
Jika biasanya Elnaz yg berada dalam dekapan Arfan, kali ini Arfan lah yg berada dalam dekapan Elnaz. Pria yg sedang jatuh cinta pada istrinya sendiri itu terlihat sangat manja pada istri nya, ia meringkuk dalam pelukan tubuh mungil sang istri.
"Pelukan mu hangat sekali, Sayang" lirih Arfan dan ia menyeruakan wajah ceruk leher Elnaz, menghirup aroma sang istri yang selalu membuat nya merindu. Sementara sang istri yg mendengar pernyataan suaminya itu hanya terkekeh dan semakin mendekap nya dengan erat.
"Pelukan kakak juga hangat..." Elnaz menjawab dengan polos nya yg juga membuat Arfan terkekeh.
"Jangan lepasin kakak dari pelukan mu ya, sampai besok pagi. Itu hukuman mu karena sudah berantakin rumah..." pinta Arfan lagi dan Elnaz menjawabnya dengan menghujani pucuk kepala Arfan dengan kecupan nya, ia juga mengelus kepala Arfan dengan lembut membuat Arfan tersenyum dan semakin mendesakan tubuh nya ke tubuh sang istri.
Perlahan Arfan menutup matanya, ia tak bohong saat mengatakan pelukan sang istri begitu hangat. Karena memang benar ada nya, tak hangat hangat pelukan itu juga begitu nyaman hingga dengan mudah bisa mengantar Arfan ke alam mimpi nya.
Elnaz kembali mengecup pucuk kepala suaminya itu kini tengah terlelap, ekspresi wajahnya kian berubah menjadi serius.
"Aku harus berubah dan tidak selalu terpengaruh pada Kak Elsa..." gumam Elnaz, Arfan benar, sisi Elnaz yg bengis dan penuh amarah seperti tadi pagi tak pernah ada sebelumnya "Kak Arfan suami ku, dan Kak Elsa harus menghormati pernikahan kami"
Elnaz pun kembali membelai rambut Arfan dan perlahan ia juga memejamkan mata saat rasa kantuk mulai menyapa nya. Namun sebelum tidur, Elnaz memberikan kecupan selamat malam nya di kening sang suami dengan mesra.
.........
Setelah makan malam, Jimmy mengantar Elsa kembali ke hotel menggunakan mobil nya. Dan saat Elsa hendak turun, Jimmy hendak mencium bibir Elsa tapi Elsa menghindari nya.
"Maaf... Aku tidak bisa..." seru Elsa dan Jimmy tampak sangat kecewa namun ia tetap tersenyum dan mengangguk mengerti.
"Aku yg minta maaf, itu terlalu cepat..." ujar Jimmy. Elsa hanya tersenyum simpul dan ia pun bergegas keluar dari mobil Jimmy, Elsa melambaikan tangan nya pada Jimmy sebelum akhir nya ia memasuki hotel nya dan segera bergegas ke kamar nya.
Di kamarnya, Elsa langsung melempar kesal hand bag nya saat mengingat Jimmy hampir saja mencium bibir nya.
"Dasar cabul, Arfan saja tidak pernah melakukan itu..." kesal Elsa.
Ia pun bergegas ke kamar mandi dan segera membersihkan diri, setelah nya ia pun langsung merebahkan diri nya di ranjang.
__ADS_1
Elsa mengambil ponsel nya dan membuka galeri, melihat foto dan video kenangan nya bersama Arfan dulu.
Tanpa terasa air mata Elsa menetes begitu saja, ia sangat merindukan Arfan. Tak pernah Elsa bayangkan ia akan kehilangan Arfan dengan cara seperti ini dan sekarang yg memiliki Arfan adalah adik nya sendiri.
Elsa meletakkan ponsel yg masih menampilkan gambar Arfan itu di dada nya, perlahan Elsa menutup mata meskipun air mata masih setia mengalir hingga memabasahi bantal nya.
"Aku merindukanmu, Fan..."
.........
