(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 43 - Sorry


__ADS_3

"I love you. More than brother and sister, I love you. My wife, my soulmate, my everything. Dan aku baru menyadari nya, kamu bukan lah pengganti, melainkan memang takdir sejati ku, yg Tuhan kembalikan di pelaminan di saat itu"


Mendengar penuturan Arfan yg sungguh menyentuh hati itu membuat hati Elnaz berbunga bunga sebenarnya, begitulah hati perempuan, bukan? Begitu mudah tersentuh akan suatu hal, namun Elnaz masih tak tahu harus menanggapi seperti apa kata kata indah suami nya itu.


"Mau pulang..." pinta Elnaz kemudian yg membuat Arfan menghela nafas panjang, karena ungkapan cinta nya yg tak di balas.


"Kamu masih sakit, di rumah sakit aja dulu ya sampai luka mu membaik" pinta Arfan namun Elnaz menggeleng lemah.


"Mau pulang..." sekali lagi ia meminta dengan merengek.


"Baiklah, lagi pula suami mu Dokter..." ujar Arfan kemudian sambil terkekeh "Kakak akan mengurus administrasi dulu ya, tunggu sebentar" pinta Arfan dan Elnaz mengangguk.


Setelah beberapa saat Arfan pergi, Suster Jessy masuk ke ruang rawat Elnaz dan ia pun menyunggingkan senyum ramah nya.


"Hmn sudah bangun rupanya kau, Adik Elnaz" seru nya "Dimana Arfan?"


"Kak Jessy..." seru Elnaz yg membuat Jessy langsung menatap Elnaz dengan menaikan sebelah alis mata nya.


"Kak Jessy?" Suster Jessy mengulang kata itu sembari tersenyum miring "Kenapa? Tumben manggil kakak, ada mau nya?"


"Hehe..." Elnaz menggaruk tengkuk nya "Begini, Kak. Em... Apa tadi pagi Kak Arfan memang ada jadwal operasi?" tanya Elnaz yg sayang nya pertanyaan itu terdengar oleh Arfan yg tiba tiba sudah masuk ke ruang rawat Elnaz.


Arfan pun hanya bisa menghela nafas lesu, dan ia menatap Suster Jessy yg saat ini juga menatap nya dan berseringai nakal. Kemudian suster Jessy menatap Elnaz dan menggeleng berkali kali, membuat pupil mata Elnaz langsung melebar dan kemudian ia menatap tajam Arfan.


"Haha Haha, Elnaz... Elnaz..." seru suster Jessy kemudian sambil tertawa geli "Sepertinya kamu itu tipe istri yg posesif dan cemburuan ya, sudah berasa Arfan itu suami dan bukan kakak, hm?" goda nya yg membuat Elnaz cemberut "Dasar ABG labil..."


"Ya bukan gitu, Kakak Jessy..." elak Elnaz.


"Memang seperti itu, Suster Jessy... Asal kau tahu saja, karena cemburu nya itu rumah jadi pelampiasan, aku sampai berfikir mungkin di rumah ada perampok, atau gempa bumi..." sambung Arfan yg membuat Elnaz menunduk malu.


"Sorry..." lirih Elnaz yg kembali membuat Arfan terkekeh. Ia mendekat dan langsung mengusap kepala Elnaz dengan gemas.


"It's okey..." jawab Arfan juga dengan lirih sembari menatap Elnaz dalam. Dan mendapatkan tatapan seperti itu dari suami nya membuat wajah Elnaz merona.

__ADS_1


"Kalian mau pulang?" tanya Suster Jessy yg merasa iri melihat pasangan yang sedang di mabuk asmara ini.


"Iya, Elnaz mau pulang" jawab Arfan masih menatap istrinya itu dengan senyum.


