
Elnaz memasak dengan riang gembira, ada perasaan asing yg menyusup begitu saja dalam hati nya. Perasaan seperti bunga yg bermekaran yg di taman, indah, berwarna.
"Ish, aku kenapa sih? Kenapa aneh begini?" Elnaz bertanya pada diri nya sendiri sembari memegang kedua pipi nya yg terasa panas saat mengingat dalam 24 jam ini Arfan sudah mengecup kening nya. Lalu bagaimana dengan kecupan selama 18 tahun selama ini? Kenapa rasa nya begitu berbeda?
"Tau ah..." gerutu Elnaz sendirian. Setelah ia selesai memasak, Elnaz mulai memasukan beberapa menu ke kotak makan dan kemudian ia pun memanggil taksi untuk mengantar nya ke rumah sakit.
.........
Arfan dalam keadaan yg tak jauh berbeda dengan Elnaz, sejak ia memutuskan untuk berkomitmen dengan Elnaz. Senyum sumringah tak pernah hilang dari bibir nya, mata nya berbinar dan ia lebih semangat melakukan segala hal.
Seperti saat ini, ia sedang memeriksa pasien yg baru saja mengalami kecelakaan hebat. Kemarin saat memeriksa keadaan pasien itu, Arfan memasang wajah serius nya namun sekarang ia malah terus tersenyum sendiri seperti orang gila. Membuat pasien dan orang orang di sekitar nya merasa heran. Kecuali Suster Jessy tentu nya yg pasti sudah tahu apa alasan Arfan menjadi gila.
"Apa Konseling nya berhasil?" tanya Suster Jessy yg menemani Arfan memeriksa pasien.
"Kemungkinan nya sangat besar ini berhasil" Jawab Arfan berbinar senang.
"Aku tidak merasa kamu adalah pria patah hati yg di tinggal di hari pernikahan, dimana kesedihan mu?" ejek suster Jessy.
"Tentu saja aku sangat sakit hati dan marah pada Elsa, tapi entah kenapa keberadaan Elnaz seperti membuat semua rasa sakit itu menguap begitu saja" tutur nya jujur.
"Jadi benar yg di katakan Liam, kamu memang mencintai Elnaz?"
"Aku memang mencintai nya bahkan sejak dia dalam kandungan" Jawab Arfan kemudian ia bergegas kembali ke ruangan nya setelah selesai memeriksa pasien nya. Suster Jessy pun mengikuti nya dari belakang Karena ia masih penasaran dengan perasaan Arfan yg sebenar nya.
Pacar nya yg seorang psikiater sangat yakin bahwa Arfan mencintai Elnaz melebihi adik sejak dulu, namun Arfan belum menyadari nya apa lagi saat ia dekat dengan Elsa yg sama sama dewasa. Sehingga perasaan cinta pada Elnaz semakin terkubur dan perasaan cinta sebagai kakak semakin naik ke permukaan. Suster Jessy antara percaya dan tidak percaya akan hal itu, namun setelah melihat sendiri bagaimana Arfan dan Elnaz selama di Jakarta, perlahann suster Jessy mulai percaya pada apa yg di katakan keksiah psikiater nya itu. Karena tak mungkin ada seseorang yg bisa move on begitu saja dari kekasih nya yg selama 8 tahun selalu bersama.
"Kak.." suara lembut itu menarik perhatian Arfan dan Suster Jessy.
"Hey, Princess. Sudah datang" seru Arfan dan ia segera menghampiri Elnaz yg berjalan ke arah nya "Masak apa hari ini, Sayang?" tanya Arfan sembari membawa Elnaz keruangan nya dan meninggalkan suster Jessy sendirian.
__ADS_1
"Dasar ABG" gerutu Suster Jessy kemudian ia pun kembali bertugas.
"El masak ikan sama sayur bening, ada empal jagung juga"
"Hem pasti enak, ada sambal nya?" tanya nya Arfan sembari dengan tidak sabar membuka kotak makan itu.
"Ada dong" jawab Elnaz sambil membantu Arfan menata makanan di meja.
Elnaz dan Arfan pun makan siang bersama, sesekali kedua nya saling melirik seperti remaja yg baru saja kasmaran.
"Nanti kita pulang bareng ya, Dek. Kakak cuma ada dua pasien lagi kok"
"He'em" Jawab Elnaz masih menikmati makan nya.
