
Arfan mengajak dua sahabat nya itu kerumah nya, sekalian ia meminta batuan mereka untuk membujuk Elnaz. Namun sesampai nya di rumah, Elnaz malah sudah tidur padahal belum Isya.
"Kok tumben sih El cepat tidur..." gerutu Arfan.
"Orang hamil memang mudah mengantuk, Fan" ujar ibu Isna.
"Oh ya, kalian jangan pulang dulu ya. Makan malam di sini..." ajak Bu Yuni pada Suster Jessy dan Dokter Liam.
"Boleh, Tante..." jawab Dokter Liam dengan lugas nya.
Sementara Arfan bergegas masuk ke kamar nya, ia berjalan bergontai menghampiri Elnaz yg saat ini sedang terlelap di atas ranjang nya. Elnaz bergerak gelisah dari tidur nya, baru miring sebentar, kemudian ia terlentang, habis itu miring lagi. Perut nya yg besar membuat Elnaz merasa tidak nyaman dalam setiap posisi tidur nya.
"Sayang..." bisik Arfan, ia berjongkok di sisi ranjang guna mensejajarkan wajah nya dengan wajah Elnaz yg kini kembali berbaring menyamping.
"Maafin kakak ya..." Arfan membelai lembut pipi Elnaz dan merapikan rambut nya yg menutupi sebagian wajah nya "Seharusnya kakak tahu, kalau yg harus kakak bela itu kamu. Seharusnya kakak juga tanya sama kamu apa yg membuat kamu sampai mengerjai Nadine begitu..." Arfan terkekeh kemudian ia melanjutkan monolog nya "Kamu sangat cemburu ya? Maaf ya, aku fikir aku dan Nadine hanya teman, dan aku fikir kamu salah karena sudah mengerjai Nadine begitu..."
Arfan mengecup menghela nafas berat, sebelum akhirnya nya ia mengecup pipi istri nya itu dengan sayang.
Arfan bergegas mandi dan selama mandi, ia kembali merenungkan hubungan nya dan Elnaz, apa yg membuat Elnaz sampai seperti ini. Arfan mencoba introspeksi diri sendiri
Setelah mandi dan berpakaian, Arfan segera bergegas keluar kamar karena kedua sahabat nya pasti sudah menunggu.
Dan benar saja, mereka sudah ada di meja makan.
__ADS_1
"El masih tidur?" tanya Dokter Liam menatap Arfan dengan tatapan yg seolah berharap.
"Iya" jawab Arfan sembari menarik kursi.
"Yah, memang nya tidak bisa di bangunin?" tanya Dokter Liam lagi membuat Arfan langsung menatap tajam pada nya.
"Kenapa kamu tanya tanya istri ku begitu?" tanya nya dengan sewot, seolah tak terima.
"Apa yg salah?" tanya Dokter Liam dengan santai nya.
"Ya aneh saja kamu tanya tanya tanya istri ku sampai segitu nya" gerutu Arfan dan seketika membuat ibu mertua nya dan kedua sahabat nya itu terkekeh.
"Itu dia..." seru Suster Jessy sembari mengacungkan garpu ke wajah Arfan, membuat Arfan secara reflek langsung mundur.
"Kamu saja cemburu sama Liam yg nanya seperti itu, padahal Liam itu sahabat kamu sama Elnaz. Apa kabar nya dengan Nadine yg minta jemput dan rela menunggu sampai 2 jam lebih? Kamu tidak punya tanda tanya dalam hal itu?" tanya Suster Jessy bahkan setengah menghardik Arfan.
"Aku sama Nadine kan cuma teman, Jes..." banta nya.
"Iya buat kamu, terus buat dia? Coba aku tanya, teman yg mana yg mau menunggu sampai dua jam lebih tanpa kabar?" tanya Suster Jessy lagi, Arfan sudah membuka mulut nya namun kemudian ia kembali bungkam.
Memang tidak masuk akal sih, fikir nya.
..........
__ADS_1
Setelah selesai makan malam dan kedua sahabat nya pulang, Arfan duduk di sofa sembari menonton tv, meskipun tak ada tayangan yg menarik perhatian nya, Arfan tetap menonton nya dan sesekali ia mengganti channel lain, kemudian mengembalikan nya ke channel sebelum nya.
"Fan..."
Arfan mendongak dan menatap ibu mertua nya yg juga duduk di sofa di sisi yg lain.
"Kenapa, Ma?" tanya nya.
"Mama sudah tahu masalah kalian, Jessy sama Liam sudah cerita" tutur nya yg membuat Arfan menghela nafas panjang.
"Nak, badai dalam rumah tangga itu besar sekali, entah kamu menyadari nya atau tidak. Dan badai yg paling besar, yg bisa menghancurkan rumah tangga mu hanya dalam hitungan detik adalah orang ketiga..." Arfan masih mendengarkan dengan seksama, ia tak mau mengulangi kesalahan nya yg selama ini tidak pernah benar bener mendengarkan peringatan Elnaz.
"Dan wanita bernama Nadine itu..." ibu mertua nya tersenyum kecut "Wanita normal mana yg menganggu suami orang sampai dua jam lebih?"
Lagi lagi Arfan di hadapkan dengan pertanyaan itu, membuat nya kembali memikirkan masalah yg menurut nya sangat sepele.
"Mungkin kamu merasa Nadine itu teman, bersikap layak nya teman. Tapi pria dan wanita dewasa takkan benar benar berteman, Fan. Dan mendengar cerita nya saja, Mama yakin, Nadine itu memang menyimpan rasa sama kamu. Dan mama tahu, kamu mungkin tidak akan mengkhianati Elnaz dan berpaling pada wanita lain. Tapi, kedekatan yg terus menerus dengan wanita lain, pasti memunculkan rasa nyaman, dan setelah itu akan ketergantungan pada kenyamanan itu. Fan, wanita itu makhluk penggoda yg paling mudah menggoda di dunia ini. Hanya dengan menatap mata dan tersenyum, itu saja sudah godaan. Dan jika itu terjadi, kemudian kalian akan mengklaim memiliki cinta yg terlarang, jadi sebelum itu terjadi. Jaga hati mu, Nak. Ada istri mu di rumah yg menunggu mu, akan ada anak anak mu yg akan selalu mengharapkan kehadiran mu"
"Mama tahu, mungkin kamu tidak merasa pertemanan mu dan Nadine salah. Tapi sampai kapan? Bagaimana jika nanti saat kamu menyadari itu salah, itu justru sudah terlambat?"
Arfan hanya bisa menjilati bibir nya yg tiba tiba terasa kering. Ia tak pernah memikirkan kesana sedikit pun. Dan apa yg di katakan ibu mertua nya ini sama dengan apa yg di katakan istri nya.
Arfan memutar kembali ingatan nya saat bersama Nadine, pertemanan biasa yg ia anggap, mungkin suatu hari nanti tak akan jadi biasa lagi. Dan bagaimana jika benar kata ibu nya? Bagaimana jika saat Arfan menyadari nya, itu sudah terlambat?
__ADS_1