
Elnaz sangat panik saat mendapatkan kabar kalau nenek nya sakit bahkan sampai masuk rumah sakit.
Elnaz juga berusaha menghubungi Elsa untuk memberi tahu hal itu namun Elsa tidak menjawab panggilan Elnaz sekalipun, Elnaz terus mencoba menghubungi Elsa namun hasil nya sama.
Sementara itu, Arfan juga mendapatkan kabar itu dari Mama nya.
"Bawa Elnaz pulang ya, Fan. Ibu sangat parah, Fan. Denyut nadi nya sangat lemah, sebaiknya kalian pulang. Takutnya nenek kalian kenapa napa"
Itulah yg di katakan Bu Yuni, yg membuat Arfan langsung memesan dua tiket pesawat ke Surabaya.
Sesampainya di rumah, Arfan langsung di sambut wajah cemas Elnaz.
"Kata Papa, nenek masuk rumah sakit" lirih Elnaz dan air mata langsung menetes begitu saja dari pelupuk mata nya.
"Iya, kamu siap siap. Kita ke bandara sekarang, kakak sudah pesan tiket" ujar Arfan sambil menutup semua jenderal dan pintu.
"Apa sakit nya parah?" tanya Elnaz lagi.
"Semoga saja tidak, El. Sudah, kamu jangan cemas" pinta Arfan dan Elnaz hanya bisa menangis.
Sejak beberapa beberapa hari yg lalu nenek nya memang sudah sakit, usia nya juga sudah tua, hal itu membuat Elnaz sangat cemas.
.........
Di rumah sakit, Pak Malik dan Bu Yuni duduk di samping sang ibu yg kini sudah tak bisa membuka mata lagi. Namun ibu nya itu masih menggumam dan masih bisa mendengar.
"El...sa" gumam nya.
Ia memang sering menggumamkan nama Elsa, hal itu tentu membuat anak anak nya sedikit bingung. Mereka semua tahu ibu mereka sangat mencintai Elnaz. Elnaz lah cucu kesayangan nya namun entah mengapa sejak tadi ibu nya itu terus menggumamkan nama Elsa dan Elsa.
"Ibu..." Panggil Pak Malik berbisik di telinga sang ibu.
"El...sa" gumam ibu nya lagi.
"Lik, kamu sudah telpon Elsa?" tanya Bu Yuni "Sejak tadi ibu terus menggumamkan nama dia"
"Sudah, Yun... Tapi dia tidak menjawab nya, mungkin sibuk" jawab Pak Malik.
__ADS_1
"sesibuk apa sih dia? sampai menjawab telpon yang hanya dua menit saja tidak sanggup" gerutu Yuni.
.........
Elnaz dan Arfan di jemput Pak Adi di Bandara, dan setelah itu mereka langsung menuju rumah sakit. Pak Adi menyetir dengan kecepatan penuh, apa lagi saat melihat Elnaz yg tampak sangat panik.
"Kenapa nenek tidak di bawa kerumah sakit sejak dulu, Pa?" tanya Elnaz.
"Soal nya Ibu cuma demam biasa, El. Tapi tiba tiba tadi pagi ibu tidak bangun lagi setelah sarapan" ujar Pak Adi.
"Sayang, inysa Allah Nenek akan baik baik saja. Kamu jangan khawatir, ya" ujar Arfan walaupun ia sendiri sebenar nya juga sangat khawatir dan cemas.
''Elsa tidak ikut pulang? sejak tadi ibu terus memanggil Elsa "tukas Pak Adi lagi.
"Mungkin Kak Elsa akan menyusul nanti" jawab Elnaz padahal ia sendiri masih tidak bisa menghubungi kakak nya itu.
"Baguslah" gumam pak Adi.
Sesampai nya di rumah sakit, Elnaz, Arfan dan Pak Adi langsung berlari mencari kamar rawat nenek nya.
"Nenek..." Elnaz duduk di samping sang nenek, ia menggenggam tangan keriput nenek nya yg terasa begitu dingin.
"Nenek, ini El..." bisik Elnaz.
"El..." gumam sang nenek.
"Iya, ini Elnaz, Nek..."
Sudut Bibir Nenek nya itu tertarik sehingga membentuk sebuah senyum samar.
