
Pacaran, yg terbersit dalam benak seseorang saat mendengar kata pacaran adalah sepasang kekasih yg sedang di mabuk asmara. Berbagai hal manis dan romantis di lakukan bersama, tanpa ingat dengan usia.
Begitu juga dengan Arfan dan Elnaz, yg merasakan indah nya pacaran setelah menikah. Dimana kedua nya saling menunjukkan sifat posesif satu sama lain, meskipun belum ada kata cinta yg terucap dari bibir. Namun bagaimana tangan itu memeluk, dan bagaimana bibir itu mengecup, telah menyiratkan cinta yg mulai tumbuh.
Saat ini keduanya sedang berada di atas ranjang mereka dengan laptop di depan mereka, dimana di layar laptop itu menampilkan sang nenek tercinta.
"Nenek senang sekali melihat kalian bahagia seperti ini, kedua cucu tercinta nenek" seru sang nenek terharu.
"Kata siapa El bahagia, Nek?" seru Elnaz sembari memanyunkan bibir nya "Punya suami Dokter itu bikin resah, kadang pulang tengah malam, kadang sampai pagi...." rengek nya yg membuat Arfan tertawa.
"Kan suami mu ini selalu izin kalau mau lembur, Sayang" ujar Arfan sembari mengusap kepala Elnaz yg terbungkus jilbab. Karena meskipun sudah lama tinggal satu kamar dan menjadi istri Arfan, Elnaz belum sekalipun melepaskan jilbab nya di depan Arfan dan Arfan tak pernah masalah dengan hal itu.
"Nek, ada suster seksi di rumah sakit. Kak Arfan suka dekat dekat sama suster seksi itu, kasih nashet dong cucu nenek yg satu ini, biar menjaga martabat nya sebagai suami El" tukas Elnaz mengadu.
"Oh ya?" seru sang nenek melebar kan mata nya "Arfan, ingat ya. Status suami El itu amanah yg harus di jaga, jangan sampai ternoda meskipun ada ribuan suster seksi di samping mu" tegas nenek yg langsung di acungkan dua jempol oleh Elnaz.
"Siap, Nek. Semua orang tahu kalau aku itu suami nya Elnaz, karena setiap hari Elnaz mengantar makanan ke rumah sakit" ucap Arfan sembari tersenyum lebar.
"Tapi pelakor mana perduli dengan hal itu, doyan, goda. Ya kan, Nek?" tanya Elnaz lagi sembari mencebikan bibir nya.
"Sayang, kakak tidak akan pernah mau tergoda sama wanita lain. Janji...." seru Arfan meyakinkan.
"Benaran? Habis nya suster itu seksi, laki laki kan kayak kucing. Di kasih yg segar pasti lahap" ujar Elnaz lagi yg membuat Arfan dan sang nenek tertawa geli.
"Masak Princess nya dr. Arfan menyamakan dr. Arfan dengan kucing sih, hm? Princess nya dr. Arfan jauh lebih segar dari siapapun dan apapun" goda Arfan yg tentu saja membuat Elnaz tersipu namun ia mencoba menutupi nya.
"Wah, ada yg tersipu malu. Sampai sampai pipi nya merah seperti kepiting rebus..." sang nenek pun ikut menggoda.
__ADS_1
"Ih, nenek...." rengek Elnaz sembari memegang kedua pipi nya yg semakin merona itu membuat nenek dan Arfan tertawa geli.
"Mana yg merah? Biar dr. Arfan cium..." goda Arfan lagi yg membuat Elnaz semakin menempelkan telapak tangan nya di pipi.
"Ish, Kak..." rengek nya manja yg malah membuat Arfan semakin gemas dan menarik paksa tangan Elnaz agar terlepas dari pipi nya.
"Sini, kucing lagi lapar mau yg segar segar..." goda Arfan lagi kemudian ia menggelitik Elnaz, membuat Elnaz cekikikan dan melepaskan tangan nya dari pipi nya. Bahkan kedua nya sampai terjatuh di ranjang, Arfan masih terus menggelitik Elnaz dan tanpa sengaja ia sampai menindih Elnaz.
"Hey hey... Pacaran liat liat dulu, nenek masih hidup di laptop kalian" seru sang nenek kemudian yg membuat Arfan dan Elnaz langsung kembali duduk tegak, kedua nya berdeham guna menetralkan perasaan nya yg menggelora dan detak jantung nya yg berdebar hebat. Keduanya juga merapikan pakaian mereka dan menyunggingkan senyum ringisan pada nenek nya.