"Mau aku ambilkan kursi roda? Sebaiknya Elnaz tidak jalan sampai luka nya membaik"


"Tidak perlu..." jawab Arfan dan ia menyelipkan tangan nya di bawah lutut Elnaz dan di punggung nya, ia menggendong nya seperti pengantin baru. Elnaz pun langsung melingkarkan tangan nya di leher sang suami dan menyenderkan kepala nya di dada Arfan.


..........


Setelah pemotretan nya selesai, Elsa kembali ke kamarnya dan Jimmy menyusul nya.


"Ada apa?" tanya Elsa bingung.


"Apa kamu sibuk?" tanya Jimmy sembari menyenderkan punggung nya di pintu kamar Elsa.


"Tidak, aku hanya ingin istirahat" jawab Elsa.


"Baiklah, jika kau berubah fikiran, hubungi saja aku" ujar Jimmy kemudian ia melambaikan tangan nya dan pergi meninggalkan Elsa.


Elsa menutup pintu kamarnya dan ia langsung merebahkan diri nya di ranjang.


Elsa mengambil ponsel nya dan ia menghubungi ibu nya.


"Ada apa, Sayang? Bagaimana pemotretan mu?" tanya sang ibu dari seberang telpon.


"Lancar, Ma..." jawab Elsa malas.


"Sudah menemui Arfan?"


"Sudah, tapi Arfan banyak berubah, Ma. Dia seperti nya maksih sangat membenci ku" lirih Elsa "Bahkan dia tidak mau menjemput ku di bandara kemarin, padahal kan bagaimana pun juga aku ini masih sepupunya dan kakak ipar nya juga l"


"Apa Elnaz yg melarang nya?" tanya sang ibu lagi.

__ADS_1


"Mungkin saja, Ma" jawab Elsa lemas.


"Ya sudah, biar nanti Mama yg bicara pada nya. Oh ya, bagaimana dengan Jimmy? Apa dia baik sama kamu?"


"Dia baik, Ma. Tadi saja dia mengajak ku untuk makan malam, tapi aku malas..."


"Loh, kenapa malas? Padahal itu kesempatan bagus, Sa. Biar kamu juga bisa melupakan Arfan"


"Gitu ya, Ma?"


"Iya, sebaiknya kamu penuhi saja ajakan nya itu. Jangan terlalu memikirkan masa lalu, kamu harus kembali ceria dan bahagia seperti dulu"


"Okey deh, Ma..."


..........


Sesampainya di rumah, Elnaz hanya bisa meringis melihat keadaan rumahnya yg sudah seperti kapal pecah itu. Arfan membawa Elnaz ke kamar nya agar istrinya itu istirahat.


"Kak Arfan...." lirih Elnaz.


"Hm, kenapa, Sayang?"


"Rumah nya...."


"Biar kakak yg beresin" jawab Arfan dan seketika perasaan bersalah langsung melingkupi hati Elnaz.


"Maafin El ya, Kak... Seharusnya El tanya penjelasan kakak dulu, bukannya malah mengamuk pada peralatan rumah..." ia kembali berkata lirih sembari menundukan kepalanya, apa lagi sekarang ia tak bisa membantu membersihkan rumah karena kaki nya bahkan tak bisa ia pijakan ke lantai.


"Sayang..." Arfan membelai pipi Elnaz dengan lembut "Kakak faham perasaan mu, apa lagi kita baru saja mengambil langkah yg sangat penting dalam pernikahan kita. Tapi lain kali, jangan seperti ini lagi ya, kakak bukannya marah karena kamu berantikan rumah. Tapi kakak sedih karena kamu masih belum juga percaya sama kakak, El. Rasanya juga sakit setiap kali kamu masih meragukan kakak dan pernikahan kita... "lirih Arfan dan Elnaz langsung memeluk Arfan dengan erat.


"Sorry..." lirih nya.


"El janji, lain kali El akan percaya sama kakak, tidak akan berfikir yg aneh aneh. Akan bertanya dulu sama kakak, maafin El ya..."

__ADS_1


__ADS_2