(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 37 - Mau Lagi


__ADS_3

Elsa berhasil membangun hubungan yg hangat dengan Jimmy selama dalam perjalanan pulang mereka ke Indonesia, dan itu membuat Elsa semakin merasa bahagia. Mereka juga tukeran nomor telpon dan saling follow akun media sosial satu sama lain.


Namun sayangnya mereka harus berpisah karena Elsa harus pulang ke Surabaya sementara Jimmy pulang ke Jakarta, walaupun demikian tak membuat keduanya merasa sangat sedih karena keduanya berjanji akan terus berkomonikasi. Apa lagi Jimmy berhaji akan membantu Elsa dalam karir nya jika memang di butuhkan dan tentu hal itu membuat Elsa lebih bahagia lagi.


.........


Di Bandara, Elsa di jemput oleh kedua orang tua nya yg sangat merindukan Elsa. Mereka langsung memeluk Elsa dan mencium putri tersayang mereka penuh rindu.


"Bagaiamana keadaan mu, Nak?" tanya sang ibu sembari membelai rambut Elsa.


"Baik, Ma. Tadi aku kenalan sama fotografer terkenal di Jakarta, namanya Jimmy. Dia mau bantuin aku untuk menata karir di dunia modeling" seru Elsa antusias, tampak sekali kebahagiaan di mata nya dan melihat hal itu kadua orang tua nya merasa bahagia dan lega. Karena sewaktu akan berangkat ke Jepang, Elsa masih tampak sedih karena kehilangan Arfan.


"Kita cerita di rumah ya, kamu pasti capek" seru ayah nya dan Elsa pun mengangguk.


"Aku bawain oleh oleh dari Jepang, buat Mama, Papa, Nenek, Om dan Tante. Aku juga belikan oleh oleh buat Arfan dan Elnaz" Elsa berkata dengan suara lirih di akhir kalimat.


"Mereka pasti senang" ujar Bu Isna kemudian. Ia membawakan tas Elsa, sementara Pak Malik membawa koper Elsa.


Di dalam mobil selama dalam perjalanan pulang, Elsa menceritakan banyak hal pada Mama Papa nya. Menceritakan Jepang itu sangat indah, makanan di sana juga enak namun ada juga yg aneh dan kedua orang tuanya itu pasti tidak akan bisa memakan nya. Ini memang pertama kali nya Elsa ke Jepang dan seperti nya ini menjadi pengalaman yg luar biasa untuk nya.


"Nanti kalau kamu sudah sukses dan punya uang, boleh kan kita liburan ke Jepang?" tanya Bu Isna dengan mata berbinar. Melihat anak nya terlihat sangat bahagia membuat ia juga merasa sangat bahagia.


"Boleh dong, Ma. Jangan kan cuma ke Jepang. Nanti aku akan bawa Papa, Mama dan nenek keliling dunia" seru Elsa bersemangat.


"Amin, semoga saja ya, Nak... Kami selalu mendoakan kesuksesan dan kebahagian mu" sambung Pak Malik "Oh ya, Papa mau lihat hasil pemotretan mu. Pasti kamu sangat cantik kan..." ucap Pak Malik antusias yg membuat Elsa seketika terdiam.


"Iya, pasti cantik seperti Mama nya" sambung Bu Isna dan Elsa memaksakan bibir nya tersenyum.


"Begini, Pa... Hasil nya belum keluar, nanti pasti akan di muat di majalah kok" jawab Elsa kemudian.

__ADS_1


"Di hp mu memang nya tidak ada? Biasa nya model juga punya foto nya di hp nya sendiri dan di upload di media sosial nya" ujar sang ibu lagi.


"A...ada" jawab Elsa gugup, kemudian ia mengeluarkan ponsel nya dan mencari beberapa foto selfie diri nya mau pun yg di ambil oleh Olga selama berada di Jepang dan tentu nya yg berpakaian rapi "Ini, cantik kan?" Elsa memperlihatkan pada ibu nya.


"Masya Allah, anak Mama memang sangat cantik. Coba lihat, Mas..." seru Bu Isna dan suami nya itu melirik sekilas karena saat ini ia sedang fokus menyetir.


"Benar, sangat cantik. Kamu pasti bisa jadi model internasional, Sa" seru ayah nya yg tentu saja membuat Elsa senang.


"Nanti kita naik haji juga ya, Sa. Kalau duit mu sudah banyak" seru sang ibu lagi yg membuat Elsa langsung tertawa.


"Iya, Ma. Nanti kita naik haji bersama" jawab Elsa kemudian.


.........


