata Arfan melebar namun kemudian ia tersenyum miring dan menatap Elsa sinis.
"Aku cemburu?" tanya Arfan sembari menunjuk dirinya sendiri "Kamu tidak malu mengajukan pertanyaan itu, Sa? Pada kakak ipar mu?" tanya Arfan setengah mengejek.
"Terus tadi itu apa namanya kalau bukan cemburu? Kamu marah karena cemburu kan?" tanya Elsa lagi "Aku tahu kamu tidak mungkin melupakan ku begitu saja, Fan..."
"Aku memang tidak bisa melupakan mu..." desis Arfan tajam menyela pembicaraan Elsa "Tidak bisa melupakan bagaimana kamu dengan egois nya meninggalkan ku di hari pernikahan kita dan malah meminta wanita lain mendampingi ku di pelaminan..." desis Arfan penuh emosi.
"Aku kan sudah minta maaf, Fan. Dan aku hanya meminta posisi duduk ku saja yg di ganti bukan posisi sebagai istri mu..." tukas Elsa juga emosi.
"Kamu fikir itu cukup?" Arfan membentak Elsa tanpa sengaja, dada nya naik turun karena emosi dan tatapan nya begitu tajam
"Dengar..." desis nya kemudian mencoba menahan emosi nya, apa lagi Arfan takut Elnaz mendengar nya seperti waktu itu "Aku membawa mu ke sini karena permintaan Om Malik, dan besok pagi kamu di suruh pulang ke Surabaya. Dan ingat satu hal lagi..." Arfan menunjuk Elsa dengan jari nya, membuat Elsa merasa juga ikutan emosi apa lagi saat menatap mata Arfan yg penuh kemarahan
"Jaga sikap mu di depan istri ku..." desis Arfan tajam kemudian ia keluar dari kamar Elsa. Membuat Elsa menutup pintu dengan emosi, ia terlihat tampak sangat kesal sekarang.
"Tau gini aku ikut Jimmy saja..." gerutu Elsa dengan emosi yg benar benar meluap.
Arfan pergi ke dapur karena ia melihat lampu dapur yg masih menyala. Arfan membuka tudung saji dan melihat makanan yg masih banyak.
Arfan yg merasa lapar pun mengambil apel dari kulkas, karena sekarang ia sudah tidak selera makan gara gara perdebatan nya dengan Elsa. Saat membuang kulit apel ke tempat sampah, Arfan melihat ada makanan yg di buang ke tempat sampah.
Seketika Arfan mengerti kalau Elnaz tidak memakan makanan nya.
Arfan meletakkan apel itu kembali ke kulkas, kemudian ia mengambil piring, mengambil nasi yg cukup banyak juga serta lauk pauk nya.
__ADS_1
Setelah mematikan lampu dapur, Arfan bergegas ke kamarnya dan ia melihat Elnaz yg membungkus dirinya dengan selimut.
Sementara Elnaz yg mendengar pintu terbuka langsung menghapus air matanya, apa lagi saat terdengar langkah Arfan yg mendekat. Elnaz menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nya perlahan, mencoba menenangkan perasaan nya yg berkecamuk. Elnaz merasakan ranjang nya yg bergerak karena desakan Arfan.
"El, Sayang..." panggil Arfan lembut namun Elnaz berpura pura tidur, apa lagi saat Arfan membuka selimut Elnaz dengan pelan "El, ayo bangun. Kamu belum makan kan?" tanya Arfan sembari mengguncang pundak Elnaz, membuat Elnaz mau tak mau membuka mata nya perlahan.
"Apa?" tanya Elnaz tanpa menatap Arfan.
"Makanan mu di buang? Kenapa?" tanya Arfan.
"Hanya tidak selera makan" jawab Elnaz datar dan ia pun berbalik badan, memunggungi Arfan.
"Dek..." Arfan kembali mengguncang tubuh Elnaz "Ayo dong bangun, El. Makan ya, aku juga belum makan. Ini aku bawa makanan banyak..." bujuk Arfan merengek memelas. Elnaz pun bangun dan ia duduk berhadapan dengan Arfan.
Elnaz melirik piring yg penuh dengan makanan di atas meja di samping tempat tidur nya.
"Cuci tangan ya..." pinta Arfan dan ia Elnaz mengangguk, kemudian dengan cepat bergegas ke kamar mandi.
Elnaz berusaha menenangkan perasaan nya sendiri sebelum akhirnya ia keluar kamar, Elnaz melihat Arfan yg masih duduk di tepi ranjang dan ia tersenyum pada Elnaz.
