
YSesampainya di rumah, Elnaz langsung pergi ke dapur dan ia melihat ayah nya yg sedang sibuk menghias kue sambil menonton tutorial nya dari YouTube. Dapur nya juga sangat berantakan dan ada kue yg gosong.
Elnaz tidak kesal, ia justru malah terharu dengan apa yg di lakukan ayah nya.
"Assalamualaikum, Papa..." seru Elnaz yg membuat ayah nya terlonjak kaget, bahkan ia hampir saja membuat hiasan kue nya itu rusak.
"Waalaikum salam, El. Kapan pulang? Kok Papa tidak mendengar suara mobil nya Arfan pintu yg terbuka?" tanya Pak Malik yg membuat Elnaz terkekeh.
"Papa twelaku fokus bikin kue nya" ujar Elnaz kemudian ia mencicipi kue yg gosong, ia mengambil bagian dalam nya yg tidak gosong "Hem, enak. Padahal ini pertama kali nya Papa bikin kue, Papa kan bisa pesan sebenarnya" tukas Elnaz kemudian.
Arfan pun masuk dan ikut mencicipi kue buatan ayah mertua nya itu.
"Lumayan" komentar nya.
"Papa ingin buat sendiri, yg spesial" jawab Pak Malik yg membuat Elnaz tentu merasa sangat senang.
"Terima kasih, Papa. Kedatangan Papa ke sini saja sudah sangat spesial bagi El" kata Elnaz penuh haru yg membuat Pak Malik terenyuh mendengar nya.
"Sekarang sebaiknya kamu mandi dan istirahat, biarkan Papa yg membersihkan dapur mu yg sudah seperti kapal pecah ini" tukas Pak Malik yg membuat Elnaz kembali terkekeh.
"Memang nya bisa?" tanya Elnaz sambil tersenyum.
Arfan yg melihat senyum Elnaz tentu juga tersenyum, kini istri nya itu baik baik saja dan terlihat senang.
"Bisa lah, dulu sebelum menikah Papa itu sering bantuin ibu, jangan salah lho ya" Kata Pak Malik yg membuat Elnaz tertawa.
__ADS_1
"Papa memang the best" ujar Elnaz "El ganti baju dulu, nanti kita bersihkan dapur bersama" kata nya dan kemudian ia bergegas ke kamar nya.
Kini di dapur tinggal Arfan dan Pak Malik.
"Kamu bertengkar sama Elnaz, Fan?" tanya Pak Malik kemudian memasukan kue nya ke dalam kulkas.
"Tidak, Pa" jawab Arfan lirih.
"Jangan bohong, Fan. Aku bisa melihat nya sejak tadi pagi" tutur Pak Malik yg membuat Arfan langsung menunduk "Apa itu karena Elsa?" tanya nya kemudian.
"Bukan, Pa" jawab Arfan dengan cepat "Aku cuma kecewa sama El yg bisa percaya cerita orang begitu saja, bahkan dia tidak takut pergi apartement laki laki sendirian dan itu tanpa izin ku" tutur Arfan.
"Jika dia minta izin, apa kamu akan mengizinkan nya?" tanya Pak Malik kemudian dan Arfan langsung menggeleng.
"Aku juga mengenal Mama mu, Mbak kandung ku sendiri. Dia terus saja membicarakan tentang bayi pada Elnaz, disana dia bahkan terus membicarakan hal yg sama dengan teman teman nya. Aku tidak mau Elnaz tertekan, dia masih kuliah, Fan. Dan sebagai suami Elnaz, aku harap kamu bisa berbicara pada ibu mu, kasian istri mu, Fan. Dia sudah menikah bukan di waktu seharus nya dia menikah, jadi jangan paksa dia menjadi ibu di waktu dia tak seharus nya menjadi"
Arfan merasa terkesiap mendengarkan penuturan Papa mertua nya, ia seolah baru menyadari hal itu. Kata kata ayah mertua nya seolah menusuk tepat di hati nya.
Selama ini Arfan hanya meminta Elnaz supaya tidak mendengarkan ibu nya tanpa Arfan berinisatif sedikit pun untuk menghentikan ibu nya. Arfan bahkan tidak pernah memikirkan posisi Elnaz sebagai menantu di keluarga nya, apa lagi dengan dasar pernikahan yg menjadi sebuah masalah.
Pernikahan itu membawa Elnaz pada pusaran masalah yg tiada ujung nya, masalah dengan kakak nya sendiri, cibiran para tetangga, dan tekanan dari mertua nya. Dan sebagai suami, Arfan tidak bisa melindungi Elnaz dari semua itu.
"El..." seru Pak Malik saat melihat Elnaz memasuki dapur "Kue nya sudah Papa masukin ke dalam kulkas"
"Terima kasih, Papa" ucap Elnaz kemudian membantu ayah nya membersihkan dapur.
__ADS_1
"Kita rayakan ulang tahun mu nanti malam ya, bertiga saja. Karena nanti kan tepat di hari ulang tahun mu masih akan di rayakan" ucap Pak Malik.
"Sebenarnya El tidak ingin membuat pesta, Papa. El hanya ingin membuat syukuran saja, kalau misal nya Mama dan mertua El mau datang. Tapi kalau mereka tidak bisa datang, El tidak mengadakan acara apapun" tutur Elnaz. Arfan sedikit terkejut mendengar penuturan istri nya itu, karena Arfan ingin sekali merayakan ulang tahun Elnaz seperti biasa.
"Tapi kenapa, El?" tanya Arfan akhir nya.
"Ulang tahun hanya di rayakan sekali, malam ini perayaan nya. Jadi untuk apa di adakan perayaan lagi?" Elnaz berkata tanpa sedikitpun menatap Arfan. Membuat Arfan merasa sedih karena seperti nya ia sudah sangat mengecewakan Elnaz.
Sementara Elnaz memang tidak ingin merayakan ulang tahun nya bersama Mama nya apa lagi ibu mertua nya, karena Elnaz tahu itu tidak akan berjalan baik.
"Baiklah" ujar Arfan kemudian "Aku mau kembali ke rumah sakit, nikmati waktu mu sama Papa" kata Arfan kemudian mengecup kening Elnaz. Membuat mata Elnaz berkaca kaca namun ia menyembunyikan nya.
Tanpa pelukan dan tanpa kecupan suami nya membuat Elnaz merasakan seperti ada sesuatu yg kurang dari hidup nya, namun Elnaz masih sangat kesal pada Arfan. Ia pun hanya diam bahkan sampai Arfan pergi.
..........
Setelah membersihkan rumah, Pak Malik mendapatkan pesan dari Arfan. Dan Pak Malik tersenyum saat mendapatkan pesan itu. Sementara Elnaz tampak kelelahan dan ia juga tampak mengantuk.
"Kamu tidur saja di kamar, El" ujar ayah nya.
"Tapi nanti Papa sendirian" jawab Elnaz sambil menguap.
"Papa juga mau tidur siang" jawab Pak Malik yg membuat Elnaz tersenyum tipis, ia memang merasa lelah dan ingin segera tidur.
"Ya udah, El tidur dulu, Pa..."
__ADS_1