
Seperti biasa, Arfan selalu bangun saat adzan subuh berkumandang. Ia pun bergegas ke kamar mandi dan mengambil wudhu, kemudian melaksanakan sholat subuh sendirian karena Elnaz sedang halangan. Dan adik kecilnya itu pun juga masih tertidur pulas.
Setelah sholat subuh, Arfan kembali menyiapkan air hangat untuk Elnaz dan saat kembali ke kamar ia tak mendapati Elnaz di kamar nya.
Terdengar suara gemercik air dari kamar mandi, Arfan bersandar di dinding dekat pintu kamar mandi, menunggu adik nya yg pasti keluar dengan wajah lemas.
Dan benar saja, Elnaz terlihat sangat lemas dan pucat. Namun Arfan tak khawatir, ia malah tertawa geli.
"Andai kamu jadi kakak, Dek. Setiap hari liat darah, apa lagi kakak akan jadi Dokter bedah, jahit menjahit kulit manusia, bedah bedah daging. Pasti seru..."
"Tidak perlu di ceritakan juga, El tahu apa tugas Dokter bedah seperti Kak Arfan" jawab Elnaz ketus yg membuat Arfan semakin terkekeh.
Dan yg membuat Arfan senang, Elnaz kembali tak menggunakan kata aku kamu lagi.
"Ya masak kamu pusing cuma karena liat darah, itu di badan mu darah lho" goda Arfan lagi.
"Tau ah..." gerutu Elnaz kemudian ia kembali naik ke atas ranjang, menarik selimuti dan mencari posisi nyaman. Setelah melihat darah nya sendiri ia benar benar merasa pusing dan seperti akan pingsan.
Arfan membenarkan selimut Elnaz dan mengusap kepala nya yg masih menggunakan jilbab.
"Ya sudah, istirahat. Masih nyeri perut nya?" tanya nya dan Elnaz mengangguk kecil.
"Nanti minum lagi obat nya, sekarang kakak mau mandi karena harus kerumah sakit pagi ini. Mau main darah darahan di rumah sakit" goda Arfan yg membuat Elnaz mendelik kesal.
Ia sendiri heran kenapa ia bisa phobia terhadap darah bahkan pada darah nya sendiri, ini keterlaluan. Fikir nya.
.........
Bu Isna keluar rumah untuk berbelanja ke tukang sayur keliling yg saat ini sudah ramai ibu ibu belanja di sana.
Ibu ibu itu pun bergosip ria tak kalah seru nya dengan gosip infotainment.
"Ya ampun, engga nyangka banget ya Elsa tega banget sama Arfan. Padahal pacaran nya sudah lama lho, itu nama nya Elsa jagain jodoh Elnaz"
"Iya, egois ya"
__ADS_1
"Kasian Elnaz ya, jadi korban"
"Bu Isna sama Pak Malik memang pilih kasih sih. Apa apa selalu yg di kedepankan itu Elsa, sudah menjadi rahasia umum itu mah"
"Terus bagaimana nasib Elnaz dan Arfan selanjutnya ya?"
"Miris juga, tunangan sama kakak nya nikah sama adik nya"
"Salah Elsa sendiri, cuma demi pemotretan yg hasil nya tidak jelas. Dia terlalu berambisi jadi model. Anak ku juga bilang begitu"
"Iya, Arfan nya malah di korbankan. Bahkan adik nya juga"
"Tapi Arfan kan sangat sayang sama Elnaz, sudah seperti saudara kandung mereka"
"Sebagai adik sih sayang, tapi bagaimana sebagai istri? Arfan kan cinta nya sama Elsa, jangan jangan Elnaz cuma jadi pelampiasan"
"Rasanya tidak mungkin, Arfan jauh lebih perhatian pada Elnaz dari pada sama Elsa. Ingatkan waktu dulu mereka sama sama jatuh dari sepeda motor waktu Elsa dan Elnaz ke pasar. Yg Arfan khawatirin itu Elnaz, bahkan sampai di bawa ke UGD"
"Iya juga ya, padahal dulu Elsa dan Arfan sudah pacaran"
"Arfan sama Elnaz sih cocok ya sebenarnya meskipun usia nya terpaut jauh. Tapi mereka sama sama orang baik"
Bu Isna mengepalkan tangan nya kuat kuat mendengar gosip hangat tentang putri semata wayang nya itu. Ingin sekali ia melabrak ibu ibu itu. Namun ia urungkan niat nya, Bu Isna justru berbalik arah.