Arfan merasa salah tingkah saat harus berhadapan dengan Elnaz sejak kejadian ia hampir lepas kendali saat ciuman itu. Arfan sendiri tidak mengerti kenapa, tapi Elnaz seperti candu bagi nya. Arfan menginginkan nya lagi dan lagi, bibir Elnaz terasa begitu manis. Sentuhan tangan mungil Elnaz saat menahan gejolak karena ciuman itu membuat Arfan merasakan perasaan yg membuncah, dan seperti kata Suster Jessy itu sudah memancing hasrat nya memuncak.


"Kak..."


"Hm?"


Elnaz memperhatikan Arfan dengan seksama, Elnaz sendiri juga salah tingkah setiap kali berhadapan dengan Arfan sejak malam itu. Namun Elnaz berusaha menutupi nya dan bersikap normal. Ia juga merasa sentuhan Arfan sangat indah dan memabukan, tapi Elnaz masih belum sepenuhnya percaya bahwa Arfan benar benar akan menjadi milik nya dan berhak mendapatkan diri Elnaz seutuh nya. Elnaz masih butuh waktu.


"Kenapa, El?" tanya Arfan karena Elnaz malah diam saja setelah memanggil nya, saat ini keduanya sedang sarapan di meja makan sebelum Arfan berangkat bekerja seperti biasa.


"Tidak apa apa" jawab Elnaz kemudian.


"Kalau butuh apa apa, bilang sama Kakak ya" seru Arfan dan Elnaz mengangguk. Arfan pun menyelesaikan makan nya dengan cepat karena pagi ini ia ada pasien yg harus di tangani.


"Kakak harus pergi, Sayang" ujar Arfan kemudian setelah ia meneguk air dari gelas nya.

__ADS_1


"Iya..." jawab Elnaz dan ia pun mengantar Arfan sampai ke mobil.


Arfan memberikan kecupan hangat nya di kening dan di pipi Elnaz seperti biasa.


"Jaga diri di rumah ya, kalau mau kemana mana bilang sama Kakak. Dan jangan terima tamu yg tidak di kenal, okey?" Elnaz mengangguk mendapatkan wejangan yg setiap hari ia dapatkan itu.


Arfan pun masuk ke dalam mobil dan Elnaz menutupkan pintu mobil nya, kemudian Arfan membuka kaca pintu mobil nya.


"Ada apa, Kak?" tanya Elnaz apa lagi saat Arfan malah mencondongkan kepala nya keluar.


"Cium dulu, masih kangen..." ucap Arfan manja yg membuat Elnaz langsung tersipu malu.


Ia pun menunduk dan mencium kening Arfan.


"Lagi, di sini dan di sini..." Arfan masih meminta dengan manja sembari menunujuk kedua pipi nya. Elnaz pun kembali menunduk dan mengecup kedua pipi Arfan dengan mesra.


"Sudah, hati hati ya, Kak..." ujar Elnaz namun Arfan malah menggeleng dan ia mengerucutkan bibir nya, membuat Elnaz mengernyit bingung "Kok menggeleng? Terus kenapa manyun begitu?" tanya Elnaz heran.


"Mau di sini lagi..." rengek Arfan dengan sangat manja yg langsung membuat pupil mata Elnaz melebar saat Arfan menunjuk bibir nya. Elnaz bahkan harus menelan saliva nya dengan susah payah dan ia hanya bisa menatap Arfan dengan wajah yg sudah merah seperti kepiting rebus "Ayo, Sayang. Kakak kesiangan ini..." Arfan kembali merengek dan ia semakin terlihat manja saja.


Mau tak mau Elnaz pun menunduk dan ia hanya ingin mengecup bibir Arfan namun saat hendak menjauhkan diri dari Arfan setelah mengecup nya, Arfan malah menahan kepala Elnaz dan memperdalam ciuman nya. Membuat Elnaz hanya bisa pasrah karena setiap detik Arfan semakin dan semakin memperdalam ciuman nya. Bukan hanya mencecap bibir Elnaz melainkan juga merombak setiap inci mulut nya saat Arfan berhasil memaksa Elnaz membuka mulut nya dan menerima sentuhan nya di sana ia membuat Elnaz blank.


Hingga Arfan merasakan ia dan Elnaz membutuhkan pasokan oksigen, Arfan dengan sangat terpaksa melepaskan ciuman itu dan ia menempelkan kening nya di kening Elnaz. Nafas keduanya memburu dengan mulut yg terbuka, Arfan mengelap bibir Elnaz yg basah karena nya dengan jempol nya. Bahkan hanya dengan sentuhan jari Arfan di bibir Elnaz sudah membuat Elnaz seperti tersengat listrik.


Setelah merasa sedikit tenang dan kedua nya bisa mengatur nafas mereka, Arfan dan Elnaz pun sama sama menjauh dan kedua nya saling melempar senyum hangat.


"Hati hati, Kak..." ujar Elnaz dengan suara lirih.


"Iya, Sayang. Jangan lupa makan siang kakak ya..." pinta Arfan dan Elnaz mengangguk dengan senyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2