"Maaf, Nek" jawab Elnaz lirih, sementara Arfan malah hanya senyum senyum tidak jelas.
"Iya, untung saja sudah halal. Jadi masih termaafkan" Nenek nya berkata pura pura marah, membuat Elnaz kembali meringis.
"Ya sudah, ini sudah malam. Kalian istirahat, ya. Dan ingat, kalian disana harus saling menjaga" tegas sang nenek.
"Assalamualaikum, Nek" ujar Elnaz kemudian.
"Waalaikum salam" jawab sang nenek yg kemudian mengakhiri video call nya.
Arfan menutup laptop nya dan meletakkan nya di atas meja yg ada di disamping tempat tidur nya.
"Mumpung besok minggu dan kakak libur, kita jalan jalan ya, Dek" ajak Arfan sembari mematikan lampu kamar nya dan menyisakan lampu tidur yg bercahaya remang remang itu.
"Boleh, sekalian belanja ya, Kak. Barang barang pada habis" jawab Elnaz dan ia sendiri menarik selimut.
Arfan pun mendekat dan mengecup kening Elnaz, rutinitas yg tak pernah terlewatkan sekalipun Arfan lembur. Saat pulang, ia pasti akan selalu mengecup Elnaz meskipun istri nya itu sedang tertidur pulas.
__ADS_1
Elnaz yg mendapatkan kecupan selamat malam itu hanya bisa tersenyum, kemudian ia pun mengecup kening Arfan. Tentu karena Arfan yg meminta nya dan jika Elnaz menolak, Arfan akan mengungkit bahwa selama ini hanya Arfan yg mengecup Elnaz masak Elnaz tidak mau mengecup Arfan?
Arfan juga tidak bisa menyembunyikan senyum sumringah nya setiap kali mendapatkan kecupan hangat dari Elnaz.
Kedua nya pun tidur di sisi ranjang masing masing, karena selama ini mereka memang masih tidur dengan menyisakan jarak.
"El..." panggil Arfan lirih saat Elnaz sudah memejamkan mata, Elnaz pun membuka matanya dan menoleh. Ia mendapati Arfan yg berbaring menyamping, menghadap diri nya. Elnaz pun juga berbaring menyamping menghadap Arfan.
"Kenapa, Kak?" tanya Elnaz dengan suara lembut nya.
"Boleh kakak peluk?" tanya Arfan lirih yg langsung membuat pupil mata Elnaz melebar, terkejut dengan pertanyaan itu. Elnaz menunduk sembari menggigit bibir nya, merasa gugup sendiri.
"Tidak boleh?" tanya Arfan dan tatapan nya menyiratkan penuh harap.
"Boleh" jawab Elnaz lirih yg membuat Arfan langsung tersenyum senang.
Ia langsung menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Elnaz, menyelipkan lengan nya di bawah kepala Elnaz dan menjadikan bantal untuk istrinya itu.
"Terima kasih, Sayang. Selamat malam" ucap Arfan sembari mendekap Elnaz, membuat Elnaz merasa semakin gugup dan jantung berdebar kencang. Bahkan ia takut jika sampai Arfan mendengar detak jantung nya yg berdegup kencang itu.
Dengan ragu, Elnaz mendekatkan tubuhnya ke tubuh Arfan. Dan seketika ia bisa merasakan dada Arfan yg berdebar, membuat Elnaz terkejut dan ia langsung mendongak menatap Arfan, Arfan pun menunduk sehingga tatapan kedua nya bertemu. Arfan hanya menyunggingkan senyum samar, mengelus pipi Elnaz dengan tangan nya yg bebas dan sekali lagi mengecup kening Elnaz.
Elnaz kembali menunduk, menyembunyikan wajah nya di dada Arfan yg masih berdebar.
Sementara Arfan yg tahu Elnaz bisa merasakan detak jantung nya hanya bisa mengulum senyum. Ia sendiri merasa heran, kenapa saat bersama Elnaz detak jantung nya bisa berkali kali berdetak lebih cepat di bandingkan saat bersama Elsa dulu. Perasaan hangat juga selalu melingkupi nya, dan ia merasakan kebahagiaan dan kenyamanan yg tak bisa ia lukiskan dengan kata kata.
"Mungkin karena hubungan ku dan Elnaz adalah suami istri, terikat pernikahan. Berbeda dengan status pacaran dengan Elsa dulu, terima kasih ya Allah. Ternyata pacaran setelah menikah jauh lebih indah dan berkesan"
__ADS_1
Elnaz dan Arfan sama sama memejamkan mata, menikmati kehangatan satu sama lain.