
Jimmy menjemput Elsa di bandara, dan tentu Jimmy sangat senang dengan kedatangan kembali Elsa ke Jakarta apa lagi Elsa mengatakan akan tinggal di Jakarta dan akan bekerja di sana.
"Aku benar benar senang, Sa..." ujar Jimmy.
"Terima kasih, Jim. Maaf karena aku merepotkan, karena jujur saja aku belum punya teman. Sementara Olga sedang sibuk kata nya" ujar Elsa sungkan.
"Santai saja, Sa. Aku adalah teman menyenangkan yg tidak takut di repotkan..." jawab Jimmy sambil tertawa renyah, membuat Elsa juga tertawa, meskipun sebenarnya hati nya gelisah saat mengingat kedua orang tua nya yg ia tinggalkan begitu saja.
Namun ini adalah keputusan Elsa, dan Elsa yakin ia pasti bisa membuat kedua orang tua nya bangga pada nya suatu hari nanti dan kedua orang tuanya itu pasti bisa menerima keinginan Elsa.
.........
Elnaz merasa sangat senang karena ia di terima di kampus, selain itu Andy juga sudah ada di Jakarta dan Andy juga di terima di kampus itu.
Arfan juga sudah mengurus semua keperluan kuliah Elnaz sehingga istri kecil nya itu tinggal menjalani nya saja.
"Oh ya, Sayang. Nanti di kampus kamu harus bisa jaga diri lho ya, jangan sampai kepincut sama mahasiswa yg baru baligh..." ujar Arfan yg membuat gelak tawa Elnaz langsung pecah.
"Kak Arfan ada ada saja, El kan cinta nya sama kak Arfan, kepincut nya cuma sama Kak Arfan. Jadi tenang saja ya...." jawab Elnaz.
Saat ini kedua nya baru selesai berbelanja beberapa keperluan Elnaz untuk kuliah, sepatu, buku, tas dan yang lain nya.
"Iya, aku tahu, Elnaz sayang. Aku cuma mengingatkan, kamu itu milik kakak, tidak boleh di sukai dan di sukai orang lain"
"Wih, posesif betul, hm...." Elnaz mencubit gemas pipi suami nya "Jadi makin cinta..." ucap nya lagi yg membuat Arfan terkekeh.
"Mau belanja apa lagi nih?" tanya Arfan kemudian karena kini kedua tangan Elnaz dan Arfan sudah penuh dengan belanjaan nya mereka.
"Sudah, pulang yuk...." ajak Elnaz karena ia harus memperhatikan pengeluaran mereka sekarang, karena setelah ini tugas Arfan akan lebih berat dalam membiayai Elnaz dan Elnaz harus pandai menjadi istri agar tak boros.
__ADS_1
"Makan dulu, Sayang...." ujar Arfan.
"Makan di rumah saja, Kak. Lebih irit" jawab Elnaz yg membaut Arfan tersenyum simpul.
"Ya sudah, masakan mu memang lebih enak..."
.........
Sesampai nya di rumah, Elnaz langsung membawa belanjaan nya ke kamar nya. Setelah itu Elnaz mengganti pakaian nya dengan daster selutut dan ia mencepol rambut nya asal.
Sementara Arfan sedang mempersiapkan bahan masakan di dapur.
"Masak apakah hari ini? Masak tempe bacem dan ayam goreng" seru Elnaz sudah seperti beriklan saja dan itu berhasil membuat Arfan tertawa geli.
"Ada ada saja kamu ini..."
"Kak..." seru Elnaz sembari mempersiapkan bumbu untuk ayam goreng nya.
"Menurut Kak Arfan, Kak Elsa kemana?" tanya Elnaz dengan suara rendah, ia sungguh tak ingin membahas mantan tunangan suami nya itu tapi apalah daya, mantan sang suami juga adalah kakak kandung Elnaz sendiri sehingga saat mendengar kabar sang kakak yg kabur dari rumah membuat Elnaz juga khawatir sebenarnya. Hati kecil nya tak bisa di bohongi bahwa ia masih menyayangi saudari nya.
Karena sebelum Elsa menjadi mantan sang suami yg menyebalkan, dahulu nya Elsa adalah kakak yg sangat Elnaz sayangi.
"Entahlah, Sayang. Aku juga tidak habis fikir dengan kelakuan kakak mu itu" ujar Arfan santai.
