
Resepsi pernikahan berjalan dengan lancar, dan sekali lagi Elnaz di buat terharu saat ternyata Arfan juga sudah menyiapkan souvenir untuk para tamu mereka. Yaitu sebuah pajangan berbentuk vas bunga dan setangkai bunga mawar, dimana di Vas nya tertera nama Elnaz dan Arfan.
"Seharusnya Arfan & Elnaz, bukan Elnaz & Arfan" ucap Elnaz berfikir itu sebuah kesalahan, karena memang biasa nya nama mempelai lelaki nya lebih dulu baru di ikuti nama nama perempuan nya.
"Tidak, Sayang. Itu sudah benar, Elnaz nya Arfan, jadi nama mu lebih dulu" Arfan menjawab nya dengan senyum.
"Sangat bagus" ucap Nadine yg membuat Elnaz dan Suster Jessy mendelik.
"Nad, kamu tidak pulang..." itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan dari Suster Jessy yg mengusir Nadine secara halus. Apa lagi pada tamu undangan juga bergegas pulang, tinggal beberapa teman dekat Arfan dan Elnaz saja.
"Iya, sebentar lagi" kata Nadine.
"El..." Elsa datang sembari menenteng satu souvenir pernikahan Elnaz.
"Kak Elsa mau pulang?" tanya Elnaz, Elsa menatap Elnaz dengan sendu, bahkan sesekali ia menarik nafas berat.
"Iya" jawab nya "Aku suka souvenir kalian, cantik" ucap Elsa.
"Kak Elsa kenapa harus bekerja di tempat yg jauh sih, Kak? Kan kasian Mama..." ujar Elnaz. Karena Elsa mengatakan ia bekerja di salah satu perusahaan yg cukup jauh dari rumah, dan itu membuat Elsa harus mengontrak di dekat kantor nya.
"Cuma sementara waktu, El. Dari pada aku menganggur kan, jadi lebih baik aku bekerja dulu, bosan kan kalau di rumah terus" ujar Elsa lagi "Aku harus pulang" lanjut nya.
"Kak Elsa naik apa? Biar Papa anterin, Kak"
"tidak usah..." tolak Elsa. Kemudian ia mencium kedua pipi Elnaz dan memeluk nya.
"Kamu yg bahagia ya sama Arfan..." Elsa berbisik lirih di telinga "Maaf karena aku sudah menyakiti mu selama ini, kamu memang takdir nya. Seharusnya aku bisa menerima itu" ucap nya lagi.
Elnaz yg membalas pelukan Elsa tanpa sengaja menyingkap rambut Elsa yg terurai, dan Elnaz melihat ada sebuah luka memar di pundak Elsa.
"Pundak Kak Elsa kenapa?" tanya Elnaz heran yg mengundang perhatian Arfan.
"Ada apa?" tanya Arfan sembari menatap Elnaz dan Elsa bergantian.
"Tidak apa apa, hanya jatuh di kamar mandi" jawab Elsa.
__ADS_1
"Tapi ini tidak seperti jatuh di kamar mandi" ujar Elnaz.
"Ini sudah malam, aku harus pulang" Elsa mengalihkan pembicaraan.
"Apa tidak sebaik nya Kak Elsa di rumah saja malam ini, Kak?" tanya Elnaz yg mulai merasa heran dengan sikap kakak nya itu.
"Besok pagi pagi sekali aku ada pekerjaan penting, El..." tukas Elsa.
"Jaga diri ya, jagain calon keponakan ku juga" lanjut nya.
Kini Elsa menatap Arfan, dengan tatapan penyesalan dan juga luka.
"Aku titip adik ku, Fan" ucap nya kemudian tanpa menunggu jawaban Arfan, Elsa segera pergi dari sana.
Elsa keluar dari gedung hotel dan ia memasuki sebuah mobil yg sudah menunggu nya di sana.
"Bukankah sudah aku bilang? Hanya sampai jam 9"
Elsa menoleh para pria yg mengatakan hal itu, yg berkata penuh penekanan.
"Tuan..." Robin menyela kembali penuh penekanan "Aku tuan mu, Elsa. Ingat itu..." tegas nya.
"Maaf..." Elsa hanya bisa menunduk dan kemudian ia membuang muka.
Robin menjalankan mobil nya dengan kecepatan penuh dan ia membiarkan kaca mobil terbuka.
.........
Suster Jessy dan Liam juga pamit pulang, tentu setelah Nadine juga memutuskan pulang.
Saat di parkiran, tiba tiba Sister Jessy duduk di kursi kemudi, membuat Dokter Liam mengernyit bingung.
"Kamu yg mau nyetir, Honey?" tanya Liam.
"Ya" jawab Sister Jessy dingin.
__ADS_1
Liam memang merasakan malam ini tunangan nya itu sangat dingin, bahkan sesekali ia menatap tajam Liam kemudian mendelik kesal tanpa Liam mengerti apa yg sebenarnya terjadi.
Suster Jessy menyetir dengan kecepatan penuh dan ia membuka kaca mobil nya.
"Pelan pelan, Honey. Dan tutup kaca nya, nanti kita masuk angin" ujar Liam namun Suster Jessy seolah tak mendengar nya.
Sekarang Dokter Liam mengerti seperti nya ia telah melakukan sebuah kesalahan.
"Apa yg aku lakukan?" tanya nya.
"Tanya pada diri mu sendiri" tukas Suster Jessy masih dengan sangat dingin.
Dokter Liam mulai merasa merinding karena sikap wanita nya itu, belum lagi angin malam yg terasa begitu dingin membelai kulit nya dan terasa menusuk pada tulang tulang nya meskipun ia mengenakan setelan lengkap.
Dokter Liam melepaskan jas nya dan menyampirkan nya di punggung Suster Jessy, namun hal itu tidak membuat Suster Jessy senang apa lagi terharu.
"Aku rasa aku tidak melakukan kesalahan apapun" ujar Dokter Liam kemudian.
"Termasuk tidak makan malam dengan Dokter Nad Nad itu..." tukas Suster Jessy yg membuat pupil mata Dokter Liam membesar dan ia mengangguk anggukan kepala nya mengerti.
"Jadi ini masalah nya..."
"Aku... Maksud ku, kami tidak makan berdua, Honey. Ada Arfan juga, sekarang aku mohon, pelan kan mobil nya atau kita bisa berada dalam bahaya..."
"Lebih berbahaya mana dengan Dokter centil itu..." Liam menghela nafas berat. Seharusnya nya ia tahu, wanita yg cemburu lebih menyeramkan bahkan dari pada singa yg mengaum.
"Oh, my sweetness..." Dokter Liam mencoba merayu nya "Kami kebetulan bertemu, itu saja" respon Suster Jessy masih sama, ia enggan menanggapi nya.
Dokter Liam pun memilih diam, karena percuma menjelaskan sesuatu pada wanita yg sedang terbakar cemburu. Meraka hanya akan semakin menjadi.
Hingga mereka sampai di depan rumah Liam, Suster Jessy menghentikan mobil nya dan ia masih enggan menatap apa lagi berbicara pada Liam.
Liam pun turun dari mobil nya sendiri, dan Suster Jessy langsung kembali menjalankan mobil nya, membawa nya pergi. Dokter Liam hanya bisa menghela nafas lesu.
"Jessy saja segitu marah nya, apa lagi Elnaz jika tahu kami makan bersama wanita. Habis lah tuh Arfan..."
__ADS_1