(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 113 - Resepsi


__ADS_3

Jam 8 malam acara resepsi di gelar di salah satu gedung hotel yg tak jauh dari rumah mereka, namun tentu bukan di hotel yg sama tempat Arfan melaksanakan resepsi pernikahan sebelum nya.


Tamu tamu yg hadir juga cukup banyak, baik teman Arfan maupun teman Elnaz hampir semua nya datang. Bahkan tak terkecuali Andy, teman sekolah Elnaz itu juga takkan mau ketinggalan memoent membahagiakan teman nya itu.


Sedangkan Elnaz saat ini sedang berada di salah satu kamar hotel yg akan menjadi kamar nya malam ini dan Arfan.


Sejati nya kedua nya memang bukan pengantin baru, apa lagi dengan ada nya janin yang kini tumbuh dalam rahim Elnaz. Tapi entah kenapa Elnaz merasa begitu gugup dan juga merona setiap kali memikirkan ini akan menjadi malam pernikahan nya dengan Arfan.


Begitu juga dengan Arfan, ini bukan pertama kali nya ia merencanakan sebuah resepsi dan ia bukan bujangan yg akan melepaskan masa lajang nya, Arfan telah menjadi seorang suami dan juga calon ayah dari janin yg ada dalam kandungan istri nya, tapi Arfan merasakan sebuah perasaan hangat yg menggebu, sebuah kebahagiaan yg tak bisa ia lukiskan dengan kata kata. Ia begitu antusias, tak sabar dan ia segera ingin melihat istri nya dalam balutan gaun pengantin pilihan nya. Ia tak sabar, Elnaz bersanding dengan nya sebagai pengantin nya, milik nya, dan karena cinta. Bukan karena harus menggantikan orang lain.


Elnaz telah siap dengan balutan gaun pengantin pilihan nya yg bernama kuning emas. Warna yg membuat ia tampak sangat cantik dan seolah berkilau, dengan polesan make up sederhana namun tetap mempercantik wajah nya yg memang sangat cantik.


Elnaz di temani kedua orang tua nya, untuk mengantarkan ia ke pelaminan, memberikan nya pada suami nya dan kali ini dengan restu dan doa terbaik mereka.


"Kak Elsa beneran datang kan, Ma?" tanya Elnaz saat Mama nya menuntun ia menuju ballroom hotel.


"Tadi Mama sudah telfon, kata nya sedang dalam perjalanan" jawab Mama nya.


Terbersit perasaan bersalah dalam hati Elnaz, di satu sisi ia tak ingin menyakiti hati kakak nya jika harus menyaksikan mantan tunangan nya bersanding dengan adik nya di pelaminan, Elnaz seperti sedang mengkhianati kakak nya itu. Namun di sisi lain, Elnaz ingin sekali ada kakak nya di hari bahagia nya ini. Walaupun begitu, Elnaz sebenarnya tidak memaksa kakak nya untuk datang, namun Elsa sendiri yg mengatakan ia akan datang.


Saat akan memasuki ballroom hotel, kedua orang tua Elnaz menyerahkan Elnaz pada Arfan, kemudian Arfan pun menggandeng istri nya itu dan membawa nya memasuki ballroom hotel. Di ikuti kedua orang tua mereka.


Mereka di sambut oleh para tamu undangan, senyum bahagia tak pernah lepas dari bibir Elnaz dan Arfan.


Apa lagi saat Elnaz melihat dekorasi yg tampak sangat indah, Elnaz memang tidak tahu dan ia tidak terlibat dalam persiapan resepsi pernikahan nya sendiri kecuali dalam memilih gaun.

__ADS_1


"Kamu suka apa yg aku siapkan untuk mu, Sayang?" tanya Arfan berbisik, Elnaz hanya mampu mengangguk dengan mata yg berkaca kaca karena haru.


"Aku merasa gugup, Sayang. Aku merasa seperti menjadi pengantin baru lagi" kata Arfan kemudian yg membuat Elnaz terkekeh geli, walaupun sebenarnya ia merasakan hal yg sama.


Acara pun di mulai, para tamu undangan memberikan ucapan selamat dan menyertai mereka dengan doa.