Ia mendatangi rumah Arfan dan langsung masuk begitu saja dengan wajah yg terlihat sangat marah.
"Elnaz..." teriak nya sembari berjalan masuk.
Pak Adi dan Bu Yuni pun sangat terkejut mendengar teriakan Bu Isna.
"Ada apa, Is?" tanya Bu Yuni pada adik ipar nya itu.
"Dimana menantu mu itu? Berani nya dia menyebarkan gosip tentang Elsa" teriak nya marah.
"Dia... Dia di kamar nya" jawab Bu Yuni sedikit merasa seram dengan kemarahan adik ipar nya.
__ADS_1
Pak Adi dan Bu Yuni pun mengikuti Bu Isna yg melangkah lebar menuju kamar Arfan. Bu Isna pun langsung mendobrak pintu kamar Arfan sehingga membuat Elnaz yg sedang beristirahat pun sangat terkejut.
Ia masih lemas namun ia berusaha duduk.
"Mama... Ada apa?" tanya Elnaz lemas sembari memegang perut nya yg masih terasa nyeri.
Dan tanpa menjawab pertanyaan Elnaz, Bu Isna langsung menampar Elnaz membuat Elnaz sangat terkejut dan ia langsung memegang pipi nya yg terasa sangat panas dan perih itu, air mata pun langsung kembali mengalir bebas di pipi nya.
"Tega sekali kamu, El... Tega sekali kamu memfitnah kakak mu, menjelek jelekan dia sampai menjadi omongan tetangga"
Elnaz masih terdiam karena shock, bibir nya bergetar dan air mata terus mengalir deras tanpa bisa ia tahan. Hati nya sakit dan perih, ia menatap nanar ibu kandung nya itu.
"Kenapa kamu tega sih, El... Huh?" teriak Bu Isna sembari menggoncang pundak Elnaz yg masih tampak shock "Kasian kakak mu, El. Dia kehilangan calon suaminya dan sekarang dia menjadi bahan omongan orang"
Tangis Elnaz semakin pecah, saat ini segala rasa sakit dan segala rasa takut memenuhi hati nya saat melihat kemarahan yg tak seharusnya di mata sang ibu.
"Kalian berdua itu sama sama anak ku, tapi kenapa kamu berbeda dengan kakak mu, huh? Kenapa kamu harus menyebarkan aib tentang dia? Dia tidak pernah membicarakan mu pada siapapun"
"Gosip... apa?" tanya Elnaz akhirnya dengan terbata bata.
"Gosip apa kamu bilang? Dari mana orang tahu kalau kakak mu pergi untuk pemotretan? Cuma keluarga kita yg tahu hal itu, Elnaz. Dan tidak ada yg membicarakan hal itu kecuali kamu, pasti kamu kan yg menyebarkan hal itu supaya orang tidak lagi menganggap mu merebut tunangan kakak mu, supaya orang menyalahkan kakak mu dan bersimpati pada mu" teriak ibu nya.
Tangis Elnaz semakin menjadi, ia teringat bahwa ia telah menceritakan hal itu pada Andy dan mungkin saja dari sana lah sumber gosip itu. Tapi Elnaz tak pernah sedikitpun ingin menarik simpati siapapun.
"Kamu tega, El. Apa kamu tidak punya hati sampai sampai membuat hidup kakak mu semakin berantakan" desis ibunya dan ia pergi dari kamar Elnaz setelah mendorong dada Elnaz, seolah sangat membenci nya.
Bu Yuni dan Pak Adi yg melihat itu sebenarnya merasa tidak tega pada Elnaz, apa lagi Elnaz sampai di tampar lagi. Namun mereka tidak punya keberanian untuk membela Elnaz.
Pak Adi dan Bu Yuni pun pergi juga dari kamar Elnaz, meninggalkan Elnaz yg masih menangis sesegukan.
Dada Elnaz terasa sangat sesak, kepala pusing dan pandangan nya mulai buram. Elnaz meraih ponsel nya yg ada di atas nakas, mencari kontak Kak Arfan nya dan langsung menghubungi nya.
Panggilan itu langsung terjawab dan tangis Elnaz kembali pecah saat mendengar suara lembut kakak nya.
"Kak Arfan... Hiks... Hiks...kak" lirih Elnaz yg seolah tak sanggup bersuara "El takut... Hiks, Kak Arfan..."
__ADS_1