
Bu Yuni dan Pak Malik bergantian menjenguk menantu mereka yg masih juga belum sadarkan diri.
Mereka menatap kasihan Elnaz yg masih terbaring tak tak berdaya.
Setelah itu, Arfan meminta mereka pulang kerumah nya.
"Bukan nya Malik sama Isna juga di sini, Fan? Mereka sudah menjenguk Elnaz?" tanya Bu Yuni.
"Sebenarnya, Ma..." kata Arfan "Elnaz jatuh karena Elsa" ujar Arfan yg membuat Bu Isna dan suami nya langsung terkejut.
"Apa?" pekik Bu Yuni shock.
"Tapi bagaimana bisa, Fan?" tanya Pak Adi geram.
"Entahlah, Pa. Mungkina mereka bertengkar" jawab Arfan lesu "Sekarang Elsa sudah di kantor polisi, Pa"
"Apa dia sengaja mendorong Elnaz? Apa karena dia tahu kalau Elnaz hamil dan dia iri?" tanya Bu Yuni emosi.
"Tidak, Ma. Bahkan Elnaz sendiri tidak tahu kalau dia sedang hamil" kata Arfan lesu.
"Astagfirullah, perempuan satu kenapa sih selalu membawa masalah" geram Bu Yuni marah "Ibu nya memang tidak becus jaga anak sendiri" gerutu Bu Yuni kesal.
"Sudahlah, Ma. Tidak usah bahas itu, yg salah Elsa, yg akan di hukum Elsa juga. Tidak perlu bawa bawa Mama Isna ya, dia juga pasti sedih juga. Bagaimana pun juga Elsa dan Elnaz itu anak nya, darah daging nya" tutur Arfan karena ia tidak ingin memperpanjang masalah atau membuat masalah ini merembes kemana mana karena bagaimana juga keluarga mereka masih terikat dengan darah.
"Tapi ini memang salah Isna, Fan. Hanya karena Elnaz tidak terlahir sebagai laki laki, dia malah lebih sayang Elsa. Memang apa beda nya anak laki laki dan perempuan, masih untung Elnaz bisa di selamatkan, kalau Elnaz sampai meninggal gimana? Apa dia tidak akan gila jika anak nya saling bunuh?" Bu Yuni masih meluapkan rasa kesal nya.
"Ma, jangan bicara seperti itu" tukas Pak Adi, apa lagi saat ia melihat Arfan masih tampak emosi, Pak Adi tidak mau anak nya itu semakin emosi lagi.
"Tapi memang benar kan, Mas?" balas Yuni.
"Sudah lah, sebaiknya sekarang kalian pulang dan istirahat" sela Arfan, ia sendiri sudah tampak begitu lelah, wajah nya sudah berantakan dan mata nya sudah begitu sayu.
__ADS_1
"Sebaik nya kamu yg pulang, Fan. Biar Mama yg jaga Elnaz malam ini" kata Bu Yuni yg merasa kasihan saat melihat kondisi putra nya ini.
"Tidak, Ma. Aku tidak mau meninggalkan Elnaz" jawab Arfan.
"Jangan begini, Fan. Setidak nya mandi dan makan, Nak. Nanti kamu sakit" bujuk ayah nya.
"Biar Mama sama Papa yg menjaga Elnaz, Fan. Kamu jangan khawatir, kan ada Dokter sama suster juga di sini" bujuk Bu Yuni lagi.
"Baiklah, aku akan pulang mandi dan berganti pakaian sebentar" kata Arfan kemudian.
..........
Di penjara, Elsa hanya bisa terdiam merenung setelah polisi mengintrogasi nya. Elsa menjawab semua pertanyaan sejujur mungkin, berharap itu bisa membebaskan nya atau setidak nya meringankan hukuman nya jika Arfan masih juga tidak mau mencabut laporan nya.
Selama ini Elsa memang selalu hidup di zona aman dan nyaman, semua keinginan dan kehendak nya selalu terpenuhi dengan mudah.
Tapi semua nya seolah berbanding terbalik semenjak ia meninggalkan Arfan di hari pernikahan nya. Seolah semua keinginan Elsa begitu sulit untuk ia capai. Bukan hanya itu, Elsa bahkan harus terjebak pada orang seperti Jimmy.
