
Setelah Elsa pergi dari rumah nya, Elnaz langsung menatap Arfan tajam bahkan ia sampai berkacak pinggang. Mendapatkan perlakuan seperti itu malah membuat Arfan tertawa geli.
"Kenapa, Sayang? hmm??" goda Arfan sembari mencondongkan tubuh nya dan hendak mencium Elnaz lagi namun dengan cepat Elnaz menutup mulut Arfan dengan tangan nya.
"Jadi selama ini Kak Elsa menghubungi Kak Arfan? Kirim pesan juga?" tanya Elnaz yg malah lebih seperti tuduhan kemarahan.
"Iya, tapi seperti kata Elsa, Sayang. Kakak tidak pernah mengguburis nya" jawab Arfan lembut.
"Kenapa? Saking benci nya sama Kak Elsa, iya? Sampai sampai kalau di depan Kak Elsa, Kak Arfan itu selalu sok manis dan sok romantis sama El, mau panas panasin Kak Elsa, iya?" seru Elnaz dan kali ini tampak nya ia benar benar emosional, mendengar semua tuduhan itu membuat Arfan langsung menatap Elnaz dengan begitu dalam.
"Sok manis dan sok romantis?" tanya Arfan masih dengan tatapan dalam nya "Kakak bukan tipe orang yg 'Sok', Sayang..." desis Arfan dan ia melangkah mendekati Elnaz, sementara Elnaz langsung melangkah mundur menjauhi Arfan yg seperti pemburu yg akan menangkap buruan nya "Sejak kapan kakak tidak manis dan tidak romantis sama kamu, hm? Bukankah setiap detik kita bersama, setiap detik itu juga kakak selalu beikap manis dan romantis pada mu, Sayang? Bukankah kamu juga tahu itu? kamu sangat mengenal suami mu, kan?" Elnaz menelan saliva nya mendengar ucapan Arfan yg penuh makna itu dan apa yg di katakan nya memang sangat benar.
"Kenapa diam, hm?" tanya Arfan lagi dan dengan tiba tiba ia langsung menarik pinggang, menyentak nya hingga Elnaz terjatuh ke dalam pelukan Arfan.
"Apa yg membuat mu terus diam dan belum juga menerima ku, El? Aku begitu merindukan istri ku dan menginginkan nya di setiap detik yg aku lalui" lirih Arfan yg langsung membuat tubuh Elnaz menegang seketika. Ia menatap Arfan tepat di kedua manik mata Arfan, mencari kebohongan di sana namun yg Elnaz temukan hanya keputus asaan dan tatapan yg begitu gelap.
"Apa Kak Arfan akan terus bersama ku?" tanya Elnaz dengan suara setengah berbisik, Arfan tersenyum dan mengangguk.
"Aku akan terus bersama mu sampai akhir hayat ku, Sayang" jawab Arfan dengan begitu lirih.
"Kak Arfan tidak akan kembali sama Ka...."
"Tidak akan..." sela Arfan yg sudah tahu kemana arah pembicaraan Elnaz "Kakak bukan tipe orang yg akan melangkah mundur, dan kakak bukan tipe orang yg akan mengingkari janji apapun yg terjadi" tegas nya dan Elnaz tentu tahu dengan pasti memang seperti itu lah Kak Arfan nya. Dia adalah orang yg berpegang teguh pada komitmen nya dan sekarang ia berkomitmen pada pernikahan nya dan Elnaz.
Elnaz melingkar kan tangan nya di leher Arfan dan menyandarkan kepala nya di dada sang suami.
__ADS_1
"Jangan meninggalkan ku..." bisik Elnaz, Arfan pun memeluk istri nya itu dan mencium kening Elnaz sebagai jawaban. Ciuman itu turun pada kelopak mata Elnaz, hidung mancung nya, pipi nya dan berakhir di bibir nya.
Kedua bibir itu seperti magnet yg langsung menempel dengan begitu indah, saling mencecap rasa satu sama lain. Bertukar saliva dan hasrat yg sama besar nya. Menyalurkan rasa hangat yg membuat darah kedua nya berdesir dan jantung kedua nya berpacu dengan cepat.
