(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 123 - Salah Faham


__ADS_3

Memasuki usia kehamilan yg ke 9 bulan membuat Arfan dan Elnaz harap harap cemas, kini kedua nya lebih hati hati dalam segala hal dan Arfan sebisa mungkin mengatur waktu nya agar selalu ada di samping istri, selain itu, ia memang harus jadi suami yg siap siaga.


Kedua orang tua mereka juga selalu memantau keadaan Elnaz setiap hari, memberikan wejangan ini itu yg bahkan sampai Elnaz hafal karena di ucapkan setiap hari baik oleh ibu nya atau pun oleh ibu mertua nya.


Saat ini Elnaz sedang menyusun pakaian calon bayi nya di lemari baru yg Arfan belikan, lemari khusus untuk barang barang anak mereka kelak.


Sementara Arfan saat ini sedang mandi sebelum berangkat kerja.


Ponsel Arfan yg ada di atas ranjang bergetar terus menerus, membuat Elnaz merasa penasaran dan ia pun berjalan pelan menuju ranjang. Ia duduk di tepi ranjang dan kemudian membuka pesan yg masuk. Elnaz tersenyum miring membaca pesan itu yg dari siapa lagi kalau bukan dari Dokter Nadine yg cantik.


Nadine


"Ar, hari ini kamu shif siang kan?"


"Kebetulan aku juga shif siang, kamu bisa jemput aku tidak? Mobil ku lagi di perbaiki"


"Nanti kalau kamu mau berangkat kabari ya, aku sudah siap kok"


"Dasar ganjen..." gerutu Elnaz kesal. Ia hendak melempar ponsel Arfan ke ranjang namun kemudian terlintas ide dalam benak nya.


Ia pun membalas pesan Nadine.


Me


"Okey"


"Aku juga sudah mau berangkat sekarang"


Setelah pesan terkirim, Elnaz menghapus pesan itu dan meletakkan ponsel Arfan kembali ke tempat semula.

__ADS_1


..........


Nadine yg mendapatkan pesan dari Arfan tentu saja merasa senang, dan harus Nadine akui, ia sendiri merasa begitu nyaman setiap kali berada di dekat Arfan. Apa lagi Arfan tidak pernah menolak keberadaan nya selama ini.


"Tidak apa apa kali ya jadi istri kedua, asalkan Arfan bisa adil" gumam nya.


Ia pun menunggu Arfan cukup lama, bahkan tak terasa sampai dua jam dari waktu yg seharusnya. Nadine mencoba menghubungi Arfan kembali namun Arfan tak menjawab panggilan nya, beberapa kali Nadine mencoba nya namun hasil nya masih.


"Ini Arfan apa maksudnya tidak di jawab?" Nadine melirik arloji nya dengan cemas. Ia pun mengirimkan pesan pada Arfan, pesan nya masuk namun belum di baca. Nadine menunggu hingga 20 menit kemudian namun Arfan masih tak juga membaca pesan nya. Hal itu membuat Nadine sangat kesal dan marah, apa lagi ketika ia mendapatkan telpon karena hari ini Nadine ada janji temu bersama pasien nya yg mengidap usus bantu untuk membicarakan operasi nya.


Mau tak mau Nadine pun memanggil taksi.


Sesampainya di rumah sakit, Nadine mendapatkan teguran dan pasien nya karena Nadine sangat terlambat. Nadine hanya bisa meminta maaf namun sayang nya, pasien nya itu tidak mau berkonsultasi lagi dengan Nadine dan memilih mencari Dokter bahkan rumah sakit lain.


"Telat kok sampai dua jam lebih, Dokter macam apa yg mengabaikan pasien nya seperti ini" gerutu nya yg membuat Nadine sedih, karena sebelumnya Nadine tidak pernah terlambat dan selalu mengutamakan pasien nya.


.........


