
Arfan menepati janji nya untuk pulang sebelum jam 4 sore, dan Arfan mendapati istrinya itu yg sedang tertidur dan seperti nya ia sudah membaca semua buku buku itu.
Arfan mengelus kepala sang istri dan kemudian ia mengecup kening nya dengan mesra.
"Nyenyak banget sih, Sayang. Lagi mimpiin aku ya..." bisik Arfan yg membuat Elnaz menggeliat terganggu namun tak membuat nya bangun dari tidurnya. Arfan hanya terkekeh melihat itu "Bahkan saat tidur seperti ini kamu tetap cantik, Sayang..." gumam nya dan kini ia pun mengecup pipi sang istri. Kemudian Arfan bergegas mengganti pakaian nya dan ia bersiap untuk memasak.
Di dapur, Arfan mengeluarkan daging dan buah alpuket. Hari ini ia berencana membuat daging saos teriyaki dan jus alpukat, kedua menu itu pasti membuat istri nya senang.
Saat Arfan mulai menyiapkan bahan bahan masakan nya, terdengar suara bel pintu dari depan. Arfan pun bergegas membukakan pintu dan ia terkejut melihat Elsa ada di sana, menyunggingkan senyum lebar pada nya.
"Kebetulan sekali kamu datang ke sini, Sa..." seru Arfan dan ia tampak menahan kekesalan nya mengingat apa yg terjadi kemarin karena Elsa.
"Memang nya ada apa?" tanya Elsa masih dengan senyum sumringah nya "Oh ya, aku belikan kalian pudding. Rasanya enak, Elnaz dimana?"
"Tidak usah sok baik..." tegas Arfan tiba tiba yg langsung membuat hati Elsa terkesiap, apa lagi ia melihat kemarahan yg terpendam di mata Arfan.
"Kamu bicara apa sih, Fan?" tanya Elsa heran.
"Pesan apa yg kamu kirim kemarin, huh? Kamu mau menghancurkan pernikahan ku dengan Elnaz?" tanya Arfan setengah berteriak, mengingat bagaimana Elnaz sangat marah dan sedih karena pesan yg tak pantas itu membuat Arfan benar benar tidak habis fikir dengan mantan tunangan nya ini.
"Fan, tega nya kamu bicara seperti itu..." Elsa juga berteriak marah "Sedikitpun tidak pernah terbersit dalam benak ku untuk menghancurkan pernikahan kalian"
"Lalu pesan apa yg kamu kirim kemarin? Mengundang ku menemui mu di hotel? Dan kamu mengungkit masa lalu kita?" Elsa seketika terdiam dan ia menundukkan kepala nya, wajahnya terlihat sedih bahkan matanya berkaca kaca.
"Aku cuma merindukan mu, Fan. Itu saja..." lirih Elsa sedih.
"Merindukan ku?" desis Arfan sembari tersenyum miring "Kamu sudah kehilangan hak mu untuk merindu ku, Sa. Ingat status kita sekarang, hanya sepupu dan bahkan kamu itu adik ipar ku. Aku suami adik mu, dan pesan mu itu sangat menjijikan, Sa..."
__ADS_1
"Apa nya yg menjijikan sih, Fan?" Elsa kembali berteriak marah mendengar ucapan Arfan yg menyayat hati nya itu "Aku hanya merindukan mu, aku hanya mengungkapkan kerinduan ku. Apa aku salah?"
"Salah besar..." teriak Arfan dengan emosi yg memuncak.
Bahkan teriakan nya itu sampai terdengar ke kamar Elnaz, membuat Elnaz yg tertidur langsung terbangun karena terganggu.
Elnaz berusaha duduk sembari mengucek mata nya, ia melihat pintu kamarnya yg terbuka lebar.
"Kak Arfan..." seru Elnaz sembari berusaha turun, ia berjalan berjinjit dan sesekali ia meringis saat merasakan perih di telapak kaki nya.
Sementara di bawah, Elsa tak bisa membendung air matanya karena Arfan membentak nya.
"Yang kamu lakukan itu salah besar, Sa. Aku sudah menikah dan seharusnya kamu tahu diri, siapa kamu sekarang dan siapa aku sekarang" air mata Elsa mengalir semakin deras mendengar kata kata tajam Arfan yg menusuk hati.