Keesokan pagi nya, Arfan mengganti perban di tangan dan kaki Elnaz. Tak lupa ia juga mengobati nya dan menasihati Elnaz agar tidak banyak bergerak dan hanya tetap di ranjang saja sampai Arfan pulang. Sementara untuk bersih bersih rumah, seperti nya Arfan akan kembali memanggil jasa cleaning services dan Untuk memasak dia akan melakukan nya sendiri nanti.
"Maaf ya, Sayang..." seru Elnaz untuk yg kesekian kalinya, begitulah Elnaz, hati nya begitu lembut dan mudah sekali merasa bersalah. Ia terus meminta maaf karena sudah sangat merepotkan Arfan dan bahkan merugikan nya.
"Nanti malam peluk kakak lagi sampai pagi, baru kakak akan memaafkan mu" jawab Arfan sembari tersenyum lebar. Ia mengembalikan obat obatan nya ke dalam laci "Kalau bosan, nonton tv atau bisa juga telepon nenek. Dan buku buku mu..." Arfan mengeluarkan beberapa buku dari rak buku nya Elnaz kemudian meletakkan nya di meja di samping tempat tidur "Baca saja itu, kalau ada apa apa, langsung telpon kakak ya, Sayang..."
"Bibir mu seperti morfin saja, Sayang..." ujar Arfan serak sembari mengusap bibir Elnaz yg basah, membuat pipi Elnaz merona.
"Kira kira jam berapa pulang nya?" tanya Elnaz
"Sebelum jam 4, Insya Allah"
"Okey, kakak hati hati ya"
"Pasti, kamu juga hati hati di rumah"
.........
Setelah Arfan pergi, Elnaz benar benar hanau rebahan di ranjang sembari bermain ponsel, kemudian menonton tv yg di lanjutkan membaca buku. Namun itu tak bisa mengurangi kebosanan nya.
__ADS_1
Elnaz pun mencoba turun dari ranjang, ia bisa berjalan namun telapak kakinya terasa perih Elnaz langsung kembali ke ranjang karena ia tak ingin membuat luka nya semakin parah. Dimana hal itu justru malah akan semakin merepotkan Arfan.
Ponsel Elnaz berdering, membuat Elnaz merasa senang karena ia fikir suaminya yg menelepon nya. Namun saat melihat layar ponsel nya yg sudah menyala, nama Mama tertera di layar ponsel nya. Elnaz pun juga merasa sangat senang dan ia dengan antusias menjawab panggilan ibunya itu.
"Assalamualaikum, Ma..." sapa nya riang.
"Waalaikum salam, El. Kamu di rumah?" tanya sang Mama.
"Iya, Ma" jawab Elnaz masih dengan riang dan senyum lebar di bibir nya.
"Kata Elsa, Arfan banyak berubah dan bahkan mengabaikan nya. Arfan juga tidak mau menjemput Elsa di bandara, kamu pasti melarang Arfan ya?" seketika senyum Elnaz langsung pudar dan kini hanya terdapat raut kesedihan di wajahnya atas tuduhan sang ibu.
"Ma, El bukan nya...."
"El, sebaiknya kamu jangan seperti itu. Bagaimana pun juga Elsa itu kan masih kakak mu, masih adik sepupunya Arfan juga. Jadi seharusnya kamu bisa mengerti itu, kan kasian kakak mu, El. Harus ke hotel sendirian dari bandara"
Elnaz hanya bisa menelan saliva nya dengan susah payah mendengar ocehan sang ibu yg sungguh menyayat hati. Entah sampai kapan Elnaz akan selalu di anak tirikan sementara Elsa akan selalu di anak emaskan.
Elnaz ingin menjawab semua tuduhan ibunya itu namun suara nya sudah tercekat di tenggorokan nya, bahkan matanya sudah teras panas dan rabun.
"El, kamu mendengarkan Mama kan?" seru Mama nya kesal.
"I..iya, Ma.." jawab Elnaz sembari mengucek mata nya.
"Orang tua bicara itu di dengar kan to Ndok..." seru sang Mama lagi.
Elnaz tak dapat menahan air matanya lagi, apa lagi saat Mama nya malah memutuskan sambungan telepon nya.
"Ini juga salah ku?" tanya Elnaz pada dirinya sendiri, entah mengapa semua hal menjadi salah Elnaz dan Elsa tidak pernah salah.
__ADS_1