.........
Elnaz menunggu Arfan di ranjang nya dengan perasaan yg begitu gugup. Ia melirik jam yg menunjukan pukul 8.30.
Malam ini, ia akan menjadi milik Arfan seutuh nya. Malam ini, ia akan memberikan hak suami nya dan Elnaz akan melakukan kewajiban nya sebagai istri.
Kedua tangan Elnaz saling mengait satu sama lain, menahan rasa gugup dan perasaan bergejolak dalam hati nya.
Pintu kamar terbuka, membuat Elnaz sedikit terperanjat. Arfan muncul dengan membawa segelas susu putih di tangan nya. Arfan melangkah masuk sembari terus menatap Elnaz dengan senyum yg mengembang di bibir nya.
Arfan meletakkan susu itu di meja di dekat ranjang, sementara Elnaz menunduk malu. Arfan langsung mengapit dagu Elnaz dan membuat Elnaz langsung mendongak, menatap nya.
Tatapan kedua nya bertemu dan kali ini tatapan itu tampak sangat berbeda, seperti ada pusaran yg akan siap menarik mereka masuk kedalam nya.
Arfan mencium kening Elnaz, sementara tangan nya menyusup ke balik leher Elnaz. Ciuman itu turun ke kedua kelopak mata Elnaz, dan perlahan Arfan menarik jilbab Elnaz terlepas dari kepala nya. Elnaz tanpa sengaja menahan nafas, meskipun ini bukan pertama kali nya Arfan melihat ia tanpa hijab, tapi entah kenapa sekarang perasaan nya terasa sangat berbeda.
Kini ciuman Arfan turun pada kedua pipi Elnaz, kemudian ia memberikan kecupan ringan di bibir penuh istri nya itu. Arfan kembali menatap Elnaz dan ia melihat istri nya itu memejam kan mata, menikmati ciuman nya. Arfan pun menutup mata nya dan melanjutkan ciuman nya di bibir sang istri, ia menikmati rasa bibir istri nya yg sangat manis itu. Sementara tangan Arfan mulai bergerak melepaskan satu persatu kancing piyama istri nya itu.
Merasakan hal itu, nafas Elnaz semakin memburu apa lagi saat Arfan berhasil melepaskan pakaian nya. Elnaz langsung menarik diri hingga ciuman mereka terlepas. Elnaz kembali menunduk malu dan ia menutupi tubuh nya dengan kedua tangan nya.
Sementara Arfan yg melihat itu pun membuat pandangan nya semakin berkabut akan gairah, nafas nya semakin terasa berat dan jantung nya berdebar hebat.
__ADS_1
"Beautiful..." hanya satu kata itu yg mampu Arfan ucapkan, ia menarik tangan Elnaz dan memperhatikan tubuh indah istri nya itu. Arfan membawa tangan Elnaz ke ujung kaos yg ia kenakan, membimbing Elnaz agar melepaskan kaos Arfan. Dengan gugup Elnaz pun melakukan nya. Kemudian Arfan membawa tangan Elnaz untuk menyentuh tubuh nya secara langsung, merasakan kehangatan tubuh sang suami "I am yours, My queen" bisik Arfan di depan bibir Elnaz membuat tubuh Elnaz meremang dan jantung nya berdegup kencang. Sementara tangan nya terus meraba tubuh Arfan, dari perut naik ke dada bidang nya.
Arfan mendorong pelan tubuh Elnaz hingga terjatuh di ranjang nya dan Arfan pun setengah menindih nya. Arfan mulai menjalankan aksi nya, memberikan sentuhan sentuhan memuja di setiap inci tubuh istri nya dengan bibir dan tangan nya yg begitu hangat, memercikan kobaran gairah yg membuat tubuh Elnaz bergerak tidak karuan. Terkadang ia bergerak menjauh, namun terkadang ia semakin mendesakan tubuh nya pada tubuh Arfan. Membuat Arfan terkekeh dan ia menatap Elnaz penuh kemenangan.
