(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Promo Author Sisca Nasty


__ADS_3

Maaf, gaess. Numpang promo lagi. He he. 😘😘😘😘


Penulis : Sisca Nasty


Judul : Unperfect Wife


Cuplikan ...


*Pesta mewah itu di adakan di hotel bintang lima. Tamu yang datang rata-rata rekan bisnis dan orang terdekat Alex. Bahkan Alex juga mengundang wartawan agar pengumuman yang ia sampaikan nanti diberitakan di media. Alex memang serius dengan apa yang ia katakan. Ia ingin memberitahu seluruh dunia kalau Lara adalah istrinya. Satu-satunya wanita yang kini sangat ia cintai.


“Kenapa aku terus saja kepikiran dengan wanita yang bunuh diri tadi ya. Apa benar wanita itu bukan Fiona? Jika memang bukan, seharusnya aku senang. Tetapi, bagaimana kalau wanita yang bunuh diri itu benar Fiona? Apa aku terlalu jahat?” Lara berjalan dengan wajah murung. Kepalanya menunduk saat mereka menuju ke lokasi pesta.


“Sayang, ada apa?” Alex menahan langkah kakinya. Ia menarik dagu Lara agar wanita itu memandang wajahnya. Lara yang tiba-tiba saja kaget segera melangkah mundur.


“Kenapa Kak Alex berhenti?” tanya Lara.


“Apa kau sakit?” Alex mengeryitkan dahi.


Lara menggeleng. “Gak, Lara sehat.”


“Ayo kita masuk.” Alex memberikan lengannya agar Lara mau menggandengnya. Lara hanya menurut tanpa mau protes. Ia ingin segera masuk dan segera mengakhiri balas dendamnya ini.


Alex dan Lara muncul dengan bergandengan tangan hingga membuat beberapa wanita merasa iri melihat Lara. Lara melempar senyum kepada tamu undangan yang sudah hadir. Para wartawan belum diperbolehkan masuk, maka dari itu Lara masih sedikit lega.


“Aku tidak mau rencanaku sampai gagal. Malam ini aku harus berhasil,” gumam Lara di dalam hati. “Alex Moritz, bersiaplah menerima kekalahan. Aku harap dia tidak pingsan ketika mengetahui apa yang sudah aku persiapkan untuknya.”


“Sayang, bagaimana? Apa kau suka dengan dekor pestanya?” tanya Alex dengan penuh rasa bangga. 

__ADS_1


Lara memperhatikan dekorasi pesta yang serba gold itu. Ada bunga mawar putih di setiap meja para tamu undangan. Makanan dan minuman tertata rapi untuk melengkapi pesta mewah tersebut. Sebenarnya Lara sama sekali tidak tertarik dengan dekorasi pesta itu. Semahal apapun uang yang di bayar Alex untuk mempersiapkan acara malam ini, Lara sama sekali tidak peduli. Namun, untuk menyakinkan Alex. Ia harus terlihat tersanjung dengan apa yang tersaji di depan matanya.


“Kak, ini terlalu berlebihan. Lara tidak pantas diperlakukan semewah ini,” jawab Lara dengan kedua mata berbinar.


“Sayang, kau jauh lebih berharga dari segalanya. Mulai sekarang, kaulah hartaku. Hanya kau yang akan aku prioritaskan sekarang, Lara.”


“Tuan Alex, senang bertemu anda malam ini,” ucap seorang pria. Pria itu menggandeng wanita yang seumuran dengannya. Dari apa yang terlihat, Lara menyimpulkan kalau pria yang ada di depannya ini sudah beristri. Namun, wanita yang bersamanya bukanlah istrinya.


“Baik, Tuan. Selamat bersenang-senang. Saya harap anda menikmati pestanya,” jawab Alex dengan senyuman ramah.


“Apa dia Nona Fiona?” tanya pria itu dengan wajah penasaran.


Wajah Alex memerah ketika mendengar pertanyaan pria itu. Memang sebagian besar pembisnis yang bekerja sama dengan Alex sudah tahu hubungan Alex dan Fiona. Namun, mereka tidak pernah tahu bagaimana wajah Fiona.


“Bukan. Ini Lara. Istri saya. Hubungan saya dan Fiona sudah berakhir,” jawab Alex.