Apa lagi saat ia mengingat kondisi terakhir Elnaz, Elsa begitu takut terjadi sesuatu pada adik nya itu apa lagi sekarang Elnaz sedang hamil.
.........
Sesampainya Arfan di rumah, ia berapapasan dengan kedua mertua nya yg tampak nya sedang mau pergi.
"Fan, kami mau menjenguk Elnaz. Boleh kan?" tanya Pak Malik yg membuat hati Arfan terenyuh karena ia tak menyangka dengan pertanyaan ayah mertua nya itu.
Sementara Pak Malik memang sudah ingin menjenguk Elnaz sejak tadi siang, namun ia masih takut pada Arfan apa lagi saat mengingat kemarahan Arfan pada Elsa.
"Boleh, Pa. Nanti bareng aku saja, aku mau mandi dulu sebentar" jawab Arfan dan kali ini ia terlihat lebih tenang, membuat Pak Malik dan Bu Isna menghela nafas lega.
"Kamu sudah makan, Fan?" tanya Bu Isna dan Arfan menggeleng
__ADS_1
"Mama masakin sebentar ya" ujar Bu Isna.
"Iya" jawab Arfan singkat dan kemudian ia menaiki tangga. Saat Arfan berdiri di tangga kedua, tiba tiba ia terdiam dan memperhatikan tangga itu satu persatu.
Arfan bahkan tak sanggup membayangkan bagaimana istri nya terjatuh dari tangga paling atas itu. Tatapan Arfan menyusuri setiap inci tangga itu sambil berjalan menaiki tangga. Nasfas Arfan tercekat saat ia melihat ada noda darah yg masih tertinggal di ujung tangga.
Arfan berjongkok dan mengelap darah yg sudah mengering itu dengan ujung jas Dokter nya.
"Ya Allah, El. Kenapa ini harus terjadi sama kamu, Sayang" gumam Arfan sedih.
Ia mempercepat langkah nya dan masuk ke kamar nya. Arfan melihat ransel Elnaz di tepi ranjang dan ponsel nya yg ada tepat di tengah ranjang. Arfan membuka ponsel istri nya dan ia langsung di suguhkan foto diri nya sebagai wallpaper, membuat Arfan tersenyum senang.
Arfan pun bergegas mandi dengan cepat, kemudian berganti pakaian dan ia kembali turun.
"Fan, Mama cuma buatin nasi goreng sama mama gorengkan nugget" kata Bu Isna.
"Aku akan makan di rumah sakit saja, Ma. Di sana juga ada Mama sama Papa" ujar Arfan sambil melipat lengan kemeja nya.
Mendengar apa yg di ucapkan Arfan, Bu Isna seketika merasa gugup. Entah Bagaiamana ia akan berhadapan dengan besan sekaligus kakak ipar nya itu, apa lagi selama ini hubungan mereka memang tidak begitu baik. Apa lagi Elnaz sedang hamil cucu yg selalu di harapkan oleh Bu Yuni, jika dia tahu bahwa Elsa lah penyebab kecelakaan Elnaz, Bu Isna tidak bisa membayangkan apa yg akan di katakan besan nya itu.
'Ma, kenapa diam?" tanya Arfan yg meluhat ibu mertua nya malah Melamun, Bu Isna yg mendengar suara Arfan langsung gelagapan dan menggeleng pelan.
"Bawa saja nasi goreng nya, Ma. Sayang kalau tidak di makan" kata Arfan dan Bu Isna pun mengangguk dan ia langsung mencari kotak makan.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, ketiga nya hanya diam dan sibuk dengan fikiran masing masing. Suasana menjadi begitu hening dalam mobil.
Hingga dering ponsel Arfan memecah keheningan, Arfan langsung menjawab panggilan itu saat nama Dokter Roger tertera di layar ponsel nya.
"Iya, Dok? ada apa?" tanya Arfan setengah cemas karena ia takut ini tentang istri nya.
"Dokter Arfan, istri mu sudah siuman"
__ADS_1