"Nanti malam, dinner di luar yuk?" ajak Arfan dan entah mengapa ajakan itu malah membuat Elnaz gugup, seperti salah tingkah.
"Boleh" Jawab Elnaz malu malu.
"Kak Elsa mau ke Jepang? Apa Kak Elsa mau jadi model di sana?" Elnaz bertanya tanya sendiri akan hal itu. Dan seketika ia teringat saat Video call dengan Arfan, Elnaz masih penasaran sebenar nya apa yg di lakukan Elsa di kamar Arfan?
Ingatan itu malah membuat hati Elnaz terasa begitu perih. Perasaan takut masuk begitu saja ke dalam hati nya, takut jika Elsa kembali merebut posisi nya saat ini.
Sementara Arfan kini kembali keruangan nya dan ia mendapati Elnaz yg melamun.
"Ada apa, Dek?" tanya Arfan sembari menghampiri Elnaz.
"Bukan apa apa" jawab Elnaz lirih. Tentu saja Arfan tak percaya melihat ekspresi Elnaz seperti itu. Arfan mengambil ponsel Elnaz dan ia juga mengernyit saat membaca postingan Elsa.
"Elsa mau ke jepang?" tanya nya.
__ADS_1
"Memang nya Kak Arfan tidak tahu?" tanya Elnaz dan Arfan menggeleng "Terus apa yg Kak Elsa lakukan di kamar kak Arfan waktu itu?" tanya Elnaz setengah berbisik. Arfan yg mendengar pertanyaan istri nya itu malah terkekeh.
"Cemburu ya?" goda Arfan
"Bukan begitu, cuma nanya saja. Kayak nya Kak Elsa sudah biasa keluar masuk kamar Kak Arfan" ujar Elnaz dan entah mengapa ia berkata dengan suara tercekat. Seolah ia merasa sakit jika apa yg dia katakan itu benar.
"Itu bukan hal yg biasa, Sayang. Kakak sudah sering menegur dia supaya sopan sedikit, sejak dulu. Apa lagi sekarang kakak ini suami mu, kakak sudah menegaskan supaya dia punya etika"
"Oh" Elnaz merespon singkat, seolah tak percaya dengan pengakuan Arfan. Hal itu malah membuat Arfan merasa gemas pada Elnaz. Ia pun berpindah posisi duduk di samping Elnaz dan mencubit pipi Elnaz dengan gemas.
"Kenapa ekspresi nya begitu? Kamu tidak percaya sama kakak, hm?" tanya Arfan lembut.
"Percaya" jawab Elnaz dingin.
"Kalau kamu percaya, coba cium sini" goda Arfan sembari menunujuk pipinya sendiri yg tentu saja membuat Elnaz terbelalak kemudian menggeleng.
"Kata dr. Claire kita harus saling percaya dan terbuka" ujar Arfan lagi.
"Tapi tidak harus cium juga kan, Kak?" tanya Elnaz jengkel.
"Ya harus, dari tadi malam cuma kakak yg cium" jawab Arfan sembari menatap Elnaz dengan begitu dalam, di tatap sedalam itu membuat jantung Elnaz berdebar dan pipi nya terasa panas "Memang nya kamu tidak mau mencium suami mu, Elnaz?" tanya Arfan dengan suara yg serak. Tatapan nya semakin berbeda, seolah ingin menenggelamkan Elnaz.
Elnaz menjadi gugup, apa lagi saat Arfan mencondongkan tubuhnya. Mendekatkan wajah nya pada Elnaz "Cium sini..." seru Arfan sembari memberikan pipi nya lebih dekat pada Elnaz.
Elnaz hanya terdiam dengan perasaan yg bergejolak, sedangkan Arfan dengan setia menunggu.
Elnaz tidak punya pilihan lain, apa lagi ia dan Arfan sama sama berkomitmen untuk melangkah maju di pernikahan mereka.
Elnaz pun mendekatkan wajah nya ke wajah Arfan dan ia mengecup singkat pipi Arfan.
__ADS_1
Dimana hal itu malah membuat perasaan Arfan juga bergejolak tak karuan, jantung nya berdebar hebat, hati nya berbunga bunga. Dan senyum lebar di bibir nya tak bisa ia sembunyikan.
Arfan seperti melayang hanya karena sebuah kecupan singkat di pipi nya "Kau gila, Fan. Ini hanya kecupan di pipi. Elnaz sudah sangat sering melakukan nya, lalu apa yg merasuki mu sekarang?"