(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 106 - Sensi


__ADS_3

Elnaz sedang bergelut manja dengan selimut dan guling nya, tak perduli dengan jam yg sudah menunujukan pukul 7.30.


Ia bahkan tidak berniat turun ke dapur dan membuat sarapan untuk suami nya, sementara Arfan kini sedang berada dalam kamar mandi.


Tak lama kemudian Arfan keluar dari kamar mandi dan ia tampak lebih segar, Arfan mengernyit bingung saat ia melihat Elnaz yg masih setia di atas ranjang nya.


"Sayang, kamu sakit?" tanya Arfan lembut sembari berjalan mendekati ranjang kemudian ia duduk di tepi ranjang, meletakkan punggung tangan nya di kening Elnaz namun Elnaz malah langsung memalingkan wajah nya. Membuat Arfan semakin bingung, apa lagi sejak kemarin Elnaz memang lebih banyak diam, bahkan tadi malam istrinya itu tidur lebih dulu dan memunggungi Arfan. Arfan fikir Elnaz hanya lelah.


"Kamu kenapa?" tanya Arfan lagi berusaha bersikap lembut.


"El makin gendut ya, Kak?" tanya Elnaz tiba tiba dengan suara rendah.


"Nama nya juga hamil, Princess. Tapi kamu tetap cantik, semakin cantik malah" puji Arfan tulus, Elnaz pun langsung duduk dan bersandar di kepala ranjang. Penampilan Elnaz saat ini memang sungguh berantakan, rambut nya berantakan seperti ekor singa yg sedang mengaum, bahkan air liur yg sudah mengering masih setia menempel di pipi nya.


"Masih tetap cinta juga kan?" tanya Elnaz kemudian menguap, membuat Arfan terkekeh.


"Tentu saja masih dan akan selalu cinta sama kamu, Princess" jawab Arfan sembari merapikan rambut Elnaz, menyelipkan rambut Elnaz ke belakang telinga sang suami.


"Yakin? kalau nanti El melahirkan, badan El melebar, gimana?" tanya Elnaz lagi yg membuat Arfan kembali bingung.


"Pertanyaan itu lagi, hm?" kata Arfan sambil garuk garuk tengkuk nya


"Cinta itu indah, jadi kalau sudah ada cinta, maka akan selalu tampak indah, okey? Dan lagi pula, aku bukan tipe pria yg bajingan yg hanya memandang wanita dari fisik. Jadi, aku akan selalu mencintai mu dan itu sudah final nya" kata Arfan.


"Terus, yg kemarin Kak Arfan telpon siapa? bisik bisik lagi, ketawa ketawa juga" gerutu Elnaz.


"kapan?" tanya Arfan mengerutkan kening nya.


"Kemarin, pas El tidur siang" jawab Elnaz memanyunkan bibir nya.


"Oh, itu Liam, dia bilang dia gugup karena akan segera menikah. Kakak memang sengaja bisik bisik bicara nya karena kakak tidak mau bangunin kamu" jelas Arfan yg membuat Elnaz langsung tersenyum dan mata nya kembali berbinar.


"Secepat itu mood nya berubah?" batin Arfan bertanya tak percaya.

__ADS_1


"Benaran?" tanya Elnaz memastikan.


"Iya, Sayang. Lagian kenapa kamu jadi sensi begini?" tanya Arfan dan Elnaz hanya mengedikan bahu. Kemudian ia merangkak turun dari ranjang, saat ia hendak mencium pipi Arfan, tiba tiba Arfan malah menghindar, membuat wajah Elnaz langsung kembali murung.


"Tidak mau di cium ya?" tanya Elnaz dengan hidung yg sudah kembang kempis.


"Mood nya berubah secepat rollercoaster, cepat naik cepat turun" batin Arfan.


"Bukan tidak mau, tapi aku sudah mandi sementara kamu belum mandi" goda Arfan sambil terkekeh. Kemudian ia menarik pinggang Elnaz hingga Elnaz terjatuh ke pelukan Arfan.