Bahkan, Dokter Nadine pun juga datang dan ia memberikan sebuah hadiah berupa parfum yg kata nya ia beli di Paris. Dan parfum itu adalah parfum untuk pria, yg tentu saja bagi Elnaz itu tidak seperti hadiah pernikahan. Namun Elnaz tetap berusaha tenang bahkan tersenyum pada Dokter Nadine.


"Terima kasih, seperti nya Papa akan suka dengan ini" kata Elnaz yg membuat Nadine sedikit terkejut sekaligus kesal karena merasa tak di hargai.


"Itu untuk Arfan, bukan untuk ayah mu" tukas nya dan ia juga tetap tersenyum.


"Semenjak aku hamil, aku tidak suka suami ku memakai parfum" ucap Elnaz lagi yg membuat Nadine semakin terkejut.


"Jadi kamu hamil, El? Apa karena kecelakaan ini kalian menikah?" tanya Nadine dengan enteng nya, membuat orang yg mendengar pertanyaan itu langsung menatap Arfan dan Elnaz.


"Bukan itu alasan nya...." Arfan dan Elnaz mencari asal suara itu, begitu juga yg lain.


Elsa muncul dari melewati para tamu undangan, kakak perempuan Elnaz itu tampak cantik dengan gaun berwarna Rose gold dan polesan make up yg natural.


"Kak Elsa..." gumam Elnaz sembari tersenyum.


Elsa menghampiri adik nya yg bersanding di pelaminan dengan mantan tunangan nya. Tak ada kebencian, iri atau kecemburuan yg terpancar di mata Elsa.


"Maaf kakak terlambat, El..." Elsa berkata lirih sembari memeluk adik nya itu.

__ADS_1


Arfan yg melihat itu langsung memicingkan mata nya pada Elsa, seolah menyelidiki Elsa.


"Kakak?" tanya Nadine heran sembari menatap Elnaz dan Elsa bergantian.


"Iya, dia adik ku" kata Elsa sambil tersenyum.


"Wow..." gumam Nadine merasa tak percaya, dan mengetahui fakta itu justru membuat diri nya semakin memikirkan hal hal yg buruk tentang Elnaz.


"Dan pernikahan mereka terjadi sudah sejak lama, ini hanya resepsi" kata Elsa lagi.


"Yg di katakan Elsa benar" Arfan menimpali "Kami sudah menimba sejak lama, Nad. Justru tidak mudah juga bagi kami mendapatkan bayi ini. Resepsi ini juga syukuran atas kehamilan Elnaz"


"Oh..." Nadine menanggapi nya dengan santai sembari mengangguk anggukan kepala nya. Namun mata nya masih melirik Arfan dengan nakal.


"Kak Elsa tidak apa apa?" Tanya Elnaz berbisik "Maaf kalau Elsa..."


"Aku tidak apa apa, El" kata Elsa.


"Tidak perlu mendengarkan orang lain..." bisik Suster Jessy Pada Elnaz.


"Dokter Liam makan malam bersama wanita centil ini, sama Kak Arfan juga. Menyebalkan sekali..." Elnaz balas berbisik yg membuat Suster Jessy melotot dan ia langsung melirik tajam Liam yg saat ini sedang berbicara dengan Arfan.


"Awas saja nanti..." geram Suster Jessy.


"Sebaiknya kita menikmati pesta ini sekarang, soal mereka... Kita fikirkan nanti" bisik Elnaz lagi.

__ADS_1


Sementara Elsa kini menghampiri Mama dan Papa nya, jika Elnaz tidak salah, ia merasa ada sesuatu yg Elsa sembunyikan. Kakak nya itu terlihat murung dan tampak menahan luka. Elnaz mengerti itu, tapi Elnaz dan Arfan kini adalah suami istri, mereka saling memiliki dan di tambah kehamilan Elnaz yg membuat hubungan mereka semakin kuat.


Apapun masa lalu mereka bertiga, itu hanya masa lalu. Sedangkan masa depan nya adalah calon anak Arfan dan Elnaz, calon keponakan Elsa.


__ADS_2