"Kakak ku mantan mu.." tukas Elnaz kemudian yg membuat Arfan langsung melirik sang istri.
"Ehem ehem, masa depan saja yg di bicarakan, Sayang..." ujar Arfan lagi karena ia takut Elnaz kembali marah atau bersikap dingin lagi pada nya hanya gara gara mantan nya adalah kakak ipar nya.
"Iya, sekarang kita kan lagi membicarakan kakak ku, Sayang. Aku khawatir saja, dia itu sekarang ada dimana, sama siapa, dan kenapa sampai melawan Papa Mama. Padahal kan selama ini mereka sangat sayang sama Kak Elsa..." tutur Elnaz, sementara Arfan yg mendengar penuturan istrinya itu hanya tersenyum simpul.
__ADS_1
Arfan tidak terkejut dengan kepergian Elsa dari rumah nya demi ambisi nya, karena sebelum nya Elsa pernah melakukan hal yg lebih besar, yaitu meninggalkan sebuah pernikahan.
"Sayang, itu nama nya ambisi, rela melakukan apa saja demi mendapatkan nya, tapi terlalu berambisi seperti itu sangat tidak baik..." ujar Arfan lagi.
Dalam hati kecil nya Arfan merasa bersyukur, sangat bersyukur karena ia tidak menikahi Elsa yg kepala batu dan ambisius. Bahkan Arfan sendiri bingung bagaimana dulu ia bisa mencintai Elsa dan menjalani hubungan selama 8 tahun. Padahal Arfan sudah tahu dari dulu sifat buruk mantan tunangan nya itu.
Seandainya sekarang Elsa adalah istri nya, entah bagaimana cara nya Arfan mengalahkan keras kepala nya itu.
Arfan menatap Elnaz yg saat ini sudah merebus ayam yg akan di goreng, kemudian istri mungil nya itu memasukkan bumbu, garam dan yg lain nya.
Tangan mungil Elnaz bergerak dengan lincah, sementara raut wajah nya tampak berseri bahkan bibir nya juga tampak menyunggingkan senyum. Elnaz tampak sangat bahagia.
"Ya Tuhan, jika pun dia hanyalah pengganti, tapi dia adalah permata murni. Lebih murni dari yg tergantikan, bodoh nya aku yg tak jatuh cinta pada dia sejak dulu, kemana mata hati ku sejak dulu? sampai sampai hanya menganggap dia adik padahal dia layak lebih dari itu. Jika dia sampai di miliki orang lain, aku pasti sangat iri" seru batin Arfan dan tiba tiba ia langsung memeluk Elnaz. Membuat Elnaz yg Saat ini sedang mengaduk ayam nya itu tersentak kaget dengan pelukan tiba tiba sang suami.
"Kenapa, Kak?" tanya Elnaz lembut sembari mengusap lengan Arfan yg melingkar erat di perut nya.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena sudah mencintai ku, terima kasih sudah menerima ku sebagai suami mu" lirih Arfan yg membuat Elnaz mengernyit bingung. Ia pun berbalik badan hingga menghadap suami nya yg sangat tampan itu.
"Kak Arfan kenapa?" tanya Elnaz sembari menatap Arfan dengan mata yg melebar, membuat Elnaz semakin cantik di mata Arfan.
"Tidak apa apa, kakak mencintai mu, My precious" ungkap Arfan yg membuat Elnaz merona.
"I love you more" ucap Elnaz "Tapi kenapa tiba tiba romantis begini? Kak Arfan ada menyembunyikan sesuatu ya?" tuduh Elnaz yg membuat Arfan langsung menarik hidung Elnaz dengan gemas hingga hidung istri nya itu memerah dan tentu saja Elnaz langsung memberengut.
"Kakak cuma baru sadar, betapa berharga nya dirimu, Sayang. Kakak sangat bersyukur karena Allah memilih mu untuk menjadi istri ku..." Elnaz tersenyum simpul mendengar ucapan sang suami, dan tentu ia juga sangat senang karena mendapatkan pengakuan yg sangat istimewa dari suami nya.
"El juga sangat bersyukur, karena kakak menjadikan El istri kakak"
"Sepertinya kita memang di takdir kan berjodoh, Sayang"
__ADS_1
"Aamiin. Semoga jodoh sampai surga nanti"
"Aamiin, Insya Allah..."