(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 74 - Drama Rumah Tangga 2


__ADS_3

Setelah Arfan pergi, Elnaz kembali menangis sambil mengucek baju cucian nya. Entah kenapa ia benar benar merasa lelah sekarang, lelah dengan semua nya. Di tambah dengan Arfan yg mengatakan sesuatu yg tak pernah ia bayangkan. Elnaz memang salah karena pulang sama Robin, tapi Elnaz merasa Arfan tidak berhak menuduh nya seperti itu.


Setelah selesai mencuci, Elnaz menyapu dan mengepel, setelah di rasa ia lelah. Elnaz pun memilih beristirahat.


Elnaz duduk di sofa, menselonjorkan kaki dan membaca sebuah buku romance yg menceritakan tentang sepasang kekasih yg berjuang untuk mempertahankan cinta nya. Seketika Elnaz ingat dengan Arfan, cinta halal nya dan Arfan masih di uji apa lagi hubungan pernikahan mereka yg baru seumur jagung.


"Aku juga ya yang salah, sudah tahu Kak Arfan cemburuan. Masih saja pulang sama Robin, benar juga kata Kak Arfan. Harus nya aku ikuti saja perintah dia untuk naik taksi" gumam Elnaz sambil menghela nafas lesu.


Kemudian ia pun meletakkan buku nya di meja dan bersiap siap menemui Arfan ke rumah sakit, untuk meminta maaf, tentu saja.


.........


Di rumah sakit, setelah Arfan menangani pasien nya ia kembali ke ruangan nya. Arfan menatap foto Elnaz yg memang ia panjang di meja kerja nya, Arfan teringat dengan apa yang telah ia ucapkan pada Elnaz tadi. Elnaz memang pasti lelah akhir akhir ini, jadwal kuliah nya yg padat, masih harus mengurus rumah dan Arfan. Memasak, mencuci, menyetrika.


"Belum lagi tekanan dari Mama supaya segera hamil, apa lagi Elnaz tipe orang yang tidak enakan dan selalu ambil hati apa yg orang bilang" gumam Arfan dan ia menghela nafas panjang, ia sungguh merasa bersalah dan menyesal atas apa yg ia katakan tadi, apa lagi selama ini Elnaz selalu patuh pada nya.


"Mungkin tadi dia benar benar ingin segera pulang kali ya, maka nya sampai nebeng Robin"


"Bicara sama siapa, Pak Dokter?" tanya suster Jessy yg tiba tiba sudah ada dalam ruangan Arfan, membuat Arfan tersentak.


"Sopan sedikit dong, kan bisa ketuk pintu..." ujar Arfan kesal.


"Sudah lah, berkali kali. Tapi pendengaran mu seperti tersumbat bendungan" ucap Suster Jessy.


"Ada apa?" tanya Arfan kemudian.


"Besok malam aku mengadakan party kecil kecilan, datang ya, Liam juga datang" seru Suster Jessy.

__ADS_1


"Party? Dalam rangka apa?" tanya Arfan bingung yg membuat Suster Jessy mendelik.


"Ulang tahun ku" tukas nya dan Arfan hanya ber oh ria sambil mengangguk anggukan kepala nya


"Cuma itu?" tanya Arfan lagi.


"Ya berharap nya sih ada lamaran kejutan gitu dari Baby" lirih Suster Jessy yg membuat Arfan tertawa.


"Seharusnya sih, kalian sudah berumur. Memang nya tidak capek menjalin hubungan tidak jelas begitu selama 4 tahun" tukas Arfan.


"Pak Dokter, itu hanya 4. Apa kabar dengan anda yg 8?" goda Suster Jessy yg membuat Arfan terkekeh.


"Iya sih, 8 dan itu pun tidak berakhir seperti yg di harapkan..."


"Oh, jadi harapan nya apa? Menikahi dia?"


Elnaz menatap kesal suami nya itu dan kemudian ia bergegas pergi.


"Fan, kejar, Fan..." seru Suster Jessy sambil menarik jas Dokter Arfan.