Arfan tak bisa mengalihkan pandangan nya dari wajah sang istri yg tampak sangat menikmati sentuhan penuh cinta nya, apa lagi saat Elnaz memejamkan mata sementara mulut nya terbuka dan sesekali mengeluarkan ******* merdu yg bak alunan melodi penyemangat bagi Arfan.
"Sayang, aku masuk ya...." bisik Arfan dengan nafas yg terputus putus di telinga Elnaz. Elnaz tampak tegang dan ia menatap Arfan dengan tatapan ketakutan "Jangan tegang, awal nya mungkin akan sakit. Kamu tahan sedikit ya, kakak akan pelan pelan...." hibur Arfan yg bisa melihat ketegangan di wajah Elnaz. Elnaz pun mengangguk, mencoba percaya pada suami nya.
"Pelan pelan..." lirih Elnaz dan Arfan mengangguk sembari melempar senyum untuk menenangkan istri nya.
Dengan sangat perlahan, Arfan mulai memasuki istri nya itu sementara tatapan nya tetap lurus menatap Elnaz yg juga menatap nya saat ini. Arfan terus berusaha menerobos masuk dan itu membuat istri nya mengerutkan kening saat ia mulai merasakan sesuatu yg mengganjal dan menyakiti nya di bawah sana.
"Sabar, Sayang. Sebentar lagi..." lirih Arfan dan ia pun menyentak nya, membuat Elnaz menjerit kesakitan dan secara reflek ia mencakar pundak Arfan, bahkan tak terasa air mata nya langsung mengalir saat ia merasakan tubuh nya begitu sakit dan perih tiada tara "Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud menyakiti mu...." ucap Arfan dan ia pun menghapus air mata Elnaz dengan ciuman nya, di lanjutkan dengan mencium bibir istri nya, menggoda nya dan mencoba mengalihkan rasa sakit sang istri. Arfan berdiam diri tanpa bergerak, menunggu sang istri beradaptasi dengan nya.
Sementara Elnaz yg perlahan merasakan rasa perih nya berangsur menghilang, ia pun bergerak gelisah saat merasakan sesuatu mengganjal di bawah sana. Pergerakan istri nya di bawah nya membuat Arfan menyadari bahwa istri nya sudah bisa menerima yg di bawah sana dan siap untuk melanjutkan nya.
Arfan pun bergerak pelan, agar istri nya mengimbangi nya. Namun perlahan pergerakan itu semakin cepat, berpacu dengan detak jantung nya yg juga semakin cepat. Dan sang istri pun harus berusaha mengimbangi suami nya yg begitu gagah itu, alunan suara indah yg keluar dari mulut kedua nya membuat adrenalin mereka semakin terpacu. Bagaikan melodi penyemangat yg menyaraki mereka untuk terus dan terus.
Suara decitan ranjang akibat pergerakan keduanya sama sekali tak menggaggu aktifitas mereka, melainkan membuat mereka semakin tenggelam dalam pusaran kenikmatan yg seolah akan menenggelamkan mereka, membawa nya pada dasar kenikmatan yg coba mereka raih bersama saat ini.
Malam semakin larut, cuaca semakin dingin, hanya terdengar suara desiran angin yg samar dengan suara suara kedua nya yg menyiratkan betapa nikmat nya kenikmatan yg mereka rengkuh sekarang.
Tak ada yg bisa berhenti, tak peduli dengan tubuh yg sudah mengkilat karena keringat. Tak peduli dengan nafas yg terputus putus, mereka terus berpacu dengan waktu untuk merengkuh kenikmatan yg tiada tara itu. Entah berapa kali kedua nya berhasil menjemput kenikmatan itu bersama, namun keduanya masih tak merasa cukup apa lagi puas.
Malam ini terlalu indah untuk di akhiri, sehingga kedua nya terus dan terus bergerak dan menjemput kenikmatan itu lagi dan lagi.
__ADS_1