Arfan menepuk kasur di samping nya, meminta Elnaz duduk di sana dan Elnaz menurut saja.
"Kita makan berdua ya..." pinta Arfan sembari mengambil piring yg berisi makanan nya. Elnaz kembali mengangguk.
Arfan meletakkan piring itu di antara diri nya dan Elnaz, Arfan mulai menyuapkan makanan ke mulutnya begitu juga dengan Elnaz. Namun Elnaz terlihat sangat tidak selera makan, ia tampak sangat memaksakan diri saat menelan makanan itu hingga berhasil melewati kerongkongan nya.
"Aku sudah kenyang..." ujar Elnaz padahal ia baru makan dua suap, Elnaz hendak ke kamar mandi untuk mencuci tangan namun Arfan langsung mencekal pergelangan tangan Elnaz.
__ADS_1
"Ada apa, Sayang?" tanya Arfan menatap dalam mata Elnaz sementara Elnaz berusaha menghindari tatapan Arfan.
"Tidak ada apa apa, hanya sudah kenyang" jawab Elnaz dan menarik paksa tangannya hingga terlepas dari genggaman Arfan.
Arfan menatap nanar punggung Elnaz yg terus berjalan menuju kamar mandi.
Elnaz mencuci tangan nya, berkumur kumur dan kembali menyiram wajahnya dengan air. Saat ia berdiri tegak, tiba tiba Arfan sudah ada di belakang nya dan Arfan langsung melingkarkan tangan nya di perut Elnaz, membuat Elnaz terkesiap. Arfan mengaitkan dagu nya di pundak Elnaz dan menatap Elnaz dari pantulan cermin di depannya.
"Hanya satu malam, Sayang. Besok dia sudah pulang..." lirih Arfan yg seolah tahu apa yang membuat istrinya tampak dingin.
"Hmmm" jawab Elnaz dengan bibir yg terkatup rapat, menyentuh tangan Arfan yg masih melingkar di perut nya. Elnaz mengusap nya dengan lembut dan membalas tatapan Arfan dari pantulan cermin itu.
"Aku melakukan ini demi Om Malik dan Nenek, aku tidak mau membuat mereka khawatir dan cemas, seperti kata mu, kasian kan mereka, dan bagaimana pun juga Elsa memang keluarga kita" tutur Arfan lembut, karena ia memang melakukan ini demi keluarga nya semata.
"Hm..." Elnaz kembali hanya merespon dengan gumaman namun ia masih mengelus lengan Arfan yg masih melingkari perut nya.
"Ada apa? Kamu tidak berfikir yg aneh aneh lagi kan?" tanya Arfan dengan tatapan sendu nya, Elnaz tidak bisa menjawab nya, ia hanya memalingkan wajahnya dan menghindari tatapan Arfan.
"El, kamu sudah janji sama aku, Sayang. Kamu tidak akan berfikir yg aneh aneh lagi dan akan percaya sama kakak..." rengek Arfan sembari semakin mengeratkan lingkaran tangan nya di perut Elnaz, bahkan menarik Elnaz hingga menempel sempurna dengan tubuhnya.
"El tidak berfikir yg aneh aneh..." ujar Elnaz datar, membuat Arfan menghela nafas panjang. Ia mengecup pipi Elnaz, kemudian membalik tubuh Elnaz hingga menghadap nya. Arfan menangkup pipi Elnaz dengan kedua tangan nya, memaksa Elnaz menatap mata nya.
"Percaya pada ku, Love. Aku sudah tidak ada rasa sama Elsa, sekarang aku hanya mencintai mu, ya. Yg aku lakukan sekarang hanya demi keluarga kita..."
Elnaz memaksakan bibirnya tersenyum dan ia mengangguk, walaupun senyum itu tidak sampai ke mata nya. Elnaz melihat keseriusan di mata Arfan, namun keberadaan Elsa di sekitar mereka kembali membuat Elnaz merasa tidak nyaman dan meragukan perasaan Arfan. Rasa takut juga melingkupi hati nya, takut Arfan kembali pada sang mantan yg dulu sangat di cintai nya.
"Sekarang kita tidur ya..." ajak Arfan sembari menuntun Elnaz kembali ke ranjang.
__ADS_1
Arfan merebahkan dirinya ke ranjang kemudian ia menarik Elnaz kedalam pelukan nya, mengecup kening Elnaz seperti biasa.
"I love you, Love..." bisik Arfan lirih, Elnaz tidak menjawabnya namun ia mendesakan tubuhnya ke tubuh Arfan, merapatkan diri nya, mencari kehangatan yg lebih dari pelukan sang suami.