
Suara ketukan pintu membuat Elnaz beranjak dari sofa, ia berjalan untuk membuka pintu dengan langkah yg tak bisa cepat seperti biasa nya, tentu saja Karena berat badan nya yg naik berkilo kilo dan perut nya yg besar itu.
Saat membuka pintu, seorang kurir yg mengantar bunga langsung menyambut dengan senyum. Bukan karena apa, tapi karena dalam seharian ini, ini sudah ke 4 kali nya kurir itu mengantarkan bunga pesanan Arfan. Tak lupa kartu ucapan permintaan maaf dan kata kata cinta yg menyentuh sebenarnya.
"Lagi, Bu. Bunga nya..." ucap kurir itu sambil tersenyum.
"Terima kasih" ucap Elnaz sembari menerima bunga itu.
"Kalau Pak Arfan dua lagi, hari ini omset kami bisa lumayan naik, Bu" gurau kurir itu yg membuat Elnaz terkekeh.
"Siapkan 10 buket bunga lagi, Mas...." Elnaz juga bergurau membuat sang kurir ikut tertawa. Baru kali ini ia mendapatkan pasangan yg unik seperti ini fikir nya.
Elnaz masuk ke dalam dan meletakkan satu buket bunga itu di samping tiga buket bunga lain nya.
Ponsel nya bergetar, Elnaz langsung memeriksa pesan apa kali ini yg di kirim suami nya itu, setelah ada banyak pesan rayuan gombal yg membuat perut Elnaz bergejolak.
"Sayang, sudah terima bunga nya kan? Maafin kakak ya... Kakak cintaaaaaaaa sekali sama Elnaz"
Elnaz tersenyum membaca pesan itu, namun ia tetap tak membalas nya seperti pesan pesan sebelum nya. Elnaz melempar ponsel nya ke sofa, kemudian ia mengambil remote TV dan menyalakan nya.
Ibu nya datang dan bergabung dengan Elnaz, ibu nya itu menghirup aroma salah satu buket bunga pemberian Arfan.
"Belum di maafin, El?" tanya ibu nya lirih.
"Belum, masih kesal" jawab Elnaz, tangan nya terulur untuk mengambil biskuit di depan nya.
"Kasian lho, El... Seperti nya Arfan benar benar menyesal" ujar ibu nya.
__ADS_1
"Biar saja, biar tidak di ulang" kata Elnaz yg membuat ibu nya menghela nafas berat.
"Arfan itu tipe pria yg bertanggung jawab kok, kalau dia sudah menyadari kesalahan nya, Mama yakin dia tidak akan mengulangi nya lagi. Lagi pula, Arfan memang salah, tapi kan bukan kesalahan yg fatal, dia tidak selingkuh sama Nad nya itu kan?"
"Kalau sampai Kak Arfan selingkuh, aku akan potong potong jantung nya" tukas Elnaz kesal yg membuat ibu nya meringis.
"Hush, kamu lagi hamil, tidak boleh bicara yg tidak tidak, pamali lho" tegur nya yg membuat Elnaz langsung duduk tegak dan mengusap perut nya.
"Amit amit, y allah... Jaga anak nya El" gumam Elnaz.
"Mama tahu, kamu kecewa sama Arfan..."ujar Bu Isna lagi sambil menatap Elnaz "Dan memang sulit memperbaiki hati yg kecewa" imbuh nya. "Tapi akan lebih baik kalau kamu mencoba membuka hati kamu buat memaafkan Arfan, terima permintaan maaf nya, terima dia yg mengakui kesalahan nya. Jangan seperti Mama..." ujar nya yg membuat Elnaz langsung menatap ibu nya itu.
"Dulu, Mama sama Papa mu sangat menginginkan anak laki laki, tapi sayang nya semua yg lahir adalah perempuan, dan setelah melahirkan kamu, Mama tidak bisa hamil lagi, itulah yg membuat Mama sama Papa mu merasa kecewa, dan kamu malah kena imbas nya dari kekecewaan itu... "
" Kalau kamu tetap melihat kesalahan Arfan tapi mau melihat penyesalan nya, nanti kamu sendiri yg rugi" lanjut nya. Elnaz tersenyum samar dan mengangguk mengerti.
...
Saat sore hari, Arfan kembali memesan bunga dan kali ini dengan sekotak cokelat, ini sudah kiriman bunga yg ke 7. Katakan saja Arfan gila, mungkin ia memang gila karena Elnaz tetap tidak mau memaafkan nya. Arfan tidak akan berhenti meskipun harus mengirimkan seribu buket bunga sekalipun untuk merayu istri nya itu agar luluh.
Saat ini Arfan sedang berjalan di lorong rumah sakit dengan ponsel di tangan nya, untuk yg kesekian kali nya, ia mengirimkan pesan pada sang istri. Ungkapan cinta nya, penyesalan nya dan permintaan maaf nya.
"Balas dong, El Sayang... Kamu mau kakak frustasi apa" gerutu Arfan.
"Ar...." Arfan langsung menoleh saat mendengar suara Nadine yg memanggil nya dengan lantang seperti biasa.
Nadine berlari lari kecil menghampiri Arfan yg saat ini sedang menunggu nya.
__ADS_1
"Hai, Ar..." sapa Nadine dengan senyum sumringah.
"Apa ada urusan pekerjaan yg penting, Nad?" tanya Arfan dan Nadine menggeleng.
"Oke..." Arfan melanjutkan langkah nya namun Nadine menghalangi nya.
"Kamu kenapa sih? Kamu menghindar terus akhir akhir ini" tanya Nadine setengah merajuk..
"Maaf, Nad. Bukan nya apa, tapi kecuali ada pekerjaan yg sangat penting, sebaik nya kita jaga jarak" tegas Arfan
"Kenapa? Istri kamu marah kamu dekat dekat sama aku?"
"Aku melukai perasaan nya jika aku dekat dengan wanita lain, sedangkan sudah kewajiban ku menjaga perasaan nya" tegas Arfan lagi dan ia kembali hendak melangkah pergi namun Nadine kembali menghalangi nya, Nadine bahkan mencekal tangan Arfan membuat Arfan secara otomatis langsung menghempaskan tangan Nadine.
"Tolong hargai keputusan keputusan ku, Nadine" geram Arfan.
Sudah ia stres karena Elnaz masih marah, di tambah dengan Nadine yg justru membuat mood nya semakin buruk.
"Kita kan cuma teman, Ar. Kamu kenapa sih?" tanya nya kesal.
"Kita hanya teman di tempat kerja, itu sudah keputusan ku dan aku melakukan semua ini demi hubungan ku dan istri ku. Sebaiknya kamu juga jaga jarak sama aku, sebelum orang berfikir kalau kamu bukan Wanita baik baik karena terus menempel pada suami orang" tukas Arfan yg membuat Nadine tercengang. Arfan segera bergegas meninggalkan Nadine dengan kesal.
Entah kenapa wanita selaku berhasil merecoki ketenangan pria, fikir nya.
Namun Arfan sadar, hubungan nya hampir saja rusak jika ia terlambat sedikit saja untuk menyadari ini.
"Ya Allah, baru muncul garis retak saja sudah sesulit ini memperbaiki nya, bagaimana jika benar benar retak?"
__ADS_1