Lara hanya bisa tersenyum tanpa tertarik untuk menjawab. Ia melirik jam ada di dekatnya. Wajahnya terlihat tidak tenang. “Kak Bi, di mana dia? Kenapa dia belum muncul? Bagaimana kalau Kak Bi tidak muncul malam ini?” gumam Lara di dalam hati.


“Sayang, apa kau masih suka makanan manis? Di sini ada banyak donat yang di buat oleh koki ternama,” tawar Alex.


“Gak, Kak. Lara pengen ke toilet sebentar.” Lara melepas rangkulannya di tangan Alex dan segera melangkah menuju toilet yang ada di ujung lorong. Langkahnya terlihat sangat cepat karena Lara ingin segera menelepon.


Lara berdiri di depan cermin dengan wajah bingung. “Bagaimana ini? Kenapa Kak Bi gak muncul-muncul. Acaranya sebentar lagi di mulai,” gumam Lara panik. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas dan menghubungi Walter. Jelas saja Lara tidak berani menghubungi Fabio secara langsung karena ada rasa segan. Bahkan saat meminta tolong agar Fabio mau datang ke pesta malam ini, Lara hanya berani lewat telepon. Sejak kejadian makan malam gagal itu, Lara belum ada bertemu dengan Fabio lagi. 


Alex mengetuk pintu untuk menjemput Lara. “Sayang, apa kau sudah selesai?”


Lara memejamkan mata sejenak dan mengatur napasnya. “Bentar, Kak,” teriak Lara dari dalam.

__ADS_1


“Baiklah,” jawab Alex.


Lara kembali menekan nomor Walter, ia berharap pria itu segera mengangkat teleponnya dan memberi tahu di mana Fabio berada sekarang. Lagi-lagi terdengar suara ketukan pintu. Lara memasukkan ponselnya ke dalam tas. “Aku akan pikirkan caranya nanti.” Ia berjalan ke arah pintu.


Lara menarik pintu tersebut dengan bibir tersenyum. “Maafkan Lara Kak-” Lara mematung. Tadinya ia pikir orang yang mengetuk pintu itu adalah Alex. Tidak di sangka, pria yang sejak tadi ia tunggu-tunggu kini sudah ada di depan matanya. “Kak Bi?”


“Apa aku telah membuatmu menunggu lama, Chubby?” Fabio berdiri dengan ekspresi dingin dan menatap penampilan Lara dengan tatapan tidak terbaca. Apa pria itu suka atau tidak. Satu tangannya di masukkan ke dalam saku. Malam itu Fabio mengenakan jas hitam dengan kemeja hitam juga di dalamnya. Dua kancing kemejanya sengaja di buka. Penampilan Fabio sangat keren malam ini.


“Kak Bi, maafkan Lara karena sudah merepotkan Kak Bi malam ini.”


Fabio mengeluarkan tangannya dari dalam saku. Tanpa mau banyak bicara, pria itu merangkul pinggang ramping Lara. “Ayo kita temui pria itu. Aku ingin menjadi orang pertama yang nantinya mengucapkan selamat atas keberhasilanmu, Chubby.”


Fabio membawa Lara menuju ke lokasi pesta. Pria itu tidak peduli dengan apa yang terjadi nantinya. Di dalam pikiran Fabio, ia harus bisa membantu Lara untuk balas dendam dan membuat Lara kembali bahagia.


Setibanya di lokasi pesta, semua tamu undangan memandang ke arah Fabio dan Lara. Mereka semua bingung melihat tingkah laku Lara. Jelas-jelas tadi wanita itu datang bersama Alex. Bahkan Alex sendiri sudah memperkenalkan Lara sebagai istrinya dengan beberapa rekan terdekatnya. Tapi kini, justru Lara muncul dengan pria lain. Bahkan terlihat jauh lebih mesra dibandingkan bersama Alex tadi.


Dari kejauhan, Alex menatap Lara dengan wajah cemburu. Pria itu segera meletakkan gelas kristal yang sempat ia genggam. Langkahnya sangat cepat. Bahkan ia sudah tidak sabar memukul pria yang sudah lancang menggandeng istrinya. Wanita yang tadinya ia pikir akan menjadi miliknya seorang.


“Lara, siapa dia?” tanya Alex dengan wajah tidak suka. Kedua matanya fokus pada tangan Fabio yang kini melingkar di pinggang ramping Lara.


Lara tersenyum manis. “Kak Alex, perkenalkan. Ini Kak Bi. Tunangan Lara.”


.........


Penasaran?


__ADS_1


__ADS_2