(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 12 - Berusaha


__ADS_3

Arfan menelp Dokter Mike untuk menggantikan tugas nya hari ini di rumah sakit, karena Arfan ingin menghabiskan waktu bersama Elnaz saat ini. Selama dua hari ini, Arfan seperti tersesat dalam dunia yg abu abu. Namun sekarang ia sudah mendapatkan sedikit cahaya petunjuk untuk ia lewati.


Sementara Elnaz, ia merasa begitu canggung karena Arfan terus berada di kamar bersama nya. Elnaz sibuk bermain ponsel sembari tiduran di sofa, sementara Arfan hanya duduk bersila di tengah ranjang dan terus memandangi Elnaz.


"El..." seru Arfan sembari merangkak turun. Elnaz mengabaikan nya "Makan, yuk. Kakak lapar" ucap nya sembari memegang perut nya yg memang terasa sangat lapar. Elnaz masih sibuk dengan ponsel nya dan berpura pura tak mendengar Arfan, padahal ia sendiri juga sangat lapar apa lagi hari sudah semakin siang.


"El, ayo lah..." seru Arfan lagi memelas.


"Duluan saja, aku kenyang"


"Aku?" mendengar Elnaz mengucapkan kata 'aku' terdengar begitu aneh di telinga Arfan. Selama ini adik nya itu selalu menyebut diri nya sendiri dengan nama begitu juga saat menyebut atau memanggil Arfan, ia selalu menggunakan kata 'Kak'.


"Ya sudah, kakak juga tidak mau makan" ucap Arfan dan ia duduk di samping kaki Elnaz. Arfan bersandar di sandaran sofa sembari memejamkan mata. Elnaz yg melihat itu merasa kasihan, Arfan memang selalu seperti itu. Begitu mudah menarik perhatian Elnaz apa lagi dengan jurus 'ngambek' nya itu.


"Ya sudah ayo" seru Elnaz sembari bangkit berdiri dan berjalan keluar kamar. Arfan pun segera mengikuti nya dari belakang.


Mereka sampai di dapur, Elnaz merasa tidak enak jika dia memakan apa yg sudah tersaji di meja makan karena ia tidak ikut membantu memasak.


"Kita masak nasi goreng pedas saja ya, El pasti suka kan?" tanya Arfan dan Elnaz hanya mengangguk.


Mereka pun bekerja sama membuat nasi goreng, perasaan kedua nya mulai terasa lebih baik. Namun saat sibuk memasak, tiba tiba Yuni datang.

__ADS_1


"Padahal Mama sudah masak banyak sekali, Fan. Kenapa? Tidak suka dengan masakan mama ya?" tanya Yuni sembari melirik sinis Elnaz "Atau Elnaz ingin makan nasi goreng saja? Padahal sudah enak lho, pagi pagi mertua nya sudah masakin, dia keluar kamar tinggal makan" sindir nya yg membuat Elnaz langsung menunduk sedih.


"Aku yg mau, Ma" ujar Arfan dengan cepat "El, ambilkan kecap" perintah nya dan Elnaz pun mengambilkan kecap untuk Arfan.


"Kenapa kamu yg masak, Fan? Memang nya Elnaz tidak bisa masak sendiri? Masak itu tugas istri, Fan. Kamu kan sudah bekerja dari pagi sampai malam, masak iya harus masak juga. Jangan terlalu memanjakan Elnaz, sekarang dia bukan adik kecil kamu lagi" tukas Yuni lagi yg membuat Arfan menghela nafas berat.


"Ma, yg mau makan itu aku, yg mau masak juga aku" tegas Arfan "Jangan berbicara seperti itu pada Elnaz" seru nya.


"Kamu selalu bela Elnaz ya, baru juga menikah dua hari, itupun jadi istri pengganti"


Air mata Elnaz tak bisa terbendug lagi, ia menunduk dan menggigit bibir nya menahan isak tangis nya. Arfan yg melihat itu juga merasa sedih.


"Sudah, ayo makan..." seru Arfan menarik Elnaz ke meja makan.


Elnaz terus berkedip berulang kali guna menahan air mata yg ingin tumpah, ia menyendok nasi itu dan menyuapkan nya ke mulut nya. Elnaz mengunyah dengan tak berselera dan menelan dengan susuh payah. Arfan yg melihat itu rasanya juga ingin menangis.


Benar kata Liam, dia menghancurkan perasaan dan harga diri Elnaz.


"Kita makan di kamar ya..." ajak Arfan dan tanpa menunggu jawaban Elnaz, Arfan menarik tangan Elnaz dan membawa piring nya ke kamar.


Arfan menutup pintu kamar nya, menutup jendela kemudian menyalakan tv dan memutar film kartun lucu.

__ADS_1


Mereka berdua duduk di depan tv, sama sama berusaha menelan makanan itu karena keduanya sama sama tak berselera. Namun kartun yg lucu itu perlahan membuat sudut bibir Elnaz tertarik membentuk sebuah senyum samar, dan hal itu tentu tidak luput dari perhatian Arfan. Melihat Elnaz yg mulai bisa tersenyum, Arfan juga tersenyum.


Karena sambil menonton, tanpa sadar kedua nya menghabiskan makanan mereka dan sekarang mereka merasa sangat kenyang.


.........


Seharian Elnaz dan Arfan berada di kamar namun Elnaz tak sedikitpun membuka mulut nya. Arfan berusaha keras mencoba menghapus jarak di antara diri nya dan Elnaz.


Padahal, dulu kedua nya seperti saudara kembar yg selalu sangat dekat seolah tak terpisahkan. Tapi sekarang?


Kedua nya bersama, di rumah yg sama bahkan tinggal di kamar yg sama. Namun jarak mereka seolah begitu lebar dan tinggi, seolah tak bisa di seberangi.


Walaupun begitu, kini mereka mulai melaksanakan sholat berjemaah, berdizkir dan membaca Al Qur'an.


Saat malam tiba, dan semua aktifitas sudah selesai. Elnaz merangkak naik ke atas ranjang dan ia sangat terkejut karena Arfan juga naik ke atas ranjang. Elnaz sudah membuka mulut nya hendak protes namun ia mengurungkan niat nya.


Sementara Arfan, ia sendiri merasa sangat gugup jika harus berada dalam satu ranjang dengan Elnaz. Walaupun dulu mereka sering tidur satu ranjang, namun sekarang status mereka membuat Arfan gerogi.


Kedua nya berbaring di sisi ranjang masing masing, tanpa bersuara, tanpa interaksi.


"Ya Tuhan, semoga ini menjadi awal yg baik untuk ku dan Elnaz"

__ADS_1


__ADS_2