Dengan wajah yg sendu dan suara lirih Arfan mengabarkan kematian itu pada keluarga pasien nya dan seketika mereka semua menangis histeris.


"Maafkan aku..." ucap Arfan dengan suara yg bergetar "Semoga Allah menguatkan kalian" imbuh nya.


Keluarga pasien saling berpelukan dan menangis sesegukan, membuat dada Arfan terasa begitu sesak.


Arfan kembali ke ruangan nya dengan wajah yg lesu, ia duduk di kursi nya dan seketika semangat nya telah hilang. Arfan sudah berusaha melakukan yg terbaik, namun takdir berkata lain.


Arfan menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan, bersamaan dengan itu, pintu ruangan nya terbuka dengan kasar dan Nadine masuk dengan wajah yg tampak kesal.


"Kamu apa apaan sih, Ar? Kamu mau ngerjain aku, huh?" seru nya berapi api yg membuat Arfan melongo heran.

__ADS_1


"Maksud kamu?" tanya nya.


"Kamu tahu kan kalau sebagai Dokter kita harus selalu on time, kamu sengaja mau membuat aku terlambat? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan pasien ku karena aku terlambat menangani nya?" tukas nya lagi yg membuat Arfan semakin bingung.


"Kamu bicara apa sih, Nad?" ia bertanya dengan kesal.


"Bicara apa apa nya?" seru Nadine lagi "Kamu bilang mau jemput aku, aku tungguin dua jam lebih, Ar. Kalau kamu tidak bisa jemput, atau tidak mau jemput, ya kamu bilang sama aku. Aku tidak perlu menunggu kamu" hardik nya dan Arfan semakin bingung di buat nya.


"Jemput apa? aku benar benar tidak faham apa maksud kamu, Nad..." seru Arfan dengan suara lantang.


"Ini..." Nadine menunujuk pesan nya dan Arfan, membuat Arfan langsung mengerutkan kening nya. Kemudian ia mengambil ponsel nya dari atas meja dan memeriksa pesan masuk nya.


Namun yg ada hanya pesan terakhir Nadine, seketika Arfan langsung teringat dengan Elnaz dan ia merasa ini pasti upah istri nya itu.


"Itu... Itu pasti Elnaz, Nad..." ujar Arfan kemudian yg membuat Nadine semakin kesal.


"Ajari istri kamu supaya tidak melakukan hal seperti ini, Ar..." seru Nadine kesal dan tiba tiba terdengar suara gebrakan pintu dari luar, membuat Arfan dan Nadine langsung menoleh ke arah pintu masuk.


"Kamu yg harus nya belajar, Nadine..."


"El..." geram Arfan karena Elnaz berteriak "El, kamu yg membalas pesan Nadine?" tanya Arfan dan ia tampak marah pada Elnaz.


"Iya" jawab Elnaz dengan santai nya yg membuat Arfan dan Nadine sama sama marah.


"El, sejak kapan kamu bisa berbohong begitu? Kamu tahu kan Nadine itu Dokter dan di butuhkan pasien nya?" seru Arfan yg membuat Elnaz terkesiap, apa lagi saat ia menatap mata Arfan dan Arfan memang tampak marah pada nya.


"Nyawa orang bisa berbahaya gara gara kelakuan kamu, El. Kenapa bisa kamu setega itu sama Nadine... " imbuh Arfan lagi yg membuat hati Elnaz terasa sakit Karena ia merasa Arfan memojokan nya.


"Kalau begitu bilang sama Dokter ini, menjauh dari suami orang" desis Elnaz kemudian meletakkan box makanan yg berisi kue di meja Arfan dan melangkah cepat meninggalkan ruangan Arfan.

__ADS_1


"Dia benar benar keras kepala..." gerutu Nadine kesal "Dia bahkan tidak minta maaf..."


"Maaf, Nad..." ucap Arfan "Dia memang mudah cemburu, tapi aku juga tidak menyangka dia akan melakukan hal seperti ini"


__ADS_2