Namun detik selanjutnya nafas nya semakin memberat dan terputus putus, membuat semua orang panik dan langsung memanggil Dokter.
Dokter pun datang dan ia meminta semua keluarga Elnaz untuk keluar, sementara ia bersama dengan beberapa suster segera mengecek keadaan sang nenek.
Elnaz mengintip dari kaca yg ada di pintu dengan berderai air mata, dalam Hati ia terus mendoakan sang nenek supaya baik baik saja.
Terlihat Dokter yg menggunakan alat pacu jantung pada nenek Elnaz selama beberapa kali, namun kemudian Dokter dan Suster itu tampak menyerah.
__ADS_1
Dokter keluar dan menemui keluarga Elnaz, dari raut wajah sang Dokter, mereka sudah menduga bahwa Doktor itu membawa kabar buruk.
"Tidak mungkin..." lirih Elnaz dan air mata nya tumpah dengan sangat deras.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha sebaik mungkin tapi kami tidak bisa menyelamatkan pasien" ucap Dokter itu yg membuat tangis keluarga Elnaz benar benar pecah.
Terutama Bu Yuni dan Pak Malik selaku anak anak nya, mereka menangis histeris.
Bu Yuni langsung berlari ke dalam dan ia memeluk tubuh sang ibu yg telah tak bernyawa. Pak Adi datang dan merangkul istri nya itu yg terus menangis meraung.
Pak Malik juga menangis namun ia berusaha meredam tangis nya, ia menciumi kening dan pipi sang ibunda. Bu isna juga tak bisa menahan air mata nya, ia hanya bisa memeluk suami nya yg tampak sangat terpukul.
Sementara Elnaz dan Arfan menangis dalam diam, Elnaz menatap wajah pucat sang nenek yg telah merawat nya, mengasihi nya sepenuh hati.
Elnaz berjalan pelan mendekati tubuh tua, keriput dan sudah tak bernyawa itu.
Terbayang kembali dalam benak Elnaz masa masa ia bersama sang nenek, saat nenek nya mengajari nya sholat, mengaji.
Saat nenek nya memarahi Elnaz saat Elnaz bermain di tanah sewaktu anak anak dulu. Dan saat menginjak remaja, sang nenek akan sangat marah jika Elnaz pulang terlambat.
Elnaz juga teringat dengan nasehat nasehat bijak yg di berikan sang nenek untuk di jadikan bekal hidup Elnaz dalam menghadapi segala bentuk perjuangan yg harus Elnaz perjuangkan.
Elnaz menggenggam tangan keriput yg telah menggendong nya sewaktu kecil, menghapus air mata Elnaz saat Elnaz bersedih, memeluk Elnaz saat Elnaz menangis. Elnaz mencium tangan keriput itu, yg selalu membelai kepala Elnaz dengan sayang, dan juga yg menjewer Elnaz saat Elnaz nakal.
Elnaz menatap wajah pucat nan keriput itu, wajah teduh yg selalu menenangkan Elnaz saat Elnaz gundah. Elnaz mencium kening sang nenek yg telah berperan sangat besar dalam hidup Elnaz.
Hati Elnaz terasa sakit, sesak, dan bahkan untuk bernafas pun terasa begitu sulit.
Jika Elnaz boleh jujur, ia tidak mau, tidak sanggup dan tidak bisa mengikhlaskan kepergian sang nenek. Elnaz tidak bisa kehilangan kasih sayang nya, Elnaz tidak bisa jika tak mendengar suara parau nya lagi.
Sekarang Elnaz sudah sendiri, tak ada lagi sang nenek yg akan menggoda nya dan Arfan.
Tak ada lagi sang nenek yg akan memberi nya nasehat dalam berumah tangga.
Air mata Elnaz semakin deras tak terkendali, dada nya semakin sakit dan sesak. Nafas nya semakin berat, hingga perlahan pandangan nya begitu buram, kepala nya terasa berat dan semua nya menjadi begitu gelap.
Sayup sayup Elnaz mendengar suara Arfan yg memanggil nya, namun Elnaz tak kuasa membuka mata apa lagi menjawab panggilan sang suami.
__ADS_1