"Kak..." Arfan langsung menoleh mendengar suara lembut istrinya itu, Arfan melihat Elnaz yg berdiri tidak jauh dari nya.
Sementara Elsa dengan cepat menghapus air mata nya dan ia berusaha tersenyum pada Elnaz bahkan menyapa nya.
"Hai, El..."
"Sudah lama, Kak?" tanya Elnaz dan ia juga tampak memaksakan bibir nya tersenyum. Apa lagi mengingat pesan kemarin, membuat Elnaz kesulitan bersikap ramah pada kakak nya sendiri.
"Baru saja, kakak bawakan puding buat kamu..." seru Elsa.
"Terima kasih..." ujar Elnaz dan ia hendak berjalan mendekati Elsa tapi Arfan tiba tiba langsung menggendong nya.
"Kaki mu masih sakit, Sayang. Kan sudah aku bilang, jangan gerak dulu..." seru Arfan dan ia membawa Elnaz ke sofa.
__ADS_1
Elsa pun mengikuti Arfan dan ia melihat sofa yg robek, bahkan Elsa juga menyadari vas bunga di ruangan itu sudah tidak ada. Elsa meletakkan pudding nya di meja di depan Elnaz.
"Sofa nya kenapa? Terus kok vas bunga nya hilang semua?" tanya Elsa heran, Elnaz langsung melirik Arfan saat mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"Elnaz sedang sakit, Sa. Dia harus istirahat..." seru Arfan, bermaksud mengusir Elsa secara halus namun seperti nya itu tidak berhasil.
"Sakit apa, El? Biar aku di sini saja kalau begitu, biar aku bisa mengurus Elnaz" ucap nya.
"Tidak perlu, aku akan mengurus istri ku sendiri" ucap Arfan tegas.
"Tapi kan kamu juga harus bekerja, Fan..." ucap Elsa lagi "Kalau Elnaz jalan saja tidak bisa, bagaimana bisa mengurus rumah? Kamu juga perlu di urus, kan?"
"Tidak apa apa, Kak Elsa. Aku bisa mengurus diri ku sendiri kok." Elnaz menimpali dengan cepat, karena ia sendiri merasa tidak nyaman dengan keberadaan Elsa apa lagi mendengar apa yg baru saja di katakan Elsa.
"Kamu marah sama aku, El?" tanya Elsa sedih dan hal itu membuat Arfan mendelik kesal, karena seperti nya Elsa hanya ingin berada di rumah nya saat ini.
"Bukan begitu, Kak" jawab Elnaz "Lagi pula aku sudah dewasa, Kak. Aku bisa mengurus rumah ku dan suami ku, ini cuma luka ringan, besok sudah pasti sembuh" tegas nya yg membuat Arfan tersenyum puas mendengar jawaban Elnaz.
Elsa yg mendengar ucapan tegas adik kecilnya itu sebenarnya merasa tersinggung, karena mereka seperti benar benar mengusir nya sementara Elsa memang hanya ingin membantu. Apa lagi ia melihat Arfan yg memakai apron, Elsa tahu Arfan pasti memasak sementara Arfan juga harus bekerja.
"Sebenarnya aku cuma merasa kasihan sama suami kamu, El. Dia harus bekerja dan masih harus memasak, dia pasti capek..." ucap Elsa lagi dan hal itu berhasil mempengaruhi hati Elnaz, membuat hati nya tak nyaman.
"Aku sama sekali tidak capek..." sambung Arfan dengan cepat "Justru aku sangat senang karena akan memasak untuk Elnaz, karena biasanya dia yg selalu memasak untuk ku. Apa lagi besok dia pasti sudah bisa berjalan dan bisa kembali memasak, jadi kamu tidak perlu khawatir, Sa. Kami sangat pintar membagi tugas rumah tangga kami"
Elsa hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Arfan, ia pun berdiri dari duduk nya karena seperti nya memang ia sangat tidak di harapkan di rumah adik nya itu.
"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu. Maaf mengganggu...." ucap Elsa yg membuat Elnaz sebenarnya merasa kasihan, apa lagi saat ia melihat kesedihan di wajah sang kakak.
__ADS_1
"Tidak mengganggu sama sekali, Kak Elsa..." seru Elnaz kemudian dan Elsa hanya menanggapi nya dengan senyum tipis.