"Kecuali jika kamu mau kakak mandi lagi..." bisik Arfan di telinga istri nya itu, membuat pipi Elnaz merah saat merasakan glenyar aneh di tubuh nya.


Semenjak hamil, Elnaz memang lebih sensitif pada segala hal, salah satu nya pada sentuhan Arfan.


Arfan menciumi leher Elnaz dan hal itu berhasil membuat Elnaz menggelinjang geli.


"Kak..." lirih nya.


"Iya, Sayang..." jawab Arfan masih setia mencumbu leher istri nya.


"Astagfirullah, sampai lupa" gumam Arfan yg membuat Elnaz terkekeh, ia pun turun dari pangkuan Arfan. Mencari pakaian untuk suami nya itu.


Elnaz bahkan membantu Arfan memasang kemeja nya.


"Hari ini kamu ada kelas?" tanya Arfan dan Elnaz menggeleng.


"Sabtu, kakak lupa?" tanya nya. Arfan terdiam sesaat dan ia tampak terkejut mendengar kata Sabtu, namun kemudian ia terkekeh.


"Sudah sabtu ya? Tidak kerasa" kata Arfan.


"Ya sudah, kakak pergi bekerja dulu. Mau mencari duit untuk istri dan calon anak kakak, apa lagi semenjak kehamilan mu, kita makin banyak pengeluaran" ujar Arfan sambil terkekeh namun rupa nya Elnaz menanggapi itu dengan sesuatu yg lain, ia kembali murung dan mata nya begitu sayu dengan bibir yg tertutup rapat.


"Jadi maksud Kak Arfan, El dan calon bayi El boros begitu? Maaf ya, Kak" kata Elnaz lirih yg membuat Arfan melongo heran "Setelah El lulus kuliah, El juga akan bekerja kok"

__ADS_1


Sekarang Arfan mengerti, istri nya itu benar benar sensi sekarang, mudah tersentuh, mudah tersinggung, mudah sedih, mudah merajuk, tapi yaaa juga mudah terangsang, dan itu bagian yg paling Arfan suka.


Kelemahan itu pun Arfan akan gunakan sebaik mungkin sekarang, Arfan mengangkat tangan nya dan tanpa aba aba, ia langsung membuka kancing piyama Elnaz dan hal itu membuat Elnaz tersentak kaget.


Arfan menjalankan jari jari nya di sekitar tulang selangka Elnaz, kemudian di dada nya yg begitu mulus. Hal itu berhasil membuat Elnaz meremang dan bahkan ia menggigit bibir bawah nya. Ugh, salahkan saja hormon hamil nya.


Arfan tertawa melihat Elnaz yg benar benar sensitif akhir akhir ini.


"Oh sayang, kenapa kamu sensi sekali, hm?" tanya Arfan dan memberikan ciuman di kening Elnaz.


"Mandi lah, kakak akan pulang sore hari ini" pinta Arfan. Elnaz tersenyum malu, bahkan ia lupa merajuk nya gara gara biaya yg boros itu.


.........


Saat siang hari, Elnaz yg merasa bosan di rumah pun langsung menghubungi suami nya itu.


"Ada apa, El?" terdengar suara Arfan yg seperti nya sedang sibuk.


"Bosan" rengek Elnaz.


"Ya kan bisa nonton tv, baca buku, masak, biasa nya juga begitu kan?"


"Tapi pengen ngobrol sama Kak Arfan" Elnaz berkata dengan begitu manja.


"Tapi kakak sedang sibuk, Sayang. Telpon Mama saja ya"


Elnaz tentu langsung cemberut mendengar apa yg di katakan Arfan, apa lagi ketika terdengar suara seorang wanita memanggil nya.


"Dokter Arfan..."


"El, sudah dulu ya, Sayang. Nanti kakak telpon lagi. Love you"


Elnaz mematikan sambungan telpon nya kemudian berkata pada ponsel nya itu.

__ADS_1


"Hate you"


__ADS_2