(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Episode 102 - Check Up


__ADS_3

"Kak..."


"Sayang...."


"Kak Arfan sayang..."


Elnaz mengguncang pundak Arfan berkali kali, saat ini suami nya itu sedang tertidur pulas di ranjang. Sementara Elnaz sudah kebelet buang air namun ia takut turun sendiri dari ranjang apa lagi ia berapa di tengah ranjang sedangkan kursi roda nya ada di sudut kamar.


"Hm, apa, Sayang?" tanya Arfan malas, ia sungguh merasa mengantuk sekarang karena ia baru tidur beberapa menit yg lalu sementara tadi ia bangun jam 3 pagi demi membuatkan Elnaz batagor.


"Mau pipis...." rengek Elnaz. Arfan pun menggeliat malas kemudian beranjak duduk, Arfan menguap dan kemudian ia menatap Elnaz yg saat ini tampak sedih.


"Hey, ada apa, Sayang? Kenapa? Kamu sakit? Ada yg sakit?" tanya Arfan panik namun Elnaz menggeleng pelan.


"El minat maaf ya, Kak. Karena El merepotkan Kak Arfan terus, mau ke kamar mandi saja tidak bisa tanpa di bantu" kata Elnaz sambil menundukkan kepala nya. Arfan bernafas lega dan pun tersenyum, karena setidak nya istri nya itu baik baik saja.


"Tidak apa apa, Sayang. Jika aku yg ada di posisi mu, kamu pasti akan dengan senang hati merawat ku, kan?" tanya Arfan menghibur nya. Elnaz tersenyum samar dan mengangguk.


Arfan pun turun dari ranjang, ia menggendong istri nya namun tidak mendudukan nya di kursi roda, melainkan Arfan langsung membawa nya ke kamar mandi kemudian mendudukan nya di closet.


"Terima kasih, nanti kalau sudah selesai, El akan panggil kakak" kata Elnaz.


"Kakak tunggu, Sayang. Habis ini kita tidur ya, masih pagi juga" kata Arfan. Jam memang masih menunujukan pukul 9 pagi.


Setelah selesai buang air kecil, Arfan kembali menggendong Elnaz dan membawa nya ke ranjang. Horden jendela masih tertutup rapat, sehingga cahaya matahari tak bebas menyeruak ke kamar mereka.


"Tidur lagi ya, sudah kenyang kan?" tanya Arfan, Elnaz tersenyum dan mengangguk.


"Besok Kita kerumah sakit dan chek up" ujar Arfan kemudian.


"El kapan bisa jalan normal lagi, Kak? El pengen kuliah" rengek Elnaz.

__ADS_1


"Nanti, Sayang. Maka nya kita check up dulu ya" bujuk Arfan, sekali lagi Elnaz hanya hanya bisa mengangguk percaya pada suami Dokter nya itu.


Arfan me rebahan diri nya di ranjang dan ia kembali memejamkan mata, sementara Elnaz entah mengapa tetap tidak merasa tidak mengantuk meskipun ia juga bangun sejak tengah malam tadi.


Elnaz memperhatikan Arfan lekat lekat, wajah suami nya ini selalu tampak teduh dan menenangkan, Elnaz mengusap rambut sang suami yg kini sudah terlelap dalam tidur nya.


Elnaz merasa kasihan pada Arfan yg terus sibuk mengurus4 urus nya, namun ia juga senang karena mendapatkan cinta suami nya yg begitu besar.


Elnaz memegang perut nya yg masih rata, ia sungguh tak percaya janin nya baik baik saja setelah ia jatuh dari tangga, leher dan kaki nya bahkan patah.


"Mungkin kamu hadir supaya Mama sempurna ya, Nak? Jika tidak...." fikiran Elnaz terbayang pada mertua nya. Bagaimana dia menekan Elnaz dengan terus membicarakan bayi dan bayi, dan jika Elnaz keguguran, mungkin ibu mertua nya itu akan memaksa Arfan menceraikan Elnaz dan meminta Arfan menikahi wanita lain.


"Terima kasih, Sayang. Sudah bertahan demi Mama"


...... ...


Keesokan hari nya, Arfan membawa Elnaz ke rumah sakit untuk melakukan check up. Di sana mereka bertemu dengan Suster Jessy yg langsung menyambut girang kedatangan Elnaz.


"Hai, Princess El..." sapa Suster Jessy.


"Kan memang sudah di lamar..." kata Suster Jessy "Anyways, aku mau kasih kalian sesuatu..." ia mengeluarkan ponsel nya dari saku nya.


"Mau kasih kami hp?" tanya Elnaz dengan polos nya yg membuat Suster Jessy tertawa.


"Oh, no no..." jawab Suster Jessy "Coba cek hp kalian" lanjut nya m


Elnaz dan Arfan pun mengecek hp mereka dan kedua nya langsung menganga lebar saat melihat sebuah undangan pernikahan Suster Jessy dan Dokter Liam.


"Kalian mau menikah?" tanya Arfan tak percaya.


"Ya iyalah, kau fikir? Apa kami akan berpacaran selama nya? Aku bahkan sudah sangat ingin hamil seperti Elnaz" kata Suster Jessy penuh harap.

__ADS_1


"Selamat ya, Kak Jessy...." Elnaz berkata dengan begitu tulus "Kalian menikah bulan depan?" tanya Elnaz saat ia kembali melihat undangan itu.


"Iya, kami menikah di Surabaya dan setelah nya kami akan tinggal di sana" kata Suster Jessy.


"Itu memang rencana Liam sejak dulu" sambung Arfan "Akhirnya, kalian menikah juga, aku ikut merasa senang untuk kalian berdua"


"Terima kasih dan pasti kan kalian berdua datang" ujar Suster Jessy.


"Insya Allah" jawab Elnaz dan Arfan bersamaan.


"Sekarang aku harus kembali bekerja" kata Suster Jessy.


"Ini pasien mu, sekalian bawa" kata Arfan sambil mendorong kursi roda Elnaz, membuat Elnaz terkikik. Karena memang Suster Jessy yg akan mendampingi Dokter Roger untuk melakukan check up. Sementara Arfan masih dalam masa cuti nya.


"Baiklah, Pasien... Ayo kita check up, semoga kamu baik baik saja dan lekas pulih"


Dokter Roger mulai kembali memeriksa keadaan Elnaz sembari menanyakan beberapa pertanyaan selama Elnaz rawat jalan di rumah.


"Seharusnya kau baik baik saja, karena meskipun rawat jalan di rumah, Dokter itu adalah suami mu, jadi dia akan memerhatikan setiap detail tentang kesehatan mu selama dalam masa pemulihan ini, benar bukan?" tanya Dokter Roger yg membuat Elnaz terkekeh.


"Iya, Dokter. Kak Arfan menjaga ku dengan sangat baik" jawab Elnaz.


"Bagaiamana dengan luka di kepala mu? Apa Dokter Arfan memeriksa nya?"


"Setiap hari, kata Kak Arfan luka jahit nya sudah mengering"


"Syukurlah, lalu untuk apa kau masih check up kerumah sakit?" goda Dokter Roger yg membuat Elnaz tertawa.


"Di rumah tidak ada peralatan medis yg lengkap" jawab nya kemudian yg membuat Dokter Roger ikutan tertawa.


Setelah memeriksa keadaan Elnaz, Dokter Roger memastikan kondisi Elnaz semakin membaik bahkan dia sudah membuka gips di leher Elnaz. Namun belum yg di kaki nya.

__ADS_1


"Tetap hati hati dengan kaki mu ya, El"


"Iya, Dokter. Terima kasih" jawab Elnaz.


__ADS_2