
Nadine masih selalu sama, menempeli Arfan dan terus terusan mencari perhatian suami Elnaz itu. Dan Elnaz bukan nya tidak tahu, ia sangat tahu dan hampir setiap kali bertemu, ia selalu menyindir Nadine. Namun wanita itu malah acuh tak acuh.
Elnaz juga sering sekali memperingatkan Arfan, namun Arfan yg tak merasa diri nya di goda dan tak merasa Nadine menggoda, tetap santai saja dan menganggap apa yg selalu di katakan Elnaz hanya karena Elnaz yg masih sensitif.
Apa lagi saat usia Elnaz sudah memasuki usia yg ke 9 bulan, ia sudah cuti dari kampus nya dan fokus pada diri nya sendiri dan juga Arfan.
Kedua nya juga sudah mempersiapkan segala hal untuk persiapan kelahiran nanti.
Dan saat ini, keduanya sedang melakukan check up kehamilan Elnaz. Di usia nya yg ke 9 bulan tentu jenis kelamin bayi dalam kandungan sudah terlihat, namun Elnaz dan Arfan ingin hal itu menjadi kejutan untuk mereka m
"Pertumbuhan nya semakin baik, posisi janin juga sangat baik. Kalau Bu Elnaz mau melahirkan normal Insya Allah sangat bisa..." ujar sang Dokter yg memeriksa kandungan Elnaz.
"Bu Elnaz masih tidak melakukan yoga?" tanya nya kemudian.
"Tidak, Dok. El tidak sempat melakukan nya" jawab Arfan mendahului Elnaz.
"Tidak apa apa, tapi saat usia kandungan nya sudah memasuki 9 bulan, sebaiknya rajin olah raga ringan ya. Supaya nanti lahiran nya mudah" Saran sang Dokter.
"Iya, Dok. Sekarang El sudah tidak kuliah lagi, jadi ada banyak waktu luang" lagi lagi Arfan yg menjawab nya duluan, membuat Elnaz terkekeh begitu juga dengan Dokter nya, setiap kali melakukan Check up, Arfan memang selalu lebih nanyain bicara dari pada Elnaz. Padahal yg menjalani kehamilan dan merasakan kehamilan itu Elnaz.
"Baiklah, jangan lupa saya selalu ingatkan, perbanyak minum air putih, buah dan makanan bergizi lain nya" ujar sang Dokter lagi.
"Elnaz sudah makan yg banyak dan bergizi, Dok. Isi kulkas semua nya makanan dan buah buahan untuk Elnaz"
"Lain kali Kak Arfan saja yg hamil..." gumam Elnaz yg masih di dengar Arfan dan membuat Arfan tertawa geli. Begitu juga dengan Dokter kandungan Elnaz.
"Hehe, maaf maaf. Ya sudah, Dokter mau bicara sama Elnaz?" tanya Arfan dan pertanyaan absurd itu kembali menyandang tawa sang Dokter.
__ADS_1
"Seperti nya Dokter Arfan juga berbakat menjadi juru bicara" gurau nya.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan kandungan nya, Arfan membawa Elnaz untuk berbelanja beberapa pakaian untuk bayi mereka kelak.
Sebenarnya Arfan sudah memberi beberapa pakaian tapi rasa nya itu tidak akan cukup.
"El, kita beli balon yuk..." ajak Arfan saat mereka sampai di pusat perbelanjaan.
"Balon? Balon buat apa?" tanya Elnaz bingung.
"Ya buat anak kita nanti, anak anak suka balon kan..." ujar Arfan.
"Nanti saja beli balon nya, kalau anak kita sudah bisa di ajak bercanda dan mengerti mainan. Kalau pas habis lahiran nanti yg di butuhkan anak itu ya cuma pempers, pakaian sama susu..." tukas Elnaz.
"Ya balon nya buat menghias kamar kita, El. Jadi kan terasa kalau jadi kamar anak anak juga" ujar Arfan lagi bersikukuh. Elnaz tersenyum simpul, suami nya ini sebenar nya sangat pintar, tentu saja, dia takkan jadi Dokter jika tidak pintar. Tapi di saat seperti ini terkadang suami nya itu seperti itu anak anak...
"Iya iya..." jawab Elnaz akhir nya.
"Nanti saja, Kak. Kan sudah ada trolly, nanti kalau anak nya kita sudah bisa berdiri dan belajar jalan, baru belikan baby walker" ujar Elnaz "Lebih bagus mana? Ini apa ini?" Elnaz menunjukan satu set peralatan makan khusus bayi.
"SNI tidak?" tanya Arfan yg membuat salah satu pelayan di sana tersenyum saat mendengar pertanyaan Arfan.
"Barang barang di sini SNI semua, Pak" sambung nya yg membuat Elnaz terkekeh.
"El itu tanya warna, ini semua memang SNI. Warna biru atau putih?" tanya nya.
"Yg pink itu bagus..." Arfan menunjuk peralatan makan yg berwarna pink.
__ADS_1
"Pink kan buat cewek, sedangkan kita tidak tahu anak kita cewek apa cowok. Cari warna yg natural saja"
"Ya sudah, putih saja" kata Arfan kemudian.
Elnaz dan Arfan melanjutkan beberapa peralatan bayi lain nya, seperti botol susu, tempat khusus untuk mensterilkan boto susu. Dan kedua nya juga lagi lagi membeli pakaian dan sarung bantal untuk anak mereka. Padahal Arfan sudah membeli nya.
Elnaz tidak terlalu mencegah Arfan karena ia tahu Arfan sangat antusias dengan kelahiran anak pertama nya ini, begitu juga Elnaz. Meskipun Elnaz masih takut, takut tidak bisa menjadi ibu yg baik untuk anak nya kelak.
Namun Elnaz menanamkan pada fikiran nya sendiri, bahwa ia pasti bisa menjadi ibu yg baik untuk anak nya kelak. Dan saat anak nya nanti remaja, Elnaz ingin menjadi sahabat nya. Agar ia dekat dengan anak nya dan bisa menjadi sandaran anak nya.
Setelah selesai berbelanja, Arfan membawa Elnaz pulang karena hari sudah sore.
Sesampai nya di rumah, Arfan langsung menurun kan belanjaan mereka dan meletakkan nya di kamar.
Sementara Elnaz langsung menjatuhkan diri nya di sofa. Kehamilan nya besar ini membuat kaki nya mudah terasa sakit, tubuh nya terasa lelah dan ia juga mudah haus.
Elnaz menyusun bantal di belakang nya dan kemudian ia setengah berbaring dengan bersandar pada sofa itu.
Sementara Arfan langsung bergegas ke dapur. Ia mengambilkan buah dan air untuk Elnaz.
"Terima kasih. Kak" ucap Elnaz sambil tersenyum.
Arfan membalas senyum itu dan ia membantu melepas hijab Elnaz, Arfan mengelap keringat Elnaz di pelipis nya. Kemudian ia duduk di belakang Elnaz sehingga Elnaz kini bersandar pada nya.
Arfan mengecup pucuk kepala Elnaz sementara tangan nya mengelus perut buncit Elnaz.
"Jadilah anak yg baik ya, Nak. Yg menjadi obat dari semua rasa sakit ibu mu" gumam Arfan yg membuat Elnaz tersenyum kemudian ia menyambung kata kata suami nya itu.
__ADS_1
"Dan menjadi penyemangat ayah mu, Nak. Menjadi penghilang letih nya kala ia letih karena mencari nafkah untuk kita"
"Aamin..."