"Cepatan, Fan... Istri kalau sudah salah faham seperti listrik konslet. Bisa menyebabkan kebakaran" ujar Suster Jessy lagi dan tentu Arfan benar benar segera mengejar Elnaz.


"El, tunggu..." teriak Arfan sambil berlari. Elnaz tak menghiraukan nya dan terus berjalan lurus di lorong rumah sakit.


"Elnaz Sayang... Tunggu" ucap Arfan saat ia berhasil menarik tangan Elnaz sehingga Elnaz berhenti.


"Ada apa?" tanya Elnaz datar, kelewat datar seolah Arfan adalah orang asing yg tak ia kenal.

__ADS_1


"Kamu jangan salah faham soal tadi, Sayang" ucap Arfan namun Elnaz malah menanggapi nya dengan mencebikan bibir nya.


"Oh ya, kamu kenapa kesini? Kangen ya sama aku..." goda Arfan.


"Tadi nya sih El mau minta maaf, karena sudah pulang sama laki laki lain. Itu saja" ucap Elnaz yg membuat Arfan terkekeh.


"Kenapa ketawa? Tidak mau mau minta maaf juga karena sudah menuduh yg tidak tidak?" tanya Elnaz dan Arfan hanya mengedikan bahu tak acuh, ia malah melenggang pergi dan hendak kembali ke ruangan nya. Membuat Elnaz melongo dan ia segera mengejar suami nya itu.


"Kok gitu sih, Kak? Kak Arfan sudah marah marah tidak jelas tadi, kenapa Kak Arfan begitu? Tega tahu..." tukas Elnaz setengah berlari supaya mengimbangi langkah Arfan yg lebar dan cepat.


"Tega? Kamu bilang kakak tega?" seru Arfan sambil menunjuk diri nya sendiri. Arfan bahkan langsung menghentikan langkah nya secara tiba tiba membuat Elnaz hampir menabrak Arfan.


"Yg benar saja, El... Kamu fikir cuma kamu yg bisa cemburu buta terus pecahin semua vas di rumah, rusakin sofa dan melempar jaket ku ke tong sampah dengan enteng nya padahal itu jaket mahal dan baru aku pakai beberapa kali" tukas Arfan panjang lebar tepat di depan wajah Elnaz, membuat Elnaz sedikit mencondongkan kepala nya ke belakang.


"Terus kalau jaket nya tidak El buang senang gitu?" tanya Elnaz tak kalah emosional


"Kenapa? Senang karena habis di pakai mantan mu? Terus masih sayang juga sama sofa dan vas vas pilihan mantan mu itu, iya? Maka nya tadi masih membicarakan mantan mu, kenapa? Gagal move on?" tanya Elnaz juga tepat di depan wajah Arfan.


Tanpa mereka sadari, kini mereka menjadi pusat perhatian orang orang di sana bahkan juga Suster Jessy. Ia Hanya bisa meringis melihat kelakuan suami istri yg justru seperti remaja labil yg baru punya pacar.


"Terus kamu sendiri kenapa pulang sama Robin Hood Itu, eh? Karena dia masih muda? Seumuran? Nyaman gitu sama dia?" tukas Arfan lagi yg semakin memancing rasa kesal Elnaz bahkan membuat nya menggeram marah, ia juga mengangkat tangan nya sambil melakukan pergerakan seolah olah akan mencekik Arfan.


"Ihhh... Menyebalkan sekali sih Kak Arfan ini..." geram nya yg justru membuat Suster Jessy tersenyum geli, begitu juga dengan orang orang yg memperhatikan mereka.


"El kan sudah minta maaf kakak..." seru Elnaz yg sudah lelah "El janji tidak akan mengulangi nya lagi, El Janji akan naik taksi kalau Kak Arfan tidak bisa antar jemput El" akhir nya ia mengalah dan menyingkirkan ego nya. Tentu saja hal itu membuat Arfan langsung tersenyum penuh kemenangan.


"Gitu dong, sesekali ngalah sama suami" ucap nya sambil mencubit gemas kedua pipi Elnaz dengan kedua tangan nya, membuat Elnaz semakin memberengut.

__ADS_1


__ADS_2